Kenyataan? Kenyataan apa yang bung lihat? Moso’ kekerasan hanya datang dari 
penguasa saja? Orang miskin, petani, buruh tidak bisa bikin kekerasan?

Ini yang saya bilang bung tidak mampu melihatnya. Bung bilang kekerasan itu 
dimulai dari yg punya kekuasaan. Ini benar dan saya setuju plus ada tapinya. 
Tapinya adalah kekerasan itu tidak selalu diciptakn oleh yg punya kekuasaan. 
Yang tidak berkuasa pun bisa bikin kekerasan. Terus jangan pikir orang 
marginal/miskin/tani/nelayan/buruh itu tidak punya kekuasaan. Kalau tidak punya 
kekuasaan, apa yg bung perjuangkan? Mau menangkan? Kalau sudah menang itu kan 
artinya punya kekuasaan. Kalau bung tidak yakin menang, ngapain bung berjuang? 
Ini logika saya. Jadi kalau buruh, tani, nelayan itu digalang dalam 
serikat2/organisasi2 itu akan menjadi “kekuatan” yang bisa menjelma menjadi 
kekuasaan. Kalau tidak punya Meriam, nuklir yg mahal, ya bambu runcing, 
linggis, sapu lidi kan masih terjangkau.

 

Jadi sayapun melihat kenyataan bahwa ada petani, orang miskin, nelayan, buruh 
yang menjadi objek kekerasan. Kenapa tidak? bukan hanya ada, melainkan banyak. 
Dinegara maju saja sampai sekarang ini masih terjadi. Di amerika orang hitam 
jadi korban profiling dan kekerasan itu sudah lumrah. Saya lihat itu dan juga 
saya rasakan sendiri.

 

Walaupun saya tidak segitu banyak mengetahui tentang gerakan rakyat di 
Paraguay, di Mexico, Colombia, Guatemala, Honduras, Libia, Republik Donets dan 
Lugans di Ukraina, Argentina, Chile etc, saya mengikuti perjuangan rakyat 
disana. Saya baca perjuangan teologi pembebasan diamerika latin. Saya juga 
sudah berdiskusi sejak lama tentang hal ini termasuk tidak terlalu setuju 
dengan Ratzinger dan paus karol wojtyla yang lebih konservatif dalam melihat 
masalah ini. Ada seorang Jesuit yg sekolah Phd/S3 di Columbia manhattan NY 2005 
cerita kenapa cardinal Sin akhirnya turun kejalan menurunkan marcos/ Mengapa 
Kardinal Sin baru turun pada hari-hari terakhir selama people power? Jawaban 
pastur Jesuit ini kurang lebih begini: "Sebagai lembaga, gereja memang 
konservatif. Tapi dalam gereja ada pastur2 dan suster2 yang sejak awal sudah 
turut mengorganisir people power. Mereka sejak awal sudah turun ke jalan2, 
berdiri di depan menghadapi pasukan dan panser. Foto2 suster membawa bunga 
untuk pasukan itu sudah sering muncul di koran2 dan itu mengilhami masyarakat 
filipina."

 

Vatikan 2 (1962-67) memang titik balik paling penting dalam sejarah gereja 
romawi katholik. Dalam konsili itu juga pertama kalinya gereja secara lebih 
jelas menggugat ketidak adilan dan menyerukan umatnya untuk "berpihak pada yang 
miskin" (preferential option for the poor). Salah satu dampak dari Vatikan 2 
adalah lahirnya teologi pembebasan/TP di amerika latin. Lalu kita lihat 
bagaimana beberapa romo ditembak mati. Antara lain Camilo Torres, romo kolombia 
dan Romo romero, uskup el salvador, itu yang paling beken. Beberapa suster 
diperkosa dan dibunuh, dst. Itulah risiko ke-"berpihakkan."

 

Jadi teringat bahwa aidit pernah marah2 sama orang2 masyumi karena dalam 
kampanye pemilu dia pernah bilang, "Kalau Nabi Muhammad SAW masih hidup, dia 
akan pilih PKI." Yang dimaksud aidit itu isinya, bukan labelnya. Ini dalam 
konteks karena masyumi dulu sama sekali nggak mendukung landreform. Padahal 
Islam mengajarkan orang untuk adil, kan? Ingat bagaimana mereka dulu juga anti 
sama Tionghoa, bersama militer mempromosikan PP10, dst. Padahal Islam tidak 
mengajar orang untuk rasis. Ada puluhan juta orang Islam di Tiongkok, puluhan 
juta lagi di Uni Soviet, dst. Islam cuma dipakai sebagai label, sebagai logo. 
Bukan usaha untuk mewujudkan rohnya atau substansinya. 

