Ada sebuah posting di milis Apakabar 19 th yang silam, yg ini tentang dalam negeri Indonesia pada masa itu: --- [INDONESIA-L] Cina dan Arab From: [email protected] Date: Fri Mar 27 1998 - 07:45:00 ESTForwarded message: From [email protected] Thu Mar 26 21:36:57 1998 Date: Thu, 26 Mar 1998 19:34:02 -0700 (MST) Message-Id: <[email protected]> To: [email protected] From: [email protected] Subject: [INDONESIA-L] Cina dan Arab Sender: [email protected] Date: Fri, 27 Mar 1998 To: [email protected] Subject: China dan Arab CINA DAN ARAB Sejak beberapa hari ini sudah muncul pendapat mengenai Cina dan Arab di Indonesia.Kesempatan ini saya pakai untuk mengajak para netter bersama -sama sedikit merenungkan sejarah mengapa masalah ini bisa timbul. Pada dasarnya,dengan makin menglobalnya masyarakat,sudah makin menjadi absurb berbicara mengenai keburukan sekelompok manusia berdasarkan suku,bangsa atau agama.Jika kita ingin menjadi bagian dari masyarakat dunia yang dihormati,sikap dari zaman pertengahan ini harus dapat kita buang. Hari dapat dibaca pendapat dua netter yang mengutarakan tentang betapa Arab dan Cina diperlakukan secara sangat berbeda di Indonesia tercinta ini. Mari kita teropong dulu apa yang dialami masing-masing kelompok masyarakat ini. WNI keturunan Cina Sudah menjadi WNI dan mengganti nama,tetapi haknya sebagai warganegara selama 33 tahun terakhir boleh dikatakan tergantung dari kebaikan atau belaskasihan para pejabat.Sedikit salah langsung dimaki "Cina loleng".Karya dipemerintahan praktis hampir nol.Masuk universitas negeri dibatasi sekali.Dibidang kedokteran,kalau mau spesialisasi bidang-bidang yang tertentu boleh dikatakan sudah impossible seperti bedah,mata,THT dan anak.Satu-satunya bidang yang terbuka dan memang didorong kesana adalah bisnis alias berdagang.Karena cuma itu yang bisa dilakukan,mereka akhirnya tambah pintar berdagang dan tambah kaya.Sama saja orang disuruh tiap hari cuma boleh main tenis,jelas dia akan mahir sekali main tenis.Nah,sudah menjadi pinter berdagang dan kaya,lalu datanglah iri dari sebagian pribumi yang mempunyai peluang disegala bidang dan berpandangan sempit.Sedikit salah digebukin atau toko dibakar.Apa sih yang diherankan jika WNI keturunan Cina akhirnya menguasai prosentasi besar kehidupan ekonomi kita ? Ini adalah konsekwensi yang logis.Sama seperti zaman dulu di Eropah,orang Yahudi dipaksa cuma boleh bergerak dalam bidang tertentu (pinjam meminjam duit alias perbankan,permata).Sampai hari inipun kita bisa melihat betapa keuangan di Amerika Utara dan Eropah sangat banyak dikuasai kaum keturunan Yahudi.Perdagangan intan didunia juga dikuasai mereka.Siapa tidak kenal Brussel dan Amsterdam sebagai kota pengasahan serta perdagangan intan dunia ? Siapa dibelakangnya ? Kembali mengenai WNI keturunan (selalu diidentifikasikan hanya untuk Cina).KTP saja ada tanda khusus (mirip seperti warga Jerman keturunan Yahudi dizaman Nazi Hitler,semua tanda bukti mereka dicap J = Jude).Manusia malas belajar dari sejarah.Di Jakarta,memiliki surat kewarganegaraan saja tidak cukup.Masih harus ditambah surat K1.Sungguh menggelikan dan sekaligus sebenarnya pemerintah menampar diri sendiri.Mestinya para hakim dipengadilan protes atas ketidakpercayaan demikian.Tapi kok diam saja ya ? Atau ini merupakan salah satu sumber tambahan untuk memeras ? Setelah 6 kabinet baru kali ini dimasukkan seoang yang dianggap WNI keturunan.Mengapa saya katakan "dianggap" ? Sudah menjadi rahasia umum bahwa Bob Hasan yang dulunya berdagang di