Oh begitu sudah dijawab? Sudah tahu belum arti jawabannya dan sudah ngerti belum pertanyaan saya?
Pajak itu dinaikkan buat orang kaya: rumah dan mobil. Ngerti tidak artinya sampai disini terutama kaitannya dengan radikalisme bung yg komunis? Memangnya bung tidak suka yg dipajakin orang kaya? Atau bung maunya tidak ada pajak utk semua orang baik kaya maupun miskin? Dari mana duit utk penyelenggaraan negara menurut bung dinegara komunis itu? Gak pake’ duit dari pajak krn semua harus miskin? Ada 3 hal jawabannya jonathan: PBB, STNK mobil dan tebu. Yang tebu baca komentarnya Djie. Ayo buktikan gimana hutang naik bisa bikin Indonesia runtuh! Ayo buktikan gimana Jokowi naikkan pajak buat orang miskin! Ayo buktikan gimana ideologi politik bisa mensejahterakan suatu negara tanpa mengacuhkan begitu banyak variable lain yg mempengaruhi jalannya suatu negara! Ayo buktikan gimana saya menjilat penguasa! Bung itu tidak mengerti apa2 yg telah saya tulis. Karena radikalisme bung sehingga bung tidak mau menerima/mengerti pendapat orang lain, membuat bung menjadi buta. Dari awal diskusi ini jelas sekali bung tidak mengerti arti nya hutang. Persoalan yang bung dan jonathan angkat itu sebetulnya bukan hutang, melainkan hutang yg naik. Konsep hutang saja bung tidak mengerti. Makanya tidak heran hutang menjadi momok dan hutang naik bung perlakukan sbg keruntuhan Indonesia. Sudah saya kasih contoh dalam bhs yg sangat sederhana dalam lingkup yg lebih kecil mikro nya: perusahaan apple. Bagaimana apple itu masih punya hutang walaupun duit kas ditangannya banyak sekali. Begitu juga amazon yg kaya raya masih tetap punya hutang. Ini yg sdh saya tulis sebelum2nya bahwa hutang itu akan selalu ada dgn berbagai alasan: leverage, worth of a debt dll. Orang yg gak ngerti ekonomi bisnis pun kalau mau pake’ otaknya tapi dengan kepala dingin, akan bisa mengerti artinya hutang itu dan hutang itu akan selalu ada sepanjang yg namanya duit itu masih ada. Sangat sederhana sebetulnya. Sayangnya bung membutakan diri. DSR/debt service ratio yg dipake’ oleh jonathan itu sudah saya katakan bolak balik kita bicarakan. Saya kasih contoh banyak negara2 yg punya hutang dan DSR yg lebih tinggi. Negara2 itu masih ada tuh. Brazilia itu punya DSR hampir 40% msh bertengger. Yg lebih parah Venezuela yg kiri banget ideologi negaranya msh belum runtuh tuh. Parah banget Venezuela ini. eksportnya dan income paling gede dari minyak dan sekarang harga minyak jatuh berantakan. Saya menyebut USA yg hutang2nya luar biasa segunung…..gak takut sama sekali. Yg takut malahan yg kasih pinjaman….hehehehehehehe. Lucu kan bung yg anti imperialisme malahan takut sama hutang?!! Apakah bung sudah termakan oleh opini2nya orang2 amerika yg imperialis? Saya itu jadi bingung bung ini mendukung ide2 USA atau negara miskin? Kalau bung mendukung negara miskin mestinya kan seharusnya dan logikanya ambil donk itu hutang lalu ngemplang gak usah bayar krn imperialist sdh mengeruk kekayaan negara2 miskin. Skrg bung takut2in negara miskin supaya jangan berhutang dgn alasan nanti bisa miskin dan negara bisa rontok. USA, jepang dll negara maju itu busettt……hutangnya segunung ehhhhhh bung tidak perhatikan. Oh ya Yunani yg parah banget hutangnya juga belum runtuh loh skrg ini. Malahan Yunani disarankan supaya tidak usah bayar hutang. enak ndak? Coba baca di internet dan bacanya dgn kepala dingin, bung akan mengerti artiinya hutang ini. Jangan dikibulin oleh orang2 yg gak ngerti ekonomi dan bisnis! Check dan recheck. Jangan marah dulu kalau orang lain beda pendapat. Lihat isinya. Jangan membutakan diri. Belum tentu orang yg kasih opini beda itu adalah musuh. Nesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Saturday, July 8, 2017 3:07 AM To: [email protected]; Jonathan Goeij <[email protected]> Cc: Yahoogroups <[email protected]>; DISKUSI FORUM HLD <[email protected]> Subject: Re: [GELORA45] Re: Pindah Ibu Kota dan