Perdebatan di facebook tentang Rembang mengingatkan saya pada perdebatan di milis ini. Orang yang namanya Adi Riyadi dan Ilham Yogi Hidayat jalan pikiran dan logikanya tidak jauh dari orang seperti Chan dan Nesare . Mereka berusaha membela perusahaan semen dan kebijakan pembangunan neoliberal Jokowi. Jawaban dan penjelasan Arie Alaska dan Roy Murtadho adalah yang sesuai dengan jalan pikiran dan logika rakyat
Adi Riyadi Mas Arie Alaska dr sudut pandang agraria & kelestarian lingkungan memang pendirian pabrik semen itu pasti sedikit banyak berpengaruh. Menolak bukan solusi. Tp mungkin dengan menciptakan alternatif lain selain semen untuk fungsi yg sama sebagai bahan bangunan pengganti semen, yg jelas dgn bahan yg murah dan ramah lingkungan,mungkin itu lbh bisa diterima dan dipertimbangkan untuk bahan penolakan sampean dan kawan2. Yok menolak dengan solusi mas. Itu baru bagus.Vind ik leuk · 2 · 11 uur15 antwoorden verbergen Ilham Yogi Hidayat Wah iki konsumen semen dateng 😂😂 Tp yo ga bisa di pungkiri. Pembangunan tanpa semen ya hampir mustahal..Vind ik leuk · 9 uurArie Alaska Hehe. Mas Adi Riyadi sedulurku, kita semua sudah menolak dengan baik dan memberikan solusi yang telah di paparkan di Presiden serta ke Pak Ganjar Pranowo... Cina menutup 600an pabrik semennya karena mereka sudah merasakan dampaknya dan cadangan karst mereka menipis. Mereka memutuskan untuk tidak bs terus menerus memeras alam mereka dalam menyediakan semen apalagi untuk ekspor, bhkan pemerintah cina lebih memilih kebijakan impor semen sembari meneliti dan uji coba bahan pengganti semen. Pemerintah Cina sedang mempersiapkan alternatif solusi pengganti semen dan mereka yakini bahwa tdk bs lagi cina melanggengkan usaha purba ini, dampaknya faktanya jelas 2013-2016 kemarin baik bencana kesehatan, bencana alam dll... Itu menjadi dasar kebijakan nasional China. konteks di negara kita lha kok melihat ini sebagai peluang..? Krisis pangan dan air lebih ngeri ketimbang krisis semen mase... Dampak eksplorasi di Kendeng ini memiliki titik sebar bencana bukan hanya di kabupaten yg dilaluinya... namun sampe banjir sungai bengawan solo... Iyo iyo mas... 😉 Semen yo butuh untuk indonesia, nek jare mbahe "ngono yo ojo ngono" namun cadangan semen kita saat ini sudah surplus mas. Nek cukup ojo di genjot terus di eksplorasine kabeh... Bahkan Kwan2 Asosiasi Semen Indonesia sudah menyurati pemerintah cadangan semen akan mencapai overcapacity... konteks global inilah yg dianggap pemerintah menjadi peluang untuk ekspor bung. Jadi semen untuk siapa? Semen Indonesia di Kendeng ini adalah salah satu dari 12 total ijin perusahaan semen yg masuk ke jawa... Ilham Yogi Hidayat dan Ghaniy Nugrahantoro... Nek di bilang pembangunan harus menumbalkan atau meninggakan dampak... G Fair dong Indonesia sepakat menandatangani SDGs. Berarti pembangunan yg tdk berkelanjutan yg tdk dipilih... 😉 hehehe. Karo nyruput kopine yuk mas..Vind ik leuk · 1 · 9 uurAdi Riyadi Itu lah PR yg sebenarnya mas Ilham Yogi Hidayat. Dengan penutupan saja g bisa menyelesaikan masalah. Secara sudut pandang agraria & kelestarian lingkungan sih mungkin sudah selesai. Tp dr sudut pandang ekonomi & pembangunan justru muncul masalah.Cara penyampaian aspirasinya sudah sangat baik mas Arie Alaska, tapi solusi apa yang bisa sampean tawarkan untuk mengganti semen itu?Vind ik leuk · 9 uurAdi Riyadi Jika di kendeng sudah acc dibatalkan, masih mungkin bisa dibangun di daerah lain mas. Dan kasihan jg daerah baru yg jg akan didirikan pabrik semen ny (secara sudut pandang agraria,& lingkungan hidup). Nggih mboten mas Ilham Yogi Hidayat?? Nah, coba