Satu-satunya kewajiban yang harus diikuti pengpeng sekarang ini yalah
keinginan kaum investor --> mencapai keuntungan semaksimal mungkin.
Itulah yang membimbing politik mereka. Bukan kesejahteraan kaum tani
dan rakyat pekerja pada umumnya seperti yang langsung atau tidak
langsung disodor-sodorkan oleh kaum intelektual borkec itu atau mereka
yang masih buta politik. 



Am Sat, 8 Apr
2017 16:00:45 +0000 (UTC) schrieb "Tatiana Lukman
[email protected] [GELORA45]" <[email protected]>:

> Perdebatan di facebook tentang Rembang mengingatkan saya pada
> perdebatan di milis ini.  Orang yang namanya Adi Riyadi  dan Ilham
> Yogi Hidayat jalan pikiran dan logikanya tidak jauh dari orang
> seperti Chan dan Nesare . Mereka  berusaha membela perusahaan semen
> dan kebijakan pembangunan neoliberal Jokowi. Jawaban dan penjelasan
> Arie Alaska dan Roy Murtadho adalah yang sesuai dengan jalan pikiran
> dan logika rakyat
> 
> 
> 
> Adi Riyadi Mas Arie Alaska dr sudut pandang agraria & kelestarian
> lingkungan memang pendirian pabrik semen itu pasti sedikit banyak
> berpengaruh. Menolak bukan solusi. Tp mungkin dengan menciptakan
> alternatif lain selain semen untuk fungsi yg sama sebagai bahan
> bangunan pengganti semen, yg jelas dgn bahan yg murah dan ramah
> lingkungan,mungkin itu lbh bisa diterima dan dipertimbangkan untuk
> bahan penolakan sampean dan kawan2. Yok menolak dengan solusi mas.
> Itu baru bagus.Vind ik leuk · 2 · 11 uur15 antwoorden verbergen
> 
> Ilham Yogi Hidayat Wah iki konsumen semen dateng 😂😂
> Tp yo ga bisa di pungkiri. Pembangunan tanpa semen ya hampir
> mustahal..Vind ik leuk · 9 uurArie Alaska Hehe. Mas Adi
> Riyadi sedulurku, kita semua sudah menolak dengan baik dan memberikan
> solusi yang telah di paparkan di Presiden serta ke Pak Ganjar
> Pranowo... 
> 
> Cina menutup 600an pabrik semennya karena mereka sudah merasakan
> dampaknya dan cadangan karst mereka menipis. Mereka memutuskan untuk
> tidak bs terus menerus memeras alam mereka dalam menyediakan semen
> apalagi untuk ekspor, bhkan pemerintah cina lebih memilih kebijakan
> impor semen sembari meneliti dan uji coba bahan pengganti semen.
> Pemerintah Cina sedang mempersiapkan alternatif solusi pengganti
> semen dan mereka yakini bahwa tdk bs lagi cina melanggengkan usaha
> purba ini, dampaknya faktanya jelas 2013-2016 kemarin baik bencana
> kesehatan, bencana alam dll... Itu menjadi dasar kebijakan nasional
> China.
> 
> konteks di negara kita lha kok melihat ini sebagai peluang..? Krisis
> pangan dan air lebih ngeri ketimbang krisis semen mase... Dampak
> eksplorasi di Kendeng ini memiliki titik sebar bencana bukan hanya di
> kabupaten yg dilaluinya... namun sampe banjir sungai bengawan solo...
> 
> Iyo iyo mas... 😉 Semen yo butuh untuk indonesia, nek jare mbahe
> "ngono yo ojo ngono" namun cadangan semen kita saat ini sudah surplus
> mas. Nek cukup ojo di genjot terus di eksplorasine kabeh... Bahkan
> Kwan2 Asosiasi Semen Indonesia sudah menyurati pemerintah cadangan
> semen akan mencapai overcapacity... konteks global inilah yg dianggap
> pemerintah menjadi peluang untuk ekspor bung. Jadi semen untuk siapa?
> 
> Semen Indonesia di Kendeng ini adalah salah satu dari 12 total ijin
> perusahaan semen yg masuk ke jawa... 
> 
> Ilham Yogi Hidayat dan Ghaniy Nugrahantoro... Nek di bilang
> pembangunan harus menumbalkan atau meninggakan dampak... G Fair dong
> Indonesia sepakat menandatangani SDGs. Berarti pembangunan yg tdk
> berkelanjutan yg tdk dipilih... 😉 hehehe. 
