Ada sebuah posting di milis Apakabar 19 th yang silam, yg ini tentang dalam 
negeri Indonesia pada masa itu:
---
[INDONESIA-L] Cina dan Arab
From: [email protected]
Date: Fri Mar 27 1998 - 07:45:00 ESTForwarded message: 
From [email protected] Thu Mar 26 21:36:57 1998 
Date: Thu, 26 Mar 1998 19:34:02 -0700 (MST) 
Message-Id: <[email protected]> 
To: [email protected] 
From: [email protected] 
Subject: [INDONESIA-L] Cina dan Arab 
Sender: [email protected] 
  
Date: Fri, 27 Mar 1998 
To: [email protected] 
Subject: China dan Arab 
   
CINA DAN ARAB 
   
Sejak beberapa hari ini sudah muncul pendapat mengenai Cina dan Arab di 
Indonesia.Kesempatan ini saya pakai untuk mengajak para netter bersama -sama 
sedikit merenungkan sejarah mengapa masalah ini bisa timbul. 
Pada dasarnya,dengan makin menglobalnya masyarakat,sudah makin menjadi 
absurb berbicara mengenai keburukan sekelompok manusia berdasarkan 
suku,bangsa atau agama.Jika kita ingin menjadi bagian dari masyarakat dunia 
yang dihormati,sikap dari zaman pertengahan ini harus dapat kita buang. 
Hari dapat dibaca pendapat dua netter yang mengutarakan tentang betapa Arab 
dan Cina diperlakukan secara sangat berbeda di Indonesia tercinta ini. 
Mari kita teropong dulu apa yang dialami masing-masing kelompok masyarakat ini. 
   
WNI keturunan Cina 
Sudah menjadi WNI dan mengganti nama,tetapi haknya sebagai warganegara 
selama 33 tahun terakhir boleh dikatakan tergantung dari kebaikan atau 
belaskasihan para pejabat.Sedikit salah langsung dimaki "Cina loleng".Karya 
dipemerintahan praktis hampir nol.Masuk universitas negeri dibatasi 
sekali.Dibidang kedokteran,kalau mau spesialisasi bidang-bidang yang 
tertentu boleh dikatakan sudah impossible seperti bedah,mata,THT dan 
anak.Satu-satunya bidang yang terbuka dan memang didorong kesana adalah 
bisnis alias berdagang.Karena cuma itu yang bisa dilakukan,mereka akhirnya 
tambah pintar berdagang dan tambah kaya.Sama saja orang disuruh tiap hari 
cuma boleh main tenis,jelas dia akan mahir sekali main tenis.Nah,sudah 
menjadi pinter berdagang dan kaya,lalu datanglah iri dari sebagian pribumi 
yang mempunyai peluang disegala bidang dan berpandangan sempit.Sedikit salah 
digebukin atau toko dibakar.Apa sih yang diherankan jika WNI keturunan Cina 
akhirnya menguasai prosentasi besar kehidupan ekonomi kita ? Ini adalah 
konsekwensi yang logis.Sama seperti zaman dulu di Eropah,orang Yahudi 
dipaksa cuma boleh bergerak dalam bidang tertentu (pinjam meminjam duit 
alias perbankan,permata).Sampai hari inipun kita bisa melihat betapa 
keuangan di Amerika Utara dan Eropah sangat banyak dikuasai kaum keturunan 
Yahudi.Perdagangan intan didunia juga dikuasai mereka.Siapa tidak kenal 
Brussel dan Amsterdam sebagai kota pengasahan serta perdagangan intan dunia 
? Siapa dibelakangnya ? 
Kembali mengenai WNI keturunan (selalu diidentifikasikan hanya untuk 
Cina).KTP saja ada tanda khusus (mirip seperti warga Jerman keturunan Yahudi 
dizaman Nazi Hitler,semua tanda bukti mereka dicap J = Jude).Manusia malas 
belajar dari sejarah.Di Jakarta,memiliki surat kewarganegaraan saja tidak 
cukup.Masih harus ditambah surat K1.Sungguh menggelikan dan sekaligus 
sebenarnya pemerintah menampar diri sendiri.Mestinya para hakim dipengadilan 
protes atas ketidakpercayaan demikian.Tapi kok diam saja ya ? Atau ini 
merupakan salah satu sumber tambahan untuk memeras ? 
Setelah 6 kabinet baru kali ini dimasukkan seoang yang dianggap WNI 
keturunan.Mengapa saya katakan "dianggap" ? Sudah menjadi rahasia umum bahwa 
Bob Hasan yang dulunya berdagang di Pasar Pagi memungkiri dirinya sebagai 
orang keturunan Cina.Lihat saja pegawai diperusahaannya,mana ada yang 
keturunan Cina. 
Dari sekian juta warganegara Indonesia keturnan Cina,mengapa harus Bob Hasan 
yang dijadikan menteri ? Masih banyak yang jelas mempunyai jiwa lebih 
besar,kemampuan lebih baik dan moral yang pasti lebih tinggi daripada Bob 
Hasan.Apakah ini caranya untuk menunjukkan kepada rakyat bahwa Cina sudah 
diberi kesempatan menjadi menteri,tapi ternyata tidak bisa berbuat 
apa-apa.Alangkah sayang wahai penguasa.Saya yakin bahwa rakyat akan dapat 
menmberi penilaian yang lebih obyektip. 
   
