Saya sangat mengerti angka2 apalagi duit. Jangan lupa saya adalah kapitalis 
yang percaya akan mata uang sebagai modal dalam berusaha.

Saya hidup dalam dunia demokrasi jelas percaya itu bisa terjadi. Bukan bisa 
terjadi saja, melainkan sudah terjadi. Coba lihat dinegara2 demokrasi, 
bagaimana perlakuan manusia terhadap manusia lain direstoran. Saya sendiri 
pernah masuk restoran pakai celana bolong dan kaos bolong, disapa dan diterima 
dengan baik oleh pemilik restoran karena saya adalah pembeli yang punya duit 
untuk membeli. Saya hidup didunia ini dan bukan disurga.

 

Saya tidak tahu apakah surga yg bung tahu itu seperti apa kehidupannya. Tetapi 
dunia dimana saya hidup perlakuan dari seorang manusia terhadap manusia lain 
itu bisa terjadi dimana saja. Perlakuan itu bisa baik dan buruk. Tetapi 
perlakuan itu bukan disebabkan oleh masalah kaya vs miskin saja.

 

Saya sendiri pernah melihat ada orang yang punya duit. Saya tidak tahu dia kaya 
atau tidak. orang ini beli makanan lalu membawa makanannya keluar ke pengemis 
dan dikasih makan. Saya juga tidak tahu apakah pengemis ini memang miskin 
beneran atau pura2.

 

Saya juga pernah melihat ada orang yang kasih botol aqua kepada pengemis 
dinegara maju dipinggir jalan. Sang pengemis mulanya tidak mau menerima aqua 
itu. Maunya minta duit. Tetapi karena tidak dikasih duit, sang pengemis terima 
juga aqua itu dan sebatang rokok.

 

Tidak ada yang tidak bisa terjadi didunia ini. 

Sayangnya bung sudah mengambil kesimpulan bahwa orang miskin selalu tidak bisa 
bersanding dengan orang kaya. Ini yang saya katakan bung itu radikal.

 

Nesare

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, March 1, 2017 9:10 AM
To: [email protected]; [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] 5 Provinsi dengan Konflik Agraria Terbanyak

 

  

Kayaknya anda tidak mengerti apa arti kekayaan 4 orang terkaya melebihi apa 
yang dimiliki 100 juta rakyat di Indonesia... Lantas 4 orang terkaya itu bisa  
bersatu dengan 100 juta rakyat termiskin untuk berjuang bersama membangun 
kesejahteraan bersama??? Rupanya anda sedang hidup di "surga"!!! Orang pakai 
baju rombeng-rombeng tidak bisa masuk restoran untuk makan, tidak saja karena 
tidak bisa bayar, tapi pelayan restoranpun akan mengusirnya..Coba anda bilang 
sama pelayan itu: he jangan kau usir, peluklah dia, dia itu sama -sama manusia 
dengan engkau... ah, kebetulan pemilik restoran itu orang yang dermawan, lantas 
disuruhnya orang miskin itu masuk ke dapur dan disuruh duduk di sudut dan 
dikasih makan!!! Horeeee, bersoraklah si Chan, tuh kapitalis juga baik hati!!! 
Dan anda juga bersorak, tuh sama-sama manusia. Bagaimana kalau datang 100 juta 
orang yang miskin itu ke restoran??? Bisa pemilik restoran kasih mereka sedekah 
tiap hari??? Namun yang penting lagi bagi manusia, disamping kebutuhan sandang 
pangan, adalah rasa harga diri... Di manakah rasa harga diri orang yang disuruh 
duduk di sudut dan makan sedekah dari pemilik restoran itu?? Manusia akan 
merasa betul-betul sebagai manusia yang harga dirinya dihormati sesamanya kalau 
dia bisa memberi sandang pangan kepada dirinya dan keluarga dengan hasil kerja 
sendiri, bukan karena ngemis kebaikan dan kedermawanan orang kaya!!!

 

On Wednesday, March 1, 2017 2:37 PM, "[email protected] [GELORA45] 
<mailto:[email protected]%20[GELORA45]> " <[email protected] 
<mailto:[email protected]> > wrote:

 

  

Tatiana: PIkirlah dari perspektif rakyat bukan dari perspektif konglomerat!!!

Nesare: jangan! Jangan berpikir konglomerat itu bukan rakyat. Konglomerat itu 
juga rakyat. Kalau rakyat yang dimaksud adalah rakyat miskin, juga jangan 
berpikir terkotak2 seperti ini. Berpikirlah dari perspektif “semua manusia”, 
bukan rakyat miskin saja. Semua rakyat harus bersatu padu untuk hidup sejahtera.

 

Nesare

 

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, March 1, 2017 7:53 AM
To: Yahoogroups <[email protected] <mailto:[email protected]> 
>; DISKUSI FORUM HLD <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; GELORA_In <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >
Cc: Jonathan Goeij <[email protected] <mailto:[email protected]> >; 
Lusi.D <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Roeslan 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Daeng 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Rachmat 
Hadi-Soetjipto <[email protected] <mailto:[email protected]> >; 
Gol <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Harry Singgih 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Mitri 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Lingkar Sitompul 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Ronggo A. 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Ajeg <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; Farida Ishaja <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; Marsiswo Dirgantoro <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; Billy Gunadi <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; [email protected] 
<mailto:[email protected]> ; Mang Broto <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; [email protected] 
<mailto:[email protected]> ; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service 
Indonesia] <[email protected] <mailto:[email protected]> >; C. Manuputty 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; 
[email protected] <mailto:[email protected]> ; Oman Romana 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; 
[email protected] <mailto:[email protected]> 
Subject: [GELORA45] 5 Provinsi dengan Konflik Agraria Terbanyak

 

  

Kemakmuran dan kesejahteraan rakyat baru dapat mulai direalisasi kalau 
konflik-konflik tanah ini diselesaikan dengan adil. Mereka yang percaya 
kemakmuran dan kesejahteraan rakyat dapat dicapai melalui penanaman modal asing 
dan Pembangunan yang menerapkan Master Plan Percepatan dan Perluasan Ekonomi 
Indonesia (MP3EI) sebenarnya tidak mengakui bahwa kontradiksi pokok yang harus 
diselesaikan adalah masalah agraria, masalah kepemilikan tanah. Sejak Suharto 
berkuasa tahun 1966, kebijakan ekonomi dan pembangunan PADA POKOKNYA tidak 
berubah....Selalu bersandar pada penanaman modal asing, selalu dengan 
urbanisasi.... Mengapa sudah berlalu lebih setengah abad, kemakmuran dan 
kesejahteraan semakin jauh?? Masih belum mengerti apa arti kekayaan 4 orang 
terkaya melebihi apa yang dimilik 100 juta rakyat Indonesia???? PIkirlah dari 
perspektif rakyat bukan dari perspektif konglomerat!!!

 

  
<https://scontent-ams3-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-9/16996332_10212353149452930_179357039906356318_n.jpg?oh=5385e6cad2d3e26643733e706a8a8cb7&oe=593A8F11>
 

 



Kirim email ke