Pasar Pagi memungkiri dirinya sebagai orang keturunan Cina.Lihat saja pegawai diperusahaannya,mana ada yang keturunan Cina. Dari sekian juta warganegara Indonesia keturnan Cina,mengapa harus Bob Hasan yang dijadikan menteri ? Masih banyak yang jelas mempunyai jiwa lebih besar,kemampuan lebih baik dan moral yang pasti lebih tinggi daripada Bob Hasan.Apakah ini caranya untuk menunjukkan kepada rakyat bahwa Cina sudah diberi kesempatan menjadi menteri,tapi ternyata tidak bisa berbuat apa-apa.Alangkah sayang wahai penguasa.Saya yakin bahwa rakyat akan dapat menmberi penilaian yang lebih obyektip. ARAB Selama Orde Baru ini Arab tidak pernah mendapat perlakuan sebagai second class citizen,malah sebaliknya.Apakah ini karena warisan sejarah ? Kita lihat betapa banyak sultan zaman dulu di Nusantara ini yang keturunan Arab.Kesultanan di Jambi,Pontianak,Aceh,Maluku,Sulawesi Selatan dan saya kira juga di Jawa.Dengan mengklaim bahwa mereka masih turunan keberapa dari Nabi,tunduklah orang lokal. Dizaman sekarang,dengan jumlah manusianya yang paling banyak katakanlah satu juta (mungkin tidak sampai),turunan Arab masih menguasai banyak sendi kehidupan bangsa Indonesia. Kalau untuk keturunan Cina di universitas negeri cuma disediakan lowongan sekitar 5% karena alasannya sesuai dengan prosentasi penduduk,maka saya pertanyakan mengenai prosentasi keturunan Arab yang duduk dipemerintahan.Mulai dari Kabinet (Fuad Bawazier,Ali Alatas,dsb) sampai ketingkat kecamatan dan kelurahan. Maka saya hampir tidak bisa percaya ketika BJ Habibie mengatakan bahwa tidak adil kalau 70% ekonomi Indonesia dikuasai oleh keturunan Cina yang cuma 3% dari jumlah penduduk.Berapa persen sih jumlah penduduk keturunan Arab sampai mereka bisa menjadi Wapres,Wakil Ketua MPR,Ketua Kadin,beberapa menteri (silahkan hitung prosentasinya),gubernur.Bukankah UUD 45 menyatakan bahwa yang bisa menjadi preiden adalah pribumi ? Apakah keturunan Arab dianggap pribumi ? Jika demikian halnya,alangkah jauh kita melanggar UUD 45 yang terus didengungkan. Ketua Kadin Aburizal Bakrie dengan gagah menganjurkan kepada pemerintah agar mengambil kesempatan sekarang untuk menggeser semua konglomerat Cina ? Sungguh mengherankan.Seolah-olah dia lebih pribumi daripada pribumi Jawa umpamanya.Sama halnya seperti BJ Habibie,dengan pernyataan-pernyataan anti keturnan Cina sesungguhnya mereka merendahkan martabat sendiri.Ingatlah bahwa seorang pemimpin yang baik harus bisa mengayomi dan menterjemahkan inspirasi,aspirasi dan keinginan masyarakat menjadi kenyataan yang menguntungkan rakyat yang dipimpinnya. Alangkah menyedihkan jika kacang lupa pada kulitnya. Menteri-menteri yang keturunan Arab dalam kabinet sekarang saya percaya ada yang baik seperti Pak Ali Alatas. Marilah kita mengambil kesempatan krismon ini untuk merefleksikan kembali apa yang telah terjadi dinegara ini selama masa Orde Baru.Apakah kita bertambah maju dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ? Masyarakat yang adil dan makmur merupakan cita-cita yang sangat luhur.Namun,dengan mengelompokkan dan memberi perlakuan yang berbeda bagi warga menurut warna kulit,keturunan dan agama kita sudah melanggar ikrar bersama.Akan sedih para pahlawan dialam baka jika mengetahui bahwa apa yang mereka perjuangkan setengah abad yang lalu yaitu kemerdekaan,kemakmuran merata bagi seluruh bangsa masih jauh dari kenyataan. Kita berutang kepada pahlawan dan juga kepada anak cucu kita.Pemerintah Orde Baru sesungguhnya mengulangi sejarah yang dibuat Pemerintah