 

Dalam agama Katolik juga gitu. Ratusan tahun Katolik di Amerika Latin itu cuma 
dipakai labelnya. Baru dengan munculnya Teologi Pembebasan tahun 70-an agama 
Katolik jadi unsur yang ikut membebaskan masyarakat dari penindasan. Munculnya 
sandinista, chavez, lula, dkk itu sangat dibantu oleh teologi yang sudah jauh 
lebih progresif.

 

Selama perang dingin agama (agama apapun juga) memang jadi senjata ampuh blok 
barat. Pater beek dkk itu contoh pastur didikan perang dingin. Mereka sangat 
anti gerakan kiri di manapun juga. Tapi sejak tahun 60-an muncul teologi 
pembebasan/TP yang kemudian menjadi gerakan baru dalam agama katholik yang 
dimotori pastur2 di amerika latin. 

 

Pengaruh TP itu sangat dirasakan bukan cuma oleh umat katholik di amerika latin 
tetapi juga di negara lain. Gerakan pembebasan di amerika latin seperti 
sandinista di nikaragua atau FMLN di el salvador, dan juga gerakan chavez di 
venezuela sekarang ini,itu bisa berkembang luas antara lain karena ajaran TP 
itu. Di kolumbia, romo camillo torres yang angkat senjata, ikut bergerilya dan 
tewas dalam pertempuran itu jadi semacam idola. Di el salvador, romo romero 
yang tewas ditembak tentara itu jadi idola juga. 

 

Pada dekade 80an dan 90an pastur2 TP ini disingkirkan oleh vatikan dibawah paus 
JP2. Mereka tidak dikucilkan atau dikeluarkan dari hirarki Gereja, seperti 
harapan pihak kanan, tetapi disingkirkan. Apapun sikap yang akan diambil 
seorang paus, dia tidak bisa mengingkari kenyataan bahwa 50% umat Katolik itu 
hidup di amerikalLatin yang alamnya kaya raya tetapi rakyatnya tenggelam dalam 
kemiskinan akibat sistim politik-ekonomi yang ada sekarang ini. Teologi 
pembebasan coba menjelaskan penyebab kemiskinan itu.

 

Saya percaya dinamika seperti itu juga terjadi di banyak tempat dan dalam 
berbagai lembaga. Ada lembaga yang besar, yang gerakannya lamban, yang 
ide-idenya pro kemapanan. Tetapi ada banyak kelompok kecil dalam lembaga besar 
itu yang sadar betul apa yang sedang terjadi dalam masyarakat dan mereka 
berjuang untuk mengadakan perobahan, untuk ikut aktif memperbaiki 
masyarakatnya. 

 

Kalau kita lihat film "Romero" gejala seperti ini jelas sekali. Lembaga 
besarnya itu konservatif - pro pemerintah yang korup, pro militer yang menindas 
rakyat, pro modal asing, pro kestabilan, pro pembungkaman pers, dst. Romero 
ditunjuk jadi uskup el salvador karena dia romo yang konservatif. Dalam film 
itu ada sidang pucuk pimpinan gereja el salvador, yah sejenis sidang KWInya el 
salvador lah. Dalam sidang itu jelas sekali ide2 elite gereja el salvador itu 
jauh sekali dari jeritan rakyatnya. Nah, bagaimana mereka mengerti pentingnya 
kebangkitan kalau mereka nggak sadar yang sedang terjadi adalah penyaliban?

