Memang asli debat kusir, sekarang bilangnya diterapkan utk orang kaya saja 
padahal mana adalah itu lha wong semua kena baik itu sepeda motor, bemo, mobil 
butut dll. Seandainya sasarannya yg kaya khan dibatasin utk mercy, bmw, porsche 
misalnya tetapi hal itu tidak ada sama sekali.  

 Sempat ngobrol di Jakarta banyak yg mengeluh kenaikan PBB yg audzubillah, 
misalnya ada yg bilang pbb-nya mendadak kena 4 jutaan lebih padahal th lalu 
cuman 1 jutaan dan gajinya cuman 3-4 juta dari th lalu tetap sama nggak naik, 
beliau mengeluh apa rumahnya yg sdh dimilikin mesti dijual cuman bayar pajak 
pbb itu, tukang pajak berargumen khan untung wong harga rumah naik lucu juga 
kayak rakyat disuruh jual rumah buat bayar pbb, kenaikan harga rumah khan bukan 
berarti duit ada dikantong wong rumah nggak dijual.


---In [email protected], <jetaimemucho1@...> wrote :

 Nah, ini  lagi contoh debat kusir. Kamu kan sudah jawab dan kasih contoh 
kongkrit kenaikan pajak. Jadi sudah dijawab pertanyaannya kan? Eh, sekarang dia 
bawa lagi ke pertanyaan lain: siapa yang bayar pajak itu? Tapi dia tidak mau 
mengakui bahwa pertanyaan semula sudah dijawab. Artinya dia kecele, dikiranya 
orang ngomong asal jeplak bahwa kenaikan pajak adalah  salah satu cara yang 
dipakai negara untuk membebani rakyatnya dengan hutang atau defisit. Jadi 
maunya kita disuruh terus mengikuti keinginannya menjawab pertanyaan yang terus 
merembet ke masalah lain dan melupakan pertanyaan semula yang sudah dijawab dan 
sudah membuktikan bahwa dialah yang ngomong asal jeplak. Ini persis seperti 
cara Chan diskusi. Dibawanya diskusi merembet kemana-mana, tapi dia melupakan 
pokok soal yang didiskusikan dan tidak mau (sebetulnya TIDAK BISA) menjawab 
pertanyaan yang justru berhubungan dengan masalah pokoknya.
 


 On Friday, July 7, 2017 9:55 PM, "Jonathan Goeij jonathangoeij@... [GELORA45]" 
<[email protected]> wrote:

 

   
 
 Kelihatannya betul begitu ya, memuaskan diri dgn presiden yang punya 
penampilan "rakyat" atau meminjam istilah Kaesang Pangarep "dasar ndeso!"


 On Friday, July 7, 2017 9:11 AM, Tatiana Lukman <jetaimemucho1@...> wrote:

 

 He Jonathan, bukan dia saja yang tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Karena 
ini adalah masalah ideologi, masalah politik. Dia tidak akan mampu melihat dan 
tidak akan percaya pada ideologi dan politik BERDIKARI. Para pendukung Jokowi 
tidak mampu melihat dan tidak percaya pada kemampuan rakyat yang terorganisasi 
untuk melahirkan perubahan!! Jadi jalan satu-satunya yang mereka lihat adalah 
bersandar pada seroang presiden yang punya penampilan "rakyat", walaupun 
politiknya sudah berkali-kali dibuktikan tidak menguntungkan rakyat. Bahwa saya 
menentang pemerintahan Jokowi, memang betul. Karena politik ekonominya tidak 
ada bedanya dengan semua presiden terdahulu. Semuanya menjadikan rakyat sebagai 
sapi perahan!! Rakyat diinjak-injak haknya. Apa yang saya postingkan 
memperlihatkan bagaimana politik "pembangunan" Jokowi sama sekali tidak 
menguntungkan rakyat jelata. Selama yang dilihat hanya profit, ya argumentasi 
sebakul tidak ada efeknya. Seperti perkebunan kelapa sawit. Kan mula-mula juga 
didukung. Hanya setelah ada postingan yang memperlihatkan betapa merusaknya 
tanaman sawit bagi lingkungan, baru mundur sedikit. 
 