Hinda Belanda dengan membagi masyarakat menjadi tiga kelompok demi menerapkan politik divide et imperanya.Kok sesudah merdeka pola atau sistem ini malh lebih diperketat.Apakah ini kemajuan ? Bahwasanya sekarang warga keturunan Arab bisa sangat berpengaruh dipemerintahan adalah karena sistem yang diciptakn memungkinkan terjadinya hal ini.Bukan kesalahan kelompok keturunan Arab karena membedakan manusia berdasarkan keturunan secara prinsip saya tolak. Marilah kita membuka mata dan hati untuk melihat kebenaran,kemudian berani mengakui kesalahan yang lalu dan mengadakan perubahan menuju yang lebih baik.Tidak pernah terlambat,yang penting ada kemauan yang tulus. Pakailah kesempatan krisis yang ada sekarang sebagai momentum yang baik untuk menyehatkan cara kita hidup berbangsa dan bernegara.Kebenaran pasti akan menang,cepat atau lambat. SUARA NURANI
Show original message On Wednesday, March 1, 2017 10:12 AM, Tatiana Lukman <[email protected]> wrote: Tulisan yang menarik. Ada beberapa point yang sesuai dengan kenyataan (sudah tentu menurut pandangan saya). Misalnya:duit gak akan keluar dari sarangnya kecuali hanya untuk membawa pulangtemannya lagi (sesama duit). Ini sama dengan mengatakan kapital dikeluarkan oleh pemiliknya dan ditanam untuk melahirkan profit. Kapital selalu cari tempat di mana bisa menghasilkan keuntungan. Kapitalis Saudi tdk melihat umat Islam suatunegara sebagai saudara seagama. Apa yg telahdibuatnya untuk "saudara-saudara seagamanya" di Mesir, Libya, Palestina,Suriah, Iraq, dan Yaman yg berada dalam lingkungan terdekatnya? Sepanjang tdk mendatangkan keuntungan ekonomi,tak ada tindakan berarti yg· dibuatnyauntuk "saudara-saudara seagamanya" itu.Benar sekali!! Bagi kaum kapitalis, yang utama adalah keuntungan ekonomi. Soal agama sama sekali tidak penting. Pepatah tua mengatakan, orang kaya hanya bergaul dgn sesama orang kaya...Benar sekali. Mana ada orang kaya bergaul dengan orang miskin. Orang miskin dijadikan jongosnya, nah itu baru mungkin! Saudi dan RRT adalah dua kekuatan Kapitalismeyg didukung oleh Kekuasaan Otoriter (diktator?) yg anti demokrasi. Apakah kunjungan Raja Salman akan memperkuatdemokrasi di Indonesia? No,bagi investor RRT dan Saudi, yg mereka harapkan terjadi di Indonesia adalah*stabilitas politik* untuk mengamankanuang2 mereka di sini, tidak peduli apa agamapenguasa di Indonesia, dan bagaimana kekuasaan itu diraih dan dikelola, ygpenting mantap dan stabil.Penulis tidak mencantumkan RRT sebagai pemerintah "Komunis". Tepat!! Mendefinisikan sebagai Kekuasaan Otoriter yang anti demokrasi!! Dan memang betul yang penting bagi mereka adalah "stabilitas politik". Ha...ha.. seperti kata Paus Fransiskus, kapitalisme yang mendewakan uang. Kapitalis Arab, Kapitalis China, keduanya sama saja, tetap kapitalis. Fokusutamanya cuma satu, uang. Ha...ha.. seperti kata Paus Fransiskus, kapitalisme yang mendewakan uang. Kemarin jadi kuli dan jongos Arab di Saudi,serta jadi kuli dan jongos China di Hongkong, sekarang bersiaplah jadi kuli danjongos Saudi dan China di negeri sendiri, NKRI.Betul, memang ada gejala ke arah itu. Tergantung pada perjuangan rakyat. Hanya gerakan rakyat yang bisa menghentikan arus mengorbankan rakyat sendiri untuk dijadikan sapi perahan murah kaum pemodal asing, tak perduli dari negeri manapun datangnya. Uang bagaikan kawanan burung bangkai yg terbangberkelompok di angkasa, berputar-putar mencari mangsa. Di situ adabangkai, di situlah mereka mendarat. Mereka tak kenal kewarhanegaraan, ras/etnis,maupun agama...Betul sekali!! Kapital tidak kenal bangsa, warna kulit, atau agama. Hanya Chan yang percaya modal Tkk lebih baik dan menguntungkan dari pada modal Jepang atau AS!!! Dengan GDP terbesar *kedua di dunia*, danCadangan Devisa terbesar *nomor satu didunia*, apalagi dengan tekanan jumlah penduduk yg terus mendesak menjadi1,5 milyar orang, kemana Kapitalis RRTakan mengarahkan investasi luar negerinya?