Maaf, ada kesalahan dalam kalimat "Kemudian satu kali Chan membantah lainnya
Khruschov dengan Deng Xiao ping". Harusnya "kesamaan" antara Khruschov dengan
Deng Xiao ping.
Senang ya kita melihat foto-foto para jutawan yang ditampilkan Chan!! Semuanya
tertawa lebar....Coba Chan usul kepada orang-orang milyarder itu supaya tinggal
bersama orang-orang miskin barang 1-2 bulan, atau ajak orang-orang miskin itu
tinggal di istananya... seperti keinginannya Nesare supaya orang miskin BERGAUL
DAN BERSATU dengan orang kaya!! Atau usul supaya mereka membuat program
Kesehatan gratis untuk seluruh rakyat Tkk!! Kan itu akan lebih mulia lagi,
bukan??? Kalau satu konglomerat nggak kuat membiayainya, ya coba usulkan agar
semua konglomerat yang "dermawan" itu bersatu untuk ngongkosin kesehatan gratis
untuk seluruh rakyat Tkk. Baru itu namanya keren!!!
On Thursday, March 2, 2017 5:17 AM, "'Chan CT' [email protected]
[temu_eropa]" <[email protected]> wrote:
Kalau saja nenek dalam tempurung ini mau sedikit saja mengintip keluar dan
melihat kenyataan, tentu akan terlihat bahwa diantara konglomerat-konglomerat
didunia, khususnya di Tiongkok, mulai muncul dan sedang didorong untuk ikut
serta dalam usaha mengentaskan kemiskinan yang masih lebih 50 juta orang
tersisa di Tiongkok! Tempo hari saya sudah mengajukan konglomerat terkaya di
Tiongkok, Wang Jian Lin ternyata sudah beberapa tahun yl. ikut terjun berusaha
mengentaskan kemiskinan, bahkan dia bersedia belasan X datang sendiri ke daerah
Dan Zhai yg miskin itu berbincang dengan warga miskin, untuk menemukan solusi
bagaimana memecahkannya. Pagi ini saya ajukan seorang konglomerat TIongkok
lagi, Xu Jia Ying, yang juga ikut mengabdikan dirinya dalam usaha proyek
mengentaskan kemiskinan di Tiongkok, lihat gambar tengah, ... dan, sebetulnya
di AS orang macam Bill Gate juga tidak sedikit telah memberikan sumbangannya
pada usaha membantu mengatasi kemiskinan diberbagai negeri didunia, ...
semangat dan jiwa kapitalis-kapitalis dalam usaha sosial macam ini yang harus
didorong lebih lanjut, biar mereka-mereka bisa ikutan dalam usaha sosial,
bersedia mengeluarkan KEUNTUNGAN BESAR yang didapatkan untuk usaha mengatasi
kemiskinan yang masih nyata ada disekitarnya! Dan, ... sebagai manusia normal
yang juga sedikit banyak berjiwa sosial, berjiwa kemanusiaan, PASTI juga
terangsang untuk beramal. Tidak semua dari kapitalis-kapitalis itu serakah dan
kejam, dan ditingkat perjuangan sekarang ini memang BELUM tiba saatnya kita
melancarkan Revolusi Sosialis yang menjadikan kapitalis sebagai sasaran
revolusi, klas penghisap yang harus diBASMI! BELUM tiba waktunya, ... sementara
ini kapitalis masih masuk dalam kategori RAKYAT, tergolong klas yang harus
ditarik dalam front untuk ikut mendorong maju ekonomi nasional dan khususnya
dimana kekuatan rakyat sudah berkuasa seperti di Tiongkok, kapitalis juga cukup
dikendalikan, dijinakkan saja, ... Kapitalis-kapitalis tetap diberikan hak
untuk hidup, tumbuh berkembang! Kapitalis yang salah, yang serakah, yang kejam
dan melanggar ketentuan HUKUM saja diganjar penjara seberat-beratnya!Wang Jian
Lin (kanan), konglomerat terkaya di RRT berbincang dengan warga miskin Dan
Zhai. Xu Jia Ying (tengah), konglomerat RRT yang juga ikut proyek mengentaskan
warga-miskin tersisa, ... datang berkunjung melihat kehidupan warga miskin!
