Kepada orang-orang yang mengkritik kebijakan pemerintah Jokowi dan juga dalam
kasus pabrik semen, anda sering berkata atau menantang, jangan hanya mengkritik
saja tapi tidak memberi solusi. Jadi intinya anda sering menganggap orang yang
mengkritik itu tidak memberi solusi atau alternatif lain. Tahunya hanya
mengkritik saja. Nah, inilah salah satu inti dari pikiran anda yang tidak jauh
dari kedua orang di FB itu (menanyakan alternatif). Saya sendiri selalu
menganggap solusi sudah sering diajukan. Misalnya, solusi masalah pabrik semen,
adalah mematuhi keputusan MA. Tapi anda pernah menganggap atau mempertanyakan
apakah keputusan MA itu sudah final! (dalam perdebatan dengan Jonathan) Ya ,
jelas sudah final! Kok masih dipertanyakan!! Juga dalam masalah kebijakan
Jokowi secara umum. Solusi yang diminta oleh banyak ormas rakyat adalah
laksanakan reforma agraria sejati dan membangun industri nasional!! Jadi anda
sering mengajukan pertanyaan yang sebetulnya tidak perlu dijawab. Karena
jawaban sudah terlihat transparan kalau orang menginterpretasikan pernyataan
dan tuntutan berbagai ormas dengan jalan pikiran dan logika yang BENAR-BENAR
SERATUS PERSEN BERPIHAK KEPADA RAKYAT. Tapi karena anda orang yang selalu
ingin berdiri di kedua pihak yang bertentangan antagonis, berkolaborasi kelas,
maka terlihat pikiran dan logika anda yang remang-remang, berwarna abu-abu,
maunya semua orang bekerja sama tak perduli kontradiksi kelas yang tidak
memungkinkan kerja sama itu. Anda sudah baca postingan saya tentang pengalaman
orang yang belajar Das Kapital?? Komentar saya tujukan juga kepada anda.
On Monday, April 10, 2017 11:52 PM, "[email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> wrote:
Kenapa heran?Saya tahu jalan pikiran saya dan logika saya.Saya tahu jalan
pikiran dan logika roy murtadho dari tulisan ini. Yang lebih jauh saya tidak
tahu.Saya tanya bagaimana dan kenapa jalan pikiran dan logika saya = jalan
pikiran dan logika yogi hidayat dana di riyadi dan tidak sama dengan roy
murtadho.Mestinya disini kita berdiskusi. Bung kan tidak berdiskusi/kasih
argument. Bung langsung ambil kesimpulan saya = yogi hidayat dan adi riyadi
dan tidak sama dengan roy murtadho. Yang mesti diherankan itu adalah bung
lebih tahu ttg saya drpd saya tahu ttg saya.Saya tidak mau menjudge bung punya
kemampuan metafisik atau apa. Mungkin saja bung punya kemampuan utk melihat
itu.Walaupun ada kemampuan metafisik itu, saya katakan bung salah. Ini yang
saya katakan bung tersamarkan itu.Ini yang saya sayangkan. Memang tidak ada
gunanya obrolan ini. Habis2 waktu kita saja.Contentnya jauh dari diskusi. Hanya
sekedar menyalurkan ide pribadi saja.Silahkan diteruskan ide2 pribadi bung.