*Indonesia*... letak geopolitisnya strategis,penduduknya banyak (sbg konsumer/market yg kuat), sumber daya alamnyaluas dan bervariasi, para pemimpinnya *mudah dibeli*, mental kuli danjongos rakyatnya cocok untuk jadi bahan *tenaga kerja berbiaya murah*.Betul sekali! Hanya beberapa kata yang tidak setuju, "mental kuli dan jongos rakyatnya...". Rakyat Indonesia tidak bermentalitas kuli atau jongos!!! Sistim semi feodal dan semi kolonial dengan pemerintahnya yang mengabdi tuan tanah besar, kabir dan komprador yang memaksa mereka bekerja sebagai kuli dan jongos dan buruh dengan upah murah. Jadi untuk apa Raja Salman datang ke Indonesia?Untuk dagang, Bro... Untuk investasi, ya Akhii al-kiraam...Betul sekali!! Dan ingat bukan Indonesia yang butuh Saudi, tapi Saudi yang butuh Indonesia karena harga emas hitamnya sudah tidak memungkinkan mereka mandi duit. Dan siapa yang memfasilitasi dan mengabdi kepada kepentingan Arab Saudi??? Pemerintah Jokowi yang memang kerjanya ngemis modal!!! Masih kurang jelas kepada siapa Jokowi mengabdi?? Masih ingat lumbung padi di Papua yang pernah dibanggakan oleh salah seorang anggota milis ini??? Berasnya termasuk beras organik untuk diekspor ke Arab Saudi! Rakyatnya sendiri makan raskin!!! Tidak percuma penulis ini menyandang gelar Dr.!!! Matanya jeli! Logikanya jalan dengan baik. On Tuesday, February 28, 2017 8:44 PM, "ajeg [email protected] [GELORA45]" <[email protected]> wrote: Setelah dihantam berbagai kritik akibat kecondongannya pada RRC, barulah Jokowi teringat citra Indonesia sebagai negara dg politik bebas-aktif. Sayangnya, politik luarnegeri yang luhur itu disalahartikan sebagai bebas bergaul di dunia yang semakin multipolar ini untuk berutang sana-sini. Artinya, hanya membawa Indonesia tetap sebagai jajahan nekolim. --- arif.harsana@... wrote: Berikut ini, saya forward salah satu tanggapan ttg. kunjungan Raja Salman ke Indonesia,yg isinya saya kira cukup kritis dan pantas dicermati. A.H.------------------- ARTIKEL_Dr.KH.Wahfiudin Sakam M.A. Sumber: https://www.facebook.com/eva.sundariii.5/posts/1946099205618577 ENTREPRENEURS kunci Kemandirian Ekonomi Tulisan menarik Dr. KH. Wahfiudin Sakam, M.A. (Wakil Talqin Abah Anom, TQN Suryalaya). Sahabat Ust Saad,, ??? Umat Islam Indonesia memang bakal gigit jari... terserah,y mau satu jari, dua jari, atau tiga jari... Sy tdk percaya kedatangan Raja Salman krn memikirkan umat Islam Indonesia. Dia datang lebih krn kepentingan negaranya sendiri, bahkan lebih sempit lagi, krn kepentingan Dinasti Saud, demi diri dan keluarganya sendiri. Tak ada itu dana (solidaritas) Islam. Dia arahkan kebijakan luar negerinya ke Timur (India, Malaysia, Indonesia, Jepang, bahkan RRT) krn gerak invèstasinya di Barat semakin sulit. Ekonomi USA belum sembuh dari kehancuran akibat krisis mortgage 2007, ditambah kebijakan Trump yg "America first", self protective, dan anti-Islam. Eropa, dengan bbrp negara spt Yunani, Portugal, Spanyol terus mengalami krisis ekonomi; dan keluarnya Inggris dari UE, semakin memberi ketidak pastian masa depan untuk investasi. RRT, INDIA, INDONESIA... tiga