Bill Gate bersama istri yang tanpa risih duduk bersama ditanah dan memangku
anak-hitam yg miskin, ... From: Tatiana Lukman [email protected]
[GELORA45] Sent: Thursday, March 2, 2017 2:12 AMTo: [email protected] ;
[email protected] Cc: Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD ; Jonathan Goeij ;
Lusi.D ; Roeslan ; Daeng ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Harry Singgih ; Gol ;
[email protected] ; Billy Gunadi Subject: Re: [GELORA45] Tulisan yang
menarik. Ada beberapa point yang sesuai dengan kenyataan (sudah tentu menurut
pandangan saya). Misalnya:duit gak akan keluar dari sarangnya kecuali hanya
untuk membawa pulang temannya lagi (sesama duit). Ini sama dengan mengatakan
kapital dikeluarkan oleh pemiliknya dan ditanam untuk melahirkan profit.
Kapital selalu cari tempat di mana bisa menghasilkan keuntungan.
Kapitalis Saudi tdk melihat umat Islam suatu negara sebagai saudara seagama.
Apa yg telah dibuatnya untuk "saudara-saudara seagamanya" di Mesir, Libya,
Palestina, Suriah, Iraq, dan Yaman yg berada dalam lingkungan terdekatnya?
Sepanjang tdk mendatangkan keuntungan ekonomi, tak ada tindakan berarti
yg<!--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->dibuatnya untuk
"saudara-saudara seagamanya" itu. Benar sekali!! Bagi kaum kapitalis, yang
utama adalah keuntungan ekonomi. Soal agama sama sekali tidak penting.
Pepatah tua mengatakan, orang kaya hanya bergaul dgn sesama orang kaya...Benar
sekali. Mana ada orang kaya bergaul dengan orang miskin. Orang miskin dijadikan
jongosnya, nah itu baru mungkin!
Saudi dan RRT adalah dua kekuatan Kapitalisme yg didukung oleh Kekuasaan
Otoriter (diktator?) yg anti demokrasi. Apakah kunjungan Raja Salman akan
memperkuat demokrasi di Indonesia? No, bagi investor RRT dan Saudi, yg mereka
harapkan terjadi di Indonesia adalah *stabilitas politik* untuk
mengamankanuang2 mereka di sini, tidak peduli apa agama penguasa di Indonesia,
dan bagaimana kekuasaan itu diraih dan dikelola, yg penting mantap dan
stabil.Penulis tidak mencantumkan RRT sebagai pemerintah "Komunis". Tepat!!
Mendefinisikan sebagai Kekuasaan Otoriter yang anti demokrasi!! Dan memang
betul yang penting bagi mereka adalah "stabilitas politik". Ha...ha.. seperti
kata Paus Fransiskus, kapitalisme yang mendewakan uang.
Kapitalis Arab, Kapitalis China, keduanya sama saja, tetap kapitalis. Fokus
utamanya cuma satu, uang. Ha...ha.. seperti kata Paus Fransiskus, kapitalisme
yang mendewakan uang.
Kemarin jadi kuli dan jongos Arab di Saudi, serta jadi kuli dan jongos China di
Hongkong, sekarang bersiaplah jadi kuli dan jongos Saudi dan China di negeri
sendiri, NKRI.Betul, memang ada gejala ke arah itu. Tergantung pada perjuangan
rakyat. Hanya gerakan rakyat yang bisa menghentikan arus mengorbankan rakyat
sendiri untuk dijadikan sapi perahan murah kaum pemodal asing, tak perduli dari
negeri manapun datangnya.
Uang bagaikan kawanan burung bangkai yg terbang berkelompok di angkasa,
berputar-putar mencari mangsa. Di situ ada bangkai, di situlah mereka mendarat.
Mereka tak kenal kewarhanegaraan, ras/etnis, maupun agama...Betul sekali!!
Kapital tidak kenal bangsa, warna kulit, atau agama. Hanya Chan yang percaya
modal Tkk lebih baik dan menguntungkan dari pada modal Jepang atau AS!!!
