PROFIL KH. WAHFIUDIN SAKAM SE. MBA.

http://www.wahfiudin.net/index.php/profil
<http://www.wahfiudin.net/index.php/profil>  
 
 
Quote:  <<  “Saya mau ngambil jurusan teknik perminyakan atau sosiologi, 
“kata Wahfiudin lagi.
“Jurusan-jurusan itu hanya untuk kalangan-kalangan tertentu. Jangankan 
orang dari luar, warga Saudi sendiri tidak semuanya bisa kuliah di sana, 
“jawab ustadznya.
“Kalau begitu saya lebih baik keluar. Buat apa jauh-jauh ke Saudi hanya 
untuk belajar ilmu agama. Kalau mau ilmu agama, saya lebih baik belajar di 
Indonesia saja. Saya bisa masuk IAIN atau pesantren, “kata Wahfiudin tegas.
Sang ustadz, yang asli Mesir dan staf kedutaan yang mendampinginya 
terperangah, “Kenapa begitu?” tanya sang ustadz.
“Tentu saja. Sistem pendidikan agama di Saudi kan hanya menekankan pada 
hafalan Al-Qur’an dan hadits, tetapi tidak mendidik mahasiswanya untuk 
berfikir. Kami tidak diajari untuk menelaan masalah, tidak memperluas 
wawasan,”jawab Wahfiudin. “Kayaknya belajar di sana itu semua mahasiswanya 
dibilangin, ‘Kau hafalkan dalil-dalil ini, semua yang berbeda dengan ini 
adalah bid’ah, syirik, khurafat!” ceritanya kepada alkisah.
 
Ustadz Mamduh menengok koleganya yang orang Saudi asli.
Ternyata sang diplomat tidak marah. Dengan anggukan mafhum, ia berkata, 
“Yah itulah kelemahan sistem pendidikan kami.”  .. >>
 
------------------------
-----Original-Nachricht-----
Betreff: [temu_eropa] Re: [GELORA45]
Datum: 2017-03-01T19:12:45+0100
Von: "Tatiana Lukman [email protected] [temu_eropa]" 
<[email protected]>
An: "[email protected]" <[email protected]>, 
"[email protected]" <[email protected]>
 
 
 


Tulisan yang menarik. Ada beberapa point yang sesuai dengan kenyataan 
(sudah tentu menurut pandangan saya). Misalnya:
duit gak akan keluar dari sarangnya kecuali hanya untuk membawa pulang 
temannya lagi (sesama duit). Ini sama dengan mengatakan kapital dikeluarkan 
oleh pemiliknya dan ditanam untuk melahirkan profit. Kapital selalu cari 
tempat di mana bisa menghasilkan keuntungan.
 
Kapitalis Saudi tdk melihat umat Islam suatu negara sebagai saudara 
seagama. Apa yg telah dibuatnya untuk "saudara-saudara seagamanya" di 
Mesir, Libya,  Palestina, Suriah, Iraq, dan Yaman yg berada dalam 
lingkungan terdekatnya? Sepanjang tdk mendatangkan keuntungan ekonomi, tak 
ada tindakan berarti yg
 
·         dibuatnya untuk "saudara-saudara seagamanya" itu.
Benar sekali!! Bagi kaum kapitalis, yang utama adalah keuntungan ekonomi. 
Soal agama sama sekali tidak penting. 
 
 Pepatah tua mengatakan, orang  kaya hanya bergaul dgn sesama orang kaya...
Benar sekali. Mana ada orang kaya bergaul dengan orang miskin. Orang miskin 
dijadikan jongosnya, nah itu baru mungkin!  
 
Saudi dan RRT adalah dua kekuatan Kapitalisme yg didukung oleh Kekuasaan 
Otoriter (diktator?) yg anti demokrasi. Apakah kunjungan Raja Salman akan 
memperkuat demokrasi di Indonesia? No, bagi investor RRT dan Saudi, yg 
mereka harapkan terjadi di Indonesia adalah *stabilitas politik* untuk 
mengamankan
uang2 mereka di sini, tidak peduli apa agama penguasa di Indonesia, dan 
bagaimana kekuasaan itu diraih dan dikelola, yg penting mantap dan stabil.
Penulis tidak mencantumkan RRT sebagai pemerintah "Komunis". Tepat!! 
Mendefinisikan sebagai Kekuasaan Otoriter yang anti demokrasi!! Dan memang 
betul yang penting bagi mereka adalah "stabilitas politik". Ha...ha.. 
seperti kata Paus Fransiskus, kapitalisme yang mendewakan uang.
 
