Pada Senin, 10 April 2017 23:52, "[email protected] [GELORA45]" 
<[email protected]> menulis:
 

     Kenapa heran?Saya tahu jalan pikiran saya dan logika saya.Saya tahu jalan 
pikiran dan logika roy murtadho dari tulisan ini. Yang lebih jauh saya tidak 
tahu.Saya tanya bagaimana dan kenapa jalan pikiran dan logika saya = jalan 
pikiran dan logika yogi hidayat dana di riyadi dan tidak sama dengan roy 
murtadho.Mestinya disini kita berdiskusi. Bung kan tidak berdiskusi/kasih 
argument. Bung langsung ambil kesimpulan saya =  yogi hidayat dan adi riyadi 
dan tidak sama dengan roy murtadho.  Yang mesti diherankan itu adalah bung 
lebih tahu ttg saya drpd saya tahu ttg saya.Saya tidak mau menjudge bung punya 
kemampuan metafisik atau apa. Mungkin saja bung punya kemampuan utk melihat 
itu.Walaupun ada kemampuan metafisik itu, saya katakan bung salah.  Ini yang 
saya katakan bung tersamarkan itu.Ini yang saya sayangkan.  Memang tidak ada 
gunanya obrolan ini. Habis2 waktu kita saja.Contentnya jauh dari diskusi. Hanya 
sekedar menyalurkan ide pribadi saja.Silahkan diteruskan ide2 pribadi bung.  
SalamNesare      From: [email protected] 
[mailto:[email protected]] 
Sent: Sunday, April 9, 2017 2:48 AM
To: [email protected]; [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Perdebatan ttg REmbang di facebook    "Perdebatan di 
facebook tentang Rembang mengingatkan saya pada perdebatan di milis ini.  Orang 
yang namanya Adi Riyadi  dan Ilham Yogi Hidayat jalan pikiran dan logikanya 
tidak jauh dari orang seperti Chan dan Nesare . Mereka  berusaha membela 
perusahaan semen dan kebijakan pembangunan neoliberal Jokowi. Jawaban dan 
penjelasan Arie Alaska dan Roy Murtadho adalah yang sesuai dengan jalan pikiran 
dan logika rakyat".  Saya jadi heran kalau anda tidak bisa melihat bahwa jalan 
pikiran dan logika anda tidak jauh dari dua orang yang di fb itu. Jangan-jangan 
anda sudah lupa pada apa yang anda kemukakan sendiri di dalam perdebatan dengan 
saya dan Jonatan tentang Rembang. Yang jelas Jonathan sudah membuktikan dua 
kali anda "lupa" pada apa yang pernah anda tulis sendiri.  Saya tidak perlu 
ajukan argumentasi tentang tidak jauhnya jalan pikiran dan logika anda dengan 
kedua orang itu. Buang waktu percuma.  Kalau saya sih mengakui jalan pikiran 
dan logika saya tidak jauh dari apa yang diajukan Roy Murtadho.   Anda tidak 
mengakui bahwa jalan pikiran dan logika anda tidak jauh dari kedua orang itu, 
ya sudah, tidak apa-apa! Masing-masing punya hak mempertahankan pendapatnya.  
On Sunday, April 9, 2017 12:57 AM, "[email protected] [GELORA45]" 
<[email protected]> wrote:    Kalau bung punya niat berdiskusi, coba 
kasih argument misalnya samanya dimana jalan pikiran dan logikanya nesare, chan 
dan adi riyadi, ilham yogi hidayat. Coba mulai dari sini dulu. Bung sukanya 
mendiskreditkan orang lain tanpa argument. Bung sudah bilang kita beda ideologi 
dan tidak bisa berkomunikasi. Koq sekarang mau diperpanjang seakan2 bung adalah 
reprsentatifnya roy murthado dan nesare adalah representatifnya adi atau ilham? 
Bung sama sekali tidak mengerti jalan pikiran saya apalagi logika saya.Jelas 
sekali bung tidak mengerti pendapat saya ttg tani dan pabrik semen kendeng. 
Kenapa?Karena bung radikal. Ketika seseorang berpendapat yang sedikit saja 
seolah2 tidak berdiri disebelah tani, bung langsung melabrak orang itu. Bung 
buta dan tidak mampu apa yang ingin disampaikan orang itu. Sebetulnya pendapat 
saya sederhana dalam melihat peristiwa tani kendeng itu:   
   - Tutup pabrik semen di kendeng.
   - Cari tempat lain utk produksi kalau semen masih dibutuhkan.
   - Kalau tidak butuh semen lagi ya silahkan tinggal dirumah dari kayu kalau 
masih ada atau dengan atap langit yang biru dan gratis.
 Apa pendapat bung? Ini:   
   - Rakyat tidak butuh semen.
   - Yang lain tidak ada…..paling2 pesan yang ingin bung sampaikan selama ini 
adalah: rakyat tidak butuh kapitalisme.
