Tulisan yang menarik. Ada beberapa point yang sesuai dengan kenyataan (sudah
tentu menurut pandangan saya). Misalnya:duit gak akan keluar dari sarangnya
kecuali hanya untuk membawa pulangtemannya lagi (sesama duit). Ini sama dengan
mengatakan kapital dikeluarkan oleh pemiliknya dan ditanam untuk melahirkan
profit. Kapital selalu cari tempat di mana bisa menghasilkan keuntungan.
Kapitalis Saudi tdk melihat umat Islam suatunegara sebagai saudara seagama. Apa
yg telahdibuatnya untuk "saudara-saudara seagamanya" di Mesir, Libya,
Palestina,Suriah, Iraq, dan Yaman yg berada dalam lingkungan terdekatnya?
Sepanjang tdk mendatangkan keuntungan ekonomi,tak ada tindakan berarti yg·
dibuatnyauntuk "saudara-saudara seagamanya" itu.
Benar sekali!! Bagi kaum kapitalis, yang utama adalah keuntungan ekonomi. Soal
agama sama sekali tidak penting.
Pepatah tua mengatakan, orang kaya hanya bergaul dgn sesama orang
kaya...Benar sekali. Mana ada orang kaya bergaul dengan orang miskin. Orang
miskin dijadikan jongosnya, nah itu baru mungkin!
Saudi dan RRT adalah dua kekuatan Kapitalismeyg didukung oleh Kekuasaan
Otoriter (diktator?) yg anti demokrasi. Apakah kunjungan Raja Salman akan
memperkuatdemokrasi di Indonesia? No,bagi investor RRT dan Saudi, yg mereka
harapkan terjadi di Indonesia adalah*stabilitas politik* untuk mengamankanuang2
mereka di sini, tidak peduli apa agamapenguasa di Indonesia, dan bagaimana
kekuasaan itu diraih dan dikelola, ygpenting mantap dan stabil.Penulis tidak
mencantumkan RRT sebagai pemerintah "Komunis". Tepat!! Mendefinisikan sebagai
Kekuasaan Otoriter yang anti demokrasi!! Dan memang betul yang penting bagi
mereka adalah "stabilitas politik". Ha...ha.. seperti kata Paus Fransiskus,
kapitalisme yang mendewakan uang.
Kapitalis Arab, Kapitalis China, keduanya sama saja, tetap kapitalis.
Fokusutamanya cuma satu, uang.
Ha...ha.. seperti kata Paus Fransiskus, kapitalisme yang mendewakan uang.
Kemarin jadi kuli dan jongos Arab di Saudi,serta jadi kuli dan jongos China di
Hongkong, sekarang bersiaplah jadi kuli danjongos Saudi dan China di negeri
sendiri, NKRI.Betul, memang ada gejala ke arah itu. Tergantung pada perjuangan
rakyat. Hanya gerakan rakyat yang bisa menghentikan arus mengorbankan rakyat
sendiri untuk dijadikan sapi perahan murah kaum pemodal asing, tak perduli dari
negeri manapun datangnya.
Uang bagaikan kawanan burung bangkai yg terbangberkelompok di angkasa,
berputar-putar mencari mangsa. Di situ adabangkai, di situlah mereka mendarat.
Mereka tak kenal kewarhanegaraan, ras/etnis,maupun agama...Betul sekali!!
Kapital tidak kenal bangsa, warna kulit, atau agama. Hanya Chan yang percaya
modal Tkk lebih baik dan menguntungkan dari pada modal Jepang atau AS!!!
Dengan GDP terbesar *kedua di dunia*, danCadangan Devisa terbesar *nomor satu
didunia*, apalagi dengan tekanan jumlah penduduk yg terus mendesak menjadi1,5
milyar orang, kemana Kapitalis RRTakan mengarahkan investasi luar negerinya?