SalamNesare From: [email protected]
[mailto:[email protected]]
Sent: Sunday, April 9, 2017 2:48 AM
To: [email protected]; [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Perdebatan ttg REmbang di facebook "Perdebatan di
facebook tentang Rembang mengingatkan saya pada perdebatan di milis ini. Orang
yang namanya Adi Riyadi dan Ilham Yogi Hidayat jalan pikiran dan logikanya
tidak jauh dari orang seperti Chan dan Nesare . Mereka berusaha membela
perusahaan semen dan kebijakan pembangunan neoliberal Jokowi. Jawaban dan
penjelasan Arie Alaska dan Roy Murtadho adalah yang sesuai dengan jalan pikiran
dan logika rakyat". Saya jadi heran kalau anda tidak bisa melihat bahwa jalan
pikiran dan logika anda tidak jauh dari dua orang yang di fb itu. Jangan-jangan
anda sudah lupa pada apa yang anda kemukakan sendiri di dalam perdebatan dengan
saya dan Jonatan tentang Rembang. Yang jelas Jonathan sudah membuktikan dua
kali anda "lupa" pada apa yang pernah anda tulis sendiri. Saya tidak perlu
ajukan argumentasi tentang tidak jauhnya jalan pikiran dan logika anda dengan
kedua orang itu. Buang waktu percuma. Kalau saya sih mengakui jalan pikiran
dan logika saya tidak jauh dari apa yang diajukan Roy Murtadho. Anda tidak
mengakui bahwa jalan pikiran dan logika anda tidak jauh dari kedua orang itu,
ya sudah, tidak apa-apa! Masing-masing punya hak mempertahankan pendapatnya.
On Sunday, April 9, 2017 12:57 AM, "[email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> wrote: Kalau bung punya niat berdiskusi, coba
kasih argument misalnya samanya dimana jalan pikiran dan logikanya nesare, chan
dan adi riyadi, ilham yogi hidayat. Coba mulai dari sini dulu. Bung sukanya
mendiskreditkan orang lain tanpa argument. Bung sudah bilang kita beda ideologi
dan tidak bisa berkomunikasi. Koq sekarang mau diperpanjang seakan2 bung adalah
reprsentatifnya roy murthado dan nesare adalah representatifnya adi atau ilham?
Bung sama sekali tidak mengerti jalan pikiran saya apalagi logika saya.Jelas
sekali bung tidak mengerti pendapat saya ttg tani dan pabrik semen kendeng.
Kenapa?Karena bung radikal. Ketika seseorang berpendapat yang sedikit saja
seolah2 tidak berdiri disebelah tani, bung langsung melabrak orang itu. Bung
buta dan tidak mampu apa yang ingin disampaikan orang itu. Sebetulnya pendapat
saya sederhana dalam melihat peristiwa tani kendeng itu:
- Tutup pabrik semen di kendeng.
- Cari tempat lain utk produksi kalau semen masih dibutuhkan.
- Kalau tidak butuh semen lagi ya silahkan tinggal dirumah dari kayu kalau
masih ada atau dengan atap langit yang biru dan gratis.
Apa pendapat bung? Ini:
- Rakyat tidak butuh semen.
- Yang lain tidak ada…..paling2 pesan yang ingin bung sampaikan selama ini
adalah: rakyat tidak butuh kapitalisme.
Pesan ini yang saya coba kupas dari dulu apakah benar. Bung tidak mampu
melihat ini. Bung tersamar bahwa hanya komunisme yang paling benar. Sosialisme
pun bung caci maki. Ini sebetulnya jalan pikiran bung itu semuanya bersumber
pada: komunisme. Saya sudah bilang saya tidak melihat ideologi adalah satu2nya
apalagi yang paling penting dalam melihat hidup ini. Saya lebih melihat orang
itu dari baik dan buruknya bukan ideologinya.Bagi saya manusia yg berideologi
apapun bisa baik dan atau jahat.Bung jelas sekali tidak mampu menerima ideologi
komunisme itu bisa jahat.Kalau bung mampu melihat ini, bung tidak akan mencaci
maki dan melihat kapitalisme itu jahatOh jangan salah sangka dengan menulis
begini bukan berarti saya itu pro kapitalisme.Begitu juga jangan pikir saya
adalah pembenci komunisme dan sosialisme. Ini konklusi bung dan ini salah.Bagi
saya model, teori, ide apa saja tidak penting. Yang penting adalah manusia itu
bisa hidup rukun dan baik. Ini harapan dan keinginan saya.Manusia berpendapat.
Manusia menciptakan. Manusia berimaginasi. Ini semua tidak akan habis2nya.