 

Romo2 itu hidup di kompleks-kompleks gereja yang begitu terlindung, begitu 
terpisah dari masyarakat, begitu jauh dari jeritan dan penderitaan di tengah 
kemiskinan. Tapi setelah beberapa kali romero turun sendiri ke lapangan, dia 
sering membantu sahabat dekatnya, romo rutilio grande, yang jadi romo di 
kalangan petani, dia mengalami sendiri kekejaman dan penindasan militer di 
jalan2, menyaksikan sendiri kehidupan umatnya di tempat2 pembuangan sampah, 
melihat bagaimana salah satu anak muda didikannya disiksa, diperkosa lalu 
ditembak mati dan dibuang ke tempat sampah, lalu dia saksikan sahabatnya mati 
ditembak, bagaimana pers dibungkam, dst. Romero tersentuh dan dia berobah. Lalu 
dia mulai bicara. Dia mulai mengerti bahwa di depan matanya sedang terjadi 
penyaliban dan dari penyaliban itu harus ada kebangkitan. 

 

Pastur2 ini harus mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam masyarakat. 
Romero menyampaikan itu dengan mempertaruhkan nyawanya. Dia ikut membukakan 
pintu untuk suatu masa depan yang tidak akan menjadi miliknya. Karena itu dia 
menjadi salah satu simbol gerakan teologi pembebasan.

 

Ini semua kenyataan walaupun tidak saya alami sendiri, tetapi inilah yang saya 
percaya. Buku dan diskusi membuka mata saya walaupun saya tidak mengalaminya. 
Lebih dari cerita ini semua ini ada kenyataan lain yang juga saya percaya bahwa 
orang miskin, petani dan buruh pun bisa melakukan kekerasan. Sama ceritanya yg 
terjadi di timor timur waktu dulu itu. Ada seorang Jesuit Indonesia yg kerja 
disana juga cerita. Ceriteranya mirip bahwa kekuatan itu memang harus 
diperjuangkan seperti yg bung perjuangkan sekarang dan dari dulu itu. Mungkin 
sudah cukup panjang tapi tidak esensial utk dikupas. Cukup sampai disini saja.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, March 1, 2017 9:57 AM
To: [email protected]; [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Doa Bapak Kami

 

  

Bukan asumsi, tapi kenyataan yang saya lihat di dunia ini. Sudah tentu bicara 
tentang "kenyataan", anda dan saya juga berbeda. Kenyataan yang anda lihat 
sebagian besar datang dari mainstream media borjuis yang menguasai dunia 
komunikasi. Dan kenyataan itu dipandang dan dianalisa dari ideologi anda yang 
bertentangan dengan ideologi saya. Sedangkan saya, di samping mainstream media 
borjuis, punya akses kepada "kenyataan" yang disembunyikan atau diputar balik 
oleh mainstream media itu. Orang yang bagi saya pejuang, buat media barat dan 
reaksioner adalah teroris. Begitu juga dengan organisasinya. Organisasi yang 
bagi saya organisasi revolusioner, bagi  media barat dan reaksioner organisasi 
teroris!!! Sebaliknya organisasi atau partai yang bagi saya revisionis, bagi 
media barat organisasi yang menguntungkan mereka karena meredam perjuangan 
rakyat dan diperlakukan dengan baik, tidak dianggap teroris dan tidak 
dikejar-kejar. Tahukah anda tentang gerakan rakyat di Paraguay, di Mexico, 
Colombia, Guatemala, Honduras, Libia, Republik Donets dan Lugans di Ukraina, 
Argentina, Chile etc.... Tahukah anda bahwa kaum tani juga dikriminalisasi, 
disiksa dan dijebloskan ke penjara di Guatemala, Mexico, Paraguay, Argentina 
bahkan di negeri eropa barat seperti Spanyol!!???

Mengapa kalau semua manusia sama, negeri-negeri eropa barat pasang pagar 
tinggi-tinggi berkawat listrik untuk menghadang kaum imigran yang lari dari 
negerinya yang hancur karena perang agresi imperialis???... Ah sudahlah 
panjaaaaang ceritanya....dan banyak argumentasi dan fakta ,, tapi saya tidak 
punya waktu untuk menampilkan semuanya di sini.

 

On Wednesday, March 1, 2017 3:33 PM, "[email protected] [GELORA45] 
<mailto:[email protected]%20[GELORA45]> " <[email protected] 
<mailto:[email protected]> > wrote:

 

  

Bung berasumsi kekerasan dimulai dari yang berkuasa. Ini pendapat bung.