Kapitalis Arab, Kapitalis China,  keduanya sama saja, tetap kapitalis. 
Fokus utamanya cuma satu, uang.
Ha...ha.. seperti kata Paus Fransiskus, kapitalisme yang mendewakan uang. 
 
Kemarin jadi kuli dan jongos Arab di Saudi, serta jadi kuli dan jongos 
China di Hongkong, sekarang bersiaplah jadi kuli dan jongos Saudi dan China 
di negeri sendiri, NKRI.
Betul, memang ada gejala ke arah itu. Tergantung pada perjuangan rakyat. 
Hanya gerakan rakyat yang bisa menghentikan arus mengorbankan rakyat 
sendiri untuk dijadikan sapi perahan murah kaum pemodal asing, tak perduli 
dari negeri manapun datangnya. 
 
Uang bagaikan kawanan burung bangkai yg terbang berkelompok di angkasa, 
berputar-putar mencari mangsa. Di situ ada bangkai, di situlah mereka 
mendarat. Mereka tak kenal kewarhanegaraan, ras/etnis, maupun agama...
Betul sekali!! Kapital tidak kenal bangsa, warna kulit, atau agama. Hanya 
Chan yang percaya modal Tkk lebih baik dan menguntungkan dari pada modal 
Jepang atau AS!!! 
 
Dengan GDP terbesar *kedua di dunia*, dan Cadangan Devisa terbesar *nomor 
satu  di dunia*, apalagi dengan tekanan jumlah penduduk yg terus mendesak 
menjadi 1,5  milyar orang, kemana Kapitalis RRT akan mengarahkan investasi 
luar negerinya?
*Indonesia*... letak geopolitisnya strategis, penduduknya banyak (sbg 
konsumer/market yg kuat), sumber daya alamnya luas dan bervariasi, para 
pemimpinnya *mudah dibeli*, mental kuli dan jongos rakyatnya cocok untuk 
jadi  bahan *tenaga kerja berbiaya murah*.
Betul sekali! Hanya beberapa kata yang tidak setuju, "mental kuli dan 
jongos rakyatnya...". Rakyat Indonesia tidak bermentalitas kuli atau 
jongos!!! Sistim semi feodal dan semi kolonial dengan pemerintahnya yang 
mengabdi tuan tanah besar, kabir dan komprador yang memaksa mereka bekerja 
sebagai kuli dan jongos dan buruh dengan upah murah. 
 
Jadi untuk apa Raja Salman datang ke Indonesia? Untuk dagang, Bro... Untuk 
investasi, ya Akhii al-kiraam...
Betul sekali!! Dan ingat bukan Indonesia yang butuh Saudi, tapi Saudi yang 
butuh Indonesia karena harga emas hitamnya sudah tidak memungkinkan mereka 
mandi duit. Dan siapa yang memfasilitasi dan mengabdi kepada kepentingan 
Arab Saudi??? Pemerintah Jokowi yang memang kerjanya ngemis modal!!! Masih 
kurang jelas kepada siapa Jokowi mengabdi?? Masih ingat lumbung padi di 
Papua yang pernah dibanggakan oleh salah seorang anggota milis ini??? 
Berasnya termasuk beras organik untuk diekspor ke Arab Saudi! Rakyatnya 
sendiri makan raskin!!!
 
Tidak percuma penulis ini menyandang gelar Dr.!!! Matanya jeli! Logikanya 
jalan dengan baik.
 
 


On Tuesday, February 28, 2017 8:44 PM, "ajeg [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:


 
 
Setelah dihantam berbagai kritik akibat kecondongannya pada RRC, barulah 
Jokowi teringat citra Indonesia sebagai negara dg politik bebas-aktif.
 
Sayangnya, politik luarnegeri yang luhur itu disalahartikan sebagai bebas 
bergaul di dunia yang semakin multipolar ini untuk berutang sana-sini.
 
Artinya, hanya membawa Indonesia tetap sebagai jajahan nekolim.

--- arif.harsana@... wrote:
 
Berikut ini, saya forward salah satu tanggapan ttg. kunjungan Raja Salman 
ke Indonesia,
yg isinya saya kira cukup kritis dan pantas dicermati.
 
A.H.
------------------- 


   ARTIKEL_Dr.KH.Wahfiudin Sakam M.A.
    
   Sumber: https://www.facebook.com/eva.sundariii.5/posts/1946099205618577
    
   ENTREPRENEURS kunci Kemandirian Ekonomi
    
   Tulisan menarik Dr. KH. Wahfiudin Sakam, M.A.
   (Wakil Talqin Abah Anom, TQN Suryalaya). Sahabat Ust Saad,, [alt]?[alt]
   ?[alt]?
    