 On Friday, July 7, 2017 5:46 PM, "Jonathan Goeij jonathangoeij@... [GELORA45]" 
<[email protected]> wrote:

 

   
 Bolak balik dari dulu tujuan anda cuman 1: menjilat pantat penguasa.
 

 Coba anda berikan bukti kalau yg dilakukan pemerintahan sekarang dgn 
hutang2nya itu dipakai utk mensejahterahkan rakyat?
 

 kutipan:
 Kalau ditanya gimana caranya mensejahterahkan rakyat tanpa hutang, diaaammmmm 
seribu Bahasa.
 Bisanya hanya bikin retorika: rakyat tambah miskin.
 

 

 ---In [email protected], <nesare1@...> wrote :


 Bolak balik dari dulu ya begini ini.
 Tetapi tujuannya hanya 1: bashing saja.
  
 Ngerti juga kagak artinya DSR. DSR itu adalah bayar hutang (bunga dan induk) 
dengan eksport.
 Kalau eksport nya turun ya jelas DSR turun dgn asumsi hutang dan bunga sama.
  
 Tapi emangnya DSR ini yg mengkhawatirkan dalam masalah berhutang ini?
 Nanti kalau exportnya naik, artinya boleh ambil hutang lebih banyak? Goblok 
nya minta ampun. Katanya bisa pake’ logika yg hebat.
  
 Kalau DSR naik, koq aneh ya para kreditur/yg ngasih pinjaman masih ngasih aja 
pinjaman. Kreditur2 ini goblok2 ya? Kreditur2 ini imperialis yg goblok2 ya?
  
 Kalau eksport turun dan DSR naik tapi PDB naik gimana?
 Kalau eksort turun dan DSR naik tapi pemasukan dari pajak naik gimana?
 Kalau eksport turun dan DSR naik tapi pemasukan dari investasi naik gimana?
 Kalau eksport turun dan DSR naik tapi asset value BUMN naik gimana?
  
 Mana ngerti ente masalah2 seperti?!
 Sibuknya hanya bashing saja.
  
 DSR naik dipake’ buat bashing….seakan2 NKRI mau roboh krn Indonesia gak bisa 
bayar hutang.
 Plus ditakuti2 rakyat yg dibebani krn pajak naik.
 Ngaco gak keruan2.
  
 Mau tahu yg namanya debat kusir itu yg mana. Yg inilah debat kusir.
 Debatnya kaga’ ada, kusirnya saja yg ngoceh melulu: hutang berbahaya, NKRI 
akan roboh, rakyat sudah miskin ditambahi pajak terus dst….dsst…
  
 Sebetulnya hanya tidak mengerti ekonomi saja!!!!
  
 Kalau ditanya gimana caranya mensejahterahkan rakyat tanpa hutang, diaaammmmm 
seribu Bahasa.
 Bisanya hanya bikin retorika: rakyat tambah miskin.
  
 Nesare
  
  
 From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, July 7, 2017 10:50 AM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: [GELORA45] Re: Pindah Ibu Kota dan Segunung Utang Kita


  
  
 Yg anda katakan ini benar "utang tak masalah asal bisa bayar" masalahnya 
sekarang apakah bisa bayar? bagaimana kemampuan bayar utang (atau Debt Service 
Ratio) yang ada apakah sehat atau tidak? bagaimana dgn pengeluaran2 lain yg 
harus dilakukan? dalam kasus Indonesia kita bisa lihat setiap tahun bikin utang 
baru yg lebih besar hanya utk bayar utang lama dan bunga yg tinggi, dus setiap 
tahun DSR meningkat. Berdasarkan berita Des lalu DSR kwartal II 2016 sudah 
mencapai 66%. Anda bisa bayangkan seandainya seseorang yg 66% gajinya dipakai 
buat bayar utang padahal gajinya terhitung kecil tanpa bayar cicilan utang juga 
sudah pas2an banget. Berapa DSR sekarang, melihat gelagatnya telah naik lagi.