 Pesan ini yang saya coba kupas dari dulu apakah benar. Bung tidak mampu 
melihat ini. Bung tersamar bahwa hanya komunisme yang paling benar. Sosialisme 
pun bung caci maki. Ini sebetulnya jalan pikiran bung itu semuanya bersumber 
pada: komunisme. Saya sudah bilang saya tidak melihat ideologi adalah satu2nya 
apalagi yang paling penting dalam melihat hidup ini. Saya lebih melihat orang 
itu dari baik dan buruknya bukan ideologinya.Bagi saya manusia yg berideologi 
apapun bisa baik dan atau jahat.Bung jelas sekali tidak mampu menerima ideologi 
komunisme itu bisa jahat.Kalau bung mampu melihat ini, bung tidak akan mencaci 
maki dan melihat kapitalisme itu jahatOh jangan salah sangka dengan menulis 
begini bukan berarti saya itu pro kapitalisme.Begitu juga jangan pikir saya 
adalah pembenci komunisme dan sosialisme. Ini konklusi bung dan ini salah.Bagi 
saya model, teori, ide apa saja tidak penting. Yang penting adalah manusia itu 
bisa hidup rukun dan baik. Ini harapan dan keinginan saya.Manusia berpendapat. 
Manusia menciptakan. Manusia berimaginasi. Ini semua tidak akan habis2nya. 
Ideologi kapitalisme, komunisme, sosialisme hanyalah sebagian kecil dari 
pendapat2 ini. Kalau bung mengikuti salah satu pendapat manusia ttg agama 
misalnya, bung akan terperangah begitu uniknya pendapat manusia dalam agama 
ini. Dimexico sekarang ini orang2 sedang terpengarah dengan agama baru: santa 
muerte (Nuestra Señora de la Santa Muerte). Begitu juga perkembangan 
scientology, vodou di haiti, voodoo di new orleans, aghori di india, cult Jezus 
di Hawaii dll. Orang2 yang gila agama ini sama sekali tidak melihat pentingnya 
ideologi. Ini hanyalah satu contoh saja.Dunia itu luas. Dunia ini tidak selebar 
daun kelornya suatu ideologi. Luasnya dunia itu luas sekali. Jadi jangan 
menyimpulkan siapa saya kalau bung sendiri tidak punya niat berdiskusi.Bagi 
saya komunikasi/diskusi itu bisa melihat siapa lawan diskusan kita. Bung tidak 
mau berdiskusi lalu menarik kesimpulan.Ya akhirnya memang kembali ini jelas 
sekali sifat bung yang suka marah2 sampai maki2 orang lain. Sudahlah saya sudah 
mengikuti keinginan bung yg tidak mau berdiskusi itu.Hargailah pendapat bung 
sendiri itu!Saya sudah cukup membuang waktu untuk mencoba berdialog dengan 
bung.Saya tidak punya banyak waktu utk hal2 yang sia2. Nesare  From: 
[email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Saturday, April 8, 2017 12:01 PM
To: Yahoogroups <[email protected]>; DISKUSI FORUM HLD 
<[email protected]>; GELORA_In <[email protected]>
Cc: Jonathan Goeij <[email protected]>; Roeslan 
<[email protected]>; Lusi.D <[email protected]>; NESARE 
<[email protected]>
Subject: [GELORA45] Perdebatan ttg REmbang di facebook    Perdebatan di 
facebook tentang Rembang mengingatkan saya pada perdebatan di milis ini.  Orang 
yang namanya Adi Riyadi  dan Ilham Yogi Hidayat jalan pikiran dan logikanya 
tidak jauh dari orang seperti Chan dan Nesare . Mereka  berusaha membela 
perusahaan semen dan kebijakan pembangunan neoliberal Jokowi. Jawaban dan 
penjelasan Arie Alaska dan Roy Murtadho adalah yang sesuai dengan jalan pikiran 
dan logika rakyat    Adi Riyadi Mas Arie Alaska dr sudut pandang agraria & 
kelestarian lingkungan memang pendirian pabrik semen itu pasti sedikit banyak 
berpengaruh. Menolak bukan solusi. Tp mungkin dengan menciptakan alternatif 
lain selain semen untuk fungsi yg sama sebagai bahan bangunan pengganti semen, 
yg jelas dgn bahan yg murah dan ramah lingkungan,mungkin itu lbh bisa diterima 
dan dipertimbangkan untuk bahan penolakan sampean dan kawan2. Yok menolak 
dengan solusi mas. Itu baru bagus.Vind ik leuk · 2 · 11 uur15 antwoorden 
verbergen     Ilham Yogi Hidayat Wah iki konsumen semen dateng 😂😂
Tp yo ga bisa di pungkiri. Pembangunan tanpa semen ya hampir mustahal..Vind ik 
leuk · 9 uurArie Alaska Hehe. Mas Adi Riyadi sedulurku, kita semua sudah 
menolak dengan baik dan memberikan solusi yang telah di paparkan di Presiden 
serta ke Pak Ganjar Pranowo... 