negara dgn pertumbuhan ekonomi yg terbaik (relatif dari semua negara di dunia), tiga negara berpenduduk terbesar yg siap menjadi market besar dunia, lebih menjanjikan untuk investasi uang Dinasti Saud. Benarkah Raja Salman bawa uang 325T untuk menutup hutang RI kpd RRT? Hahaha... nonsense... omong kosong... Duit gak kenal saudara pemiliknya (manusia)... duit gak akan keluar dari sarangnya kecuali hanya untuk membawa pulang temannya lagi (sesama duit). Bagaimana Raja Salman mau nebar duit untuk umat Islam Indonesia, kalau uang kematian korban robohnya crane di Masjidil Haram yg dijanjikannya sendiri sudah bertahun-tahun belum bisa dia bayarkan. Belum lagi janji untuk menghajikan keluarga korban "tragedi Mina 2". Bagaimana mau menebar uang untuk umat Islam, kalau Saudi sendiri sdg berusaha "memeras" umat Islam dunia dgn menaikkan harga visa Haji dan Umrah, menjadikan Haji dan Umrah sbg "komoditi eksklusif" dgn "market yg captive", padahal tebar pesona sebagai "Khadimul Haramain (pelayan dua Tanah Suci)". Bagaimana Saudi mau membebaskan umat Islam Indonesia dari terkaman RRT, kalau RRT pemegang dana cadangan devisa terbesar di dunia (sekitar 3,5T US $), kontraktor pembangunan jaringan kereta api di Saudi, juga kontraktor dan investor besar pembangunan proyek2 infrastruktur di negara-negara Teluk Arab. Harga minyak dunia sdg turun, Saudi tak mau menurunkan produksinya walau sdh ditekan OPEC, maka satu2nya cara meningkatkan harganya dgn meningkatkan penjualannya, dan potensi pembeli terbesarnya adalah RRT yg sdg haus enerji untuk pembangunan sektor industrinya. Itu sebabnya setelah dari Indonesia Raja Salman akan ke RRT, untuk memperkuat kerjasama ekonomi dgn RRT. Dalam "The Clash of Civilizations" S Huntington juga meramalkan, benturan peradaban yang akan terjadi adalah antara Peradaban Barat dgn Peradaban Islam (Arab?) Yg bersatu dgn Perdaban Konfusianisme (Cina?). Kapitalis Saudi tdk melihat umat Islam suatu negara sebagai saudara seagama. Apa yg telah dibuatnya untuk "saudara-saudara seagamanya" di Mesir, Libya, Palestina, Suriah, Iraq, dan Yaman yg berada dalam lingkungan terdekatnya? Sepanjang tdk mendatangkan keuntungan ekonomi, tak ada tindakan berarti yg dibuatnya untuk "saudara-saudara seagamanya" itu. Kedatangannya ke Indonesia, dengan siapa pertemuan-pertemuan pendahuluan dilakukan untuk mempersiapkannya? Apakah dgn MUI, NU, Muhammadiyah, atau Parpol-parpol Islam spt PKS, PAN, PPP, PKB? No, ini bukan kunjungan keagamaan... ini kunjungan bisnis Kapitalis Saudi yg sdg mencari saudaranya sesama kapitalis... Dan siapa kapitalis-kapitalis besar di Indonesia? Lihatlah para pangeran Saudi itu, dengan siapa pertemuan2 bisnis mrk sdh diagendakan, di saat sang Raja melakukan acara seremonial diplomasi kenegaraan? Pepatah tua mengatakan, orang kaya hanya bergaul dgn sesama orang kaya... Saudi dan RRT adalah dua ,kekuatan Kapitalisme yg didukung oleh Kekuasaan Otoriter (diktator?) yg anti demokrasi. Apakah kunjungan Raja Salman akan memperkuat demokrasi di Indonesia? No, bagi investor RRT dan Saudi, yg mereka harapkan terjadi di Indonesia adalah stabilitas politik untuk mengamankan uang2 mereka di sini, tidak peduli apa agama penguasa di Indonesia, dan bagaimana kekuasaan itu diraih dan dikelola, yg penting mantap dan stabil. Apakah kunjungan Raja Salman itu sama sekali tidak ada pengaruhnya bagi keIslaman di Indonesia? Pasti ada dong, walau serpihan-serpihan saja. Yg jelas kelompok dakwah Salafi Wahabi (SaWah) akan makin kebanjiran dana. Bukan