Ideologi kapitalisme, komunisme, sosialisme hanyalah sebagian kecil dari
pendapat2 ini. Kalau bung mengikuti salah satu pendapat manusia ttg agama
misalnya, bung akan terperangah begitu uniknya pendapat manusia dalam agama
ini. Dimexico sekarang ini orang2 sedang terpengarah dengan agama baru: santa
muerte (Nuestra Señora de la Santa Muerte). Begitu juga perkembangan
scientology, vodou di haiti, voodoo di new orleans, aghori di india, cult Jezus
di Hawaii dll. Orang2 yang gila agama ini sama sekali tidak melihat pentingnya
ideologi. Ini hanyalah satu contoh saja.Dunia itu luas. Dunia ini tidak selebar
daun kelornya suatu ideologi. Luasnya dunia itu luas sekali. Jadi jangan
menyimpulkan siapa saya kalau bung sendiri tidak punya niat berdiskusi.Bagi
saya komunikasi/diskusi itu bisa melihat siapa lawan diskusan kita. Bung tidak
mau berdiskusi lalu menarik kesimpulan.Ya akhirnya memang kembali ini jelas
sekali sifat bung yang suka marah2 sampai maki2 orang lain. Sudahlah saya sudah
mengikuti keinginan bung yg tidak mau berdiskusi itu.Hargailah pendapat bung
sendiri itu!Saya sudah cukup membuang waktu untuk mencoba berdialog dengan
bung.Saya tidak punya banyak waktu utk hal2 yang sia2. Nesare From:
[email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Saturday, April 8, 2017 12:01 PM
To: Yahoogroups <[email protected]>; DISKUSI FORUM HLD
<[email protected]>; GELORA_In <[email protected]>
Cc: Jonathan Goeij <[email protected]>; Roeslan
<[email protected]>; Lusi.D <[email protected]>; NESARE
<[email protected]>
Subject: [GELORA45] Perdebatan ttg REmbang di facebook Perdebatan di
facebook tentang Rembang mengingatkan saya pada perdebatan di milis ini. Orang
yang namanya Adi Riyadi dan Ilham Yogi Hidayat jalan pikiran dan logikanya
tidak jauh dari orang seperti Chan dan Nesare . Mereka berusaha membela
perusahaan semen dan kebijakan pembangunan neoliberal Jokowi. Jawaban dan
penjelasan Arie Alaska dan Roy Murtadho adalah yang sesuai dengan jalan pikiran
dan logika rakyat Adi Riyadi Mas Arie Alaska dr sudut pandang agraria &
kelestarian lingkungan memang pendirian pabrik semen itu pasti sedikit banyak
berpengaruh. Menolak bukan solusi. Tp mungkin dengan menciptakan alternatif
lain selain semen untuk fungsi yg sama sebagai bahan bangunan pengganti semen,
yg jelas dgn bahan yg murah dan ramah lingkungan,mungkin itu lbh bisa diterima
dan dipertimbangkan untuk bahan penolakan sampean dan kawan2. Yok menolak
dengan solusi mas. Itu baru bagus.Vind ik leuk · 2 · 11 uur15 antwoorden
verbergen Ilham Yogi Hidayat Wah iki konsumen semen dateng 😂😂
Tp yo ga bisa di pungkiri. Pembangunan tanpa semen ya hampir mustahal..Vind ik
leuk · 9 uurArie Alaska Hehe. Mas Adi Riyadi sedulurku, kita semua sudah
menolak dengan baik dan memberikan solusi yang telah di paparkan di Presiden
serta ke Pak Ganjar Pranowo...
Cina menutup 600an pabrik semennya karena mereka sudah merasakan dampaknya dan
cadangan karst mereka menipis. Mereka memutuskan untuk tidak bs terus menerus
memeras alam mereka dalam menyediakan semen apalagi untuk ekspor, bhkan
pemerintah cina lebih memilih kebijakan impor semen sembari meneliti dan uji
coba bahan pengganti semen. Pemerintah Cina sedang mempersiapkan alternatif
solusi pengganti semen dan mereka yakini bahwa tdk bs lagi cina melanggengkan
usaha purba ini, dampaknya faktanya jelas 2013-2016 kemarin baik bencana
kesehatan, bencana alam dll... Itu menjadi dasar kebijakan nasional China.
konteks di negara kita lha kok melihat ini sebagai peluang..? Krisis pangan dan
air lebih ngeri ketimbang krisis semen mase... Dampak eksplorasi di Kendeng ini
memiliki titik sebar bencana bukan hanya di kabupaten yg dilaluinya... namun
sampe banjir sungai bengawan solo...