*Indonesia*... letak geopolitisnya strategis,penduduknya banyak (sbg
konsumer/market yg kuat), sumber daya alamnyaluas dan bervariasi, para
pemimpinnya *mudah dibeli*, mental kuli danjongos rakyatnya cocok untuk jadi
bahan *tenaga kerja berbiaya murah*.Betul sekali! Hanya beberapa kata yang
tidak setuju, "mental kuli dan jongos rakyatnya...". Rakyat Indonesia tidak
bermentalitas kuli atau jongos!!! Sistim semi feodal dan semi kolonial dengan
pemerintahnya yang mengabdi tuan tanah besar, kabir dan komprador yang memaksa
mereka bekerja sebagai kuli dan jongos dan buruh dengan upah murah.
Jadi untuk apa Raja Salman datang ke Indonesia?Untuk dagang, Bro... Untuk
investasi, ya Akhii al-kiraam...Betul sekali!! Dan ingat bukan Indonesia yang
butuh Saudi, tapi Saudi yang butuh Indonesia karena harga emas hitamnya sudah
tidak memungkinkan mereka mandi duit. Dan siapa yang memfasilitasi dan mengabdi
kepada kepentingan Arab Saudi??? Pemerintah Jokowi yang memang kerjanya ngemis
modal!!! Masih kurang jelas kepada siapa Jokowi mengabdi?? Masih ingat lumbung
padi di Papua yang pernah dibanggakan oleh salah seorang anggota milis ini???
Berasnya termasuk beras organik untuk diekspor ke Arab Saudi! Rakyatnya sendiri
makan raskin!!!
Tidak percuma penulis ini menyandang gelar Dr.!!! Matanya jeli! Logikanya jalan
dengan baik.
On Tuesday, February 28, 2017 8:44 PM, "ajeg [email protected]
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:
Setelah dihantam berbagai kritik akibat kecondongannya pada RRC, barulah
Jokowi teringat citra Indonesia sebagai negara dg politik bebas-aktif.
Sayangnya, politik luarnegeri yang luhur itu disalahartikan sebagai bebas
bergaul di dunia yang semakin multipolar ini untuk berutang sana-sini.
Artinya, hanya membawa Indonesia tetap sebagai jajahan nekolim.
--- arif.harsana@... wrote:
Berikut ini, saya forward salah satu tanggapan ttg. kunjungan Raja Salman ke
Indonesia,yg isinya saya kira cukup kritis dan pantas dicermati.
A.H.-------------------
ARTIKEL_Dr.KH.Wahfiudin Sakam M.A. Sumber:
https://www.facebook.com/eva.sundariii.5/posts/1946099205618577 ENTREPRENEURS
kunci Kemandirian Ekonomi Tulisan menarik Dr. KH. Wahfiudin Sakam, M.A.
(Wakil Talqin Abah Anom, TQN Suryalaya). Sahabat Ust Saad,, ??? Umat Islam
Indonesia memang bakal gigit jari... terserah,y mau satu jari, dua jari, atau
tiga jari... Sy tdk percaya kedatangan Raja Salman krn memikirkan umat Islam
Indonesia.
Dia datang lebih krn kepentingan negaranya sendiri, bahkan lebih sempit lagi,
krn kepentingan Dinasti Saud, demi diri dan keluarganya sendiri. Tak ada itu
dana (solidaritas) Islam.
Dia arahkan kebijakan luar negerinya ke Timur (India, Malaysia, Indonesia,
Jepang, bahkan RRT) krn gerak invèstasinya di Barat semakin sulit. Ekonomi USA
belum sembuh dari kehancuran akibat krisis mortgage 2007, ditambah kebijakan
Trump yg "America first", self protective, dan anti-Islam. Eropa, dengan bbrp
negara spt Yunani, Portugal, Spanyol terus mengalami krisis ekonomi; dan
keluarnya Inggris dari UE, semakin memberi ketidak pastian masa depan untuk
investasi. RRT, INDIA, INDONESIA... tiga negara dgn pertumbuhan ekonomi yg
terbaik (relatif dari semua negara di dunia), tiga negara berpenduduk terbesar
yg siap menjadi market besar dunia, lebih menjanjikan untuk investasi uang
Dinasti Saud. Benarkah Raja Salman bawa uang 325T untuk menutup hutang RI kpd
RRT? Hahaha... nonsense... omong kosong... Duit gak kenal saudara pemiliknya
(manusia)... duit gak akan keluar dari sarangnya kecuali hanya untuk membawa
pulang temannya lagi (sesama duit). Bagaimana Raja Salman mau nebar duit untuk
umat Islam Indonesia, kalau uang kematian korban robohnya crane di Masjidil
Haram yg dijanjikannya sendiri sudah bertahun-tahun belum bisa dia bayarkan.