ARAB 
   
Selama Orde Baru ini Arab tidak pernah mendapat perlakuan sebagai second 
class citizen,malah sebaliknya.Apakah ini karena warisan sejarah ? Kita 
lihat betapa banyak sultan zaman dulu di Nusantara ini yang keturunan 
Arab.Kesultanan di Jambi,Pontianak,Aceh,Maluku,Sulawesi Selatan dan saya 
kira juga di Jawa.Dengan mengklaim bahwa mereka masih turunan keberapa dari 
Nabi,tunduklah orang lokal. 
Dizaman sekarang,dengan jumlah manusianya yang paling banyak katakanlah satu 
juta (mungkin tidak sampai),turunan Arab masih menguasai banyak sendi 
kehidupan bangsa Indonesia. 
Kalau untuk keturunan Cina di universitas negeri cuma disediakan lowongan 
sekitar 5% karena alasannya sesuai dengan prosentasi penduduk,maka saya 
pertanyakan mengenai prosentasi keturunan Arab yang duduk 
dipemerintahan.Mulai dari Kabinet (Fuad Bawazier,Ali Alatas,dsb) sampai 
ketingkat kecamatan dan kelurahan. 
Maka saya hampir tidak bisa percaya ketika BJ Habibie mengatakan bahwa tidak 
adil kalau 70% ekonomi Indonesia dikuasai oleh keturunan Cina yang cuma 3% 
dari jumlah penduduk.Berapa persen sih jumlah penduduk keturunan Arab sampai 
mereka bisa menjadi Wapres,Wakil Ketua MPR,Ketua Kadin,beberapa menteri 
(silahkan hitung prosentasinya),gubernur.Bukankah UUD 45 menyatakan bahwa 
yang bisa menjadi preiden adalah pribumi ? Apakah keturunan Arab dianggap 
pribumi ? Jika demikian halnya,alangkah jauh kita melanggar UUD 45 yang 
terus didengungkan. 
Ketua Kadin Aburizal Bakrie dengan gagah menganjurkan kepada pemerintah agar 
mengambil kesempatan sekarang untuk menggeser semua konglomerat Cina ? 
Sungguh mengherankan.Seolah-olah dia lebih pribumi daripada pribumi Jawa 
umpamanya.Sama halnya seperti BJ Habibie,dengan pernyataan-pernyataan anti 
keturnan Cina sesungguhnya mereka merendahkan martabat sendiri.Ingatlah 
bahwa seorang pemimpin yang baik harus bisa mengayomi dan menterjemahkan 
inspirasi,aspirasi dan keinginan masyarakat menjadi kenyataan yang 
menguntungkan rakyat yang dipimpinnya. 
Alangkah menyedihkan jika kacang lupa pada kulitnya. 
Menteri-menteri yang keturunan Arab dalam kabinet sekarang saya percaya ada 
yang baik seperti Pak Ali Alatas. 
   