kl pola pikirnya dirubah. Bukan ditolak. Tp yok bareng2 nyari alternatif lain yg fungsi ny bisa untuk pengganti semen yg minimal secara harga dan kwalitas produk setara dengan semen, tp dihasilkan dr bahan lain, selain batuan kapur , karst dan material alam. Itu baru solusi yg tidak menyakiti daerah lain. Bukankah itu jauh lebih syahdu?? Hhehe... Ngopi mriki mas Arie Alaska. Disruput bareng2...heheVind ik leuk · 8 uurRoy Murtadho Masalah utamanya begini. Logikanya harus dibalik. Jangan rakyat yg disuruh cari alternatif. Tapi justru pemerintah itu sendiri. Kalau kita komit pada agenda politik Jokowi. Bukankah Jokowi sdh mencanangkan Indonesia berdaulat pangan? Tapi anehnya yg terjadi justru sebaliknya. Tanah di Jawa yg no 1 Krn tanah vulkanik justru mau dihabiskan Karts nya dan membuka lahan pertanian baru di Papua yg disebut dgn proyek MIFEE. Justru yg tdk komit dan konsisten sekarang pemerintah. Kalau solusi kedaulatan pangan agar kita tdk impor adalah dengan membabat hutan Papua ini jelas keliru. Pertama, karena mengkonversi hutan menjadi pertanian akan merusak, tak hanya ekosistem dan fungsi ekologis hutan, tapi juga menghancurkan ruang hidup warga adat di Papua yg hidup dari hutan. Kedua, menjadikan Jawa sebagai pusat industri jg bermalah krn selama ini terjadi ketimpangan ruang produksi yg berakibat pada mahalnya distribusi ke pulau2 lain. Maka tak heran kalau semen di luar Jawa khususnya Papua sangat malah. Sekedar contoh saja. Ketiga, semen kita surplus untuk kebutuhan dalam negeri mas. Bisa dicek di situs resmi semen Indonesia. Jadi problemnya, sekali lagi, bukan rakyat atau petani yg harus diminta cari alternatif. Tapi oke tdk masalah. Alternatif sdh banyak mas, cuman good Will nya yg tdk ada dari para politisi dan ambtenaar atau aparatus kita yg korup.Vind ik leuk · 4 · 8 uurRoy Murtadho Baik juga kalau anda bilang perlu tinjaun ekonomi. Jadi begini. Status perusahaan semen Indonesia sekarang adalah BUMN yang kepemilikan modalnya terbuka dan sdh menjadi MNC. Jadi kalau ini demi pembangunan. Pembangunan buat siapa? Berapa sih pemuda desa yang akan terserap jadi tenaga kerja di pabrik semen Ini. Sila dihitung dan bandingkan dengan di Gresik dan Tuban.. di Rembang, kalau benar pabrik semen hendak didirikan di Rembang, tak lebih dari 500 tenaga kerja yg diserap. Tak lebih. Itu artinya, petani yang selama ini menggantungkan hidupnya dari bertani, yg kategorinya adalah unit ekonomi mandiri akan jadi buruh murah (ini yg terserap di dalam pabrik). Sementara yg tdk terserap akan kehilangan tanah garapannya yg tak lagi produktif maka mereka akan menjadi pekerja informal yg tdk lagi mempunyai alat produksi berupa tanah garapan. Jadi kalau anda mau bikin valuasi ekonomi berapa hasil pertanian petani dgn statusnya sebagai unit ekonomi mandiri bila dibandingkan dgn upah buruh UMK di Rembang, pasti bagus sekali. Tapi saya berani taruhan, kerja di pabrik semen dengan hasil tani nggak sebanding mas.. jauh besar hasil tani. Harusnya pemerintah memproteksi petani dengan memberi subsidi bukan malah menghancurkan petani khususnya di Jawa.Vind ik leuk · 2 · 8 uur · BewerktAdi Riyadi Sdh bukan saat ny mas untuk salah2 an & mencari siapa yg salah. Negeri ini sdh terlalu banyak menerima banyak kritik masalah, ayok mending bareng2 mikir solusi. Memang manusia sudah selayaknya banyak salah. Tp yok kita mikir bareng solusi. Surplus bukan berati kedepan kita tak membutuhkan semen lagi. Berati kdpn kan tetep akan ada eksploitasi lg mas? Nah, jika kita bisa buat material lain yang sejenis tp lebih ramah lingkungan kan lebih baik mas. Jadi ga akan ada kasus