Dengan GDP terbesar *kedua di dunia*, dan Cadangan Devisa terbesar *nomor satu
di dunia*, apalagi dengan tekanan jumlah penduduk yg terus mendesak menjadi 1,5
milyar orang, kemana Kapitalis RRT akan mengarahkan investasi luar negerinya?
*Indonesia*... letak geopolitisnya strategis, penduduknya banyak (sbg
konsumer/market yg kuat), sumber daya alamnya luas dan bervariasi, para
pemimpinnya *mudah dibeli*, mental kuli dan jongos rakyatnya cocok untuk jadi
bahan *tenaga kerja berbiaya murah*.Betul sekali! Hanya beberapa kata yang
tidak setuju, "mental kuli dan jongos rakyatnya...". Rakyat Indonesia tidak
bermentalitas kuli atau jongos!!! Sistim semi feodal dan semi kolonial dengan
pemerintahnya yang mengabdi tuan tanah besar, kabir dan komprador yang memaksa
mereka bekerja sebagai kuli dan jongos dan buruh dengan upah murah.
Jadi untuk apa Raja Salman datang ke Indonesia? Untuk dagang, Bro... Untuk
investasi, ya Akhii al-kiraam...Betul sekali!! Dan ingat bukan Indonesia yang
butuh Saudi, tapi Saudi yang butuh Indonesia karena harga emas hitamnya sudah
tidak memungkinkan mereka mandi duit. Dan siapa yang memfasilitasi dan mengabdi
kepada kepentingan Arab Saudi??? Pemerintah Jokowi yang memang kerjanya ngemis
modal!!! Masih kurang jelas kepada siapa Jokowi mengabdi?? Masih ingat lumbung
padi di Papua yang pernah dibanggakan oleh salah seorang anggota milis ini???
Berasnya termasuk beras organik untuk diekspor ke Arab Saudi! Rakyatnya sendiri
makan raskin!!!
Tidak percuma penulis ini menyandang gelar Dr.!!! Matanya jeli! Logikanya jalan
dengan baik.
On Tuesday, February 28, 2017 8:44 PM, "ajeg [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> wrote:
Setelah dihantam berbagai kritik akibat kecondongannya pada RRC, barulah
Jokowi teringat citra Indonesia sebagai negara dg politik bebas-aktif.
Sayangnya, politik luarnegeri yang luhur itu disalahartikan sebagai bebas
bergaul di dunia yang semakin multipolar ini untuk berutang sana-sini.
Artinya, hanya membawa Indonesia tetap sebagai jajahan nekolim. ---
arif.harsana@... wrote:
Berikut ini, saya forward salah satu tanggapan ttg. kunjungan Raja Salman ke
Indonesia,yg isinya saya kira cukup kritis dan pantas dicermati.
A.H.-------------------
ARTIKEL_Dr.KH.Wahfiudin Sakam M.A. Sumber:
https://www.facebook.com/eva.sundariii.5/posts/1946099205618577 ENTREPRENEURS
kunci Kemandirian Ekonomi Tulisan menarik Dr. KH. Wahfiudin Sakam, M.A.
(Wakil Talqin Abah Anom, TQN Suryalaya). Sahabat Ust Saad,, ??? Umat Islam
Indonesia memang bakal gigit jari... terserah,y mau satu jari, dua jari, atau
tiga jari... Sy tdk percaya kedatangan Raja Salman krn memikirkan umat Islam
Indonesia.
Dia datang lebih krn kepentingan negaranya sendiri, bahkan lebih sempit lagi,
krn kepentingan Dinasti Saud, demi diri dan keluarganya sendiri. Tak ada itu
dana (solidaritas) Islam.