SaWah yg radikal, tapi SaWah yg anti demokrasi, bahkan yg apolitis. Paling-paling hanya akan menambah keributan soal syirik, bid'ah, dhalalah, kafir... dan enerji dakwah hanya akan tersita di keributan soal itu, sebagaimana terjadi di Makkah dan Madinah, lalu umat Islam terlalaikan dari pergulatan yg sesungguhnya di pucuk-pucuk Kekuasaan dan Ekonomi negeri ini. Kapitalis Arab, Kapitalis China, keduanya sama saja, tetap kapitalis. Fokus utamanya cuma satu, uang. Jalan menuju uang, yg harus dibangun oleh umat Islam Indonesia adalah: ENTREPRENEURSHIP !!! Kalau jalan itu tak dikembangkan, silahkan jadi kuli dan jongos saja. SELAMAT DATANG KAPITALIS RRT DAN KAPITALIS SAUDI. Kemarin jadi kuli dan jongos Arab di Saudi, serta jadi kuli dan jongos China di Hongkong, sekarang bersiaplah jadi kuli dan jongos Saudi dan China di negeri sendiri, NKRI. Uang bagaikan kawanan burung bangkai yg terbang berkelompok di angkasa, berputar-putar mencari mangsa. Di situ ada bangkai, di situlah mereka mendarat. Mereka tak kenal kewarhanegaraan, ras/etnis, maupun agama... Setelah pelemahan ekonomi di Eropa, juga Amerika, terlebih dgn kebijakan Donald Trump yg self-protection dan anti-Islam, kemana para Kapitalis Saudi akan mengarahkan investasinya? Afrika yg dekat dgn Saudi, dari dulu tak pernah menjanjikan. Dengan GDP terbesar kedua di dunia, dan Cadangan Devisa terbesar nomor satu di dunia, apalagi dengan tekanan jumlah penduduk yg terus mendesak menjadi 1,5 milyar orang, kemana Kapitalis RRT akan mengarahkan investasi luar negerinya? India... paling banyak punya ahli IT dan Manajer. Vietnam... paling kuat jaringan internetnya. Malaysia... kuat entrepreneur-nya. Indonesia... letak geopolitisnya strategis, penduduknya banyak (sbg konsumer/market yg kuat), sumber daya alamnya luas dan bervariasi, para pemimpinnya mudah dibeli, mental kuli dan jongos rakyatnya cocok untuk jadi bahan tenaga kerja berbiaya murah. Ke Indonesia-lah, para Kapitalis Saudi dan Kapitalis RRT datang... Memangnya Raja Salman datang ke Indonesia mau menyelesaikan urusan Islam dan umat Islam di Indonesia? No... ini urusan investasi keluarga Saud, ya akhii... Bagaimana Raja Salman mau mengurus Islam di Indonesia, kalau: 1. Raja Salman tak punya pengalaman mengurus umat sebanyak ini. Di Saudi cuma ada sekitar 22 juta muslim, di Indonesia 220 juta muslim. 2. Di Indonesia ada lebih banyak Perguruan Tinggi Agama Islam yg menghasilkan Sarjana-sarjana ahli Ilmu Agama Islam daripada di Saudi. Coba hitung, betapa banyak Indonesia punya pesantren, madrasah diniyah, ibtidaiyah hingga aliyah, UIN, IAIN, STAIN, STAI Swasta, Universitas Islam, kursus-kursus muballigh. Saya tdk tahu, para sarjana S1 hingga S3 Ilmu Agama Islam yg dihasilkannya, malah membawa kemajuan bagi umat atau malah menjadi beban... karena kalau sdh sarjana, lalu jadi pegawai atau pengajar, gaji dan fasilitas yg ditunutunya pun semakin mahal... jadi muballigh pun tarifnya semakin tinggi... tapi apa dampaknya bagi perkembangan dakwah? Entahlah... Yg jelas, kerja "semut-semut pekerja dakwah" dari Jamaah Tabligh, yg door to door menjemput orang ke jalan iman, lebih banyak "mengIslamkan" orang daripada apa yg dilakukan oleh para sajana Perguruan Tinggi Agama Islam, karena mereka lebih sibuk antri jadi PNS (sekarang ASN) di Kemenag dgn menenteng ijasah-ijasah mereka. 