kendeng kendeng yang lain. Sekedar bertukar pendapat. Hehehe.Vind ik leuk · 8 uurRoy Murtadho Kalau boleh saya tanya. Siapa sih yg diuntungkan dari logika developmentalism pemerintah? Sejak dibukanya UUPMA tahun 67, sejak beroperasi nya Freeport, siapakah yg diuntungkan oleh industri2 ekstraktif ini? Elit oligarki yakni kelas komprador yang cuman jualan sumber daya alam kita ke investasi internasional. Logika Semen Indonesia jg sama. Ingat statusnya sdh MNC.Vind ik leuk · 8 uurRoy Murtadho Lho Adi Riyadi justru ini cari solusi. Sy pribadi jg nulis mas soal semen ini dari tinjuan ekopol. Dan banyak ilmuan lainnya. Tahu kan anda. Dua ilmuan UGM kena sangsi gara2 buat AMDAL abal2 PT semen? Ini cari solusi mas.. lho kalau nggak ada yg salahterus gimana dong mas.. misalnya ada perempuan diperkosa jelas siapa yg memperkosa dan memberi legitimasi politik, finansial maupun ekonomi terhadap pemerkosaan. Kita mau cari solusi tapi ndak boleh ada yg salah dalam kasus pemerkosaan. Apakah itu yg anda maksud dgn cari solusi mas? Hehe sy yg belajar logika dan filsafat jadi tambah goblok kalo gini mas..Vind ik leuk · 1 · 8 uurAdi Riyadi Lha terus stlh ditolak terus apa langkah selanjutnya mas? Tak nderek sinau..Vind ik leuk · 8 uurRoy Murtadho Mas Adi Riyadi kok masih nanya apa selanjutnya. Kan sdh dibilang produksi semen kita surplus mas. coba deh cek sendiri. Masak aku yg harus kasih referensi ke sampean. Jg sdh sy bilang diatas. Proteksi petani nya kalau Indonesia mau benar2 berdaulat pangan. Kita kontrol secara demokratis agenda pembangunan. Karena faktanya tdk menguntungkan rakyat tapi menguntungkan korporat dan konglomerat. Duh banyak mas..Vind ik leuk · 8 uurRoy Murtadho Sdh mas.. aku lanjut baca dan kerja lagi. Ini nulis bisa bubrah semua kalo meladeni begini terus. Wes cukup ya...Vind ik leuk · 8 uurAdi Riyadi Hehehe. Ok mas. Mksh ilmu ny.. Slmt bekerja mas. Smga lancarVind ik leuk · 7 uurArie Alaska Ayo bro Adi Riyadi... Aku nak Bogor lho... Mampirlah nak mrene. Ngop-bar sekalian reunian. 😉 Nah Bung Slamet, konteksnya bukan hanya solusi pengganti semen yg dibicarakan disini, bicara political will pemerintah... "Kebijakan", mau g pemerintah dan pemangku pemerintahan "bijak" mengambil kebijakan yang berkeadilan dan berkelanjutan. .. Apakah harus menunggu pengganti semen itu ada? maka selagi belum ada kita boleh eksplorasi semen itu besar2an? (#buka web Asosiasi Semen Indonesia) kita lho surplus semen. Pasar semen dalam negeri penjualannya jg stagnan... Defisit pangan kita lho sampai US$ 9,2 M dan harus impor beras, jagung, gandum, kedelai, gula, susu sampai daging. Nah... Gugatan masyarakat atas putusan MA No 99 PK/TUN/2016 jelas telah mengabulkan dan memenangkan gugatan masyarakat dengan pencabutan tentang izin lingkungan dan pembangan semen PT SI. Pemerintah khususnya Gub Jateng Pak Ganjar harusnya mematuhi putusan hukum ini sebagai kepatuhan pada konstitusi, namun buktinya malah mengingkari dan menerbitkan ijin baru. Langkah selanjutnya mas Met, pemerintah 1. Harus mematuhi putusan MA dan mematuhi penetapan kawasan kendeng sebagai kawasan lindung yang harus dilestarikan. 2. Membangun jawa tengah ijo royo-royo adalah cita-citane pak Ganjar (yo kuwi seng di dorong). Tapi pye arep ijo royo-royo nek masyarakat tdk di dorong mengembangkan ekonomi lokale (pertanian, peternakan dan pedesaan). Ekonomi lokal rakyatnya yang dibangun (banyak iki turunane mengko dibahas bareng sambil ngopi)... Pak JKW jg ngomong membangun dari pinggiran dan ekonomi kerakyatan... Itu yg harus di jalankan! Beberapa diatas udah dijabarkan bung Roy Murtadho jg... Mugo2 mresep