> 
> Karo nyruput kopine yuk mas..Vind ik leuk · 1 · 9 uurAdi Riyadi Itu
> lah PR yg sebenarnya mas Ilham Yogi Hidayat. Dengan penutupan saja g
> bisa menyelesaikan masalah. Secara sudut pandang agraria &
> kelestarian lingkungan sih mungkin sudah selesai. Tp dr sudut pandang
> ekonomi & pembangunan justru muncul masalah.Cara penyampaian
> aspirasinya sudah sangat baik mas Arie Alaska, tapi solusi apa yang
> bisa sampean tawarkan untuk mengganti semen itu?Vind ik leuk · 9
> uurAdi Riyadi Jika di kendeng sudah acc dibatalkan, masih mungkin
> bisa dibangun di daerah lain mas. Dan kasihan jg daerah baru yg jg
> akan didirikan pabrik semen ny (secara sudut pandang agraria,&
> lingkungan hidup). Nggih mboten mas Ilham Yogi Hidayat?? Nah, coba
> kl pola pikirnya dirubah. Bukan ditolak. Tp yok bareng2 nyari
> alternatif lain yg fungsi ny bisa untuk pengganti semen yg minimal
> secara harga dan kwalitas produk setara dengan semen, tp dihasilkan
> dr bahan lain, selain batuan kapur , karst dan material alam. Itu
> baru solusi yg tidak menyakiti daerah lain. Bukankah itu jauh lebih
> syahdu?? Hhehe... Ngopi mriki mas Arie Alaska. Disruput
> bareng2...heheVind ik leuk · 8 uurRoy Murtadho Masalah utamanya
> begini. Logikanya harus dibalik. Jangan rakyat yg disuruh cari
> alternatif. Tapi justru pemerintah itu sendiri. Kalau kita komit pada
> agenda politik Jokowi. Bukankah Jokowi sdh mencanangkan Indonesia
> berdaulat pangan? Tapi anehnya yg terjadi justru sebaliknya. Tanah di
> Jawa yg no 1 Krn tanah vulkanik justru mau dihabiskan Karts nya dan
> membuka lahan pertanian baru di Papua yg disebut dgn proyek MIFEE.
> Justru yg tdk komit dan konsisten sekarang pemerintah. Kalau solusi
> kedaulatan pangan agar kita tdk impor adalah dengan membabat hutan
> Papua ini jelas keliru. Pertama, karena mengkonversi hutan menjadi
> pertanian akan merusak, tak hanya ekosistem dan fungsi ekologis
> hutan, tapi juga menghancurkan ruang hidup warga adat di Papua yg
> hidup dari hutan. Kedua, menjadikan Jawa sebagai pusat industri jg
> bermalah krn selama ini terjadi ketimpangan ruang produksi yg
> berakibat pada mahalnya distribusi ke pulau2 lain. Maka tak heran
> kalau semen di luar Jawa khususnya Papua sangat malah. Sekedar contoh
> saja. Ketiga, semen kita surplus untuk kebutuhan dalam negeri mas.
> Bisa dicek di situs resmi semen Indonesia. Jadi problemnya, sekali
> lagi, bukan rakyat atau petani yg harus diminta cari alternatif. Tapi
> oke tdk masalah. Alternatif sdh banyak mas, cuman good Will nya yg
> tdk ada dari para politisi dan ambtenaar atau aparatus kita yg
> korup.Vind ik leuk · 4 · 8 uurRoy Murtadho Baik juga kalau anda
> bilang perlu tinjaun ekonomi. Jadi begini. Status perusahaan semen
> Indonesia sekarang adalah BUMN yang kepemilikan modalnya terbuka dan
> sdh menjadi MNC. Jadi kalau ini demi pembangunan. Pembangunan buat
> siapa? Berapa sih pemuda desa yang akan terserap jadi tenaga kerja di
> pabrik semen Ini. Sila dihitung dan bandingkan dengan di Gresik dan
> Tuban.. di Rembang, kalau benar pabrik semen hendak didirikan di
> Rembang, tak lebih dari 500 tenaga kerja yg diserap. Tak lebih. Itu
> artinya, petani yang selama ini menggantungkan hidupnya dari bertani,
> yg kategorinya adalah unit ekonomi mandiri akan jadi buruh murah (ini
> yg terserap di dalam pabrik). Sementara yg tdk terserap akan
> kehilangan tanah garapannya yg tak lagi produktif maka mereka akan
> menjadi pekerja informal yg tdk lagi mempunyai alat produksi berupa
> tanah garapan. Jadi kalau anda mau bikin valuasi ekonomi berapa hasil
> pertanian petani dgn statusnya sebagai unit ekonomi mandiri bila
> dibandingkan dgn upah buruh UMK di Rembang, pasti bagus sekali. Tapi
> saya berani taruhan, kerja di pabrik semen dengan hasil tani nggak
> sebanding mas.. jauh besar hasil tani. Harusnya pemerintah
> memproteksi petani dengan memberi subsidi bukan malah menghancurkan
> petani khususnya di Jawa.Vind ik leuk · 2 · 8 uur · BewerktAdi
> Riyadi Sdh bukan saat ny mas untuk salah2 an & mencari siapa yg
> salah. Negeri ini sdh terlalu banyak menerima banyak kritik masalah,
> ayok mending bareng2 mikir solusi. Memang manusia sudah selayaknya
> banyak salah. Tp yok kita mikir bareng solusi. Surplus bukan berati
> kedepan kita tak membutuhkan semen lagi. Berati kdpn kan tetep akan
> ada eksploitasi lg mas? Nah, jika kita bisa buat material lain yang
> sejenis tp lebih ramah lingkungan kan lebih baik mas. Jadi ga akan
> ada kasus kendeng kendeng yang lain. Sekedar bertukar pendapat.