Belum lagi janji untuk menghajikan keluarga korban "tragedi Mina 2". Bagaimana
mau menebar uang untuk umat Islam, kalau Saudi sendiri sdg berusaha "memeras"
umat Islam dunia dgn menaikkan harga visa Haji dan Umrah, menjadikan Haji dan
Umrah sbg "komoditi eksklusif" dgn "market yg captive", padahal tebar pesona
sebagai "Khadimul Haramain (pelayan dua Tanah Suci)". Bagaimana Saudi mau
membebaskan umat Islam Indonesia dari terkaman RRT, kalau RRT pemegang dana
cadangan devisa terbesar di dunia (sekitar 3,5T US $), kontraktor pembangunan
jaringan kereta api di Saudi, juga kontraktor dan investor besar pembangunan
proyek2 infrastruktur di negara-negara Teluk Arab. Harga minyak dunia sdg
turun, Saudi tak mau menurunkan produksinya walau sdh ditekan OPEC, maka
satu2nya cara meningkatkan harganya dgn meningkatkan penjualannya, dan potensi
pembeli terbesarnya adalah RRT yg sdg haus enerji untuk pembangunan sektor
industrinya. Itu sebabnya setelah dari Indonesia Raja Salman akan ke RRT, untuk
memperkuat kerjasama ekonomi dgn RRT. Dalam "The Clash of Civilizations" S
Huntington juga meramalkan, benturan peradaban yang akan terjadi adalah antara
Peradaban Barat dgn Peradaban Islam (Arab?) Yg bersatu dgn Perdaban
Konfusianisme (Cina?). Kapitalis Saudi tdk melihat umat Islam suatu negara
sebagai saudara seagama. Apa yg telah dibuatnya untuk "saudara-saudara
seagamanya" di Mesir, Libya, Palestina, Suriah, Iraq, dan Yaman yg berada dalam
lingkungan terdekatnya? Sepanjang tdk mendatangkan keuntungan ekonomi, tak ada
tindakan berarti yg dibuatnya untuk "saudara-saudara seagamanya" itu.
Kedatangannya ke Indonesia, dengan siapa pertemuan-pertemuan pendahuluan
dilakukan untuk mempersiapkannya? Apakah dgn MUI, NU, Muhammadiyah, atau
Parpol-parpol Islam spt PKS, PAN, PPP, PKB? No, ini bukan kunjungan
keagamaan... ini kunjungan bisnis Kapitalis Saudi yg sdg mencari saudaranya
sesama kapitalis... Dan siapa kapitalis-kapitalis besar di Indonesia? Lihatlah
para pangeran Saudi itu, dengan siapa pertemuan2 bisnis mrk sdh diagendakan, di
saat sang Raja melakukan acara seremonial diplomasi kenegaraan? Pepatah tua
mengatakan, orang kaya hanya bergaul dgn sesama orang kaya... Saudi dan RRT
adalah dua ,kekuatan Kapitalisme yg didukung oleh Kekuasaan Otoriter
(diktator?) yg anti demokrasi. Apakah kunjungan Raja Salman akan memperkuat
demokrasi di Indonesia? No, bagi investor RRT dan Saudi, yg mereka harapkan
terjadi di Indonesia adalah stabilitas politik untuk mengamankan uang2 mereka
di sini, tidak peduli apa agama penguasa di Indonesia, dan bagaimana kekuasaan
itu diraih dan dikelola, yg penting mantap dan stabil. Apakah kunjungan Raja
Salman itu sama sekali tidak ada pengaruhnya bagi keIslaman di Indonesia? Pasti
ada dong, walau serpihan-serpihan saja. Yg jelas kelompok dakwah Salafi Wahabi
(SaWah) akan makin kebanjiran dana. Bukan SaWah yg radikal, tapi SaWah yg anti
demokrasi, bahkan yg apolitis. Paling-paling hanya akan menambah keributan soal
syirik, bid'ah, dhalalah, kafir... dan enerji dakwah hanya akan tersita di
keributan soal itu, sebagaimana terjadi di Makkah dan Madinah, lalu umat Islam
terlalaikan dari pergulatan yg sesungguhnya di pucuk-pucuk Kekuasaan dan
Ekonomi negeri ini. Kapitalis Arab, Kapitalis China, keduanya sama saja, tetap
kapitalis. Fokus utamanya cuma satu, uang.