3. Di Indonesia lebih banyak organisasi dakwah dan harakah Islamiyah daripada di Arab Saudi, dengan variasi mazhab fiqih, firqah aqidah, dan aliran thariqah yg beragam, dengan corak yg fundamental, radikal, liberal, dan sinkretis, lengkap dgn garis keras, garis lurus, dan garis lucu... Gak akan sanggup Raja Salman memahami semua itu, apalagi memikirkan dan menyelesaikannya... 4. Di Indonesia banyak terdapat parpol-parpol Islam yg mengusung "politik demokrasi liberal", padahal itu yg paling ditakuti oleh Dinasti Saud. Kalau semangat demokrasi menular ke rakyat Arab Saudi, hancur itu kerajaan, dan anggota Dinasti Saud akan dibunuhi seperti Saddam Husein dan Moammar Khadafi... Maka Arab Springs berhenti di depan pintu Arab Saudi. 5. Di Indonesia ada Ahok dan Sembilan Naga, justeru orang-orang spt itu yg disukai para Kapitalis Saudi. Mrk pekerja keras, pebisnis ulung, pandai membuat perkongsian... Industri pabrikasi, konstruksi dan perdagangan di Arab Saudi sangat maju karena bekerjasama dgn para pebisnis China. Di pasar Ternate (pelosok Utara Maluku) toko-toko Arab dan China berdampingan sejak lama, begitu juga di Ambon. Di Surabaya, Malang, Gresik, Pekalongan (pusat industri batik), Bogor (Empang), Palembang, Makassar... pebisnis Arab dan pebisnis China, dgn gaya berkongsi masing-masing, mereka berdagang bersama-sama di pasar, membangun pabrik, klinik, apotik, toko kelontong... gak pernah mereka konflik... Travel Haji/Umrah di Indonesia pun banyak dikelola bersama oleh pebisnis Arab/Saudi dgn China. 6. Raja Salman datang bukan untuk memberesi banjir Jakarta... justeru mrk sangat menyukai hujan lebat, krn capek hidup di gurun kering. Juga bukan untuk menyelesaikan macet Jakarta, krn orang Saudi tidak banyak tinggal di Jakarta, senangnya di kawasan Puncak, Batu/Malang, daerah yg sejuk-sejuk tapi banyak hidangan hangatnya... 6. Jadi untuk apa Raja Salman datang ke Indonesia? Untuk dagang, Bro... Untuk investasi, ya Akhii al-kiraam... Pokoknya, kalau umat Islam Indonesia tidak punya semangat kemandirian, sibuk mengagungkan Turki dan Erdogan, sibuk berteriak soal Palestina dan Suriah, bergantung pada duit Kapitalis Saudi dan RRT... serta tidak membangun ENTREPRENEURSHIP yg kuat, maka kita hanya sebagai penonton. Eva Kusuma Sundari *** __ #yiv0707994588 -- #yiv0707994588ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-mkp #yiv0707994588hd {color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 0;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-mkp #yiv0707994588ads {margin-bottom:10px;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-mkp .yiv0707994588ad {padding:0 0;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-mkp .yiv0707994588ad p {margin:0;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-mkp .yiv0707994588ad a {color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-sponsor #yiv0707994588ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-sponsor #yiv0707994588ygrp-lc #yiv0707994588hd {margin:10px 0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-sponsor #yiv0707994588ygrp-lc .yiv0707994588ad {margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv0707994588 #yiv0707994588actions {font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv0707994588 #yiv0707994588activity {background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv0707994588 #yiv0707994588activity span {font-weight:700;}#yiv0707994588 #yiv0707994588activity span:first-child {text-transform:uppercase;}#yiv0707994588 #yiv0707994588activity span a {color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv0707994588 #yiv0707994588activity span span {color:#ff7900;}#yiv0707994588 #yiv0707994588activity