Iyo iyo mas... 😉 Semen yo butuh untuk indonesia, nek jare mbahe "ngono yo ojo
ngono" namun cadangan semen kita saat ini sudah surplus mas Nek cukup ojo di
genjot terus di eksplorasine kabeh... Bahkan Kwan2 Asosiasi Semen Indonesia
sudah menyurati pemerintah cadangan semen akan mencapai overcapacity... konteks
global inilah yg dianggap pemerintah menjadi peluang untuk ekspor bung. Jadi
semen untuk siapa?
Semen Indonesia di Kendeng ini adalah salah satu dari 12 total ijin perusahaan
semen yg masuk ke jawa...
Ilham Yogi Hidayat dan Ghaniy Nugrahantoro... Nek di bilang pembangunan harus
menumbalkan atau meninggakan dampak... G Fair dong Indonesia sepakat
menandatangani SDGs. Berarti pembangunan yg tdk berkelanjutan yg tdk dipilih...
😉 hehehe.
Karo nyruput kopine yuk mas..Vind ik leuk · 1 · 9 uurAdi Riyadi Itu lah PR yg
sebenarnya mas Ilham Yogi Hidayat. Dengan penutupan saja g bisa menyelesaikan
masalah. Secara sudut pandang agraria & kelestarian lingkungan sih mungkin
sudah selesai. Tp dr sudut pandang ekonomi & pembangunan justru muncul
masalah.Cara penyampaian aspirasinya sudah sangat baik mas Arie Alaska, tapi
solusi apa yang bisa sampean tawarkan untuk mengganti semen itu?Vind ik leuk ·
9 uurAdi Riyadi Jika di kendeng sudah acc dibatalkan, masih mungkin bisa
dibangun di daerah lain mas. Dan kasihan jg daerah baru yg jg akan didirikan
pabrik semen ny (secara sudut pandang agraria,& lingkungan hidup). Nggih mboten
mas Ilham Yogi Hidayat?? Nah, coba kl pola pikirnya dirubah. Bukan ditolak. Tp
yok bareng2 nyari alternatif lain yg fungsi ny bisa untuk pengganti semen yg
minimal secara harga dan kwalitas produk setara dengan semen, tp dihasilkan dr
bahan lain, selain batuan kapur , karst dan material alam. Itu baru solusi yg
tidak menyakiti daerah lain. Bukankah itu jauh lebih syahdu?? Hhehe... Ngopi
mriki mas Arie Alaska. Disruput bareng2...heheVind ik leuk · 8 uurRoy Murtadho
Masalah utamanya begini. Logikanya harus dibalik. Jangan rakyat yg disuruh cari
alternatif. Tapi justru pemerintah itu sendiri. Kalau kita komit pada agenda
politik Jokowi. Bukankah Jokowi sdh mencanangkan Indonesia berdaulat pangan?
Tapi anehnya yg terjadi justru sebaliknya. Tanah di Jawa yg no 1 Krn tanah
vulkanik justru mau dihabiskan Karts nya dan membuka lahan pertanian baru di
Papua yg disebut dgn proyek MIFEE. Justru yg tdk komit dan konsisten sekarang
pemerintah. Kalau solusi kedaulatan pangan agar kita tdk impor adalah dengan
membabat hutan Papua ini jelas keliru. Pertama, karena mengkonversi hutan
menjadi pertanian akan merusak, tak hanya ekosistem dan fungsi ekologis hutan,
tapi juga menghancurkan ruang hidup warga adat di Papua yg hidup dari hutan.