Jalan menuju uang, yg harus dibangun oleh umat Islam Indonesia adalah:
ENTREPRENEURSHIP !!!
Kalau jalan itu tak dikembangkan, silahkan jadi kuli dan jongos saja. SELAMAT
DATANG KAPITALIS RRT DAN KAPITALIS SAUDI. Kemarin jadi kuli dan jongos Arab di
Saudi, serta jadi kuli dan jongos China di Hongkong, sekarang bersiaplah jadi
kuli dan jongos Saudi dan China di negeri sendiri, NKRI. Uang bagaikan kawanan
burung bangkai yg terbang berkelompok di angkasa, berputar-putar mencari
mangsa. Di situ ada bangkai, di situlah mereka mendarat. Mereka tak kenal
kewarhanegaraan, ras/etnis, maupun agama... Setelah pelemahan ekonomi di Eropa,
juga Amerika, terlebih dgn kebijakan Donald Trump yg self-protection dan
anti-Islam, kemana para Kapitalis Saudi akan mengarahkan investasinya? Afrika
yg dekat dgn Saudi, dari dulu tak pernah menjanjikan. Dengan GDP terbesar kedua
di dunia, dan Cadangan Devisa terbesar nomor satu di dunia, apalagi dengan
tekanan jumlah penduduk yg terus mendesak menjadi 1,5 milyar orang, kemana
Kapitalis RRT akan mengarahkan investasi luar negerinya? India... paling banyak
punya ahli IT dan Manajer. Vietnam... paling kuat jaringan internetnya.
Malaysia... kuat entrepreneur-nya. Indonesia... letak geopolitisnya strategis,
penduduknya banyak (sbg konsumer/market yg kuat), sumber daya alamnya luas dan
bervariasi, para pemimpinnya mudah dibeli, mental kuli dan jongos rakyatnya
cocok untuk jadi bahan tenaga kerja berbiaya murah. Ke Indonesia-lah, para
Kapitalis Saudi dan Kapitalis RRT datang... Memangnya Raja Salman datang ke
Indonesia mau menyelesaikan urusan Islam dan umat Islam di Indonesia?
No... ini urusan investasi keluarga Saud, ya akhii... Bagaimana Raja Salman mau
mengurus Islam di Indonesia, kalau: 1. Raja Salman tak punya pengalaman
mengurus umat sebanyak ini. Di Saudi cuma ada sekitar 22 juta muslim, di
Indonesia 220 juta muslim. 2. Di Indonesia ada lebih banyak Perguruan Tinggi
Agama Islam yg menghasilkan Sarjana-sarjana ahli Ilmu Agama Islam daripada di
Saudi. Coba hitung, betapa banyak Indonesia punya pesantren, madrasah diniyah,
ibtidaiyah hingga aliyah, UIN, IAIN, STAIN, STAI Swasta, Universitas Islam,
kursus-kursus muballigh. Saya tdk tahu, para sarjana S1 hingga S3 Ilmu Agama
Islam yg dihasilkannya, malah membawa kemajuan bagi umat atau malah menjadi
beban... karena kalau sdh sarjana, lalu jadi pegawai atau pengajar, gaji dan
fasilitas yg ditunutunya pun semakin mahal... jadi muballigh pun tarifnya
semakin tinggi... tapi apa dampaknya bagi perkembangan dakwah? Entahlah...
