Dimana saya bilang rakyat hanya proletar saja? Anda sudah mulai memutar balik apa yang saya katakan. Anda tidak mengerti dan tidak menerima bahwa analisa kelas itu berlainan , tergantung pada sifat masyarakat itu. Anda merasa pengikut Marx dengan hanya membatasi kelas dalam masyarakat itu proletar, borjuis dan tuan tanah. Masyarakat semi feodal semi kolonial seperti Indonesia belum ada ketika Marx hidup. Kalau anda menolak untuk membaca analisa kelas Mao, ya tidak ada gunanya meneruskan diskusi. Karena saya menganggap Mao mengembangkan Marxisme dan menerapkannya dalam kondisi kongkrit Tiongkok yang tidak pernah dihadapi oleh Marx!!! Tuduhan anda bahwa saya ingin bikin teori sendiri adalah absurd!!!! Tidak ada gunanya berdiskusi terus karena titik tolak kita memang berbeda. Saya sudah tahu bahwa buat anda saya radikal. So what !! I don't care what you think about me!!! Saya sudah pilih jalan saya, anda anggap jalan itu salah, silahkan!!
On Wednesday, March 1, 2017 3:48 PM, "[email protected] [GELORA45]" <[email protected]> wrote: Koq bung bisa bilang Analisa kelas dinegeri2 kapitalis berbeda dengan semi feodal dan semi colonial.Ini teori nya marx. Gak ada pembedaan marx. Jangan mengurangi pendapat bung. Ketika bung menulis perbedaan2 itu ada, bung sudah masuk kerealitas kelas masyarakat itu yang berbeda disetiap negara.Tetapi tetap rakyat itu adalah gabungan 3 kelas itu. Ini pendapat marx. Selain bung mau bikin teori sendiri, itu tidak apa2.Saya katakan itu salah. Kenapa salah? Karena bung tidak akan bisa manusiawi kalau memilah rakyat itu hanyalah orang miskin dan kaum buruh. Nesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Wednesday, March 1, 2017 9:38 AM To: [email protected]; [email protected] Subject: Re: [GELORA45] 5 Provinsi dengan Konflik Agraria Terbanyak Pembagian kelas itu tergantung pada sifat masyarakat. Analisa kelas di negeri-negeri kapitalis industrial maju seperti AS dan Eropa tidak sama dengan negeri-negeri semi feodal dan semi kolonial seperti Indonesia. Tiap negeri punya kekhususan sendiri dalam mengkategorisasi manusia dalam masyarakatnya. Yang dikatakan Marx itu dalam garis besarnya saja pada jaman itu. Kelas proletar ketika Marx hidup tidak sama dengan kelas proletar yang sekarang hidup di negeri-negeri kapitalis-imperialis dan juga tidak sama dengan kelas proletar di negeri seperti Indonesia. Begitu juga dengan apa yang dinamakan kelas borjuis, kelas feodal. Adalah tugas utama dan pokok bagi kekuatan revolusioner untuk membuat analisa kelas di negerinya masing-masing. Kalau mau belajar, baca saja karya Mao: Analisa kelas dalam masyarakat Tkk. Itu hanya sebagai contoh bagaimana Mao membuat analisa kelas di masyarakat Tkk ketika itu guna memimpin Revolusi Demokrasi Baru. On Wednesday, March 1, 2017 3:22 PM, "nesare1@yahoocom [GELORA45]" <[email protected]> wrote: Marx bilang kelas ada 3: proleter, burguis dan tuan tanah.Kenapa bung bilang rakyat hanya proleter saja? Nesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Wednesday, March 1, 2017 8:47 AM To: [email protected]; [email protected] Subject: Re: [GELORA45] 5 Provinsi dengan Konflik Agraria Terbanyak Di sini kita berpisah. Bagi saya konglomerat bukan rakyat.. Sekali lagi saya bertolak dari analisa kelas. Manusia tidak sama dari sudut kelas. On Wednesday, March 1, 2017 2:37 PM, "[email protected] [GELORA45]" <[email protected]> wrote: Tatiana: PIkirlah dari perspektif rakyat bukan dari perspektif konglomerat!!!Nesare: jangan! Jangan berpikir konglomerat itu bukan rakyat. Konglomerat itu juga rakyat. Kalau rakyat yang dimaksud adalah rakyat miskin, juga jangan berpikir terkotak2 seperti ini. Berpikirlah dari perspektif “semua manusia”, bukan rakyat miskin saja. Semua rakyat harus bersatu padu untuk hidup sejahtera. Nesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Wednesday, March 1, 2017 7:53 AM To: Yahoogroups <[email protected]>; DISKUSI FORUM HLD <[email protected]>; GELORA_In <[email protected]> Cc: Jonathan Goeij <jonathangoeij@yahoocom>; Lusi.D <[email protected]>; Roeslan <[email protected]>; Daeng <menakjinggo@t-onlinede>; Rachmat Hadi-Soetjipto <[email protected]>; Gol <[email protected]>; Harry Singgih <[email protected]>; Mitri <[email protected]>; Lingkar Sitompul <[email protected]>; Ronggo A. <[email protected]>; Ajeg <[email protected]>; Farida Ishaja <[email protected]>; Marsiswo Dirgantoro <[email protected]>; Billy Gunadi <[email protected]>; [email protected]; Mang Broto <[email protected]>; [email protected]; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia] <[email protected]>; C. Manuputty <[email protected]>; [email protected]; Oman Romana <[email protected]>; [email protected] Subject: [GELORA45] 5 Provinsi dengan Konflik Agraria Terbanyak Kemakmuran dan kesejahteraan rakyat baru dapat mulai direalisasi kalau konflik-konflik tanah ini diselesaikan dengan adil. Mereka yang percaya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat dapat dicapai melalui penanaman modal asing dan Pembangunan yang menerapkan Master Plan Percepatan dan Perluasan Ekonomi Indonesia (MP3EI) sebenarnya tidak mengakui bahwa kontradiksi pokok yang harus diselesaikan adalah masalah agraria, masalah kepemilikan tanah. Sejak Suharto berkuasa tahun 1966, kebijakan ekonomi dan pembangunan PADA POKOKNYA tidak berubah....Selalu