> Hehehe.Vind ik leuk · 8 uurRoy Murtadho Kalau boleh saya tanya. Siapa
> sih yg diuntungkan dari logika developmentalism pemerintah? Sejak
> dibukanya UUPMA tahun 67, sejak beroperasi nya Freeport, siapakah yg
> diuntungkan oleh industri2 ekstraktif ini? Elit oligarki yakni kelas
> komprador yang cuman jualan sumber daya alam kita ke investasi
> internasional. Logika Semen Indonesia jg sama. Ingat statusnya sdh
> MNC.Vind ik leuk · 8 uurRoy Murtadho Lho Adi Riyadi justru ini cari
> solusi. Sy pribadi jg nulis mas soal semen ini dari tinjuan ekopol.
> Dan banyak ilmuan lainnya. Tahu kan anda. Dua ilmuan UGM kena sangsi
> gara2 buat AMDAL abal2 PT semen? Ini cari solusi mas.. lho kalau
> nggak ada yg salahterus gimana dong mas.. misalnya ada perempuan
> diperkosa jelas siapa yg memperkosa dan memberi legitimasi politik,
> finansial maupun ekonomi terhadap pemerkosaan. Kita mau cari solusi
> tapi ndak boleh ada yg salah dalam kasus pemerkosaan. Apakah itu yg
> anda maksud dgn cari solusi mas? Hehe sy yg belajar logika dan
> filsafat jadi tambah goblok kalo gini mas..Vind ik leuk · 1 · 8
> uurAdi Riyadi Lha terus stlh ditolak terus apa langkah selanjutnya
> mas? Tak nderek sinau..Vind ik leuk · 8 uurRoy Murtadho Mas Adi
> Riyadi kok masih nanya apa selanjutnya. Kan sdh dibilang produksi
> semen kita surplus mas. coba deh cek sendiri. Masak aku yg harus
> kasih referensi ke sampean. Jg sdh sy bilang diatas. Proteksi petani
> nya kalau Indonesia mau benar2 berdaulat pangan. Kita kontrol secara
> demokratis agenda pembangunan. Karena faktanya tdk menguntungkan
> rakyat tapi menguntungkan korporat dan konglomerat. Duh banyak
> mas..Vind ik leuk · 8 uurRoy Murtadho Sdh mas.. aku lanjut baca dan
> kerja lagi. Ini nulis bisa bubrah semua kalo meladeni begini terus.
> Wes cukup ya...Vind ik leuk · 8 uurAdi Riyadi Hehehe. Ok mas. Mksh
> ilmu ny.. Slmt bekerja mas. Smga lancarVind ik leuk · 7 uurArie
> Alaska Ayo bro Adi Riyadi... Aku nak Bogor lho... Mampirlah nak
> mrene. Ngop-bar sekalian reunian. 😉 
> 
> Nah Bung Slamet, konteksnya bukan hanya solusi pengganti semen yg
> dibicarakan disini, bicara political will pemerintah... "Kebijakan",
> mau g pemerintah dan pemangku pemerintahan "bijak" mengambil
> kebijakan yang berkeadilan dan berkelanjutan. .. Apakah harus
> menunggu pengganti semen itu ada? maka selagi belum ada kita boleh
> eksplorasi semen itu besar2an? (#buka web Asosiasi Semen Indonesia)
> kita lho surplus semen. Pasar semen dalam negeri penjualannya jg
> stagnan... Defisit pangan kita lho sampai US$ 9,2 M dan harus impor
> beras, jagung, gandum, kedelai, gula, susu sampai daging. 
> 
> Nah... Gugatan masyarakat atas putusan MA No 99 PK/TUN/2016 jelas
> telah mengabulkan dan memenangkan gugatan masyarakat dengan
> pencabutan tentang izin lingkungan dan pembangan semen PT SI.
> Pemerintah khususnya Gub Jateng Pak Ganjar harusnya mematuhi putusan
> hukum ini sebagai kepatuhan pada konstitusi, namun buktinya malah
> mengingkari dan menerbitkan ijin baru.
> 
> Langkah selanjutnya mas Met, pemerintah
> 1. Harus mematuhi putusan MA dan mematuhi penetapan kawasan kendeng
> sebagai kawasan lindung yang harus dilestarikan. 2. Membangun jawa
> tengah ijo royo-royo adalah cita-citane pak Ganjar (yo kuwi seng di
> dorong). Tapi pye arep ijo royo-royo nek masyarakat tdk di dorong
> mengembangkan ekonomi lokale (pertanian, peternakan dan pedesaan).
> Ekonomi lokal rakyatnya yang dibangun (banyak iki turunane mengko
> dibahas bareng sambil ngopi)... Pak JKW jg ngomong membangun dari
> pinggiran dan ekonomi kerakyatan... Itu yg harus di jalankan! 
> 
> Beberapa diatas udah dijabarkan bung Roy Murtadho jg... Mugo2 mresep

Kirim email ke