Ya, inilah "reformasi" yang cuma meformat-ulang orangnya; 
formasi baru kegubernur-jenderalan di era nekolim, dan bukan 
memformat sistem Kerakyatan.
Ditambah dengan westernisasi pribumi, penjajahan gaya baru 
tidak lagi memerlukan pasukan impor bersenjata lengkap. 
Cukup kerahkan serdadu berdasi ke sentra-sentra keuangan.
Kalau Bung Karno masih hidup, pasti dialah yang paling beratperjuangannya 
karena harus melawan anak sendiri.

 --- jetaimemucho1@... wrote:
Makin lama berkuasa, beliau ini semakin memperlihatkan mentalitas aslinya yang 
begitu kerdil dan memalukan. Megawati dulu pernah menghina bangsa Indonesia 
sebagai bangsa "kuli". Saya justru bangga akan bangsa dan rakyat Indonesia yang 
dalam sejarahnya telah menunjukkan keberanian dan kesediaannya untuk 
mengorbankan segalanya bagi kemerdekaan bangsa ini. Tapi justru sementara 
intelektual dan para pemegang kekuasaan, kabir, komprador dan tuan tanah yang 
bermentalitet "kuli", menganggap bangsa sendiri (terutama buruh dan taninya) 
goblok, dari situ datangnya pemujaan pada "bule", pada produk "asing", pada "Mc 
Donald", "Kentucky chicken", Coffee Starbucks, etc. Ya memang betul BK, 
ngelawan perbudakan bangsa sendiri lebih susah dari pada perbudakan orang bule 
atau orang asing lain. Yang bisa memperbudak kita sekarang bukan saja orang 
bule. Karena yang bermodal bukan hanya orang bule.
 On Wednesday, January 4, 2017 4:04 PM, ajeg wrote:
"Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah,perjuanganmu lebih sulit 
karena melawan bangsamu sendiri"- BK--- jetaimemucho1@... wrote:

Kenapa nggak serahkan saja kepada bule jabatan presiden??? Dari pada "tidak 
langsung" kolonisasinya.... Kalau "langsung" kolonisasinya, pekerjaan para 
aktivis rakyat lebih "gampang". Rakyat akan lebih cepat dan lebih jelas melihat 
siapa yang menguasai negara yang terus menerus membuat mereka menderita tak 
habis-habisnya. Jadi tidak ditutupi oleh wajah orang Jawa yang "sopan santun" 
dan selalu "cengengesan" tapi membuat kaum tani mati pelan-pelan melalui proses 
pemiskinan.    
 On Wednesday, January 4, 2017 2:54 AM, ajeg wrote:
   Selasa, 3 Januari 2017 – 20:10 wib Jokowi: KalauPerlu Perusahaan BUMN 
Dipimpin Bule antJurnalis JAKARTA - PresidenJoko Widodo ( Jokowi) menegaskan, 
para pimpinan perusahaan badan usaha miliknegara (BUMN) harus memiliki semangat 
kompetisi yang kuat dan sehat agar BUMNdapat terus maju dan berkembang secara 
optimal. "Saya bahkan ingin ada tiga atau empat buleprofesional yang memimpin 
perusahaan BUMN agar orang-orang kita belajar sertatermotivasi dan berkompetisi 
dengan adanya orang-orang asing itu," katanyapada jamuan santap siang dengan 
para pemimpin redaksi media massa nasional diIstana Merdeka Jakarta, Selasa 
(3/1/2017). Terkait kehadiran bule profesional diperusahaan-perusahaan milik 
negara, Presiden menyatakan Indonesia perlu belajardari kemajuan 
perusahaan-perusahaan milik negara di Uni Emirat Arab (UEA). 
Perusahaan-perusahaan BUMN di negara itu pada awalnyadipimpin oleh orang-orang 
Eropa, karena fakta menunjukkan orang-orang kulitputih itu sudah lama memahami 
dan menguasai dunia bisnis secara modern. Namun sejak 1975, secara bertahap 
CEOperusahaan-perusahaan itu dipegang oleh orang-orang UEA yang belajar 
dariorang-orang asing tersebut atau yang telah belajar di luar negeri, 
sehinggakemudian perusahaan-perusahaan milik negara mengalami kemajuan pesat.  
"Saya mendapatkan penjelasanini secara langsung dari Syeikh Muhammad di Uni 
Emirat Arab beberapa waktulalu," kata Presiden Jokowi yang didampingi Menteri 
Sekretaris NegaraPratikno dan Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi Johan Budi 
SP.  Menurut Presiden, pola yang samajuga diterapkan di Singapura, bahkan 
sekolah-sekolah di negara itu pada awalnyadipimpin oleh orang-orang asing, 
sejak dari taman kanak-kanak hingga perguruantinggi.  "Jadi, intinya, bisa 
sajaorang-orang bule untuk sementara memimpin dan mengelola beberapa 
perusahaanBUMN agar perusahaan-perusahaan itu mengalami kemajuan secara pesat, 
tapikepemilikannya tetap. Perusahaan-perusahaan BUMN harus tetap milik 
negara,"katanya.  Tetapi Jokowi memuji kemajuan yangdicapai oleh 
perusahaan-perusahaan BUMN secara umum serta mendukung terwujudnyabeberapa 
penggabungan usaha (holding) BUMN, sebab holding menjadi kunci untukmenjadikan 
BUMN lebih kuat dan lincah.  Presiden pada pertemuan dengan parapemimpin 
redaksi media massa nasional juga menjelaskan upaya-upaya pemerintahpada 2017 
bagi tercapainya pemerataan ekonomi, terutama melalui redistribusiasset dan 
kredit untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).  Pada bagian lain, 
Presidenmenyatakan prihatin dengan berkembangnya isu-isu yang tidak jelas 
melalui mediasosial, termasuk adanya buku "Jokowi Undercover" yang berisi 
fitnahdan tidak berdasarkan fakta sama sekali. Ia juga menyayangkan 
adanyamedia-media "mainstream" yang juga turut menyiarkan isu tidak 
jelassetelah isu dimaksud menjadi "trending topic". (rai)
  

 

Kirim email ke