bersandar pada penanaman modal asing, selalu dengan urbanisasi.... Mengapa sudah berlalu lebih setengah abad, kemakmuran dan kesejahteraan semakin jauh?? Masih belum mengerti apa arti kekayaan 4 orang terkaya melebihi apa yang dimilik 100 juta rakyat Indonesia???? PIkirlah dari perspektif rakyat bukan dari perspektif konglomerat!!! #yiv6466628092 -- #yiv6466628092ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-mkp #yiv6466628092hd {color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 0;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-mkp #yiv6466628092ads {margin-bottom:10px;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-mkp .yiv6466628092ad {padding:0 0;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-mkp .yiv6466628092ad p {margin:0;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-mkp .yiv6466628092ad a {color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-sponsor #yiv6466628092ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-sponsor #yiv6466628092ygrp-lc #yiv6466628092hd {margin:10px 0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-sponsor #yiv6466628092ygrp-lc .yiv6466628092ad {margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv6466628092 #yiv6466628092actions {font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv6466628092 #yiv6466628092activity {background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv6466628092 #yiv6466628092activity span {font-weight:700;}#yiv6466628092 #yiv6466628092activity span:first-child {text-transform:uppercase;}#yiv6466628092 #yiv6466628092activity span a {color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv6466628092 #yiv6466628092activity span span {color:#ff7900;}#yiv6466628092 #yiv6466628092activity span .yiv6466628092underline {text-decoration:underline;}#yiv6466628092 .yiv6466628092attach {clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 0;width:400px;}#yiv6466628092 .yiv6466628092attach div a {text-decoration:none;}#yiv6466628092 .yiv6466628092attach img {border:none;padding-right:5px;}#yiv6466628092 .yiv6466628092attach label {display:block;margin-bottom:5px;}#yiv6466628092 .yiv6466628092attach label a {text-decoration:none;}#yiv6466628092 blockquote {margin:0 0 0 4px;}#yiv6466628092 .yiv6466628092bold {font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv6466628092 .yiv6466628092bold a {text-decoration:none;}#yiv6466628092 dd.yiv6466628092last p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv6466628092 dd.yiv6466628092last p span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv6466628092 dd.yiv6466628092last p span.yiv6466628092yshortcuts {margin-right:0;}#yiv6466628092 div.yiv6466628092attach-table div div a {text-decoration:none;}#yiv6466628092 div.yiv6466628092attach-table {width:400px;}#yiv6466628092 div.yiv6466628092file-title a, #yiv6466628092 div.yiv6466628092file-title a:active, #yiv6466628092 div.yiv6466628092file-title a:hover, #yiv6466628092 div.yiv6466628092file-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv6466628092 div.yiv6466628092photo-title a, #yiv6466628092 div.yiv6466628092photo-title a:active, #yiv6466628092 div.yiv6466628092photo-title a:hover, #yiv6466628092 div.yiv6466628092photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv6466628092 div#yiv6466628092ygrp-mlmsg #yiv6466628092ygrp-msg p a span.yiv6466628092yshortcuts {font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv6466628092 .yiv6466628092green {color:#628c2a;}#yiv6466628092 .yiv6466628092MsoNormal {margin:0 0 0 0;}#yiv6466628092 o {font-size:0;}#yiv6466628092 #yiv6466628092photos div {float:left;width:72px;}#yiv6466628092 #yiv6466628092photos div div {border:1px solid #666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv6466628092 #yiv6466628092photos div label {color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv6466628092 #yiv6466628092reco-category {font-size:77%;}#yiv6466628092 #yiv6466628092reco-desc {font-size:77%;}#yiv6466628092 .yiv6466628092replbq {margin:4px;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-actbar div a:first-child {margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-mlmsg select, #yiv6466628092 input, #yiv6466628092 textarea {font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-mlmsg pre, #yiv6466628092 code {font:115% monospace;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-mlmsg #yiv6466628092logo {padding-bottom:10px;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-msg p a {font-family:Verdana;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-msg p#yiv6466628092attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-reco #yiv6466628092reco-head {color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-reco {margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-sponsor #yiv6466628092ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-sponsor #yiv6466628092ov li {font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-sponsor #yiv6466628092ov ul {margin:0;padding:0 0 0 8px;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-text {font-family:Georgia;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-text p {margin:0 0 1em 0;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv6466628092 #yiv6466628092ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none !important;}#yiv6466628092
