Marx bilang kelas ada 3: proleter, burguis dan tuan tanah. Kenapa bung bilang rakyat hanya proleter saja?
Nesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Wednesday, March 1, 2017 8:47 AM To: [email protected]; [email protected] Subject: Re: [GELORA45] 5 Provinsi dengan Konflik Agraria Terbanyak Di sini kita berpisah. Bagi saya konglomerat bukan rakyat.. Sekali lagi saya bertolak dari analisa kelas. Manusia tidak sama dari sudut kelas. On Wednesday, March 1, 2017 2:37 PM, "[email protected] [GELORA45] <mailto:[email protected]%20[GELORA45]> " <[email protected] <mailto:[email protected]> > wrote: Tatiana: PIkirlah dari perspektif rakyat bukan dari perspektif konglomerat!!! Nesare: jangan! Jangan berpikir konglomerat itu bukan rakyat. Konglomerat itu juga rakyat. Kalau rakyat yang dimaksud adalah rakyat miskin, juga jangan berpikir terkotak2 seperti ini. Berpikirlah dari perspektif “semua manusia”, bukan rakyat miskin saja. Semua rakyat harus bersatu padu untuk hidup sejahtera. Nesare From: [email protected] <mailto:[email protected]> [mailto:[email protected]] Sent: Wednesday, March 1, 2017 7:53 AM To: Yahoogroups <[email protected] <mailto:[email protected]> >; DISKUSI FORUM HLD <[email protected] <mailto:[email protected]> >; GELORA_In <[email protected] <mailto:[email protected]> > Cc: Jonathan Goeij <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Lusi.D <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Roeslan <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Daeng <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Rachmat Hadi-Soetjipto <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Gol <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Harry Singgih <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Mitri <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Lingkar Sitompul <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Ronggo A. <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Ajeg <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Farida Ishaja <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Marsiswo Dirgantoro <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Billy Gunadi <[email protected] <mailto:[email protected]> >; [email protected] <mailto:[email protected]> ; Mang Broto <[email protected] <mailto:[email protected]> >; [email protected] <mailto:[email protected]> ; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia] <[email protected] <mailto:[email protected]> >; C. Manuputty <[email protected]>; [email protected] <mailto:[email protected]> ; Oman Romana <[email protected] <mailto:[email protected]> >; [email protected] <mailto:[email protected]> Subject: [GELORA45] 5 Provinsi dengan Konflik Agraria Terbanyak Kemakmuran dan kesejahteraan rakyat baru dapat mulai direalisasi kalau konflik-konflik tanah ini diselesaikan dengan adil. Mereka yang percaya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat dapat dicapai melalui penanaman modal asing dan Pembangunan yang menerapkan Master Plan Percepatan dan Perluasan Ekonomi Indonesia (MP3EI) sebenarnya tidak mengakui bahwa kontradiksi pokok yang harus diselesaikan adalah masalah agraria, masalah kepemilikan tanah. Sejak Suharto berkuasa tahun 1966, kebijakan ekonomi dan pembangunan PADA POKOKNYA tidak berubah....Selalu bersandar pada penanaman modal asing, selalu dengan urbanisasi.... Mengapa sudah berlalu lebih setengah abad, kemakmuran dan kesejahteraan semakin jauh?? Masih belum mengerti apa arti kekayaan 4 orang terkaya melebihi apa yang dimilik 100 juta rakyat Indonesia???? PIkirlah dari perspektif rakyat bukan dari perspektif konglomerat!!! <https://scontent-ams3-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-9/16996332_10212353149452930_179357039906356318_n.jpg?oh=5385e6cad2d3e26643733e706a8a8cb7&oe=593A8F11>