Kedua, menjadikan Jawa sebagai pusat industri jg bermalah krn selama ini
terjadi ketimpangan ruang produksi yg berakibat pada mahalnya distribusi ke
pulau2 lain. Maka tak heran kalau semen di luar Jawa khususnya Papua sangat
malah. Sekedar contoh saja. Ketiga, semen kita surplus untuk kebutuhan dalam
negeri mas. Bisa dicek di situs resmi semen Indonesia. Jadi problemnya, sekali
lagi, bukan rakyat atau petani yg harus diminta cari alternatif. Tapi oke tdk
masalah. Alternatif sdh banyak mas, cuman good Will nya yg tdk ada dari para
politisi dan ambtenaar atau aparatus kita yg korup.Vind ik leuk · 4 · 8 uurRoy
Murtadho Baik juga kalau anda bilang perlu tinjaun ekonomi. Jadi begini. Status
perusahaan semen Indonesia sekarang adalah BUMN yang kepemilikan modalnya
terbuka dan sdh menjadi MNC. Jadi kalau ini demi pembangunan. Pembangunan buat
siapa? Berapa sih pemuda desa yang akan terserap jadi tenaga kerja di pabrik
semen Ini. Sila dihitung dan bandingkan dengan di Gresik dan Tuban.. di
Rembang, kalau benar pabrik semen hendak didirikan di Rembang, tak lebih dari
500 tenaga kerja yg diserap. Tak lebih. Itu artinya, petani yang selama ini
menggantungkan hidupnya dari bertani, yg kategorinya adalah unit ekonomi
mandiri akan jadi buruh murah (ini yg terserap di dalam pabrik). Sementara yg
tdk terserap akan kehilangan tanah garapannya yg tak lagi produktif maka mereka
akan menjadi pekerja informal yg tdk lagi mempunyai alat produksi berupa tanah
garapan. Jadi kalau anda mau bikin valuasi ekonomi berapa hasil pertanian
petani dgn statusnya sebagai unit ekonomi mandiri bila dibandingkan dgn upah
buruh UMK di Rembang, pasti bagus sekali. Tapi saya berani taruhan, kerja di
pabrik semen dengan hasil tani nggak sebanding mas. jauh besar hasil tani.
Harusnya pemerintah memproteksi petani dengan memberi subsidi bukan malah
menghancurkan petani khususnya di Jawa.Vind ik leuk · 2 · 8 uur · BewerktAdi
Riyadi Sdh bukan saat ny mas untuk salah2 an & mencari siapa yg salah. Negeri
ini sdh terlalu banyak menerima banyak kritik masalah, ayok mending bareng2
mikir solusi. Memang manusia sudah selayaknya banyak salah. Tp yok kita mikir
bareng solusi. Surplus bukan berati kedepan kita tak membutuhkan semen lagi.
Berati kdpn kan tetep akan ada eksploitasi lg mas? Nah, jika kita bisa buat
material lain yang sejenis tp lebih ramah lingkungan kan lebih baik mas. Jadi
ga akan ada kasus kendeng kendeng yang lain. Sekedar bertukar pendapat.
Hehehe.Vind ik leuk · 8 uurRoy Murtadho Kalau boleh saya tanya Siapa sih yg
diuntungkan dari logika developmentalism pemerintah? Sejak dibukanya UUPMA
tahun 67, sejak beroperasi nya Freeport, siapakah yg diuntungkan oleh industri2
ekstraktif ini? Elit oligarki yakni kelas komprador yang cuman jualan sumber
daya alam kita ke investasi internasional. Logika Semen Indonesia jg sama.
Ingat statusnya sdh MNCVind ik leuk · 8 uurRoy Murtadho Lho Adi Riyadi justru
ini cari solusi. Sy pribadi jg nulis mas soal semen ini dari tinjuan ekopol.
Dan banyak ilmuan lainnya. Tahu kan anda. Dua ilmuan UGM kena sangsi gara2 buat
AMDAL abal2 PT semen? Ini cari solusi mas.. lho kalau nggak ada yg salahterus
gimana dong mas.. misalnya ada perempuan diperkosa jelas siapa yg memperkosa
dan memberi legitimasi politik, finansial maupun ekonomi terhadap pemerkosaan.