Yg jelas, kerja "semut-semut pekerja dakwah" dari Jamaah Tabligh, yg door to
door menjemput orang ke jalan iman, lebih banyak "mengIslamkan" orang daripada
apa yg dilakukan oleh para sajana Perguruan Tinggi Agama Islam, karena mereka
lebih sibuk antri jadi PNS (sekarang ASN) di Kemenag dgn menenteng
ijasah-ijasah mereka. 3. Di Indonesia lebih banyak organisasi dakwah dan
harakah Islamiyah daripada di Arab Saudi, dengan variasi mazhab fiqih, firqah
aqidah, dan aliran thariqah yg beragam, dengan corak yg fundamental, radikal,
liberal, dan sinkretis, lengkap dgn garis keras, garis lurus, dan garis lucu...
Gak akan sanggup Raja Salman memahami semua itu, apalagi memikirkan dan
menyelesaikannya... 4. Di Indonesia banyak terdapat parpol-parpol Islam yg
mengusung "politik demokrasi liberal", padahal itu yg paling ditakuti oleh
Dinasti Saud. Kalau semangat demokrasi menular ke rakyat Arab Saudi, hancur itu
kerajaan, dan anggota Dinasti Saud akan dibunuhi seperti Saddam Husein dan
Moammar Khadafi... Maka Arab Springs berhenti di depan pintu Arab Saudi. 5. Di
Indonesia ada Ahok dan Sembilan Naga, justeru orang-orang spt itu yg disukai
para Kapitalis Saudi. Mrk pekerja keras, pebisnis ulung, pandai membuat
perkongsian...
Industri pabrikasi, konstruksi dan perdagangan di Arab Saudi sangat maju karena
bekerjasama dgn para pebisnis China. Di pasar Ternate (pelosok Utara Maluku)
toko-toko Arab dan China berdampingan sejak lama, begitu juga di Ambon.
Di Surabaya, Malang, Gresik, Pekalongan (pusat industri batik), Bogor (Empang),
Palembang, Makassar... pebisnis Arab dan pebisnis China, dgn gaya berkongsi
masing-masing, mereka berdagang bersama-sama di pasar, membangun pabrik,
klinik, apotik, toko kelontong... gak pernah mereka konflik...
Travel Haji/Umrah di Indonesia pun banyak dikelola bersama oleh pebisnis
Arab/Saudi dgn China. 6. Raja Salman datang bukan untuk memberesi banjir
Jakarta... justeru mrk sangat menyukai hujan lebat, krn capek hidup di gurun
kering. Juga bukan untuk menyelesaikan macet Jakarta, krn orang Saudi tidak
banyak tinggal di Jakarta, senangnya di kawasan Puncak, Batu/Malang, daerah yg
sejuk-sejuk tapi banyak hidangan hangatnya... 6. Jadi untuk apa Raja Salman
datang ke Indonesia? Untuk dagang, Bro... Untuk investasi, ya Akhii
al-kiraam... Pokoknya, kalau umat Islam Indonesia tidak punya semangat
kemandirian, sibuk mengagungkan Turki dan Erdogan, sibuk berteriak soal
Palestina dan Suriah, bergantung pada duit Kapitalis Saudi dan RRT... serta
tidak membangun ENTREPRENEURSHIP yg kuat, maka kita hanya sebagai penonton.
