Enak aja minta solusi. 
Ngritik ya ngritik aja, nggak usah pake solusi. Pemerintah digaji 
buat mikirin solusi. Rakyat ngritik nggak pake gaji. Gratis.

Tapi ya baguslah, pendukung buta ini langsung kasih bukti 
bahwa pemerintah cuma mau makan gaji buta.



--- nesare1@... wrote:
    Kadang2 kita ini manusia sukanya mengkritik saja.Sebetulnya mengkritik itu 
bagus tetapi lebih bagus lagi adalah melihat alternative dan kalau bisa 
solusinya.Ini yg kerap kali kita kurang paham.  Yusril kan sekarang lagi 
gencar2nya bilang prosekusi parpol krn mereka korupsi kasus E Ktp.Inikan sama 
saja dengan bubarin NKRI.Jangankan parpol, gak ada lembaga negara termasuk 
BUMN, BUMD yg tidak korupsi di NKRI.Ini masalahnya korupsi sejak diawal rejim 
orba berdiri.  Orba berdiri diatas nyawa manusia korban pembunuhan massal 
1965.Kalau manusia saja gak ada artinya, gimanalah masalah2 korupsi, semanggi, 
trisakti, ambon dll bisa dipermasalahkan.  Sudah 4 presiden berlalu (Habibie, 
gus dur, mega dan SBY) gak ada yg berani kutak katik masalah 1965. Gus dur dulu 
pernah tapi juga gagal akhirnya malahan disuruh turun. Sekarang momennya ada. 
Gayanya Jokowi lebih kalem. Diam2 tapi meyakinkan.  Problemnya banyak. Ini yg 
gak bisa dilihat oleh para kritikus.Kalau hanya mau ngritik korupsi saja dan 
lalu mau dibubarkan instansinya, ya artinya memang membubarkan NKRI.Kalau NKRI 
bubar, lalu gimana? Emangnya para pengritik ini ada solusi gimana rakyat bekas 
NKRI ini harusnya gimana?Jangan2 kalau mereka sudah jadi pengungsi kemana2, 
para pengritik ini mesem2 saja dan mungkin sambil senyum2 karena kritiknya 
berhasil.  Nesare
From: kh djie
menerbangkan nkri, jangan menebang nkri.......  2017-03-13 15:15 GMT+01:00 
nesare1@... :
  Sayangnya tidak terjadi kan?!!Rakyat masih memberi dukungan kepada partai 
politik. Kenapa? Karena partai politik itu adalah instrument dalam menjalankan 
politik bernegara. Kalau orangnya yang gak bener, ya partai politiknya yang 
diberangus. Orangnya saja yang diralat.Ini saran orang gak bener saja. Emangnya 
ente2 ada ide untuk menerbangkan NKRI? Kalau idenya seperti yusril mahendra ya 
saya gak belilah. Moso’ partai politik disuruh ditutup kalau anggotanya 
korupsi. Ya tutup semua partai politik di NKRI.Lalu gimana NKRI bisa terbang? 
Terbang kelaut tenggelam didasar laut atau terbang keudara alias menguap dan 
sirna? Nesare
From: ajeg  Harusnya sejak 2004 partai-partai dihukum dengan tidak diberi suara 
dukungan. Dan terus tekan seperti itu sampai mereka menunjukkan tanda berobah 
dari geng perampok / pembajak negara menjadi partai politik betulan. Karena 
parpol-parpol itu terbukti tidak mampu memberikan pendidikan politik yang baik 
maka Rakyat, orangtua kandung seluruh lembaga negara, terpaksa harus mendidik 
mereka dengan benar; jangan beri mereka kesempatan memasuki "cockpit" lalu 
menerbangkan pesawat NKRI seenak udelnya. 
 ---  jetaimemucho1@... wrote:
Benar sekali,  Haris Azhar! Gesekan dan kontradiksi di kalangan elit penguasa 
adalah hal yang normal. Bukan saja mereka bersatu dalam merampok uang rakyat 
tapi juga bersatu dalam menghadapi perlawanan rakyat Sayangnya masih terus saja 
ada orang kiri yang terpikat dengan mesem-mesemnya Jokowi dan menganggap dia 
"orang baik". "Orang baik" itu sudah mengeluarkan peraturan yang terus 
mempertahankan upah murah buruh tapi memberi tax holiday dan tax amnesty justru 
kepada para konglomerat dan modal asing, mempermudah eksplotasi kekayaan 
tambang rakyat untuk keuntungan para pemodal asing, ribuan konflik tanah sama 
sekali tidak mendapat perhatian, pembangunan mega proyek infrastruktur yang 
terus merampas tanah rakyat, tuntutan hak-hak buruh migran belum/tidak 
diperhatikan. reform agraria yang justru akan mempermudah pemasaran tanah.... 
Tapi semua ini dilupakan oleh para pendukung Jokowi.. , senyum-senyumnya dan 
pembangunan neo-liberal yang hanya menguntungkan pengusaha dan kelas menengah 
keatas , itu terus mengikat para pendukung butanya. On Monday, March 13, 2017 
9:03 AM, j.gedearka wrote: 
http://nasional.kompas.com/read/2017/03/12/16472591/haris.azhar.korupsi.e-ktp.perlihatkan.ribut-ribut.pilkada.cuma.dagelan.
Haris Azhar: Korupsi E-KTP Perlihatkan 