Saya berpendapat lain: kekerasan bisa dimulai oleh siapa saja dari yang miskin, 
kaya, punya kekuasaan, tidak punya kekuasaan, orang barat orang timur, ganteng 
jelek, islam budha hindu, tinggi rendah dll.

 

Saya mampu melihat kekerasan bisa dimulai dari yang kaya dan yang punya 
kekuasaan.

Bung tidak mampu melihat kekerasan bisa dimulai dari yang miskin.

Ini bedanya kita. Bukan masalah kelas. Marx bisa mampu melihat ini 3 kelasnya 
itu adalah kemampuannya dalam melihat perbedaan dalam kotak2 ini. Marx 
mengakuinya tapi bung tidak. walaupun marx tidak setuju dengan mereka dan 
cendrung utk menghancurkan mereka, tetapi marx menulis bahwa mereka itu ada. 
Bung tidak mampu melihat adanya 2 kelas yang lain itu. Kalau bung mampu melihat 
2 kelas yang lain itu, bung tidak akan bisa menulis: 

1.      PIkirlah dari perspektif rakyat bukan dari perspektif konglomerat!!!; 
2.      Dan kekerasan pertama- tama datang dari mereka yang berkuasa karena 
merekalah yang memiliki alat kekerasan.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, March 1, 2017 8:42 AM
To: [email protected] <mailto:[email protected]> ; 
[email protected] <mailto:[email protected]> 
Subject: Re: [GELORA45] Doa Bapak Kami

 

  

Sekali lagi kalau saya bertolak dari analisa kelas! Dan sudah tentu semua hal 
ihwal dilihat dari ideologinya masing-masing! Dan kekerasan pertama- tama 
datang dari mereka yang berkuasa karena merekalah yang memiliki alat 
kekerasan.....Orang yang di bawah menggunakan kekerasan untuk membela diri dari 
kekerasan yang dipaksakan kepada mereka...Rakyat kecil tidak punya mesin 
kekerasan, atau senjata canggih!!  Wiji Tukul bilang: Lawan! Bentuk perlawanan 
macam-macam...Yang jelas saya tidak mau mengulangi pengalaman 65, menyerahkan 
leher dengan suka rela untuk digorok para algojo!!!

 

On Wednesday, March 1, 2017 2:30 PM, "[email protected] [GELORA45] 
<mailto:[email protected]%20[GELORA45]> " <[email protected] 
<mailto:[email protected]> > wrote:

 

  

Seperti yang saya katakan sebelumnya  "Truth is in the eye of the beholder".   

Bimo Petrus Anugerah/BPA melihat Tuhannya dengan matanya. Ini belum tentu 
benar. Ini anggapannya yang benar.

 

BPA: Bapa Kami yang ada di surga

Engkaulah Allah yang memihak orang melarat, bukan pada orang yang gila harta 
Engkaulah Allah yang berdiri di sisi orang yang tertindas, bukan pada orang 
yang gila kuasa Engkaulah Allah yang berbelas kasih pada orang yang hina, bukan 
pada orang yang gila hormat

 

Nesare: Tuhan itu cinta dan memihak semua orang bukan yang melarat, tertindas 
dah hina saja melainkan semua manusia termasuk mereka yang bersalah dan 
berdosa. Dia tidak memandang manusia dalam bentuk SARA dll. Dia mencintai semua 
ciptaannya. Dia maha pengasih.

 

BPA: Dimuliakanlah Nama-Mu

di antara para petani, yang menggarap sawah-sawah tergadai di lingkungan para 
buruh, yang harus berteduh di gubuk kumuh di kalangan anak asongan, yang harus 
mandi di sungai tercemar di antara rakyat kecil, yang tergusur demi suksesnya 
pembangunan Datanglah kerajaan-Mu yakni dunia baru, yang berlandaskan cinta 
kasih yang berhaluan kebebasan yang bertatanan keadilan.

 

Nesare: bukan hanya petani, buruh, anak asongan, rakyat kecil saja memuliakan 
namaNya, tetapi semua manusia ciptaanNya memuliakan namaNya. Kerajaan Allah itu 
bukan dunia baru. Kerajaan Allah itu adalah kerajaan yang berdasarkan kehendak 
Allah yang penuh dengan cinta kasih tidak memandang SARA dll.