Segunung Utang Kita Nah, ini lagi contoh debat kusir. Kamu kan sudah jawab dan kasih contoh kongkrit kenaikan pajak. Jadi sudah dijawab pertanyaannya kan? Eh, sekarang dia bawa lagi ke pertanyaan lain: siapa yang bayar pajak itu? Tapi dia tidak mau mengakui bahwa pertanyaan semula sudah dijawab. Artinya dia kecele, dikiranya orang ngomong asal jeplak bahwa kenaikan pajak adalah salah satu cara yang dipakai negara untuk membebani rakyatnya dengan hutang atau defisit. Jadi maunya kita disuruh terus mengikuti keinginannya menjawab pertanyaan yang terus merembet ke masalah lain dan melupakan pertanyaan semula yang sudah dijawab dan sudah membuktikan bahwa dialah yang ngomong asal jeplak. Ini persis seperti cara Chan diskusi. Dibawanya diskusi merembet kemana-mana, tapi dia melupakan pokok soal yang didiskusikan dan tidak mau (sebetulnya TIDAK BISA) menjawab pertanyaan yang justru berhubungan dengan masalah pokoknya. On Friday, July 7, 2017 9:55 PM, "Jonathan Goeij [email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45]" <[email protected] <mailto:[email protected]> > wrote: Kelihatannya betul begitu ya, memuaskan diri dgn presiden yang punya penampilan "rakyat" atau meminjam istilah Kaesang Pangarep "dasar ndeso!" On Friday, July 7, 2017 9:11 AM, Tatiana Lukman <[email protected] <mailto:[email protected]> > wrote: He Jonathan, bukan dia saja yang tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Karena ini adalah masalah ideologi, masalah politik Dia tidak akan mampu melihat dan tidak akan percaya pada ideologi dan politik BERDIKARI. Para pendukung Jokowi tidak mampu melihat dan tidak percaya pada kemampuan rakyat yang terorganisasi untuk melahirkan perubahan!! Jadi jalan satu-satunya yang mereka lihat adalah bersandar pada seroang presiden yang punya penampilan "rakyat", walaupun politiknya sudah berkali-kali dibuktikan tidak menguntungkan rakyat. Bahwa saya menentang pemerintahan Jokowi, memang betul. Karena politik ekonominya tidak ada bedanya dengan semua presiden terdahulu. Semuanya menjadikan rakyat sebagai sapi perahan!! Rakyat diinjak-injak haknya. Apa yang saya postingkan memperlihatkan bagaimana politik "pembangunan" Jokowi sama sekali tidak menguntungkan rakyat jelata. Selama yang dilihat hanya profit, ya argumentasi sebakul tidak ada efeknya. Seperti perkebunan kelapa sawit. Kan mula-mula juga didukung. Hanya setelah ada postingan yang memperlihatkan betapa merusaknya tanaman sawit bagi lingkungan, baru mundur sedikit. On Friday, July 7, 2017 5:46 PM, "Jonathan Goeij [email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45]" <[email protected] <mailto:[email protected]> > wrote: Bolak balik dari dulu tujuan anda cuman 1: menjilat pantat penguasa. Coba anda berikan bukti kalau yg dilakukan pemerintahan sekarang dgn hutang2nya itu dipakai utk mensejahterahkan rakyat? kutipan: Kalau ditanya gimana caranya mensejahterahkan rakyat tanpa hutang, diaaammmmm seribu Bahasa. Bisanya hanya bikin retorika: rakyat tambah miskin. ---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <nesare1@... <mailto:nesare1@...> > wrote : Bolak balik dari dulu ya begini ini. Tetapi tujuannya hanya 1: bashing saja. Ngerti juga kagak artinya DSR. DSR itu adalah bayar hutang (bunga dan induk) dengan eksport. Kalau eksport nya turun ya jelas DSR turun dgn asumsi hutang dan bunga sama. Tapi emangnya DSR ini yg mengkhawatirkan dalam masalah berhutang ini? Nanti kalau exportnya naik, artinya boleh ambil hutang lebih banyak? Goblok nya minta ampun. Katanya bisa pake’ logika yg hebat. Kalau DSR naik, koq aneh ya para kreditur/yg ngasih pinjaman masih ngasih aja pinjaman. Kreditur2 ini goblok2 ya? Kreditur2 ini imperialis yg goblok2 ya? Kalau eksport turun dan DSR naik tapi PDB naik gimana? Kalau eksort turun dan DSR naik tapi pemasukan dari pajak naik gimana? Kalau eksport turun dan DSR naik tapi pemasukan dari investasi naik gimana? Kalau