   Umat Islam Indonesia memang bakal gigit jari... terserah,y mau satu
   jari, dua jari, atau tiga jari...
    
   Sy tdk percaya kedatangan Raja Salman krn memikirkan umat Islam
   Indonesia.
   Dia datang lebih krn kepentingan negaranya sendiri, bahkan lebih sempit
   lagi, krn kepentingan Dinasti Saud, demi diri dan keluarganya sendiri.
    
   Tak ada itu dana (solidaritas) Islam.
   Dia arahkan kebijakan luar negerinya ke Timur (India, Malaysia,
   Indonesia, Jepang, bahkan RRT) krn gerak invèstasinya di Barat semakin
   sulit.
    
   Ekonomi USA belum sembuh dari kehancuran akibat krisis mortgage 2007,
   ditambah kebijakan Trump yg "America first", self protective, dan
   anti-Islam.
    
   Eropa, dengan bbrp negara spt Yunani, Portugal, Spanyol terus mengalami
   krisis ekonomi; dan keluarnya Inggris dari UE, semakin memberi ketidak
   pastian masa depan untuk investasi.
    
   RRT, INDIA, INDONESIA... tiga negara dgn pertumbuhan ekonomi yg terbaik
   (relatif dari semua negara di dunia), tiga negara berpenduduk terbesar
   yg siap menjadi market besar dunia, lebih menjanjikan untuk investasi
   uang Dinasti Saud.
    
   Benarkah Raja Salman bawa uang 325T untuk menutup hutang RI kpd RRT?
   Hahaha... nonsense... omong kosong...
    
   Duit gak kenal saudara pemiliknya (manusia)... duit gak akan keluar dari
   sarangnya kecuali hanya untuk membawa pulang temannya lagi (sesama
   duit).
    
   Bagaimana Raja Salman mau nebar duit untuk umat Islam Indonesia, kalau
   uang kematian korban robohnya crane di Masjidil Haram yg dijanjikannya
   sendiri sudah bertahun-tahun belum bisa dia bayarkan. Belum lagi janji
   untuk menghajikan keluarga korban "tragedi Mina 2".
    
   Bagaimana mau menebar uang untuk umat Islam, kalau Saudi sendiri sdg
   berusaha "memeras" umat Islam dunia dgn menaikkan harga visa Haji dan
   Umrah, menjadikan Haji dan Umrah sbg "komoditi eksklusif" dgn "market yg
   captive", padahal tebar pesona sebagai "Khadimul Haramain (pelayan dua
   Tanah Suci)".
    
   Bagaimana Saudi mau membebaskan umat Islam Indonesia dari terkaman RRT,
   kalau RRT pemegang dana cadangan devisa terbesar di dunia (sekitar 3,5T
   US $), kontraktor pembangunan jaringan kereta api di Saudi, juga
   kontraktor dan investor besar pembangunan proyek2 infrastruktur di
   negara-negara Teluk Arab.
    
   Harga minyak dunia sdg turun, Saudi tak mau menurunkan produksinya walau
   sdh ditekan OPEC, maka satu2nya cara meningkatkan harganya dgn
   meningkatkan penjualannya, dan potensi pembeli terbesarnya adalah RRT yg
   sdg haus enerji untuk pembangunan sektor industrinya.
    
   Itu sebabnya setelah dari Indonesia Raja Salman akan ke RRT, untuk
   memperkuat kerjasama ekonomi dgn RRT. Dalam "The Clash of Civilizations"
   S Huntington juga meramalkan, benturan peradaban yang akan terjadi
   adalah antara Peradaban Barat dgn Peradaban Islam (Arab?) Yg bersatu dgn
   Perdaban Konfusianisme (Cina?).
    
   Kapitalis Saudi tdk melihat umat Islam suatu negara sebagai saudara
   seagama. Apa yg telah dibuatnya untuk "saudara-saudara seagamanya" di
   Mesir, Libya, Palestina, Suriah, Iraq, dan Yaman yg berada dalam
   lingkungan terdekatnya? Sepanjang tdk mendatangkan keuntungan ekonomi,
   tak ada tindakan berarti yg dibuatnya untuk "saudara-saudara seagamanya"
   itu.
    