 Menurut catatan CORE, tingkat Debt Service Ratio Indonesia pada kuartal 
II-2016 sudah mencapai 66%. Angka ini telah melampaui batas kewajaran DSR yang 
ditetapkan oleh IMF yaitu 30%-33%.  
http://economy.okezone.com/read/2016/12/20/20/1571546/kemampuan-bayar-utang-luar-negeri-indonesia-menurun

  

 ---In [email protected] mailto:[email protected], <inengahk@... 
mailto:inengahk@...> wrote :



 Sudah saya bilang berkali-kali, selama saya ikut seminar bisnis selama kurang 
lebih 3-6 bulan  utang tak masalah asal bisa bayar.

 Kadang Orang yang tidak pernah utang dan tak ada penghasilan tetap sampai stuk 
memikirkan utang.

 Semua pengusaha dan pedagang, bisnis rata rata punya utang, malah kalau orang 
pintar mengelola uang dari hasil utang bisa dipakai penghasilan tetap.

 Seperti dapat pinjam uang dibank 100 juta dengan bunga 1.8 % pertahun, kadang 
dipakai bisnis bisa menghasilkan laba 5-6 %.

 Orang yang takut berutang biasanya selama hidupnya naik sepeda ontel karena 
gajian tanggal 1 dan tanggal 10 sudah habis.

 Saya sendiri merasakan, kalau tidak ada usaha kecil-kecilan dirumah walapun 
panennya Cuma setahun 2-4 kali setahun, tidak punya apa apa

  

 From: [email protected] mailto:[email protected] 
[mailto:[email protected] mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, July 07, 2017 2:39 PM
To: [email protected] mailto:[email protected]; Jonathan Goeij 
<jonathangoeij@... mailto:jonathangoeij@...>
Cc: Yahoogroups <[email protected] mailto:[email protected]>; 
DISKUSI FORUM HLD <diskusiforum@... mailto:diskusiforum@...>
Subject: [**EXTERNAL**] Re: [GELORA45] Pindah Ibu Kota dan Segunung Utang Kita



  

  

 Lho ada orang yang menganjurkan supaya tidak takut kepada utang. Orang yang 
"takut" pada utang itu dicap orang-orang "radikal". he...he..he   Amerika saja 
yang hutangnya numpuk tidak jatuh-jatuh dan tetap menguasai dunia! Jadi ya maju 
terus Jokowi, jangan takut hutang!!! Jokowi sendiri kan pernah juga bilang 
bahwa hutang itu baik!! solusinya gampang kok! tambah hutang,  terus dinaikkan 
saja pajak dan tarif pelayanan yang harus dibayar kelas menengah kebawah dan 
ciptakan  pajak-pajak baru, biar tambah senang kaum imperialis dan kapitalis 
yang meminjamkan uang!!!


  


 On Wednesday, July 5, 2017 9:49 PM, "Jonathan Goeij jonathangoeij@... 
mailto:jonathangoeij@... [GELORA45]" <[email protected] 
mailto:[email protected]> wrote:


  

  

  


  


 Pindah Ibu Kota dan Segunung Utang Kita - Kompas.com 
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/07/05/064500126/pindah.ibu.kota.dan.segunung.utang.kita


  


 Pindah Ibu Kota dan Segunung Utang Kita - Kompas.com By Kompas Cyber Media


 Malaysia sendiri menelan dana hingga 8,1 miliar dollar AS, atau Rp 107 triliun 
untuk memindahkan ibu kotanya dar...


 

  


 Pindah Ibu Kota dan Segunung Utang Kita

 YOGA SUKMANA


 Kompas.com - 05/07/2017, 06:45 WIB






 


 Ilustrasi utang(fromdebttomillionaire.com, dok. HaloMoney.co.id)


  


 KOMPAS.com - Ruang media masih kosong saat Bang John, begitu ia kerap disapa, 
seorang wartawan media nasional di Jakarta, mulai bimbang memutuskan pindah ke 
Palangkaraya, Kalimantan Tengah.


 Kepalanya tertunduk di depan cangkir putih berisi kopi hitam yang belum lama 
ia seduh. Langit mendung dan awan yang menggelap siang itu, tak cukup mampu 
menyembunyikan rasa bimbang pria asal Surabaya itu.


 "Kalau nanti ibu kota enggak jadi pindah, walah gimana aku nanti," ujarnya 
sambil garuk-garuk kepala.


 Sejak beberapa bulan lalu, Bang John begitu antusias mendengar rencana 
pemindahan ibu kota http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota ke luar 
Jawa.