span .yiv0707994588underline {text-decoration:underline;}#yiv0707994588 .yiv0707994588attach {clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 0;width:400px;}#yiv0707994588 .yiv0707994588attach div a {text-decoration:none;}#yiv0707994588 .yiv0707994588attach img {border:none;padding-right:5px;}#yiv0707994588 .yiv0707994588attach label {display:block;margin-bottom:5px;}#yiv0707994588 .yiv0707994588attach label a {text-decoration:none;}#yiv0707994588 blockquote {margin:0 0 0 4px;}#yiv0707994588 .yiv0707994588bold {font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv0707994588 .yiv0707994588bold a {text-decoration:none;}#yiv0707994588 dd.yiv0707994588last p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0707994588 dd.yiv0707994588last p span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0707994588 dd.yiv0707994588last p span.yiv0707994588yshortcuts {margin-right:0;}#yiv0707994588 div.yiv0707994588attach-table div div a {text-decoration:none;}#yiv0707994588 div.yiv0707994588attach-table {width:400px;}#yiv0707994588 div.yiv0707994588file-title a, #yiv0707994588 div.yiv0707994588file-title a:active, #yiv0707994588 div.yiv0707994588file-title a:hover, #yiv0707994588 div.yiv0707994588file-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv0707994588 div.yiv0707994588photo-title a, #yiv0707994588 div.yiv0707994588photo-title a:active, #yiv0707994588 div.yiv0707994588photo-title a:hover, #yiv0707994588 div.yiv0707994588photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv0707994588 div#yiv0707994588ygrp-mlmsg #yiv0707994588ygrp-msg p a span.yiv0707994588yshortcuts {font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv0707994588 .yiv0707994588green {color:#628c2a;}#yiv0707994588 .yiv0707994588MsoNormal {margin:0 0 0 0;}#yiv0707994588 o {font-size:0;}#yiv0707994588 #yiv0707994588photos div {float:left;width:72px;}#yiv0707994588 #yiv0707994588photos div div {border:1px solid #666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv0707994588 #yiv0707994588photos div label {color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv0707994588 #yiv0707994588reco-category {font-size:77%;}#yiv0707994588 #yiv0707994588reco-desc {font-size:77%;}#yiv0707994588 .yiv0707994588replbq {margin:4px;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-actbar div a:first-child {margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-mlmsg select, #yiv0707994588 input, #yiv0707994588 textarea {font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-mlmsg pre, #yiv0707994588 code {font:115% monospace;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-mlmsg #yiv0707994588logo {padding-bottom:10px;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-msg p a {font-family:Verdana;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-msg p#yiv0707994588attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-reco #yiv0707994588reco-head {color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-reco {margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-sponsor #yiv0707994588ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-sponsor #yiv0707994588ov li {font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-sponsor #yiv0707994588ov ul {margin:0;padding:0 0 0 8px;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-text {font-family:Georgia;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-text p {margin:0 0 1em 0;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none !important;}#yiv0707994588