eksport turun dan DSR naik tapi asset value BUMN naik gimana? Mana ngerti ente masalah2 seperti?! Sibuknya hanya bashing saja. DSR naik dipake’ buat bashing….seakan2 NKRI mau roboh krn Indonesia gak bisa bayar hutang. Plus ditakuti2 rakyat yg dibebani krn pajak naik. Ngaco gak keruan2. Mau tahu yg namanya debat kusir itu yg mana. Yg inilah debat kusir. Debatnya kaga’ ada, kusirnya saja yg ngoceh melulu: hutang berbahaya, NKRI akan roboh, rakyat sudah miskin ditambahi pajak terus dst….dsst… Sebetulnya hanya tidak mengerti ekonomi saja!!!! Kalau ditanya gimana caranya mensejahterahkan rakyat tanpa hutang, diaaammmmm seribu Bahasa. Bisanya hanya bikin retorika: rakyat tambah miskin. Nesare From: [email protected] <mailto:[email protected]> [mailto:[email protected]] Sent: Friday, July 7, 2017 10:50 AM To: Yahoogroups <gelora45@yahoogroupscom> Subject: [GELORA45] Re: Pindah Ibu Kota dan Segunung Utang Kita Yg anda katakan ini benar "utang tak masalah asal bisa bayar" masalahnya sekarang apakah bisa bayar? bagaimana kemampuan bayar utang (atau Debt Service Ratio) yang ada apakah sehat atau tidak? bagaimana dgn pengeluaran2 lain yg harus dilakukan? dalam kasus Indonesia kita bisa lihat setiap tahun bikin utang baru yg lebih besar hanya utk bayar utang lama dan bunga yg tinggi, dus setiap tahun DSR meningkat. Berdasarkan berita Des lalu DSR kwartal II 2016 sudah mencapai 66%. Anda bisa bayangkan seandainya seseorang yg 66% gajinya dipakai buat bayar utang padahal gajinya terhitung kecil tanpa bayar cicilan utang juga sudah pas2an banget. Berapa DSR sekarang, melihat gelagatnya telah naik lagi. <http://economy.okezone.com/read/2016/12/20/20/1571546/kemampuan-bayar-utang-luar-negeri-indonesia-menurun> Menurut catatan CORE, tingkat Debt Service Ratio Indonesia pada kuartal II-2016 sudah mencapai 66%. Angka ini telah melampaui batas kewajaran DSR yang ditetapkan oleh IMF yaitu 30%-33%. ---In <mailto:[email protected]> [email protected], < <mailto:inengahk@...> inengahk@...> wrote : Sudah saya bilang berkali-kali, selama saya ikut seminar bisnis selama kurang lebih 3-6 bulan utang tak masalah asal bisa bayar. Kadang Orang yang tidak pernah utang dan tak ada penghasilan tetap sampai stuk memikirkan utang Semua pengusaha dan pedagang, bisnis rata rata punya utang, malah kalau orang pintar mengelola uang dari hasil utang bisa dipakai penghasilan tetap. Seperti dapat pinjam uang dibank 100 juta dengan bunga 1.8 % pertahun, kadang dipakai bisnis bisa menghasilkan laba 5-6 %. Orang yang takut berutang biasanya selama hidupnya naik sepeda ontel karena gajian tanggal 1 dan tanggal 10 sudah habis. Saya sendiri merasakan, kalau tidak ada usaha kecil-kecilan dirumah walapun panennya Cuma setahun 2-4 kali setahun, tidak punya apa apa From: <mailto:[email protected]> [email protected] [ <mailto:[email protected]> mailto:[email protected]] Sent: Friday, July 07, 2017 2:39 PM To: <mailto:[email protected]> [email protected]; Jonathan Goeij < <mailto:jonathangoeij@...> jonathangoeij@...> Cc: Yahoogroups < <mailto:[email protected]> [email protected]>; DISKUSI FORUM HLD < <mailto:diskusiforum@...> diskusiforum@...> Subject: [**EXTERNAL**] Re: [GELORA45] Pindah Ibu Kota dan Segunung Utang Kita Lho ada orang yang menganjurkan supaya tidak takut kepada utang. Orang yang "takut" pada utang itu dicap orang-orang "radikal". he...he..he Amerika saja yang hutangnya numpuk tidak jatuh-jatuh dan tetap menguasai dunia! Jadi ya maju terus Jokowi, jangan takut hutang!!! Jokowi sendiri kan pernah juga bilang bahwa hutang itu baik!! solusinya gampang kok! tambah hutang, terus dinaikkan saja pajak dan tarif pelayanan yang harus dibayar kelas menengah kebawah dan ciptakan pajak-pajak baru, biar tambah senang kaum imperialis dan kapitalis yang meminjamkan uang!!! On Wednesday, July 5, 2017 9:49 PM, "Jonathan Goeij <mailto:jonathangoeij@...