Ribut-ribut Pilkada Cuma "Dagelan" 
Minggu, 12 Maret 2017 | 16:47 WIB1557SharesKOMPAS.com/AMBARANIE NADIA Sejumlah 
aktivis antikorupsi mendesak agar pihak-pihak yang disebut dalam dakwaan kasus 
e-KTP segera dinonaktifkan, Minggu (12/3/2017).
Terkait
   
   - Ombudsman Diminta Turun Tangan Soal Dampak Korupsi E-KTP 
   - "Alasan Blanko Habis, Faktanya Banyak Pejabat Terindikasi Korupsi E-KTP" 
   - Aktivis Minta Pejabat yang Disebut dalam Dakwaan E-KTP Dinonaktifkan 
   - Curigai Pengusutan Kasus Korupsi E-KTP, Fahri Hamzah Usulkan Angket 
   - Tangani Korupsi E-KTP, KPK Diminta Tak Terpengaruh Situasi Politik 
   - Hindari Kesan Politis dalam Kasus E-KTP, Ini Saran untuk KPK 
   - Fadli Zon Nilai Nama yang Terseret Kasus E-KTP Baru Keterangan Sepihak 
JAKARTA, KOMPAS.com - Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak 
Kekerasan (Kontras) Haris Azhar berpendapat, disebutnya sejumlah nama anggota 
DPR dan pejabat pemerintah yang diduga terlibat kasus korupsi e-KTP 
memperlihatkan bahwa partai politik belum sepenuhnya mewakili aspirasi 
masyarakat."Hampir semua partai di sana. Semua anggota atau pejabat partai 
sama-sama maling. Dan ini jadi mengonfirmasi kebencian publik terhadap politik 
buruk yang dipraktikan partai politik," kata Haris di gedung KPK, Jakarta, 
Minggu (12/3/2017).Hal ini juga, menurut Haris, memperlihatkan bahwa keributan 
antarpartai dalam pelaksanaan Pilkada 2017 hanya dagelan. Sebab, meskipun saat 
ini partai-partai saling bertentangan dalam mengusung calon kepala daerah, 
namun di lain hal, partai-partai tersebut justru bersekongkol mencuri uang 
rakyat."Kalau lihat dari partai-partai yang ada dibelakang korupsi ini 
mengonfirmasi bahwa ribut-ribut pilkada cuma dagelan saja," kata dia.Menurut 
Haris, para pejabat publik yang diduga terlibat dalam kasus ini sedianya 
dinonaktifkan terlebih dahulu agar pengusutan kasusnya berjalan lancar."Jadi 
sebaiknya Presiden harus gerak cepat untuk mengambil tindakan cepat bertahap, 
yang progesif bagi KPK, supaya KPK bisa cepat (mengusut tuntas), karena 
masyarakat menunggu dan mengawasi," kata Haris.Kompas TV Bukti aliran dana akan 
menjadi penentu, apakah kasus korupsi KTP elektronik akan menambah daftar 
panjang pihak yang akan terjerat hukum. 
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
   
   - Dugaan Korupsi Proyek E-KTP

| Penulis | : Fachri Fachrudin |
| Editor | : Ana Shofiana Syatiri |

TAG:   
   - korupsi e-KTP 
   - kasus e-KTP 
   - proyek e-KTP 
   - e-ktp 
 

 

   

Kirim email ke