Bolak balik dari dulu ya begini ini.

Tetapi tujuannya hanya 1: bashing saja.

 

Ngerti juga kagak artinya DSR. DSR itu adalah bayar hutang (bunga dan induk) 
dengan eksport.

Kalau eksport nya turun ya jelas DSR turun dgn asumsi hutang dan bunga sama.

 

Tapi emangnya DSR ini yg mengkhawatirkan dalam masalah berhutang ini?

Nanti kalau exportnya naik, artinya boleh ambil hutang lebih banyak? Goblok nya 
minta ampun. Katanya bisa pake’ logika yg hebat.

 

Kalau DSR naik, koq aneh ya para kreditur/yg ngasih pinjaman masih ngasih aja 
pinjaman. Kreditur2 ini goblok2 ya? Kreditur2 ini imperialis yg goblok2 ya?

 

Kalau eksport turun dan DSR naik tapi PDB naik gimana?

Kalau eksort turun dan DSR naik tapi pemasukan dari pajak naik gimana?

Kalau eksport turun dan DSR naik tapi pemasukan dari investasi naik gimana?

Kalau eksport turun dan DSR naik tapi asset value BUMN naik gimana?

 

Mana ngerti ente masalah2 seperti?!

Sibuknya hanya bashing saja.

 

DSR naik dipake’ buat bashing….seakan2 NKRI mau roboh krn Indonesia gak bisa 
bayar hutang.

Plus ditakuti2 rakyat yg dibebani krn pajak naik.

Ngaco gak keruan2.

 

Mau tahu yg namanya debat kusir itu yg mana. Yg inilah debat kusir.

Debatnya kaga’ ada, kusirnya saja yg ngoceh melulu: hutang berbahaya, NKRI akan 
roboh, rakyat sudah miskin ditambahi pajak terus dst….dsst…

 

Sebetulnya hanya tidak mengerti ekonomi saja!!!!

 

Kalau ditanya gimana caranya mensejahterahkan rakyat tanpa hutang, diaaammmmm 
seribu Bahasa. 

Bisanya hanya bikin retorika: rakyat tambah miskin.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, July 7, 2017 10:50 AM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: [GELORA45] Re: Pindah Ibu Kota dan Segunung Utang Kita

 

  

Yg anda katakan ini benar "utang tak masalah asal bisa bayar" masalahnya 
sekarang apakah bisa bayar? bagaimana kemampuan bayar utang (atau Debt Service 
Ratio) yang ada apakah sehat atau tidak? bagaimana dgn pengeluaran2 lain yg 
harus dilakukan? dalam kasus Indonesia kita bisa lihat setiap tahun bikin utang 
baru yg lebih besar hanya utk bayar utang lama dan bunga yg tinggi, dus setiap 
tahun DSR meningkat. Berdasarkan berita Des lalu DSR kwartal II 2016 sudah 
mencapai 66%. Anda bisa bayangkan seandainya seseorang yg 66% gajinya dipakai 
buat bayar utang padahal gajinya terhitung kecil tanpa bayar cicilan utang juga 
sudah pas2an banget. Berapa DSR sekarang, melihat gelagatnya telah naik lagi.

Menurut catatan CORE, tingkat Debt Service Ratio Indonesia pada kuartal II-2016 
sudah mencapai 66%. Angka ini telah melampaui batas kewajaran DSR yang 
ditetapkan oleh IMF yaitu 30%-33%. 
<http://economy.okezone.com/read/2016/12/20/20/1571546/kemampuan-bayar-utang-luar-negeri-indonesia-menurun>
  

 

---In [email protected] <mailto:[email protected]> , 
<inengahk@... <mailto:inengahk@...> > wrote :



Sudah saya bilang berkali-kali, selama saya ikut seminar bisnis selama kurang 
lebih 3-6 bulan  utang tak masalah asal bisa bayar.

Kadang Orang yang tidak pernah utang dan tak ada penghasilan tetap sampai stuk 
memikirkan utang.

Semua pengusaha dan pedagang, bisnis rata rata punya utang, malah kalau orang 
pintar mengelola uang dari hasil utang bisa dipakai penghasilan tetap.

Seperti dapat pinjam uang dibank 100 juta dengan bunga 1.8 % pertahun, kadang 
dipakai bisnis bisa menghasilkan laba 5-6 %.

Orang yang takut berutang biasanya selama hidupnya naik sepeda ontel karena 
gajian tanggal 1 dan tanggal 10 sudah habis.