> jonathangoeij@... [GELORA45]" < <mailto:[email protected]> [email protected]> wrote: <http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/07/05/064500126/pindah.ibu.kota.dan.segunung.utang.kita> Pindah Ibu Kota dan Segunung Utang Kita - Kompas.com Pindah Ibu Kota dan Segunung Utang Kita - Kompas.com By Kompas Cyber Media Malaysia sendiri menelan dana hingga 8,1 miliar dollar AS, atau Rp 107 triliun untuk memindahkan ibu kotanya dar... Pindah Ibu Kota dan Segunung Utang Kita YOGA SUKMANA Kompas.com - 05/07/2017, 06:45 WIB <http://assets.kompas.com/crop/0x0:780x390/780x390/data/photo/2016/11/06/1256234rsz-utang-produktif780x390.jpg> Ilustrasi utang(fromdebttomillionaire.com, dok. HaloMoney.co.id) KOMPAScom - Ruang media masih kosong saat Bang John, begitu ia kerap disapa, seorang wartawan media nasional di Jakarta, mulai bimbang memutuskan pindah ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Kepalanya tertunduk di depan cangkir putih berisi kopi hitam yang belum lama ia seduh. Langit mendung dan awan yang menggelap siang itu, tak cukup mampu menyembunyikan rasa bimbang pria asal Surabaya itu. "Kalau nanti ibu kota enggak jadi pindah, walah gimana aku nanti," ujarnya sambil garuk-garuk kepala. Sejak beberapa bulan lalu, Bang John begitu antusias mendengar rencana <http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota> pemindahan ibu kota ke luar Jawa. Meski belum diumumkan pasti kota mana yang akan menggantikan Jakarta, ia sudah yakin betul pemerintah akan memilih Palangkaraya sebagai ibu kota. Maklum, sejak era Bung Karno dulu, Palangkaraya memang sudah diusulkan menjadi ibu kota. (Baca: <http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2017/07/03/155550626/kemungkinan.besar.ibu.kota.akan.dipindah.ke.kalimantan> Kemungkinan Besar, Ibu Kota Akan Dipindah ke Kalimantan) Hal itu semakin kuat lantaran belum lama ini Pemeritah Provinsi Kalimantan Tengah telah mempersiapkan lahan seluas 300.000 hektar yang katanya untuk persiapan <http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota> pemindahan ibu kota. Namun belakangan, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro justru menampik soal rencana <http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota> pemindahan ibu kota ke Palangkaraya. Ia justru balik mempertanyakan kabar Palangkaraya akan dipilih sebagai penganti Jakarta. "Siapa bilang (ibu kota pindah ke) Palangkaraya? Enggak ada yang bilang (ibu kota pindah ke) Palangkaraya," kata Bambang kepada Kompas.com, di kantor Bappenas, awal Mei lalu Tanda-tanda keseriusan pemerintah memindahkan ibu kota justru nampak pada petengahan Juni 2017 lalu. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dipastikan akan mulai mengkaji dalam rencana <http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota> pemindahan ibu kota pada 2018. Bahkan Bambang mengatakan, Bappenas juga akan mengkaji skema pendanaan <http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota> pemindahan ibu kota lantaran pasti butuh dana besar. Hal itu ia sampaikan langsung dihadapan anggota DPR rapat kerja dengan Komisi XI di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (14/6/2017). (Baca: <http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2017/07/04/21323921/palangkaraya.dinilai.tak.cocok.dijadikan.ibu.kota.karena.hal.ini.> Palangkaraya Dinilai Tak Cocok Dijadikan Ibu Kota karena Hal Ini...) Namun langkah paling maju dari rangkaian wacana itu adalah adanya penganggaran dana untuk kajian mendalam terkait <http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota> pemindahan ibu kota di dalam pagu anggaran pemerintah. Bappenas sendiri mengajukan usulan pagu Indikatif anggaran kementerian Rp 1,5 triliun kepada DPR. Rencananya dana itu juga akan digunakan untuk harmonisasi dan simplikasi aturan, mendorong pembiayaan infrastruktur non APBN, hingga menyusun aksi satu data nasional. Teranyar rencana <http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota> pemindahan