 Meski belum diumumkan pasti kota mana yang akan menggantikan Jakarta, ia sudah 
yakin betul pemerintah akan memilih Palangkaraya sebagai ibu kota.


 Maklum, sejak era Bung Karno dulu, Palangkaraya memang sudah diusulkan menjadi 
ibu kota.


 (Baca: Kemungkinan Besar, Ibu Kota Akan Dipindah ke Kalimantan 
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2017/07/03/155550626/kemungkinan.besar.ibu.kota.akan.dipindah.ke.kalimantan)


 Hal itu semakin kuat lantaran belum lama ini Pemeritah Provinsi Kalimantan 
Tengah telah mempersiapkan lahan seluas 300.000 hektar yang katanya untuk 
persiapan pemindahan ibu kota http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota.


 Namun belakangan, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang 
Brodjonegoro justru menampik soal rencana pemindahan ibu kota 
http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota ke Palangkaraya.


 Ia justru balik mempertanyakan kabar  Palangkaraya akan dipilih sebagai 
penganti Jakarta.


 "Siapa bilang (ibu kota pindah ke) Palangkaraya? Enggak ada yang bilang (ibu 
kota pindah ke) Palangkaraya," kata Bambang kepada Kompas.com, di kantor 
Bappenas, awal Mei lalu.


 Tanda-tanda keseriusan pemerintah memindahkan ibu kota justru nampak pada 
petengahan Juni 2017 lalu.


 Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dipastikan akan mulai 
mengkaji dalam rencana pemindahan ibu kota 
http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota pada 2018.


 Bahkan Bambang mengatakan, Bappenas juga akan mengkaji skema pendanaan 
pemindahan ibu kota http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota lantaran 
pasti butuh dana besar.


 Hal itu ia sampaikan langsung dihadapan anggota DPR rapat kerja dengan Komisi 
XI di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (14/6/2017).


 (Baca: Palangkaraya Dinilai Tak Cocok Dijadikan Ibu Kota karena Hal Ini... 
http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2017/07/04/21323921/palangkaraya.dinilai.tak.cocok.dijadikan.ibu.kota.karena.hal.ini.)


 Namun langkah paling maju dari rangkaian wacana itu adalah adanya penganggaran 
dana untuk kajian mendalam terkait pemindahan ibu kota 
http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota di dalam pagu anggaran 
pemerintah.


 Bappenas sendiri mengajukan usulan pagu Indikatif anggaran kementerian Rp 1,5 
triliun kepada DPR.


 Rencananya dana itu juga akan digunakan untuk harmonisasi dan simplikasi 
aturan, mendorong pembiayaan infrastruktur non APBN, hingga menyusun aksi satu 
data nasional.


 Teranyar rencana pemindahan ibu kota 
http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota sudah dibahas secara detail 
bersama Presiden Republik Indonesia Joko Widodo di Istana Negara, Senin 
(3/7/2017).


 Dalam perbincangan dengan Presiden, Bambang mengatakan kajianpemindahan ibu 
kota http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota, termasuk skema 
pendanaannya, akan segera dirampungkan. Meski begitu, jalan pemerintah bisa 
jadi terjal.


 Tembok besar akan menghadang rencana pemindahan ibu kota 
http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota. Apa itu?


 Dana, ya lagi-lagi anggaran. Seperti dikatakan pemerintah sendiri,pemindahan 
ibu kota http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota atau pusat 
pemerintahan akan memakan dana yang besar.


 Di sisi lain, anggaran pemerintah yang tersedia sangat terbatas. Berdasarkan 
APBN 2017, pendapatan negara ditargetkan hanya mencapai Rp 1.750 triliun.


 Sementara total belanja negara mencapai Rp 2.080 triliun.


 Artinya, pemerintah akan mengalami defisit anggaran Rp 330 triliun, atau 2,41 
persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.


 Kabar buruknya, defisit anggaran negara akan semakin melebar.


 Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, defisit anggaran kemungkinan akan 
mencapai 2,6 persen pada 2017.


 Perubahan defisit ini akan disampaikan langsung ke DPR di dalam Rancangan APBN 
Perubahan 2017.


 
























































Kirim email ke