Cina menutup 600an pabrik semennya karena mereka sudah merasakan dampaknya dan 
cadangan karst mereka menipis. Mereka memutuskan untuk tidak bs terus menerus 
memeras alam mereka dalam menyediakan semen apalagi untuk ekspor, bhkan 
pemerintah cina lebih memilih kebijakan impor semen sembari meneliti dan uji 
coba bahan pengganti semen. Pemerintah Cina sedang mempersiapkan alternatif 
solusi pengganti semen dan mereka yakini bahwa tdk bs lagi cina melanggengkan 
usaha purba ini, dampaknya faktanya jelas 2013-2016 kemarin baik bencana 
kesehatan, bencana alam dll... Itu menjadi dasar kebijakan nasional China.

konteks di negara kita lha kok melihat ini sebagai peluang..? Krisis pangan dan 
air lebih ngeri ketimbang krisis semen mase... Dampak eksplorasi di Kendeng ini 
memiliki titik sebar bencana bukan hanya di kabupaten yg dilaluinya... namun 
sampe banjir sungai bengawan solo...

Iyo iyo mas... 😉 Semen yo butuh untuk indonesia, nek jare mbahe "ngono yo ojo 
ngono" namun cadangan semen kita saat ini sudah surplus mas Nek cukup ojo di 
genjot terus di eksplorasine kabeh... Bahkan Kwan2 Asosiasi Semen Indonesia 
sudah menyurati pemerintah cadangan semen akan mencapai overcapacity... konteks 
global inilah yg dianggap pemerintah menjadi peluang untuk ekspor bung. Jadi 
semen untuk siapa?

Semen Indonesia di Kendeng ini adalah salah satu dari 12 total ijin perusahaan 
semen yg masuk ke jawa... 

Ilham Yogi Hidayat dan Ghaniy Nugrahantoro... Nek di bilang pembangunan harus 
menumbalkan atau meninggakan dampak... G Fair dong Indonesia sepakat 
menandatangani SDGs. Berarti pembangunan yg tdk berkelanjutan yg tdk dipilih... 
😉 hehehe. 