Kita mau cari solusi tapi ndak boleh ada yg salah dalam kasus pemerkosaan.
Apakah itu yg anda maksud dgn cari solusi mas? Hehe sy yg belajar logika dan
filsafat jadi tambah goblok kalo gini mas..Vind ik leuk · 1 · 8 uurAdi Riyadi
Lha terus stlh ditolak terus apa langkah selanjutnya mas? Tak nderek
sinau..Vind ik leuk · 8 uurRoy Murtadho Mas Adi Riyadi kok masih nanya apa
selanjutnya. Kan sdh dibilang produksi semen kita surplus mas. coba deh cek
sendiri. Masak aku yg harus kasih referensi ke sampean. Jg sdh sy bilang
diatas. Proteksi petani nya kalau Indonesia mau benar2 berdaulat pangan. Kita
kontrol secara demokratis agenda pembangunan. Karena faktanya tdk menguntungkan
rakyat tapi menguntungkan korporat dan konglomerat. Duh banyak mas..Vind ik
leuk · 8 uurRoy Murtadho Sdh mas.. aku lanjut baca dan kerja lagi. Ini nulis
bisa bubrah semua kalo meladeni begini terus. Wes cukup ya... Vind ik leuk · 8
uurAdi Riyadi Hehehe. Ok mas. Mksh ilmu ny.. Slmt bekerja mas. Smga lancarVind
ik leuk · 7 uurArie Alaska Ayo bro Adi Riyadi... Aku nak Bogor lho... Mampirlah
nak mrene. Ngop-bar sekalian reunian. 😉
Nah Bung Slamet, konteksnya bukan hanya solusi pengganti semen yg dibicarakan
disini, bicara political will pemerintah... "Kebijakan", mau g pemerintah dan
pemangku pemerintahan "bijak" mengambil kebijakan yang berkeadilan dan
berkelanjutan.
.. Apakah harus menunggu pengganti semen itu ada? maka selagi belum ada kita
boleh eksplorasi semen itu besar2an? (#buka web Asosiasi Semen Indonesia) kita
lho surplus semen. Pasar semen dalam negeri penjualannya jg stagnan... Defisit
pangan kita lho sampai US$ 9,2 M dan harus impor beras, jagung, gandum,
kedelai, gula, susu sampai daging.
Nah... Gugatan masyarakat atas putusan MA No 99 PK/TUN/2016 jelas telah
mengabulkan dan memenangkan gugatan masyarakat dengan pencabutan tentang izin
lingkungan dan pembangan semen PT SI. Pemerintah khususnya Gub Jateng Pak
Ganjar harusnya mematuhi putusan hukum ini sebagai kepatuhan pada konstitusi,
namun buktinya malah mengingkari dan menerbitkan ijin baru.
Langkah selanjutnya mas Met, pemerintah
1. Harus mematuhi putusan MA dan mematuhi penetapan kawasan kendeng sebagai
kawasan lindung yang harus dilestarikan.
2. Membangun jawa tengah ijo royo-royo adalah cita-citane pak Ganjar (yo kuwi
seng di dorong). Tapi pye arep ijo royo-royo nek masyarakat tdk di dorong
mengembangkan ekonomi lokale (pertanian, peternakan dan pedesaan). Ekonomi
lokal rakyatnya yang dibangun (banyak iki turunane mengko dibahas bareng sambil
ngopi)... Pak JKW jg ngomong membangun dari pinggiran dan ekonomi kerakyatan...
Itu yg harus di jalankan!