Dia arahkan kebijakan luar negerinya ke Timur (India, Malaysia, Indonesia,
Jepang, bahkan RRT) krn gerak invèstasinya di Barat semakin sulit. Ekonomi
USA belum sembuh dari kehancuran akibat krisis mortgage 2007, ditambah
kebijakan Trump yg "America first", self protective, dan anti-Islam. Eropa,
dengan bbrp negara spt Yunani, Portugal, Spanyol terus mengalami krisis
ekonomi; dan keluarnya Inggris dari UE, semakin memberi ketidak pastian masa
depan untuk investasi. RRT, INDIA, INDONESIA... tiga negara dgn pertumbuhan
ekonomi yg terbaik (relatif dari semua negara di dunia), tiga negara
berpenduduk terbesar yg siap menjadi market besar dunia, lebih menjanjikan
untuk investasi uang Dinasti Saud. Benarkah Raja Salman bawa uang 325T untuk
menutup hutang RI kpd RRT? Hahaha... nonsense... omong kosong... Duit gak
kenal saudara pemiliknya (manusia)... duit gak akan keluar dari sarangnya
kecuali hanya untuk membawa pulang temannya lagi (sesama duit). Bagaimana
Raja Salman mau nebar duit untuk umat Islam Indonesia, kalau uang kematian
korban robohnya crane di Masjidil Haram yg dijanjikannya sendiri sudah
bertahun-tahun belum bisa dia bayarkan. Belum lagi janji untuk menghajikan
keluarga korban "tragedi Mina 2". Bagaimana mau menebar uang untuk umat
Islam, kalau Saudi sendiri sdg berusaha "memeras" umat Islam dunia dgn
menaikkan harga visa Haji dan Umrah, menjadikan Haji dan Umrah sbg "komoditi
eksklusif" dgn "market yg captive", padahal tebar pesona sebagai "Khadimul
Haramain (pelayan dua Tanah Suci)". Bagaimana Saudi mau membebaskan umat
Islam Indonesia dari terkaman RRT, kalau RRT pemegang dana cadangan devisa
terbesar di dunia (sekitar 3,5T US $), kontraktor pembangunan jaringan kereta
api di Saudi, juga kontraktor dan investor besar pembangunan proyek2
infrastruktur di negara-negara Teluk Arab. Harga minyak dunia sdg turun,
Saudi tak mau menurunkan produksinya walau sdh ditekan OPEC, maka satu2nya cara
meningkatkan harganya dgn meningkatkan penjualannya, dan potensi pembeli
terbesarnya adalah RRT yg sdg haus enerji untuk pembangunan sektor industrinya.
Itu sebabnya setelah dari Indonesia Raja Salman akan ke RRT, untuk memperkuat
kerjasama ekonomi dgn RRT. Dalam "The Clash of Civilizations" S Huntington juga
meramalkan, benturan peradaban yang akan terjadi adalah antara Peradaban Barat
dgn Peradaban Islam (Arab?) Yg bersatu dgn Perdaban Konfusianisme (Cina?).
Kapitalis Saudi tdk melihat umat Islam suatu negara sebagai saudara seagama.
Apa yg telah dibuatnya untuk "saudara-saudara seagamanya" di Mesir, Libya,
Palestina, Suriah, Iraq, dan Yaman yg berada dalam lingkungan terdekatnya?
Sepanjang tdk mendatangkan keuntungan ekonomi, tak ada tindakan berarti yg
dibuatnya untuk "saudara-saudara seagamanya" itu. Kedatangannya ke Indonesia,
dengan siapa pertemuan-pertemuan pendahuluan dilakukan untuk mempersiapkannya?
