Oh bukan “terutama”.

 

Semua public company harus membuka laporan keuangannya ke public krn itu adalah 
perusahaan public dimana public memiliki saham2nya. Kalau satu2 shareholders 
dikirimi document financial statements itu bisa mahal sekali. Juga regulators 
diseluruh dunia harus menjaga aturan main dinegaranya masing2.

 

Perusahaan swasta/private company tidak harus tapi boleh. Tidak lazim private 
companies release financial statements ke public karena costly dan gak berguna. 
Kemungkinan bisa terjadi ketika perusahaan sedang dalam tahap IPO. Ketika suatu 
perusahaan ingin IPO dan menginginkan public mengetahui perusahaannya, mereka 
bisa release seluruh/sebagian financial statements ke public dan biasanya lewat 
website perusahaannya.

 

Yang lazim direlease biasanya adalah financial statements ke shareholders saja. 
Ini dalam ruang ringkup internal management bukan public.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, January 4, 2017 9:16 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] kebule-bulean

 

  

Ya, terutama yang sudah go public.

 

--- ambon@... wrote:

 

Apakah BUMN mengeluarkan laporan tahun untuk umum?







From: ajeg





Itu dia.

Faktanya, bule ada yang tukang meramp.k tanah



sampai nyol.ng sepeda.





Trisakti cuma dijadikan gombalan k.mp.nye.

 

--- inengahk@... wrote:





Kalau menurut saya sangat setuju perusahaan BU…di pimpin orang professional, 
untuk memajukan perusahaan plat m… ini. 

Pengalaman dari awal merdeka, perusahaan ini sering jadi atm part… Pol…

 

Kalau bisnis jangan dicampur adukan dengan suku ras dan golongan, kalau mau 
maju, india saja bisa maju karena banyak belajar dari negara 2 eropa.

Cina juga pernah saya baca masih banyak belajar bisnis ke AS dan inggris.

Sebab dinegara 2 ini dari 1600-1700 sudah ada peruhasaan bisnis

 

From: ajeg

 

Selasa, 3 Januari 2017 – 20:10 wib

 

Jokowi: Kalau Perlu Perusahaan BUMN Dipimpin Bule

 

ant

Jurnalis

 

JAKARTA - Presiden Joko Widodo ( Jokowi) menegaskan, para pimpinan perusahaan 
badan usaha milik negara (BUMN) harus memiliki semangat kompetisi yang kuat dan 
sehat agar BUMN dapat terus maju dan berkembang secara optimal.

 

"Saya bahkan ingin ada tiga atau empat bule profesional yang memimpin 
perusahaan BUMN agar orang-orang kita belajar serta termotivasi dan 
berkompetisi dengan adanya orang-orang asing itu," katanya pada jamuan santap 
siang dengan para pemimpin redaksi media massa nasional di Istana Merdeka 
Jakarta, Selasa (3/1/2017).

 

Terkait kehadiran bule profesional di perusahaan-perusahaan milik negara, 
Presiden menyatakan Indonesia perlu belajar dari kemajuan perusahaan-perusahaan 
milik negara di Uni Emirat Arab (UEA).

 

Perusahaan-perusahaan BUMN di negara itu pada awalnya dipimpin oleh orang-orang 
Eropa, karena fakta menunjukkan orang-orang kulit putih itu sudah lama memahami 
dan menguasai dunia bisnis secara modern.

 

Namun sejak 1975, secara bertahap CEO perusahaan-perusahaan itu dipegang oleh 
orang-orang UEA yang belajar dari orang-orang asing tersebut atau yang telah 
belajar di luar negeri, sehingga kemudian perusahaan-perusahaan milik negara 
mengalami kemajuan pesat. 

 

"Saya mendapatkan penjelasan ini secara langsung dari Syeikh Muhammad di Uni 
Emirat Arab beberapa waktu lalu," kata Presiden Jokowi yang didampingi Menteri 
Sekretaris Negara Pratikno dan Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi Johan 
Budi SP. 

 

Menurut Presiden, pola yang sama juga diterapkan di Singapura, bahkan 
sekolah-sekolah di negara itu pada awalnya dipimpin oleh orang-orang asing, 
sejak dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. 

 

"Jadi, intinya, bisa saja orang-orang bule untuk sementara memimpin dan 
mengelola beberapa perusahaan BUMN agar perusahaan-perusahaan itu mengalami 
kemajuan secara pesat, tapi kepemilikannya tetap. Perusahaan-perusahaan BUMN 
harus tetap milik negara," katanya. 

 

Tetapi Jokowi memuji kemajuan yang dicapai oleh perusahaan-perusahaan BUMN 
secara umum serta mendukung terwujudnya beberapa penggabungan usaha (holding) 
BUMN, sebab holding menjadi kunci untuk menjadikan BUMN lebih kuat dan lincah. 

 

Presiden pada pertemuan dengan para pemimpin redaksi media massa nasional juga 
menjelaskan upaya-upaya pemerintah pada 2017 bagi tercapainya pemerataan 
ekonomi, terutama melalui redistribusi asset dan kredit untuk Usaha Mikro Kecil 
dan Menengah (UMKM). 

 

Pada bagian lain, Presiden menyatakan prihatin dengan berkembangnya isu-isu 
yang tidak jelas melalui media sosial, termasuk adanya buku "Jokowi Undercover" 
yang berisi fitnah dan tidak berdasarkan fakta sama sekali.

 

Ia juga menyayangkan adanya media-media "mainstream" yang juga turut menyiarkan 
isu tidak jelas setelah isu dimaksud menjadi "trending topic".

 

(rai)

 

 



Kirim email ke