Beberapa diatas udah dijabarkan bung Roy Murtadho jg... Mugo2 mresep
#yiv4727533087 #yiv4727533087 -- #yiv4727533087ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv4727533087
#yiv4727533087ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv4727533087
#yiv4727533087ygrp-mkp #yiv4727533087hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv4727533087 #yiv4727533087ygrp-mkp #yiv4727533087ads
{margin-bottom:10px;}#yiv4727533087 #yiv4727533087ygrp-mkp .yiv4727533087ad
{padding:0 0;}#yiv4727533087 #yiv4727533087ygrp-mkp .yiv4727533087ad p
{margin:0;}#yiv4727533087 #yiv4727533087ygrp-mkp .yiv4727533087ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv4727533087 #yiv4727533087ygrp-sponsor
#yiv4727533087ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv4727533087
#yiv4727533087ygrp-sponsor #yiv4727533087ygrp-lc #yiv4727533087hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv4727533087
#yiv4727533087ygrp-sponsor #yiv4727533087ygrp-lc .yiv4727533087ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv4727533087 #yiv4727533087actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv4727533087
#yiv4727533087activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv4727533087
#yiv4727533087activity span {font-weight:700;}#yiv4727533087
#yiv4727533087activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv4727533087 #yiv4727533087activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv4727533087 #yiv4727533087activity span
span {color:#ff7900;}#yiv4727533087 #yiv4727533087activity span
.yiv4727533087underline {text-decoration:underline;}#yiv4727533087
.yiv4727533087attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv4727533087 .yiv4727533087attach div a
{text-decoration:none;}#yiv4727533087 .yiv4727533087attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv4727533087 .yiv4727533087attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv4727533087 .yiv4727533087attach label a
{text-decoration:none;}#yiv4727533087 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv4727533087 .yiv4727533087bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv4727533087
.yiv4727533087bold a {text-decoration:none;}#yiv4727533087 dd.yiv4727533087last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv4727533087 dd.yiv4727533087last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv4727533087
dd.yiv4727533087last p span.yiv4727533087yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv4727533087 div.yiv4727533087attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv4727533087 div.yiv4727533087attach-table
{width:400px;}#yiv4727533087 div.yiv4727533087file-title a, #yiv4727533087
div.yiv4727533087file-title a:active, #yiv4727533087
div.yiv4727533087file-title a:hover, #yiv4727533087 div.yiv4727533087file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv4727533087 div.yiv4727533087photo-title a,
#yiv4727533087 div.yiv4727533087photo-title a:active, #yiv4727533087
div.yiv4727533087photo-title a:hover, #yiv4727533087
div.yiv4727533087photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv4727533087
div#yiv4727533087ygrp-mlmsg #yiv4727533087ygrp-msg p a
span.yiv4727533087yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv4727533087
.yiv4727533087green {color:#628c2a;}#yiv4727533087 .yiv4727533087MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv4727533087 o {font-size:0;}#yiv4727533087
#yiv4727533087photos div {float:left;width:72px;}#yiv4727533087
#yiv4727533087photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv4727533087
#yiv4727533087photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv4727533087
#yiv4727533087reco-category {font-size:77%;}#yiv4727533087
#yiv4727533087reco-desc {font-size:77%;}#yiv4727533087 .yiv4727533087replbq
{margin:4px;}#yiv4727533087 #yiv4727533087ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv4727533087 #yiv4727533087ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv4727533087
#yiv4727533087ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv4727533087
#yiv4727533087ygrp-mlmsg select, #yiv4727533087 input, #yiv4727533087 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv4727533087
#yiv4727533087ygrp-mlmsg pre, #yiv4727533087 code {font:115%
monospace;}#yiv4727533087 #yiv4727533087ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv4727533087 #yiv4727533087ygrp-mlmsg #yiv4727533087logo
{padding-bottom:10px;}#yiv4727533087 #yiv4727533087ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv4727533087 #yiv4727533087ygrp-msg
p#yiv4727533087attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv4727533087
#yiv4727533087ygrp-reco #yiv4727533087reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv4727533087 #yiv4727533087ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv4727533087 #yiv4727533087ygrp-sponsor
#yiv4727533087ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv4727533087
#yiv4727533087ygrp-sponsor #yiv4727533087ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv4727533087
#yiv4727533087ygrp-sponsor #yiv4727533087ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv4727533087 #yiv4727533087ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv4727533087 #yiv4727533087ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv4727533087 #yiv4727533087ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv4727533087
#yiv4727533087ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv4727533087