Karo nyruput kopine yuk mas..Vind ik leuk · 1 · 9 uurAdi Riyadi Itu lah PR yg 
sebenarnya mas Ilham Yogi Hidayat. Dengan penutupan saja g bisa menyelesaikan 
masalah. Secara sudut pandang agraria & kelestarian lingkungan sih mungkin 
sudah selesai. Tp dr sudut pandang ekonomi & pembangunan justru muncul 
masalah.Cara penyampaian aspirasinya sudah sangat baik mas Arie Alaska, tapi 
solusi apa yang bisa sampean tawarkan untuk mengganti semen itu?Vind ik leuk · 
9 uurAdi Riyadi Jika di kendeng sudah acc dibatalkan, masih mungkin bisa 
dibangun di daerah lain mas. Dan kasihan jg daerah baru yg jg akan didirikan 
pabrik semen ny (secara sudut pandang agraria,& lingkungan hidup). Nggih mboten 
mas Ilham Yogi Hidayat?? Nah, coba kl pola pikirnya dirubah. Bukan ditolak. Tp 
yok bareng2 nyari alternatif lain yg fungsi ny bisa untuk pengganti semen yg 
minimal secara harga dan kwalitas produk setara dengan semen, tp dihasilkan dr 
bahan lain, selain batuan kapur , karst dan material alam. Itu baru solusi yg 
tidak menyakiti daerah lain. Bukankah itu jauh lebih syahdu?? Hhehe... Ngopi 
mriki mas Arie Alaska. Disruput bareng2...heheVind ik leuk · 8 uurRoy Murtadho 
Masalah utamanya begini. Logikanya harus dibalik. Jangan rakyat yg disuruh cari 
alternatif. Tapi justru pemerintah itu sendiri. Kalau kita komit pada agenda 
politik Jokowi. Bukankah Jokowi sdh mencanangkan Indonesia berdaulat pangan? 
Tapi anehnya yg terjadi justru sebaliknya. Tanah di Jawa yg no 1 Krn tanah 
vulkanik justru mau dihabiskan Karts nya dan membuka lahan pertanian baru di 
Papua yg disebut dgn proyek MIFEE. Justru yg tdk komit dan konsisten sekarang 
pemerintah. Kalau solusi kedaulatan pangan agar kita tdk impor adalah dengan 
membabat hutan Papua ini jelas keliru. Pertama, karena mengkonversi hutan 
menjadi pertanian akan merusak, tak hanya ekosistem dan fungsi ekologis hutan, 
tapi juga menghancurkan ruang hidup warga adat di Papua yg hidup dari hutan. 
Kedua, menjadikan Jawa sebagai pusat industri jg bermalah krn selama ini 
terjadi ketimpangan ruang produksi yg berakibat pada mahalnya distribusi ke 
pulau2 lain. Maka tak heran kalau semen di luar Jawa khususnya Papua sangat 
malah. Sekedar contoh saja. Ketiga, semen kita surplus untuk kebutuhan dalam 
negeri mas. Bisa dicek di situs resmi semen Indonesia. Jadi problemnya, sekali 
lagi, bukan rakyat atau petani yg harus diminta cari alternatif. Tapi oke tdk 
masalah. Alternatif sdh banyak mas, cuman good Will nya yg tdk ada dari para 
politisi dan ambtenaar atau aparatus kita yg korup.Vind ik leuk · 4 · 8 uurRoy 
Murtadho Baik juga kalau anda bilang perlu tinjaun ekonomi. Jadi begini. Status 
perusahaan semen Indonesia sekarang adalah BUMN yang kepemilikan modalnya 
terbuka dan sdh menjadi MNC. Jadi kalau ini demi pembangunan. Pembangunan buat 
siapa? Berapa sih pemuda desa yang akan terserap jadi tenaga kerja di pabrik 
semen Ini. Sila dihitung dan bandingkan dengan di Gresik dan Tuban.. di 
Rembang, kalau benar pabrik semen hendak didirikan di Rembang, tak lebih dari 
500 tenaga kerja yg diserap. Tak lebih. Itu artinya, petani yang selama ini 
menggantungkan hidupnya dari bertani, yg kategorinya adalah unit ekonomi 
mandiri akan jadi buruh murah (ini yg terserap di dalam pabrik). Sementara yg 
tdk terserap akan kehilangan tanah garapannya yg tak lagi produktif maka mereka 
akan menjadi pekerja informal yg tdk lagi mempunyai alat produksi berupa tanah 
garapan. Jadi kalau anda mau bikin valuasi ekonomi berapa hasil pertanian 
petani dgn statusnya sebagai unit ekonomi mandiri bila dibandingkan dgn upah 
buruh UMK di Rembang, pasti bagus sekali. Tapi saya berani taruhan, kerja di 
pabrik semen dengan hasil tani nggak sebanding mas. jauh besar hasil tani. 
Harusnya pemerintah memproteksi petani dengan memberi subsidi bukan malah 
menghancurkan petani khususnya di Jawa.Vind ik leuk · 2 · 8 uur · BewerktAdi 
Riyadi Sdh bukan saat ny mas untuk salah2 an & mencari siapa yg salah. Negeri 
ini sdh terlalu banyak menerima banyak kritik masalah, ayok mending bareng2 
mikir solusi. Memang manusia sudah selayaknya banyak salah. Tp yok kita mikir 
bareng solusi. Surplus bukan berati kedepan kita tak membutuhkan semen lagi. 
Berati kdpn kan tetep akan ada eksploitasi lg mas? Nah, jika kita bisa buat 
material lain yang sejenis tp lebih ramah lingkungan kan lebih baik mas. Jadi 
ga akan ada kasus kendeng kendeng yang lain. Sekedar bertukar pendapat. 
Hehehe.Vind ik leuk · 8 uurRoy Murtadho Kalau boleh saya tanya Siapa sih yg 
diuntungkan dari logika developmentalism pemerintah? Sejak dibukanya UUPMA 
tahun 67, sejak beroperasi nya Freeport, siapakah yg diuntungkan oleh industri2 
ekstraktif ini? Elit oligarki yakni kelas komprador yang cuman jualan sumber 
daya alam kita ke investasi internasional. Logika Semen Indonesia jg sama. 
Ingat statusnya sdh MNCVind ik leuk · 8 uurRoy Murtadho Lho Adi Riyadi justru 
ini cari solusi. Sy pribadi jg nulis mas soal semen ini dari tinjuan ekopol. 
Dan banyak ilmuan lainnya. Tahu kan anda. Dua ilmuan UGM kena sangsi gara2 buat 
AMDAL abal2 PT semen? Ini cari solusi mas.. lho kalau nggak ada yg salahterus 
gimana dong mas.. misalnya ada perempuan diperkosa jelas siapa yg memperkosa 
dan memberi legitimasi politik, finansial maupun ekonomi terhadap pemerkosaan. 
Kita mau cari solusi tapi ndak boleh ada yg salah dalam kasus pemerkosaan. 
Apakah itu yg anda maksud dgn cari solusi mas? Hehe sy yg belajar logika dan 
filsafat jadi tambah goblok kalo gini mas..Vind ik leuk · 1 · 8 uurAdi Riyadi 
Lha terus stlh ditolak terus apa langkah selanjutnya mas? Tak nderek 
sinau..Vind ik leuk · 8 uurRoy Murtadho Mas Adi Riyadi kok masih nanya apa 
selanjutnya. Kan sdh dibilang produksi semen kita surplus mas. coba deh cek 
sendiri. Masak aku yg harus kasih referensi ke sampean. Jg sdh sy bilang 
diatas. Proteksi petani nya kalau Indonesia mau benar2 berdaulat pangan. Kita 
kontrol secara demokratis agenda pembangunan. Karena faktanya tdk menguntungkan 
rakyat tapi menguntungkan korporat dan konglomerat. Duh banyak mas..Vind ik 
leuk · 8 uurRoy Murtadho Sdh mas.. aku lanjut baca dan kerja lagi. Ini nulis 
bisa bubrah semua kalo meladeni begini terus. Wes cukup ya... Vind ik leuk · 8 
uurAdi Riyadi Hehehe. Ok mas. Mksh ilmu ny.. Slmt bekerja mas. Smga lancarVind 
ik leuk · 7 uurArie Alaska Ayo bro Adi Riyadi... Aku nak Bogor lho... Mampirlah 
nak mrene. Ngop-bar sekalian reunian. 😉 