Apakah dgn MUI, NU, Muhammadiyah, atau Parpol-parpol Islam spt PKS, PAN, PPP,
PKB? No, ini bukan kunjungan keagamaan... ini kunjungan bisnis Kapitalis Saudi
yg sdg mencari saudaranya sesama kapitalis... Dan siapa kapitalis-kapitalis
besar di Indonesia? Lihatlah para pangeran Saudi itu, dengan siapa pertemuan2
bisnis mrk sdh diagendakan, di saat sang Raja melakukan acara seremonial
diplomasi kenegaraan? Pepatah tua mengatakan, orang kaya hanya bergaul dgn
sesama orang kaya... Saudi dan RRT adalah dua ,kekuatan Kapitalisme yg
didukung oleh Kekuasaan Otoriter (diktator?) yg anti demokrasi. Apakah
kunjungan Raja Salman akan memperkuat demokrasi di Indonesia? No, bagi investor
RRT dan Saudi, yg mereka harapkan terjadi di Indonesia adalah stabilitas
politik untuk mengamankan uang2 mereka di sini, tidak peduli apa agama penguasa
di Indonesia, dan bagaimana kekuasaan itu diraih dan dikelola, yg penting
mantap dan stabil. Apakah kunjungan Raja Salman itu sama sekali tidak ada
pengaruhnya bagi keIslaman di Indonesia? Pasti ada dong, walau
serpihan-serpihan saja. Yg jelas kelompok dakwah Salafi Wahabi (SaWah) akan
makin kebanjiran dana. Bukan SaWah yg radikal, tapi SaWah yg anti demokrasi,
bahkan yg apolitis. Paling-paling hanya akan menambah keributan soal syirik,
bid'ah, dhalalah, kafir... dan enerji dakwah hanya akan tersita di keributan
soal itu, sebagaimana terjadi di Makkah dan Madinah, lalu umat Islam
terlalaikan dari pergulatan yg sesungguhnya di pucuk-pucuk Kekuasaan dan
Ekonomi negeri ini. Kapitalis Arab, Kapitalis China, keduanya sama saja, tetap
kapitalis. Fokus utamanya cuma satu, uang.
Jalan menuju uang, yg harus dibangun oleh umat Islam Indonesia adalah:
ENTREPRENEURSHIP !!!
Kalau jalan itu tak dikembangkan, silahkan jadi kuli dan jongos saja. SELAMAT
DATANG KAPITALIS RRT DAN KAPITALIS SAUDI. Kemarin jadi kuli dan jongos Arab
di Saudi, serta jadi kuli dan jongos China di Hongkong, sekarang bersiaplah
jadi kuli dan jongos Saudi dan China di negeri sendiri, NKRI. Uang bagaikan
kawanan burung bangkai yg terbang berkelompok di angkasa, berputar-putar
mencari mangsa. Di situ ada bangkai, di situlah mereka mendarat. Mereka tak
kenal kewarhanegaraan, ras/etnis, maupun agama... Setelah pelemahan ekonomi
di Eropa, juga Amerika, terlebih dgn kebijakan Donald Trump yg self-protection
dan anti-Islam, kemana para Kapitalis Saudi akan mengarahkan investasinya?
Afrika yg dekat dgn Saudi, dari dulu tak pernah menjanjikan. Dengan GDP
terbesar kedua di dunia, dan Cadangan Devisa terbesar nomor satu di dunia,
apalagi dengan tekanan jumlah penduduk yg terus mendesak menjadi 1,5 milyar
orang, kemana Kapitalis RRT akan mengarahkan investasi luar negerinya?
India... paling banyak punya ahli IT dan Manajer. Vietnam... paling kuat
jaringan internetnya. Malaysia... kuat entrepreneur-nya. Indonesia... letak
geopolitisnya strategis, penduduknya banyak (sbg konsumer/market yg kuat),
sumber daya alamnya luas dan bervariasi, para pemimpinnya mudah dibeli, mental
kuli dan jongos rakyatnya cocok untuk jadi bahan tenaga kerja berbiaya murah.
Ke Indonesia-lah, para Kapitalis Saudi dan Kapitalis RRT datang... Memangnya
Raja Salman datang ke Indonesia mau menyelesaikan urusan Islam dan umat Islam
di Indonesia?
No... ini urusan investasi keluarga Saud, ya akhii... Bagaimana Raja Salman
mau mengurus Islam di Indonesia, kalau: 1. Raja Salman tak punya pengalaman
mengurus umat sebanyak ini. Di Saudi cuma ada sekitar 22 juta muslim, di
Indonesia 220 juta muslim. 2. Di Indonesia ada lebih banyak Perguruan Tinggi
Agama Islam yg menghasilkan Sarjana-sarjana ahli Ilmu Agama Islam daripada di
Saudi. Coba hitung, betapa banyak Indonesia punya pesantren, madrasah diniyah,
ibtidaiyah hingga aliyah, UIN, IAIN, STAIN, STAI Swasta, Universitas Islam,
kursus-kursus muballigh. Saya tdk tahu, para sarjana S1 hingga S3 Ilmu Agama
Islam yg dihasilkannya, malah membawa kemajuan bagi umat atau malah menjadi
beban... karena kalau sdh sarjana, lalu jadi pegawai atau pengajar, gaji dan
fasilitas yg ditunutunya pun semakin mahal... jadi muballigh pun tarifnya
semakin tinggi... tapi apa dampaknya bagi perkembangan dakwah? Entahlah...