Marilah kita mengambil kesempatan krismon ini untuk merefleksikan kembali 
apa yang telah terjadi dinegara ini selama masa Orde Baru.Apakah kita 
bertambah maju dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ? Masyarakat yang 
adil dan makmur merupakan cita-cita yang sangat luhur.Namun,dengan 
mengelompokkan dan memberi perlakuan yang berbeda bagi warga menurut warna 
kulit,keturunan dan agama kita sudah melanggar ikrar bersama.Akan sedih para 
pahlawan dialam baka jika mengetahui bahwa apa yang mereka perjuangkan 
setengah abad yang lalu yaitu kemerdekaan,kemakmuran merata bagi seluruh 
bangsa masih jauh dari kenyataan. 
Kita berutang kepada pahlawan dan juga kepada anak cucu kita.Pemerintah Orde 
Baru sesungguhnya mengulangi sejarah yang dibuat Pemerintah Hinda Belanda 
dengan membagi masyarakat menjadi tiga kelompok demi menerapkan politik 
divide et imperanya.Kok sesudah merdeka pola atau sistem ini malh lebih 
diperketat.Apakah ini kemajuan ? Bahwasanya sekarang warga keturunan Arab 
bisa sangat berpengaruh dipemerintahan adalah karena sistem yang diciptakn 
memungkinkan terjadinya hal ini.Bukan kesalahan kelompok keturunan Arab 
karena membedakan manusia berdasarkan keturunan secara prinsip saya tolak. 
Marilah kita membuka mata dan hati untuk melihat kebenaran,kemudian berani 
mengakui kesalahan yang lalu dan mengadakan perubahan menuju yang lebih 
baik.Tidak pernah terlambat,yang penting ada kemauan yang tulus. 
Pakailah kesempatan krisis yang ada sekarang sebagai momentum yang baik 
untuk menyehatkan cara kita hidup berbangsa dan bernegara.Kebenaran pasti 
akan menang,cepat atau lambat. 
   
SUARA NURANI 

 

  Show original message     On Wednesday, March 1, 2017 10:12 AM, Tatiana 
Lukman <[email protected]> wrote:
 

 Tulisan yang menarik. Ada beberapa point yang sesuai dengan kenyataan (sudah 
tentu menurut pandangan saya). Misalnya:duit gak akan keluar dari sarangnya 
kecuali hanya untuk membawa pulangtemannya lagi (sesama duit). Ini sama dengan 
mengatakan kapital dikeluarkan oleh pemiliknya dan ditanam untuk melahirkan 
profit. Kapital selalu cari tempat di mana bisa menghasilkan keuntungan.
Kapitalis Saudi tdk melihat umat Islam suatunegara sebagai saudara seagama. Apa 
yg telahdibuatnya untuk "saudara-saudara seagamanya" di Mesir, Libya,  
Palestina,Suriah, Iraq, dan Yaman yg berada dalam lingkungan terdekatnya? 
Sepanjang tdk mendatangkan keuntungan ekonomi,tak ada tindakan berarti yg·      
  dibuatnyauntuk "saudara-saudara seagamanya" itu.Benar sekali!! Bagi kaum 
kapitalis, yang utama adalah keuntungan ekonomi. Soal agama sama sekali tidak 
penting. 
 Pepatah tua mengatakan, orang  kaya hanya bergaul dgn sesama orang 
kaya...Benar sekali. Mana ada orang kaya bergaul dengan orang miskin. Orang 
miskin dijadikan jongosnya, nah itu baru mungkin!  
Saudi dan RRT adalah dua kekuatan Kapitalismeyg didukung oleh Kekuasaan 
Otoriter (diktator?) yg anti demokrasi. Apakah kunjungan Raja Salman akan 
memperkuatdemokrasi di Indonesia? No,bagi investor RRT dan Saudi, yg mereka 
harapkan terjadi di Indonesia adalah*stabilitas politik* untuk mengamankanuang2 
mereka di sini, tidak peduli apa agamapenguasa di Indonesia, dan bagaimana 
kekuasaan itu diraih dan dikelola, ygpenting mantap dan stabil.Penulis tidak 
mencantumkan RRT sebagai pemerintah "Komunis". Tepat!! Mendefinisikan sebagai 
Kekuasaan Otoriter yang anti demokrasi!! Dan memang betul yang penting bagi 
mereka adalah "stabilitas politik". Ha...ha.. seperti kata Paus Fransiskus, 
kapitalisme yang mendewakan uang.