 

BPA: Jadilah kehendak-Mu di atas bumi

untuk memberi makan pada yang lapar untuk memberi minum pada yang haus untuk 
memberi tumpangan pada para pendatang untuk memberi pakaian pada yang telanjang 
untuk melawat mereka yang sakit untuk mengunjungi mereka yang ada dalam penjara 
untuk memperjuangkan hak-hak mereka yang tertimpa ketidakadilan

 

Nesare: kehendak Allah bukan memberi makan, minum, tumpangan, pakaian, 
kesehatan dan keadilan. Kehendak Allah itu ada 2: kehendak ketetapan Allah yang 
berdaulat artinya Allah berkuasa/berdaulat atas segala yang ada didunia ini; 
dan kehendak Allah yang banyak dilanggar manusia termasuk BPA yang menulis 
kehendak Allah dari segi pandangan kirinya.

 

BPA: Seperti di dalam surga

yang berpihak pada rakyat kecil yang mengutuk segala bentuk intimidasi yang 
menghilangkan segala upaya pembodohan masyarakat yang membongkar segala praktik 
bisnis tanpa moral yang membongkar segala praktik penyalahgunaan kekuasaan

 

Nesare: rakyat kecil, intimidasi, pembodohan masyarakat, praktis bisnis, moral, 
kekuasaan itu didunia. Di surga tidak ada.

 

BPA: Berilah kami rejeki pada hari ini

agar kuat dan berkobar dalam membongkar budaya bisu agar kuat dan pantang 
mundur dalam melawan budaya takut agar kuat dan berani melawan budaya pakewuh

 

nesare: minta kekuatan, melawan takut itu bukan minta rejeki. itu mintanya 
lebih dari rejeki. Minta rejeki dalam doa kepada Allah itu tidak mengklausulkan 
sesuatu artinya apapun yang diberikan oleh Allah harus diterima manusia 
termasuk: tidak dikasih, penderitaan dan kesengsaraan maupun kematian. Jadi 
rejeki yang diberikan oleh Allah itu bukan seperti yang dimintakan oleh 
peminta2/pengemis.

 

BPA: Dan ampunilah kesalahan kami

karena kami diam, ketika hutan-hutan dibabat untuk arena balap mobil karena 
kami bungkam, ketika rumah dan ladang digusur untuk lapangan golf ketika kami 
bisu, ketika sawah-sawah dirampas untuk rumah mewah karena kami acuh, ketika 
rakyatkecil disingkirkan demi gemerlapnya keindahan kota

 

nesare: orang yang minta maaf dan minta ampun tidak akan marah, dendam apalagi 
melakukan kekerasan. Masalah hutan dibabat, rumah dan lading digusur, sawah2 
dirampas itu adalah ulah manusia. Uruslah diri sendiri dengan baik karena 
kehidupan telah diberikanNya.

 

BPA: Seperti kami pun mengampuni

mereka yang bersalah pada rakyat melalui sisitem pembodohan nasional sehingga 
rakyat hanya mampu berkata “ya, ya, dan ya”

 

nesare: bagus kalau sudah bisa mengampuni mereka yang bersalah. Ini teologi 
katholik dalam doa ini.

 

BPA: Janganlah masukan kami ke dalam percobaan

sehingga kami ikut melakukan kekerasan, seperti mereka yang tidak mengenal 
Tuhan sehingga kami hanya mampu melontarkan kritik, tanpa kami sendiri 
bertindak adil, jujur, dan bertanggung jawab sehingga kami berpihak dan 
membantu orang kecil, tetapi kami sendiri tidak terlepas dari permainan 
manipulasi

 

nesare: bagus kalau sudah bisa tahu tidak boleh melakukan kekerasan. Kritik 
boleh dilontarkan tetapi kritik harus kesemua manusia yang berbuat salah, bukan 
kepada orang besar/kaya karena banyak orang besar/kaya yang baik.