Yg jelas, kerja "semut-semut pekerja dakwah" dari Jamaah Tabligh, yg door to
door menjemput orang ke jalan iman, lebih banyak "mengIslamkan" orang daripada
apa yg dilakukan oleh para sajana Perguruan Tinggi Agama Islam, karena mereka
lebih sibuk antri jadi PNS (sekarang ASN) di Kemenag dgn menenteng
ijasah-ijasah mereka. 3. Di Indonesia lebih banyak organisasi dakwah dan
harakah Islamiyah daripada di Arab Saudi, dengan variasi mazhab fiqih, firqah
aqidah, dan aliran thariqah yg beragam, dengan corak yg fundamental, radikal,
liberal, dan sinkretis, lengkap dgn garis keras, garis lurus, dan garis lucu...
Gak akan sanggup Raja Salman memahami semua itu, apalagi memikirkan dan
menyelesaikannya... 4. Di Indonesia banyak terdapat parpol-parpol Islam yg
mengusung "politik demokrasi liberal", padahal itu yg paling ditakuti oleh
Dinasti Saud. Kalau semangat demokrasi menular ke rakyat Arab Saudi, hancur itu
kerajaan, dan anggota Dinasti Saud akan dibunuhi seperti Saddam Husein dan
Moammar Khadafi... Maka Arab Springs berhenti di depan pintu Arab Saudi. 5.
Di Indonesia ada Ahok dan Sembilan Naga, justeru orang-orang spt itu yg disukai
para Kapitalis Saudi. Mrk pekerja keras, pebisnis ulung, pandai membuat
perkongsian...
Industri pabrikasi, konstruksi dan perdagangan di Arab Saudi sangat maju karena
bekerjasama dgn para pebisnis China. Di pasar Ternate (pelosok Utara Maluku)
toko-toko Arab dan China berdampingan sejak lama, begitu juga di Ambon.
Di Surabaya, Malang, Gresik, Pekalongan (pusat industri batik), Bogor (Empang),
Palembang, Makassar... pebisnis Arab dan pebisnis China, dgn gaya berkongsi
masing-masing, mereka berdagang bersama-sama di pasar, membangun pabrik,
klinik, apotik, toko kelontong... gak pernah mereka konflik...
Travel Haji/Umrah di Indonesia pun banyak dikelola bersama oleh pebisnis
Arab/Saudi dgn China. 6. Raja Salman datang bukan untuk memberesi banjir
Jakarta... justeru mrk sangat menyukai hujan lebat, krn capek hidup di gurun
kering. Juga bukan untuk menyelesaikan macet Jakarta, krn orang Saudi tidak
banyak tinggal di Jakarta, senangnya di kawasan Puncak, Batu/Malang, daerah yg
sejuk-sejuk tapi banyak hidangan hangatnya... 6. Jadi untuk apa Raja Salman
datang ke Indonesia? Untuk dagang, Bro... Untuk investasi, ya Akhii
al-kiraam... Pokoknya, kalau umat Islam Indonesia tidak punya semangat
kemandirian, sibuk mengagungkan Turki dan Erdogan, sibuk berteriak soal
Palestina dan Suriah, bergantung pada duit Kapitalis Saudi dan RRT... serta
tidak membangun ENTREPRENEURSHIP yg kuat, maka kita hanya sebagai penonton.