Kapitalis Arab, Kapitalis China,  keduanya sama saja, tetap kapitalis. 
Fokusutamanya cuma satu, uang. Ha...ha.. seperti kata Paus Fransiskus, 
kapitalisme yang mendewakan uang. 

Kemarin jadi kuli dan jongos Arab di Saudi,serta jadi kuli dan jongos China di 
Hongkong, sekarang bersiaplah jadi kuli danjongos Saudi dan China di negeri 
sendiri, NKRI.Betul, memang ada gejala ke arah itu. Tergantung pada perjuangan 
rakyat. Hanya gerakan rakyat yang bisa menghentikan arus mengorbankan rakyat 
sendiri untuk dijadikan sapi perahan murah kaum pemodal asing, tak perduli dari 
negeri manapun datangnya. 

Uang bagaikan kawanan burung bangkai yg terbangberkelompok di angkasa, 
berputar-putar mencari mangsa. Di situ adabangkai, di situlah mereka mendarat. 
Mereka tak kenal kewarhanegaraan, ras/etnis,maupun agama...Betul sekali!! 
Kapital tidak kenal bangsa, warna kulit, atau agama. Hanya Chan yang percaya 
modal Tkk lebih baik dan menguntungkan dari pada modal Jepang atau AS!!! 

Dengan GDP terbesar *kedua di dunia*, danCadangan Devisa terbesar *nomor satu  
didunia*, apalagi dengan tekanan jumlah penduduk yg terus mendesak menjadi1,5  
milyar orang, kemana Kapitalis RRTakan mengarahkan investasi luar 
negerinya?*Indonesia*... letak geopolitisnya strategis,penduduknya banyak (sbg 
konsumer/market yg kuat), sumber daya alamnyaluas dan bervariasi, para 
pemimpinnya *mudah dibeli*, mental kuli danjongos rakyatnya cocok untuk jadi  
bahan *tenaga kerja berbiaya murah*.Betul sekali! Hanya beberapa kata yang 
tidak setuju, "mental kuli dan jongos rakyatnya...". Rakyat Indonesia tidak 
bermentalitas kuli atau jongos!!! Sistim semi feodal dan semi kolonial dengan 
pemerintahnya yang mengabdi tuan tanah besar, kabir dan komprador yang memaksa 
mereka bekerja sebagai kuli dan jongos dan buruh dengan upah murah. 

Jadi untuk apa Raja Salman datang ke Indonesia?Untuk dagang, Bro... Untuk 
investasi, ya Akhii al-kiraam...Betul sekali!! Dan ingat bukan Indonesia yang 
butuh Saudi, tapi Saudi yang butuh Indonesia karena harga emas hitamnya sudah 
tidak memungkinkan mereka mandi duit. Dan siapa yang memfasilitasi dan mengabdi 
kepada kepentingan Arab Saudi??? Pemerintah Jokowi yang memang kerjanya ngemis 
modal!!! Masih kurang jelas kepada siapa Jokowi mengabdi?? Masih ingat lumbung 
padi di Papua yang pernah dibanggakan oleh salah seorang anggota milis ini??? 
Berasnya termasuk beras organik untuk diekspor ke Arab Saudi! Rakyatnya sendiri 
makan raskin!!!

Tidak percuma penulis ini menyandang gelar Dr.!!! Matanya jeli! Logikanya jalan 
dengan baik.
  

    On Tuesday, February 28, 2017 8:44 PM, "ajeg [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:
 

