Ralat: 

Koq bung bisa bilang Analisa kelas dinegeri2 kapitalis berbeda dengan semi 
feodal dan semi colonial.

Ini teori nya marx. Gak ada pembedaan dari marx. Jangan mengurangi pendapat 
marx.

 

Ketika bung menulis perbedaan2 itu ada, bung sudah masuk kerealitas kelas 
masyarakat itu yang berbeda disetiap negara.

Tetapi tetap rakyat itu adalah gabungan 3 kelas itu. Ini pendapat marx. 

 

Selain bung mau bikin teori sendiri, itu tidak apa2.

Saya katakan itu salah. Kenapa salah? Karena bung tidak akan bisa manusiawi 
kalau memilah rakyat itu hanyalah orang miskin dan kaum buruh.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, March 1, 2017 9:49 AM
To: [email protected]
Subject: RE: [GELORA45] 5 Provinsi dengan Konflik Agraria Terbanyak

 

  

Koq bung bisa bilang Analisa kelas dinegeri2 kapitalis berbeda dengan semi 
feodal dan semi colonial.

Ini teori nya marx. Gak ada pembedaan marx. Jangan mengurangi pendapat bung.

 

Ketika bung menulis perbedaan2 itu ada, bung sudah masuk kerealitas kelas 
masyarakat itu yang berbeda disetiap negara.

Tetapi tetap rakyat itu adalah gabungan 3 kelas itu. Ini pendapat marx. 

 

Selain bung mau bikin teori sendiri, itu tidak apa2.

Saya katakan itu salah. Kenapa salah? Karena bung tidak akan bisa manusiawi 
kalau memilah rakyat itu hanyalah orang miskin dan kaum buruh.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, March 1, 2017 9:38 AM
To: [email protected] <mailto:[email protected]> ; 
[email protected] <mailto:[email protected]> 
Subject: Re: [GELORA45] 5 Provinsi dengan Konflik Agraria Terbanyak

 

  

Pembagian kelas itu tergantung pada sifat masyarakat. Analisa kelas di 
negeri-negeri kapitalis industrial maju seperti AS dan Eropa tidak sama dengan 
negeri-negeri semi feodal dan semi kolonial seperti Indonesia. Tiap negeri 
punya kekhususan sendiri dalam mengkategorisasi manusia dalam masyarakatnya. 
Yang dikatakan Marx itu dalam garis besarnya saja pada jaman itu. Kelas 
proletar ketika Marx hidup tidak sama dengan kelas proletar yang sekarang hidup 
di negeri-negeri kapitalis-imperialis dan juga tidak sama dengan kelas proletar 
di negeri seperti Indonesia. Begitu juga dengan apa yang dinamakan kelas 
borjuis, kelas feodal. Adalah tugas utama dan pokok bagi kekuatan revolusioner 
untuk membuat analisa kelas di negerinya masing-masing. Kalau mau belajar, baca 
saja karya Mao: Analisa kelas dalam masyarakat Tkk. Itu hanya sebagai contoh 
bagaimana Mao membuat analisa kelas di masyarakat Tkk ketika itu guna memimpin 
Revolusi Demokrasi Baru.

 

On Wednesday, March 1, 2017 3:22 PM, "nesare1@yahoocom [GELORA45]" 
<[email protected] <mailto:[email protected]> > wrote:

 

  

Marx bilang kelas ada 3: proleter, burguis dan tuan tanah.

Kenapa bung bilang rakyat hanya proleter saja?

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, March 1, 2017 8:47 AM
To: [email protected] <mailto:[email protected]> ; 
[email protected] <mailto:[email protected]> 
Subject: Re: [GELORA45] 5 Provinsi dengan Konflik Agraria Terbanyak

 

  

Di sini kita berpisah. Bagi saya konglomerat bukan rakyat.. Sekali lagi saya 
bertolak dari analisa kelas Manusia tidak sama dari sudut kelas.

 

On Wednesday, March 1, 2017 2:37 PM, "[email protected] [GELORA45] 
<mailto:[email protected]%20[GELORA45]> " <[email protected] 
<mailto:[email protected]> > wrote:

 

  

Tatiana: PIkirlah dari perspektif rakyat bukan dari perspektif konglomerat!!!

Nesare: jangan! Jangan berpikir konglomerat itu bukan rakyat. Konglomerat itu 
juga rakyat. Kalau rakyat yang dimaksud adalah rakyat miskin, juga jangan 
berpikir terkotak2 seperti ini. Berpikirlah dari perspektif “semua manusia”, 
bukan rakyat miskin saja. Semua rakyat harus bersatu padu untuk hidup sejahtera.

 

Nesare

 

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, March 1, 2017 7:53 AM
To: Yahoogroups <[email protected] <mailto:[email protected]> 
>; DISKUSI FORUM HLD <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; GELORA_In <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >
Cc: Jonathan Goeij <jonathangoeij@yahoocom <mailto:[email protected]> >; 
Lusi.D <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Roeslan 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Daeng 
<menakjinggo@t-onlinede <mailto:[email protected]> >; Rachmat 
Hadi-Soetjipto <[email protected] <mailto:[email protected]> >; 
Gol <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Harry Singgih 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Mitri 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Lingkar Sitompul 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Ronggo A. 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Ajeg <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; Farida Ishaja <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; Marsiswo Dirgantoro <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; Billy Gunadi <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; [email protected] 
<mailto:[email protected]> ; Mang Broto <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; [email protected] 
<mailto:[email protected]> ; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service 
Indonesia] <inengahk@chevroncom <mailto:[email protected]> >; C. Manuputty 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; 
[email protected] <mailto:[email protected]> ; Oman Romana 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; 
[email protected] <mailto:[email protected]> 
Subject: [GELORA45] 5 Provinsi dengan Konflik Agraria Terbanyak

 

  

Kemakmuran dan kesejahteraan rakyat baru dapat mulai direalisasi kalau 
konflik-konflik tanah ini diselesaikan dengan adil. Mereka yang percaya 
kemakmuran dan kesejahteraan rakyat dapat dicapai melalui penanaman modal asing 
dan Pembangunan yang menerapkan Master Plan Percepatan dan Perluasan Ekonomi 
Indonesia (MP3EI) sebenarnya tidak mengakui bahwa kontradiksi pokok yang harus 
diselesaikan adalah masalah agraria, masalah kepemilikan tanah. Sejak Suharto 
berkuasa tahun 1966, kebijakan ekonomi dan pembangunan PADA POKOKNYA tidak 
berubah....Selalu bersandar pada penanaman modal asing, selalu dengan 
urbanisasi.... Mengapa sudah berlalu lebih setengah abad, kemakmuran dan 
kesejahteraan semakin jauh?? Masih belum mengerti apa arti kekayaan 4 orang 
terkaya melebihi apa yang dimilik 100 juta rakyat Indonesia???? PIkirlah dari 
perspektif rakyat bukan dari perspektif konglomerat!!!

 

  
<https://scontent-ams3-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-9/16996332_10212353149452930_179357039906356318_n.jpg?oh=5385e6cad2d3e26643733e706a8a8cb7&oe=593A8F11>
 

 

 



Kirim email ke