   Kedatangannya ke Indonesia, dengan siapa pertemuan-pertemuan pendahuluan
   dilakukan untuk mempersiapkannya? Apakah dgn MUI, NU, Muhammadiyah, atau
   Parpol-parpol Islam spt PKS, PAN, PPP, PKB? No, ini bukan kunjungan
   keagamaan... ini kunjungan bisnis Kapitalis Saudi yg sdg mencari
   saudaranya sesama kapitalis... Dan siapa kapitalis-kapitalis besar di
   Indonesia? Lihatlah para pangeran Saudi itu, dengan siapa pertemuan2
   bisnis mrk sdh diagendakan, di saat sang Raja melakukan acara seremonial
   diplomasi kenegaraan? Pepatah tua mengatakan, orang kaya hanya bergaul
   dgn sesama orang kaya...
    
   Saudi dan RRT adalah dua ,kekuatan Kapitalisme yg didukung oleh
   Kekuasaan Otoriter (diktator?) yg anti demokrasi. Apakah kunjungan Raja
   Salman akan memperkuat demokrasi di Indonesia? No, bagi investor RRT dan
   Saudi, yg mereka harapkan terjadi di Indonesia adalah stabilitas politik
   untuk mengamankan uang2 mereka di sini, tidak peduli apa agama penguasa
   di Indonesia, dan bagaimana kekuasaan itu diraih dan dikelola, yg
   penting mantap dan stabil.
    
   Apakah kunjungan Raja Salman itu sama sekali tidak ada pengaruhnya bagi
   keIslaman di Indonesia? Pasti ada dong, walau serpihan-serpihan saja. Yg
   jelas kelompok dakwah Salafi Wahabi (SaWah) akan makin kebanjiran dana.
   Bukan SaWah yg radikal, tapi SaWah yg anti demokrasi, bahkan yg
   apolitis. Paling-paling hanya akan menambah keributan soal syirik,
   bid'ah, dhalalah, kafir... dan enerji dakwah hanya akan tersita di
   keributan soal itu, sebagaimana terjadi di Makkah dan Madinah, lalu umat
   Islam terlalaikan dari pergulatan yg sesungguhnya di pucuk-pucuk
   Kekuasaan dan Ekonomi negeri ini. Kapitalis Arab, Kapitalis China,
   keduanya sama saja, tetap kapitalis. Fokus utamanya cuma satu, uang. 
   Jalan menuju uang, yg harus dibangun oleh umat Islam Indonesia adalah:
   ENTREPRENEURSHIP !!!
   Kalau jalan itu tak dikembangkan, silahkan jadi kuli dan jongos saja.
    
   SELAMAT DATANG KAPITALIS RRT DAN KAPITALIS SAUDI.
    
   Kemarin jadi kuli dan jongos Arab di Saudi, serta jadi kuli dan jongos
   China di Hongkong, sekarang bersiaplah jadi kuli dan jongos Saudi dan
   China di negeri sendiri, NKRI.
    
   Uang bagaikan kawanan burung bangkai yg terbang berkelompok di angkasa,
   berputar-putar mencari mangsa. Di situ ada bangkai, di situlah mereka
   mendarat. Mereka tak kenal kewarhanegaraan, ras/etnis, maupun agama...
    
   Setelah pelemahan ekonomi di Eropa, juga Amerika, terlebih dgn kebijakan
   Donald Trump yg self-protection dan anti-Islam, kemana para Kapitalis
   Saudi akan mengarahkan investasinya? Afrika yg dekat dgn Saudi, dari
   dulu tak pernah menjanjikan.
    
   Dengan GDP terbesar kedua di dunia, dan Cadangan Devisa terbesar nomor
   satu di dunia, apalagi dengan tekanan jumlah penduduk yg terus mendesak
   menjadi 1,5 milyar orang, kemana Kapitalis RRT akan mengarahkan
   investasi luar negerinya?
    
   India... paling banyak punya ahli IT dan Manajer.
    
   Vietnam... paling kuat jaringan internetnya.
    
   Malaysia... kuat entrepreneur-nya.
    
   Indonesia... letak geopolitisnya strategis, penduduknya banyak (sbg
   konsumer/market yg kuat), sumber daya alamnya luas dan bervariasi, para
   pemimpinnya mudah dibeli, mental kuli dan jongos rakyatnya cocok untuk
   jadi bahan tenaga kerja berbiaya murah.
    
   Ke Indonesia-lah, para Kapitalis Saudi dan Kapitalis RRT datang...
    
   Memangnya Raja Salman datang ke Indonesia mau menyelesaikan urusan Islam
   dan umat Islam di Indonesia? 
   No... ini urusan investasi keluarga Saud, ya akhii...
    
   Bagaimana Raja Salman mau mengurus Islam di Indonesia, kalau:
    
   1. Raja Salman tak punya pengalaman mengurus umat sebanyak ini. Di Saudi
   cuma ada sekitar 22 juta muslim, di Indonesia 220 juta muslim.
    