     Setelah dihantam berbagai kritik akibat kecondongannya pada RRC, barulah 
Jokowi teringat citra Indonesia sebagai negara dg politik bebas-aktif.
Sayangnya, politik luarnegeri yang luhur itu disalahartikan sebagai bebas 
bergaul di dunia yang semakin multipolar ini untuk berutang sana-sini.
Artinya, hanya membawa Indonesia tetap sebagai jajahan nekolim.
--- arif.harsana@... wrote:
Berikut ini, saya forward salah satu tanggapan ttg. kunjungan Raja Salman ke 
Indonesia,yg isinya saya kira cukup kritis dan pantas dicermati.
A.H.------------------- 
ARTIKEL_Dr.KH.Wahfiudin Sakam M.A. Sumber: 
https://www.facebook.com/eva.sundariii.5/posts/1946099205618577 ENTREPRENEURS 
kunci Kemandirian Ekonomi Tulisan menarik Dr. KH. Wahfiudin Sakam, M.A.
(Wakil Talqin Abah Anom, TQN Suryalaya). Sahabat Ust Saad,, ??? Umat Islam 
Indonesia memang bakal gigit jari... terserah,y mau satu jari, dua jari, atau 
tiga jari... Sy tdk percaya kedatangan Raja Salman krn memikirkan umat Islam 
Indonesia.
Dia datang lebih krn kepentingan negaranya sendiri, bahkan lebih sempit lagi, 
krn kepentingan Dinasti Saud, demi diri dan keluarganya sendiri. Tak ada itu 
dana (solidaritas) Islam.
Dia arahkan kebijakan luar negerinya ke Timur (India, Malaysia, Indonesia, 
Jepang, bahkan RRT) krn gerak invèstasinya di Barat semakin sulit. Ekonomi USA 
belum sembuh dari kehancuran akibat krisis mortgage 2007, ditambah kebijakan 
Trump yg "America first", self protective, dan anti-Islam. Eropa, dengan bbrp 
negara spt Yunani, Portugal, Spanyol terus mengalami krisis ekonomi; dan 
keluarnya Inggris dari UE, semakin memberi ketidak pastian masa depan untuk 
investasi. RRT, INDIA, INDONESIA... tiga negara dgn pertumbuhan ekonomi yg 
terbaik (relatif dari semua negara di dunia), tiga negara berpenduduk terbesar 
yg siap menjadi market besar dunia, lebih menjanjikan untuk investasi uang 
Dinasti Saud. Benarkah Raja Salman bawa uang 325T untuk menutup hutang RI kpd 
RRT? Hahaha... nonsense... omong kosong... Duit gak kenal saudara pemiliknya 
(manusia)... duit gak akan keluar dari sarangnya kecuali hanya untuk membawa 
pulang temannya lagi (sesama duit). Bagaimana Raja Salman mau nebar duit untuk 
umat Islam Indonesia, kalau uang kematian korban robohnya crane di Masjidil 
Haram yg dijanjikannya sendiri sudah bertahun-tahun belum bisa dia bayarkan. 
Belum lagi janji untuk menghajikan keluarga korban "tragedi Mina 2". Bagaimana 
mau menebar uang untuk umat Islam, kalau Saudi sendiri sdg berusaha "memeras" 
umat Islam dunia dgn menaikkan harga visa Haji dan Umrah, menjadikan Haji dan 
Umrah sbg "komoditi eksklusif" dgn "market yg captive", padahal tebar pesona 
sebagai "Khadimul Haramain (pelayan dua Tanah Suci)". Bagaimana Saudi mau 
membebaskan umat Islam Indonesia dari terkaman RRT, kalau RRT pemegang dana 
cadangan devisa terbesar di dunia (sekitar 3,5T US $), kontraktor pembangunan 
jaringan kereta api di Saudi, juga kontraktor dan investor besar pembangunan 
proyek2 infrastruktur di negara-negara Teluk Arab. Harga minyak dunia sdg 
turun, Saudi tak mau menurunkan produksinya walau sdh ditekan OPEC, maka 
satu2nya cara meningkatkan harganya dgn meningkatkan penjualannya, dan potensi 
pembeli terbesarnya adalah RRT yg sdg haus enerji untuk pembangunan sektor 
industrinya. Itu sebabnya setelah dari Indonesia Raja Salman akan ke RRT, untuk 
memperkuat kerjasama ekonomi dgn RRT. Dalam "The Clash of Civilizations" S 
Huntington juga meramalkan, benturan peradaban yang akan terjadi adalah antara 
Peradaban Barat dgn Peradaban Islam (Arab?) Yg bersatu dgn Perdaban 
Konfusianisme (Cina?). Kapitalis Saudi tdk melihat umat Islam suatu negara 
sebagai saudara seagama. Apa yg telah dibuatnya untuk "saudara-saudara 
seagamanya" di Mesir, Libya, Palestina, Suriah, Iraq, dan Yaman yg berada dalam 
lingkungan terdekatnya? Sepanjang tdk mendatangkan keuntungan ekonomi, tak ada 
tindakan berarti yg dibuatnya untuk "saudara-saudara seagamanya" itu. 