Saya sendiri merasakan, kalau tidak ada usaha kecil-kecilan dirumah walapun 
panennya Cuma setahun 2-4 kali setahun, tidak punya apa apa

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, July 07, 2017 2:39 PM
To: [email protected] <mailto:[email protected]> ; Jonathan Goeij 
<jonathangoeij@... <mailto:jonathangoeij@...> >
Cc: Yahoogroups <[email protected] <mailto:[email protected]> 
>; DISKUSI FORUM HLD <diskusiforum@... <mailto:diskusiforum@...> >
Subject: [**EXTERNAL**] Re: [GELORA45] Pindah Ibu Kota dan Segunung Utang Kita

 

 

Lho ada orang yang menganjurkan supaya tidak takut kepada utang. Orang yang 
"takut" pada utang itu dicap orang-orang "radikal". he...he..he   Amerika saja 
yang hutangnya numpuk tidak jatuh-jatuh dan tetap menguasai dunia! Jadi ya maju 
terus Jokowi, jangan takut hutang!!! Jokowi sendiri kan pernah juga bilang 
bahwa hutang itu baik!! solusinya gampang kok! tambah hutang,  terus dinaikkan 
saja pajak dan tarif pelayanan yang harus dibayar kelas menengah kebawah dan 
ciptakan  pajak-pajak baru, biar tambah senang kaum imperialis dan kapitalis 
yang meminjamkan uang!!!

 

On Wednesday, July 5, 2017 9:49 PM, "Jonathan Goeij  <mailto:jonathangoeij@...> 
jonathangoeij@... [GELORA45]" < <mailto:[email protected]> 
[email protected]> wrote:

 

 

 

 

 
<http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/07/05/064500126/pindah.ibu.kota.dan.segunung.utang.kita>
 Pindah Ibu Kota dan Segunung Utang Kita - Kompas.com

 




                

        

Pindah Ibu Kota dan Segunung Utang Kita - Kompas.com


By Kompas Cyber Media

Malaysia sendiri menelan dana hingga 8,1 miliar dollar AS, atau Rp 107 triliun 
untuk memindahkan ibu kotanya dar...

        

 


Pindah Ibu Kota dan Segunung Utang Kita


YOGA SUKMANA

Kompas.com - 05/07/2017, 06:45 WIB

  
<http://assets.kompas.com/crop/0x0:780x390/780x390/data/photo/2016/11/06/1256234rsz-utang-produktif780x390.jpg>
 

Ilustrasi utang(fromdebttomillionaire.com, dok. HaloMoney.co.id)

 

KOMPAS.com - Ruang media masih kosong saat Bang John, begitu ia kerap disapa, 
seorang wartawan media nasional di Jakarta, mulai bimbang memutuskan pindah ke 
Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Kepalanya tertunduk di depan cangkir putih berisi kopi hitam yang belum lama ia 
seduh. Langit mendung dan awan yang menggelap siang itu, tak cukup mampu 
menyembunyikan rasa bimbang pria asal Surabaya itu.

"Kalau nanti ibu kota enggak jadi pindah, walah gimana aku nanti," ujarnya 
sambil garuk-garuk kepala.

Sejak beberapa bulan lalu, Bang John begitu antusias mendengar rencana  
<http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota> pemindahan ibu kota ke luar 
Jawa.

Meski belum diumumkan pasti kota mana yang akan menggantikan Jakarta, ia sudah 
yakin betul pemerintah akan memilih Palangkaraya sebagai ibu kota.

Maklum, sejak era Bung Karno dulu, Palangkaraya memang sudah diusulkan menjadi 
ibu kota.

(Baca:  
<http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2017/07/03/155550626/kemungkinan.besar.ibu.kota.akan.dipindah.ke.kalimantan>
 Kemungkinan Besar, Ibu Kota Akan Dipindah ke Kalimantan)

Hal itu semakin kuat lantaran belum lama ini Pemeritah Provinsi Kalimantan 
Tengah telah mempersiapkan lahan seluas 300.000 hektar yang katanya untuk 
persiapan  <http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota> pemindahan ibu 
kota.

Namun belakangan, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro 
justru menampik soal rencana  
<http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota> pemindahan ibu kota ke 
Palangkaraya.

Ia justru balik mempertanyakan kabar  Palangkaraya akan dipilih sebagai 
penganti Jakarta.

"Siapa bilang (ibu kota pindah ke) Palangkaraya? Enggak ada yang bilang (ibu 
kota pindah ke) Palangkaraya," kata Bambang kepada Kompas.com, di kantor 
Bappenas, awal Mei lalu.

Tanda-tanda keseriusan pemerintah memindahkan ibu kota justru nampak pada 
petengahan Juni 2017 lalu.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dipastikan akan mulai 
mengkaji dalam rencana  <http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota> 
pemindahan ibu kota pada 2018.

Bahkan Bambang mengatakan, Bappenas juga akan mengkaji skema pendanaan  
<http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota> pemindahan ibu kota lantaran 
pasti butuh dana besar.

Hal itu ia sampaikan langsung dihadapan anggota DPR rapat kerja dengan Komisi 
XI di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (14/6/2017).

(Baca:  
<http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2017/07/04/21323921/palangkaraya.dinilai.tak.cocok.dijadikan.ibu.kota.karena.hal.ini.>
 Palangkaraya Dinilai Tak Cocok Dijadikan Ibu Kota karena Hal Ini...)