 

BPA: Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat

Yakni pikiran untuk memonopoli kekayaan alam Perkataan untuk memanipulasi 
pendapat umum Perbuatan yang melecehkan keinginan rakyat

 

Nesare: benar. Jangan berbuat jahat. Punya niat jahat saja sudah salah apalagi 
berbuat jahat. Cintailah sesamamu. Jangan memilah2 mereka dalam kotak2: kaya 
miskin, tinggi pendek, ganteng jelek, kulit hitam kulit putih, orang barat 
orang timur, orang Indonesia orang arab….dst…dst…

 

 

Nesare

 

 

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, March 1, 2017 7:39 AM
To: Yahoogroups <[email protected] <mailto:[email protected]> 
>; DISKUSI FORUM HLD <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; GELORA_In <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >
Cc: Jonathan Goeij <[email protected] <mailto:[email protected]> >; 
Lusi.D <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Roeslan 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Daeng 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Rachmat 
Hadi-Soetjipto <[email protected] <mailto:[email protected]> >; 
Gol <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Harry Singgih 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Mitri 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Lingkar Sitompul 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Ronggo A. 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Ajeg <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; Farida Ishaja <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; Marsiswo Dirgantoro <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; Billy Gunadi <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; [email protected] 
<mailto:[email protected]> ; Mang Broto <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >; [email protected] 
<mailto:[email protected]> ; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service 
Indonesia] <[email protected] <mailto:[email protected]> >; C. Manuputty 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; 
[email protected] <mailto:[email protected]> ; Oman Romana 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; 
[email protected] <mailto:[email protected]> 
Subject: [GELORA45] Doa Bapak Kami

 

  

 

Doa Bapa Kami

Digubah oleh Bimo Petrus Anugerah...

Bapa Kami yang ada di surga

Engkaulah Allah yang memihak orang melarat, bukan pada orang yang gila harta 
Engkaulah Allah yang berdiri di sisi orang yang tertindas, bukan pada orang 
yang gila kuasa Engkaulah Allah yang berbelas kasih pada orang yang hina, bukan 
pada orang yang gila hormat

Dimuliakanlah Nama-Mu

di antara para petani, yang menggarap sawah-sawah tergadai di lingkungan para 
buruh, yang harus berteduh di gubuk kumuh di kalangan anak asongan, yang harus 
mandi di sungai tercemar di antara rakyat kecil, yang tergusur demi suksesnya 
pembangunan Datanglah kerajaan-Mu yakni dunia baru, yang berlandaskan cinta 
kasih yang berhaluan kebebasan yang bertatanan keadilan

Jadilah kehendak-Mu di atas bumi

untuk memberi makan pada yang lapar untuk memberi minum pada yang haus untuk 
memberi tumpangan pada para pendatang untuk memberi pakaian pada yang telanjang 
untuk melawat mereka yang sakit untuk mengunjungi mereka yang ada dalam penjara 
untuk memperjuangkan hak-hak mereka yang tertimpa ketidakadilan

Seperti di dalam surga

yang berpihak pada rakyat kecil yang mengutuk segala bentuk intimidasi yang 
menghilangkan segala upaya pembodohan masyarakat yang membongkar segala praktik 
bisnis tanpa moral yang membongkar segala praktik penyalahgunaan kekuasaan

Berilah kami rejeki pada hari ini

agar kuat dan berkobar dalam membongkar budaya bisu agar kuat dan pantang 
mundur dalam melawan budaya takut agar kuat dan berani melawan budaya pakewuh

Dan ampunilah kesalahan kami

karena kami diam, ketika hutan-hutan dibabat untuk arena balap mobil karena 
kami bungkam, ketika rumah dan ladang digusur untuk lapangan golf ketika kami 
bisu, ketika sawah-sawah dirampas untuk rumah mewah karena kami acuh, ketika 
rakyatkecil disingkirkan demi gemerlapnya keindahan kota

Seperti kami pun mengampuni

mereka yang bersalah pada rakyat melalui sisitem pembodohan nasional sehingga 
rakyat hanya mampu berkata “ya, ya, dan ya”

Janganlah masukan kami ke dalam percobaan

sehingga kami ikut melakukan kekerasan, seperti mereka yang tidak mengenal 
Tuhan sehingga kami hanya mampu melontarkan kritik, tanpa kami sendiri 
bertindak adil, jujur, dan bertanggung jawab sehingga kami berpihak dan 
membantu orang kecil, tetapi kami sendiri tidak terlepas dari permainan 
manipulasi

Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat

Yakni pikiran untuk memonopoli kekayaan alam Perkataan untuk memanipulasi 
pendapat umum Perbuatan yang melecehkan keinginan rakyat

Amin.

 

 



Kirim email ke