Kedatangannya ke Indonesia, dengan siapa pertemuan-pertemuan pendahuluan 
dilakukan untuk mempersiapkannya? Apakah dgn MUI, NU, Muhammadiyah, atau 
Parpol-parpol Islam spt PKS, PAN, PPP, PKB? No, ini bukan kunjungan 
keagamaan... ini kunjungan bisnis Kapitalis Saudi yg sdg mencari saudaranya 
sesama kapitalis... Dan siapa kapitalis-kapitalis besar di Indonesia? Lihatlah 
para pangeran Saudi itu, dengan siapa pertemuan2 bisnis mrk sdh diagendakan, di 
saat sang Raja melakukan acara seremonial diplomasi kenegaraan? Pepatah tua 
mengatakan, orang kaya hanya bergaul dgn sesama orang kaya... Saudi dan RRT 
adalah dua ,kekuatan Kapitalisme yg didukung oleh Kekuasaan Otoriter 
(diktator?) yg anti demokrasi. Apakah kunjungan Raja Salman akan memperkuat 
demokrasi di Indonesia? No, bagi investor RRT dan Saudi, yg mereka harapkan 
terjadi di Indonesia adalah stabilitas politik untuk mengamankan uang2 mereka 
di sini, tidak peduli apa agama penguasa di Indonesia, dan bagaimana kekuasaan 
itu diraih dan dikelola, yg penting mantap dan stabil. Apakah kunjungan Raja 
Salman itu sama sekali tidak ada pengaruhnya bagi keIslaman di Indonesia? Pasti 
ada dong, walau serpihan-serpihan saja. Yg jelas kelompok dakwah Salafi Wahabi 
(SaWah) akan makin kebanjiran dana. Bukan SaWah yg radikal, tapi SaWah yg anti 
demokrasi, bahkan yg apolitis. Paling-paling hanya akan menambah keributan soal 
syirik, bid'ah, dhalalah, kafir... dan enerji dakwah hanya akan tersita di 
keributan soal itu, sebagaimana terjadi di Makkah dan Madinah, lalu umat Islam 
terlalaikan dari pergulatan yg sesungguhnya di pucuk-pucuk Kekuasaan dan 
Ekonomi negeri ini. Kapitalis Arab, Kapitalis China, keduanya sama saja, tetap 
kapitalis. Fokus utamanya cuma satu, uang. 
Jalan menuju uang, yg harus dibangun oleh umat Islam Indonesia adalah: 
ENTREPRENEURSHIP !!!
Kalau jalan itu tak dikembangkan, silahkan jadi kuli dan jongos saja. SELAMAT 
DATANG KAPITALIS RRT DAN KAPITALIS SAUDI. Kemarin jadi kuli dan jongos Arab di 
Saudi, serta jadi kuli dan jongos China di Hongkong, sekarang bersiaplah jadi 
kuli dan jongos Saudi dan China di negeri sendiri, NKRI. Uang bagaikan kawanan 
burung bangkai yg terbang berkelompok di angkasa, berputar-putar mencari 
mangsa. Di situ ada bangkai, di situlah mereka mendarat. Mereka tak kenal 
kewarhanegaraan, ras/etnis, maupun agama... Setelah pelemahan ekonomi di Eropa, 
juga Amerika, terlebih dgn kebijakan Donald Trump yg self-protection dan 
anti-Islam, kemana para Kapitalis Saudi akan mengarahkan investasinya? Afrika 
yg dekat dgn Saudi, dari dulu tak pernah menjanjikan. Dengan GDP terbesar kedua 
di dunia, dan Cadangan Devisa terbesar nomor satu di dunia, apalagi dengan 
tekanan jumlah penduduk yg terus mendesak menjadi 1,5 milyar orang, kemana 
Kapitalis RRT akan mengarahkan investasi luar negerinya? India... paling banyak 
punya ahli IT dan Manajer. Vietnam... paling kuat jaringan internetnya. 
Malaysia... kuat entrepreneur-nya. Indonesia... letak geopolitisnya strategis, 
penduduknya banyak (sbg konsumer/market yg kuat), sumber daya alamnya luas dan 
bervariasi, para pemimpinnya mudah dibeli, mental kuli dan jongos rakyatnya 
cocok untuk jadi bahan tenaga kerja berbiaya murah. Ke Indonesia-lah, para 
Kapitalis Saudi dan Kapitalis RRT datang... Memangnya Raja Salman datang ke 
Indonesia mau menyelesaikan urusan Islam dan umat Islam di Indonesia? 
No... ini urusan investasi keluarga Saud, ya akhii... Bagaimana Raja Salman mau 
mengurus Islam di Indonesia, kalau: 1. Raja Salman tak punya pengalaman 
mengurus umat sebanyak ini. Di Saudi cuma ada sekitar 22 juta muslim, di 
Indonesia 220 juta muslim. 2. Di Indonesia ada lebih banyak Perguruan Tinggi 
Agama Islam yg menghasilkan Sarjana-sarjana ahli Ilmu Agama Islam daripada di 
Saudi. Coba hitung, betapa banyak Indonesia punya pesantren, madrasah diniyah, 
ibtidaiyah hingga aliyah, UIN, IAIN, STAIN, STAI Swasta, Universitas Islam, 