ibu kota sudah dibahas secara detail bersama Presiden Republik Indonesia Joko Widodo di Istana Negara, Senin (3/7/2017). Dalam perbincangan dengan Presiden, Bambang mengatakan kajian <http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota> pemindahan ibu kota, termasuk skema pendanaannya, akan segera dirampungkan. Meski begitu, jalan pemerintah bisa jadi terjal. Tembok besar akan menghadang rencana <http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota> pemindahan ibu kota. Apa itu? Dana, ya lagi-lagi anggaran. Seperti dikatakan pemerintah sendiri, <http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota> pemindahan ibu kota atau pusat pemerintahan akan memakan dana yang besar. Di sisi lain, anggaran pemerintah yang tersedia sangat terbatas. Berdasarkan APBN 2017, pendapatan negara ditargetkan hanya mencapai Rp 1.750 triliun. Sementara total belanja negara mencapai Rp 2.080 triliun. Artinya, pemerintah akan mengalami defisit anggaran Rp 330 triliun, atau 2,41 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Kabar buruknya, defisit anggaran negara akan semakin melebar. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, defisit anggaran kemungkinan akan mencapai 2,6 persen pada 2017. Perubahan defisit ini akan disampaikan langsung ke DPR di dalam Rancangan APBN Perubahan 2017. Implikasinya jelas, bila anggaran sudah defisit, maka jalan satu-satunya untuk membiayai belanja negara adalah dengan mencari pendanaan lain. Opsi yang kerap diambil pemerintah adalah dengan berutang. Berdasarkan data akhir Mei 2017, posisi utang pemerintah sudah mencapai Rp 3.672 triliun. Angka ini melonjak Rp 1.069 triliun dibandingkan dengan posisi utang pada akhir 2014 lalu. Sederhananya, utang negara terus menggunung selama pemerintahan Presiden Joko Widodo. Sialnya, sebagian utang itu akan jatuh tempo dalam periode 2018 sebesar Rp 390 triliun dan 2019 sebesar R0 420 triliun. Jika dijumlah, dalam dua tahun ke depan, pemerintah harus membayar utang sekitar Rp 810 triliun. (Baca: <http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/07/03/165246326/utang.ri.capai.3.667.triliun.rakyat.jangan.khawatir.> Utang RI Capai 3.667 Triliun, Rakyat Jangan Khawatir?) Dilihat dari kondisi ini, <http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota> pemindahan ibu kota melalui pendanaan APBN akan berimplikasi kepada utang negara yang semakin menggunung. Sementara itu kemungkinan pendanaan ibu kota baru melalui investasi swasta terbilang kecil. Pengamat ekonomi Institute For Economic and Development Finance (Indef) Bima Yudhistira mengatakan, swasta pasti akan kurang berminat bila ditawari investasi untuk membangun fasilitas pemerintahan. "Imbal hasilnya kecil. Beda dengan proyek infrastruktur yang komersil," ucap Bima. Apalagi, dana investasi <http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota> pemindahan ibu kota Indonesia bisa jadi lebih besar bila dibandingkan dengan <http://indeks.kompas.com/tag/pemindahan-ibu-kota> pemindahan ibu kota yang dilakukan Malaysia. Selain karena ketersediaan infrastuktur dasar, besaran pegawai yang harus pindah juga akan membuat biaya pembangunan infrastruktur pemerintahan jadi lebih besar. Malaysia sendiri menelan dana hingga 8,1 miliar dollar AS, atau Rp 107 triliun untuk memindahkan ibu kotanya dari Kuala Lumpur ke Putrajaya pada 1999 lalu. Melalui berbagai fakta itu, pemerintah harus sangat cermat memulai langkah memindahan ibu kota. Jangan sampai, perencanaan pemindahan kota yang terburu-buru justru menambah defisit APBN. Bila itu terjadi, pemerintah pasti akan menambah utang untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur ibu kota baru. Pertanyaanya sederhana, apakah kita ingin melihatnya ibu kota baru dibangun lewat pondasi-pondasi utang? Sebagian mungkin bisa menerimanya, sebagian lagi mungkin tidak. Lantas bagaimana dengan Pak Jokowi?