   2. Di Indonesia ada lebih banyak Perguruan Tinggi Agama Islam yg
   menghasilkan Sarjana-sarjana ahli Ilmu Agama Islam daripada di Saudi.
   Coba hitung, betapa banyak Indonesia punya pesantren, madrasah diniyah,
   ibtidaiyah hingga aliyah, UIN, IAIN, STAIN, STAI Swasta, Universitas
   Islam, kursus-kursus muballigh.
    
   Saya tdk tahu, para sarjana S1 hingga S3 Ilmu Agama Islam yg
   dihasilkannya, malah membawa kemajuan bagi umat atau malah menjadi
   beban... karena kalau sdh sarjana, lalu jadi pegawai atau pengajar, gaji
   dan fasilitas yg ditunutunya pun semakin mahal... jadi muballigh pun
   tarifnya semakin tinggi... tapi apa dampaknya bagi perkembangan dakwah?
   Entahlah... 

   Yg jelas, kerja "semut-semut pekerja dakwah" dari Jamaah Tabligh, yg
   door to door menjemput orang ke jalan iman, lebih banyak "mengIslamkan"
   orang daripada apa yg dilakukan oleh para sajana Perguruan Tinggi Agama
   Islam, karena mereka lebih sibuk antri jadi PNS (sekarang ASN) di
   Kemenag dgn menenteng ijasah-ijasah mereka.
    
   3. Di Indonesia lebih banyak organisasi dakwah dan harakah Islamiyah
   daripada di Arab Saudi, dengan variasi mazhab fiqih, firqah aqidah, dan
   aliran thariqah yg beragam, dengan corak yg fundamental, radikal,
   liberal, dan sinkretis, lengkap dgn garis keras, garis lurus, dan garis
   lucu... Gak akan sanggup Raja Salman memahami semua itu, apalagi
   memikirkan dan menyelesaikannya...
    
   4. Di Indonesia banyak terdapat parpol-parpol Islam yg mengusung
   "politik demokrasi liberal", padahal itu yg paling ditakuti oleh Dinasti
   Saud. Kalau semangat demokrasi menular ke rakyat Arab Saudi, hancur itu
   kerajaan, dan anggota Dinasti Saud akan dibunuhi seperti Saddam Husein
   dan Moammar Khadafi... Maka Arab Springs berhenti di depan pintu Arab
   Saudi.
    
   5. Di Indonesia ada Ahok dan Sembilan Naga, justeru orang-orang spt itu
   yg disukai para Kapitalis Saudi. Mrk pekerja keras, pebisnis ulung,
   pandai membuat perkongsian... 
   Industri pabrikasi, konstruksi dan perdagangan di Arab Saudi sangat maju
   karena bekerjasama dgn para pebisnis China. Di pasar Ternate (pelosok
   Utara Maluku) toko-toko Arab dan China berdampingan sejak lama, begitu
   juga di Ambon. 
   Di Surabaya, Malang, Gresik, Pekalongan (pusat industri batik), Bogor
   (Empang), Palembang, Makassar... pebisnis Arab dan pebisnis China, dgn
   gaya berkongsi masing-masing, mereka berdagang bersama-sama di pasar,
   membangun pabrik, klinik, apotik, toko kelontong... gak pernah mereka
   konflik...
   Travel Haji/Umrah di Indonesia pun banyak dikelola bersama oleh pebisnis
   Arab/Saudi dgn China.
    
   6. Raja Salman datang bukan untuk memberesi banjir Jakarta... justeru
   mrk sangat menyukai hujan lebat, krn capek hidup di gurun kering. Juga
   bukan untuk menyelesaikan macet Jakarta, krn orang Saudi tidak banyak
   tinggal di Jakarta, senangnya di kawasan Puncak, Batu/Malang, daerah yg
   sejuk-sejuk tapi banyak hidangan hangatnya...
    
   6. Jadi untuk apa Raja Salman datang ke Indonesia? Untuk dagang, Bro...
   Untuk investasi, ya Akhii al-kiraam...
    
   Pokoknya, kalau umat Islam Indonesia tidak punya semangat kemandirian,
   sibuk mengagungkan Turki dan Erdogan, sibuk berteriak soal Palestina dan
   Suriah, bergantung pada duit Kapitalis Saudi dan RRT... serta tidak
   membangun ENTREPRENEURSHIP yg kuat, maka kita hanya sebagai penonton.
    
    
   Eva Kusuma Sundari <https://www.facebook.com/evakusuma.sundari.9>
    
                       ***
    
    
   __



 




 




Kirim email ke