kursus-kursus muballigh. Saya tdk tahu, para sarjana S1 hingga S3 Ilmu Agama 
Islam yg dihasilkannya, malah membawa kemajuan bagi umat atau malah menjadi 
beban... karena kalau sdh sarjana, lalu jadi pegawai atau pengajar, gaji dan 
fasilitas yg ditunutunya pun semakin mahal... jadi muballigh pun tarifnya 
semakin tinggi... tapi apa dampaknya bagi perkembangan dakwah? Entahlah... 
Yg jelas, kerja "semut-semut pekerja dakwah" dari Jamaah Tabligh, yg door to 
door menjemput orang ke jalan iman, lebih banyak "mengIslamkan" orang daripada 
apa yg dilakukan oleh para sajana Perguruan Tinggi Agama Islam, karena mereka 
lebih sibuk antri jadi PNS (sekarang ASN) di Kemenag dgn menenteng 
ijasah-ijasah mereka. 3. Di Indonesia lebih banyak organisasi dakwah dan 
harakah Islamiyah daripada di Arab Saudi, dengan variasi mazhab fiqih, firqah 
aqidah, dan aliran thariqah yg beragam, dengan corak yg fundamental, radikal, 
liberal, dan sinkretis, lengkap dgn garis keras, garis lurus, dan garis lucu... 
Gak akan sanggup Raja Salman memahami semua itu, apalagi memikirkan dan 
menyelesaikannya... 4. Di Indonesia banyak terdapat parpol-parpol Islam yg 
mengusung "politik demokrasi liberal", padahal itu yg paling ditakuti oleh 
Dinasti Saud. Kalau semangat demokrasi menular ke rakyat Arab Saudi, hancur itu 
kerajaan, dan anggota Dinasti Saud akan dibunuhi seperti Saddam Husein dan 
Moammar Khadafi... Maka Arab Springs berhenti di depan pintu Arab Saudi. 5. Di 
Indonesia ada Ahok dan Sembilan Naga, justeru orang-orang spt itu yg disukai 
para Kapitalis Saudi. Mrk pekerja keras, pebisnis ulung, pandai membuat 
perkongsian... 
Industri pabrikasi, konstruksi dan perdagangan di Arab Saudi sangat maju karena 
bekerjasama dgn para pebisnis China. Di pasar Ternate (pelosok Utara Maluku) 
toko-toko Arab dan China berdampingan sejak lama, begitu juga di Ambon. 
Di Surabaya, Malang, Gresik, Pekalongan (pusat industri batik), Bogor (Empang), 
Palembang, Makassar... pebisnis Arab dan pebisnis China, dgn gaya berkongsi 
masing-masing, mereka berdagang bersama-sama di pasar, membangun pabrik, 
klinik, apotik, toko kelontong... gak pernah mereka konflik...
Travel Haji/Umrah di Indonesia pun banyak dikelola bersama oleh pebisnis 
Arab/Saudi dgn China. 6. Raja Salman datang bukan untuk memberesi banjir 
Jakarta... justeru mrk sangat menyukai hujan lebat, krn capek hidup di gurun 
kering. Juga bukan untuk menyelesaikan macet Jakarta, krn orang Saudi tidak 
banyak tinggal di Jakarta, senangnya di kawasan Puncak, Batu/Malang, daerah yg 
sejuk-sejuk tapi banyak hidangan hangatnya... 6. Jadi untuk apa Raja Salman 
datang ke Indonesia? Untuk dagang, Bro... Untuk investasi, ya Akhii 
al-kiraam... Pokoknya, kalau umat Islam Indonesia tidak punya semangat 
kemandirian, sibuk mengagungkan Turki dan Erdogan, sibuk berteriak soal 
Palestina dan Suriah, bergantung pada duit Kapitalis Saudi dan RRT... serta 
tidak membangun ENTREPRENEURSHIP yg kuat, maka kita hanya sebagai penonton.  
Eva Kusuma Sundari                     *** 
__  
  #yiv0707994588 -- #yiv0707994588ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv0707994588 
#yiv0707994588ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv0707994588 
#yiv0707994588ygrp-mkp #yiv0707994588hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-mkp #yiv0707994588ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-mkp .yiv0707994588ad 
{padding:0 0;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-mkp .yiv0707994588ad p 
{margin:0;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-mkp .yiv0707994588ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-sponsor 
#yiv0707994588ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv0707994588 
#yiv0707994588ygrp-sponsor #yiv0707994588ygrp-lc #yiv0707994588hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv0707994588 
#yiv0707994588ygrp-sponsor #yiv0707994588ygrp-lc .yiv0707994588ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv0707994588 #yiv0707994588actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv0707994588 