Eva Kusuma Sundari *** __
#yiv9742944965 #yiv9742944965 -- #yiv9742944965ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv9742944965
#yiv9742944965ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv9742944965
#yiv9742944965ygrp-mkp #yiv9742944965hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv9742944965 #yiv9742944965ygrp-mkp #yiv9742944965ads
{margin-bottom:10px;}#yiv9742944965 #yiv9742944965ygrp-mkp .yiv9742944965ad
{padding:0 0;}#yiv9742944965 #yiv9742944965ygrp-mkp .yiv9742944965ad p
{margin:0;}#yiv9742944965 #yiv9742944965ygrp-mkp .yiv9742944965ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv9742944965 #yiv9742944965ygrp-sponsor
#yiv9742944965ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv9742944965
#yiv9742944965ygrp-sponsor #yiv9742944965ygrp-lc #yiv9742944965hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv9742944965
#yiv9742944965ygrp-sponsor #yiv9742944965ygrp-lc .yiv9742944965ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv9742944965 #yiv9742944965actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv9742944965
#yiv9742944965activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv9742944965
#yiv9742944965activity span {font-weight:700;}#yiv9742944965
#yiv9742944965activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv9742944965 #yiv9742944965activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv9742944965 #yiv9742944965activity span
span {color:#ff7900;}#yiv9742944965 #yiv9742944965activity span
.yiv9742944965underline {text-decoration:underline;}#yiv9742944965
.yiv9742944965attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv9742944965 .yiv9742944965attach div a
{text-decoration:none;}#yiv9742944965 .yiv9742944965attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv9742944965 .yiv9742944965attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv9742944965 .yiv9742944965attach label a
{text-decoration:none;}#yiv9742944965 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv9742944965 .yiv9742944965bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv9742944965
.yiv9742944965bold a {text-decoration:none;}#yiv9742944965 dd.yiv9742944965last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9742944965 dd.yiv9742944965last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9742944965
dd.yiv9742944965last p span.yiv9742944965yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv9742944965 div.yiv9742944965attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv9742944965 div.yiv9742944965attach-table
{width:400px;}#yiv9742944965 div.yiv9742944965file-title a, #yiv9742944965
div.yiv9742944965file-title a:active, #yiv9742944965
div.yiv9742944965file-title a:hover, #yiv9742944965 div.yiv9742944965file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv9742944965 div.yiv9742944965photo-title a,
#yiv9742944965 div.yiv9742944965photo-title a:active, #yiv9742944965
div.yiv9742944965photo-title a:hover, #yiv9742944965
div.yiv9742944965photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv9742944965
div#yiv9742944965ygrp-mlmsg #yiv9742944965ygrp-msg p a
span.yiv9742944965yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv9742944965
.yiv9742944965green {color:#628c2a;}#yiv9742944965 .yiv9742944965MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv9742944965 o {font-size:0;}#yiv9742944965
#yiv9742944965photos div {float:left;width:72px;}#yiv9742944965
#yiv9742944965photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv9742944965
#yiv9742944965photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv9742944965
#yiv9742944965reco-category {font-size:77%;}#yiv9742944965
#yiv9742944965reco-desc {font-size:77%;}#yiv9742944965 .yiv9742944965replbq
{margin:4px;}#yiv9742944965 #yiv9742944965ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv9742944965 #yiv9742944965ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9742944965
#yiv9742944965ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv9742944965
#yiv9742944965ygrp-mlmsg select, #yiv9742944965 input, #yiv9742944965 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9742944965
#yiv9742944965ygrp-mlmsg pre, #yiv9742944965 code {font:115%
monospace;}#yiv9742944965 #yiv9742944965ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv9742944965 #yiv9742944965ygrp-mlmsg #yiv9742944965logo
{padding-bottom:10px;}#yiv9742944965 #yiv9742944965ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv9742944965 #yiv9742944965ygrp-msg
p#yiv9742944965attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv9742944965
#yiv9742944965ygrp-reco #yiv9742944965reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv9742944965 #yiv9742944965ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv9742944965 #yiv9742944965ygrp-sponsor
#yiv9742944965ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv9742944965
#yiv9742944965ygrp-sponsor #yiv9742944965ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv9742944965
#yiv9742944965ygrp-sponsor #yiv9742944965ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv9742944965 #yiv9742944965ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv9742944965 #yiv9742944965ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv9742944965 #yiv9742944965ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv9742944965
#yiv9742944965ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv9742944965