Nah Bung Slamet, konteksnya bukan hanya solusi pengganti semen yg dibicarakan 
disini, bicara political will pemerintah... "Kebijakan", mau g pemerintah dan 
pemangku pemerintahan "bijak" mengambil kebijakan yang berkeadilan dan 
berkelanjutan.
.. Apakah harus menunggu pengganti semen itu ada? maka selagi belum ada kita 
boleh eksplorasi semen itu besar2an? (#buka web Asosiasi Semen Indonesia) kita 
lho surplus semen. Pasar semen dalam negeri penjualannya jg stagnan... Defisit 
pangan kita lho sampai US$ 9,2 M dan harus impor beras, jagung, gandum, 
kedelai, gula, susu sampai daging. 

Nah... Gugatan masyarakat atas putusan MA No 99 PK/TUN/2016 jelas telah 
mengabulkan dan memenangkan gugatan masyarakat dengan pencabutan tentang izin 
lingkungan dan pembangan semen PT SI. Pemerintah khususnya Gub Jateng Pak 
Ganjar harusnya mematuhi putusan hukum ini sebagai kepatuhan pada konstitusi, 
namun buktinya malah mengingkari dan menerbitkan ijin baru.

Langkah selanjutnya mas Met, pemerintah
1. Harus mematuhi putusan MA dan mematuhi penetapan kawasan kendeng sebagai 
kawasan lindung yang harus dilestarikan.
2. Membangun jawa tengah ijo royo-royo adalah cita-citane pak Ganjar (yo kuwi 
seng di dorong). Tapi pye arep ijo royo-royo nek masyarakat tdk di dorong 
mengembangkan ekonomi lokale (pertanian, peternakan dan pedesaan). Ekonomi 
lokal rakyatnya yang dibangun (banyak iki turunane mengko dibahas bareng sambil 
ngopi)... Pak JKW jg ngomong membangun dari pinggiran dan ekonomi kerakyatan... 
Itu yg harus di jalankan! 