#yiv0707994588activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv0707994588
 #yiv0707994588activity span {font-weight:700;}#yiv0707994588 
#yiv0707994588activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv0707994588 #yiv0707994588activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv0707994588 #yiv0707994588activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv0707994588 #yiv0707994588activity span 
.yiv0707994588underline {text-decoration:underline;}#yiv0707994588 
.yiv0707994588attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv0707994588 .yiv0707994588attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv0707994588 .yiv0707994588attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv0707994588 .yiv0707994588attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv0707994588 .yiv0707994588attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv0707994588 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv0707994588 .yiv0707994588bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv0707994588 
.yiv0707994588bold a {text-decoration:none;}#yiv0707994588 dd.yiv0707994588last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0707994588 dd.yiv0707994588last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0707994588 
dd.yiv0707994588last p span.yiv0707994588yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv0707994588 div.yiv0707994588attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv0707994588 div.yiv0707994588attach-table 
{width:400px;}#yiv0707994588 div.yiv0707994588file-title a, #yiv0707994588 
div.yiv0707994588file-title a:active, #yiv0707994588 
div.yiv0707994588file-title a:hover, #yiv0707994588 div.yiv0707994588file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv0707994588 div.yiv0707994588photo-title a, 
#yiv0707994588 div.yiv0707994588photo-title a:active, #yiv0707994588 
div.yiv0707994588photo-title a:hover, #yiv0707994588 
div.yiv0707994588photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv0707994588 
div#yiv0707994588ygrp-mlmsg #yiv0707994588ygrp-msg p a 
span.yiv0707994588yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv0707994588 
.yiv0707994588green {color:#628c2a;}#yiv0707994588 .yiv0707994588MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv0707994588 o {font-size:0;}#yiv0707994588 
#yiv0707994588photos div {float:left;width:72px;}#yiv0707994588 
#yiv0707994588photos div div {border:1px solid 
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv0707994588 
#yiv0707994588photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv0707994588
  #yiv0707994588reco-category {font-size:77%;}#yiv0707994588 
#yiv0707994588reco-desc {font-size:77%;}#yiv0707994588 .yiv0707994588replbq 
{margin:4px;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0707994588 
#yiv0707994588ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv0707994588 
#yiv0707994588ygrp-mlmsg select, #yiv0707994588 input, #yiv0707994588 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0707994588 
#yiv0707994588ygrp-mlmsg pre, #yiv0707994588 code {font:115% 
monospace;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-mlmsg #yiv0707994588logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-msg 
p#yiv0707994588attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv0707994588 
#yiv0707994588ygrp-reco #yiv0707994588reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-sponsor 
#yiv0707994588ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv0707994588 
#yiv0707994588ygrp-sponsor #yiv0707994588ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv0707994588 
#yiv0707994588ygrp-sponsor #yiv0707994588ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv0707994588 #yiv0707994588ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv0707994588 
#yiv0707994588ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv0707994588 

   

   

Kirim email ke