Namun langkah paling maju dari rangkaian wacana itu adalah adanya penganggaran 
dana untuk kajian mendalam terkait  
<http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota> pemindahan ibu kota di dalam 
pagu anggaran pemerintah.

Bappenas sendiri mengajukan usulan pagu Indikatif anggaran kementerian Rp 1,5 
triliun kepada DPR.

Rencananya dana itu juga akan digunakan untuk harmonisasi dan simplikasi 
aturan, mendorong pembiayaan infrastruktur non APBN, hingga menyusun aksi satu 
data nasional.

Teranyar rencana  <http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota> pemindahan 
ibu kota sudah dibahas secara detail bersama Presiden Republik Indonesia Joko 
Widodo di Istana Negara, Senin (3/7/2017).

Dalam perbincangan dengan Presiden, Bambang mengatakan kajian 
<http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota> pemindahan ibu kota, 
termasuk skema pendanaannya, akan segera dirampungkan. Meski begitu, jalan 
pemerintah bisa jadi terjal.

Tembok besar akan menghadang rencana  
<http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota> pemindahan ibu kota. Apa itu?

Dana, ya lagi-lagi anggaran. Seperti dikatakan pemerintah sendiri, 
<http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota> pemindahan ibu kota atau 
pusat pemerintahan akan memakan dana yang besar.

Di sisi lain, anggaran pemerintah yang tersedia sangat terbatas. Berdasarkan 
APBN 2017, pendapatan negara ditargetkan hanya mencapai Rp 1.750 triliun.

Sementara total belanja negara mencapai Rp 2.080 triliun.

Artinya, pemerintah akan mengalami defisit anggaran Rp 330 triliun, atau 2,41 
persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Kabar buruknya, defisit anggaran negara akan semakin melebar.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, defisit anggaran kemungkinan akan 
mencapai 2,6 persen pada 2017.

Perubahan defisit ini akan disampaikan langsung ke DPR di dalam Rancangan APBN 
Perubahan 2017.

Implikasinya jelas, bila anggaran sudah defisit, maka jalan satu-satunya untuk 
membiayai belanja negara adalah dengan mencari pendanaan lain.

Opsi yang kerap diambil pemerintah adalah dengan berutang. Berdasarkan data 
akhir Mei 2017, posisi utang pemerintah sudah mencapai Rp 3.672 triliun.

Angka ini melonjak Rp 1.069 triliun dibandingkan dengan posisi utang pada akhir 
2014 lalu.

Sederhananya, utang negara terus menggunung selama pemerintahan Presiden Joko 
Widodo.

Sialnya, sebagian utang itu akan jatuh tempo dalam periode  2018 sebesar Rp 390 
triliun dan 2019 sebesar R0 420 triliun.

Jika dijumlah, dalam dua tahun ke depan, pemerintah harus membayar utang 
sekitar Rp 810 triliun.

(Baca:  
<http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/07/03/165246326/utang.ri.capai.3.667.triliun.rakyat.jangan.khawatir.>
 Utang RI Capai 3.667 Triliun, Rakyat Jangan Khawatir?)

Dilihat dari kondisi ini,  <http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota> 
pemindahan ibu kota melalui pendanaan APBN akan berimplikasi kepada utang 
negara yang semakin menggunung.

Sementara itu kemungkinan pendanaan ibu kota baru melalui investasi swasta 
terbilang kecil.

Pengamat ekonomi Institute For Economic and Development Finance (Indef) Bima 
Yudhistira mengatakan, swasta pasti akan kurang berminat bila ditawari 
investasi untuk membangun fasilitas pemerintahan.

"Imbal hasilnya kecil. Beda dengan proyek infrastruktur yang komersil," ucap 
Bima.

Apalagi, dana investasi  <http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota> 
pemindahan ibu kota Indonesia bisa jadi lebih besar bila dibandingkan dengan  
<http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota> pemindahan ibu kota yang 
dilakukan Malaysia.

Selain karena ketersediaan infrastuktur dasar, besaran pegawai yang harus 
pindah juga akan membuat biaya pembangunan infrastruktur pemerintahan jadi 
lebih besar.

Malaysia sendiri menelan dana hingga 8,1 miliar dollar AS, atau Rp 107 triliun 
untuk memindahkan ibu kotanya dari Kuala Lumpur ke Putrajaya pada 1999 lalu.

Melalui berbagai fakta itu, pemerintah harus sangat cermat memulai langkah 
memindahan ibu kota.

Jangan sampai, perencanaan pemindahan kota yang terburu-buru justru menambah 
defisit APBN.

Bila itu terjadi, pemerintah pasti akan menambah utang untuk pembiayaan 
pembangunan infrastruktur ibu kota baru.

Pertanyaanya sederhana, apakah kita ingin melihatnya ibu kota baru dibangun 
lewat pondasi-pondasi utang?

Sebagian mungkin bisa menerimanya, sebagian lagi mungkin tidak. Lantas 
bagaimana dengan Pak Jokowi?

 



Kirim email ke