Beberapa diatas udah dijabarkan bung Roy Murtadho jg... Mugo2 mresep    
#yiv0026905864 #yiv0026905864 -- #yiv0026905864ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv0026905864 
#yiv0026905864ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv0026905864 
#yiv0026905864ygrp-mkp #yiv0026905864hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv0026905864 #yiv0026905864ygrp-mkp #yiv0026905864ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv0026905864 #yiv0026905864ygrp-mkp .yiv0026905864ad 
{padding:0 0;}#yiv0026905864 #yiv0026905864ygrp-mkp .yiv0026905864ad p 
{margin:0;}#yiv0026905864 #yiv0026905864ygrp-mkp .yiv0026905864ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv0026905864 #yiv0026905864ygrp-sponsor 
#yiv0026905864ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv0026905864 
#yiv0026905864ygrp-sponsor #yiv0026905864ygrp-lc #yiv0026905864hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv0026905864 
#yiv0026905864ygrp-sponsor #yiv0026905864ygrp-lc .yiv0026905864ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv0026905864 #yiv0026905864actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv0026905864 
#yiv0026905864activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv0026905864
 #yiv0026905864activity span {font-weight:700;}#yiv0026905864 
#yiv0026905864activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv0026905864 #yiv0026905864activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv0026905864 #yiv0026905864activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv0026905864 #yiv0026905864activity span 
.yiv0026905864underline {text-decoration:underline;}#yiv0026905864 
.yiv0026905864attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv0026905864 .yiv0026905864attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv0026905864 .yiv0026905864attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv0026905864 .yiv0026905864attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv0026905864 .yiv0026905864attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv0026905864 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv0026905864 .yiv0026905864bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv0026905864 
.yiv0026905864bold a {text-decoration:none;}#yiv0026905864 dd.yiv0026905864last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0026905864 dd.yiv0026905864last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0026905864 
dd.yiv0026905864last p span.yiv0026905864yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv0026905864 div.yiv0026905864attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv0026905864 div.yiv0026905864attach-table 
{width:400px;}#yiv0026905864 div.yiv0026905864file-title a, #yiv0026905864 
div.yiv0026905864file-title a:active, #yiv0026905864 
div.yiv0026905864file-title a:hover, #yiv0026905864 div.yiv0026905864file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv0026905864 div.yiv0026905864photo-title a, 
#yiv0026905864 div.yiv0026905864photo-title a:active, #yiv0026905864 
div.yiv0026905864photo-title a:hover, #yiv0026905864 
div.yiv0026905864photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv0026905864 
div#yiv0026905864ygrp-mlmsg #yiv0026905864ygrp-msg p a 
span.yiv0026905864yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv0026905864 
.yiv0026905864green {color:#628c2a;}#yiv0026905864 .yiv0026905864MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv0026905864 o {font-size:0;}#yiv0026905864 
#yiv0026905864photos div {float:left;width:72px;}#yiv0026905864 
#yiv0026905864photos div div {border:1px solid 
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv0026905864 
#yiv0026905864photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv0026905864
 #yiv0026905864reco-category {font-size:77%;}#yiv0026905864 
#yiv0026905864reco-desc {font-size:77%;}#yiv0026905864 .yiv0026905864replbq 
{margin:4px;}#yiv0026905864 #yiv0026905864ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv0026905864 #yiv0026905864ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0026905864 
#yiv0026905864ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv0026905864 
#yiv0026905864ygrp-mlmsg select, #yiv0026905864 input, #yiv0026905864 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0026905864 
#yiv0026905864ygrp-mlmsg pre, #yiv0026905864 code {font:115% 
monospace;}#yiv0026905864 #yiv0026905864ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv0026905864 #yiv0026905864ygrp-mlmsg #yiv0026905864logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv0026905864 #yiv0026905864ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv0026905864 #yiv0026905864ygrp-msg 
p#yiv0026905864attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv0026905864 
#yiv0026905864ygrp-reco #yiv0026905864reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv0026905864 #yiv0026905864ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv0026905864 #yiv0026905864ygrp-sponsor 
#yiv0026905864ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv0026905864 
#yiv0026905864ygrp-sponsor #yiv0026905864ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv0026905864 
#yiv0026905864ygrp-sponsor #yiv0026905864ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv0026905864 #yiv0026905864ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv0026905864 #yiv0026905864ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv0026905864 #yiv0026905864ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv0026905864 
#yiv0026905864ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv0026905864 

   

Kirim email ke