Eva Kusuma Sundari ***
__
#yiv5908328650 #yiv5908328650 -- #yiv5908328650ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv5908328650
#yiv5908328650ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv5908328650
#yiv5908328650ygrp-mkp #yiv5908328650hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv5908328650 #yiv5908328650ygrp-mkp #yiv5908328650ads
{margin-bottom:10px;}#yiv5908328650 #yiv5908328650ygrp-mkp .yiv5908328650ad
{padding:0 0;}#yiv5908328650 #yiv5908328650ygrp-mkp .yiv5908328650ad p
{margin:0;}#yiv5908328650 #yiv5908328650ygrp-mkp .yiv5908328650ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv5908328650 #yiv5908328650ygrp-sponsor
#yiv5908328650ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv5908328650
#yiv5908328650ygrp-sponsor #yiv5908328650ygrp-lc #yiv5908328650hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv5908328650
#yiv5908328650ygrp-sponsor #yiv5908328650ygrp-lc .yiv5908328650ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv5908328650 #yiv5908328650actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv5908328650
#yiv5908328650activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv5908328650
#yiv5908328650activity span {font-weight:700;}#yiv5908328650
#yiv5908328650activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv5908328650 #yiv5908328650activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv5908328650 #yiv5908328650activity span
span {color:#ff7900;}#yiv5908328650 #yiv5908328650activity span
.yiv5908328650underline {text-decoration:underline;}#yiv5908328650
.yiv5908328650attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv5908328650 .yiv5908328650attach div a
{text-decoration:none;}#yiv5908328650 .yiv5908328650attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv5908328650 .yiv5908328650attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv5908328650 .yiv5908328650attach label a
{text-decoration:none;}#yiv5908328650 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv5908328650 .yiv5908328650bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv5908328650
.yiv5908328650bold a {text-decoration:none;}#yiv5908328650 dd.yiv5908328650last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv5908328650 dd.yiv5908328650last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv5908328650
dd.yiv5908328650last p span.yiv5908328650yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv5908328650 div.yiv5908328650attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv5908328650 div.yiv5908328650attach-table
{width:400px;}#yiv5908328650 div.yiv5908328650file-title a, #yiv5908328650
div.yiv5908328650file-title a:active, #yiv5908328650
div.yiv5908328650file-title a:hover, #yiv5908328650 div.yiv5908328650file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv5908328650 div.yiv5908328650photo-title a,
#yiv5908328650 div.yiv5908328650photo-title a:active, #yiv5908328650
div.yiv5908328650photo-title a:hover, #yiv5908328650
div.yiv5908328650photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv5908328650
div#yiv5908328650ygrp-mlmsg #yiv5908328650ygrp-msg p a
span.yiv5908328650yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv5908328650
.yiv5908328650green {color:#628c2a;}#yiv5908328650 .yiv5908328650MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv5908328650 o {font-size:0;}#yiv5908328650
#yiv5908328650photos div {float:left;width:72px;}#yiv5908328650
#yiv5908328650photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv5908328650
#yiv5908328650photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv5908328650
#yiv5908328650reco-category {font-size:77%;}#yiv5908328650
#yiv5908328650reco-desc {font-size:77%;}#yiv5908328650 .yiv5908328650replbq
{margin:4px;}#yiv5908328650 #yiv5908328650ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv5908328650 #yiv5908328650ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv5908328650
#yiv5908328650ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv5908328650
#yiv5908328650ygrp-mlmsg select, #yiv5908328650 input, #yiv5908328650 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv5908328650
#yiv5908328650ygrp-mlmsg pre, #yiv5908328650 code {font:115%
monospace;}#yiv5908328650 #yiv5908328650ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv5908328650 #yiv5908328650ygrp-mlmsg #yiv5908328650logo
{padding-bottom:10px;}#yiv5908328650 #yiv5908328650ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv5908328650 #yiv5908328650ygrp-msg
p#yiv5908328650attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv5908328650
#yiv5908328650ygrp-reco #yiv5908328650reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv5908328650 #yiv5908328650ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv5908328650 #yiv5908328650ygrp-sponsor
#yiv5908328650ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv5908328650
#yiv5908328650ygrp-sponsor #yiv5908328650ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv5908328650
#yiv5908328650ygrp-sponsor #yiv5908328650ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv5908328650 #yiv5908328650ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv5908328650 #yiv5908328650ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv5908328650 #yiv5908328650ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv5908328650
#yiv5908328650ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv5908328650