Kelihatannya betul begitu ya, memuaskan diri dgn presiden yang punya
penampilan "rakyat" atau meminjam istilah Kaesang Pangarep "dasar ndeso!"
On Friday, July 7, 2017 9:11 AM, Tatiana Lukman <[email protected]>
wrote:
He Jonathan, bukan dia saja yang tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Karena
ini adalah masalah ideologi, masalah politik. Dia tidak akan mampu melihat dan
tidak akan percaya pada ideologi dan politik BERDIKARI. Para pendukung Jokowi
tidak mampu melihat dan tidak percaya pada kemampuan rakyat yang terorganisasi
untuk melahirkan perubahan!! Jadi jalan satu-satunya yang mereka lihat adalah
bersandar pada seroang presiden yang punya penampilan "rakyat", walaupun
politiknya sudah berkali-kali dibuktikan tidak menguntungkan rakyat. Bahwa saya
menentang pemerintahan Jokowi, memang betul. Karena politik ekonominya tidak
ada bedanya dengan semua presiden terdahulu. Semuanya menjadikan rakyat sebagai
sapi perahan!! Rakyat diinjak-injak haknya. Apa yang saya postingkan
memperlihatkan bagaimana politik "pembangunan" Jokowi sama sekali tidak
menguntungkan rakyat jelata. Selama yang dilihat hanya profit, ya argumentasi
sebakul tidak ada efeknya. Seperti perkebunan kelapa sawit. Kan mula-mula juga
didukung. Hanya setelah ada postingan yang memperlihatkan betapa merusaknya
tanaman sawit bagi lingkungan, baru mundur sedikit.
On Friday, July 7, 2017 5:46 PM, "Jonathan Goeij [email protected]
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:
Bolak balik dari dulu tujuan anda cuman 1: menjilat pantat penguasa.
Coba anda berikan bukti kalau yg dilakukan pemerintahan sekarang dgn hutang2nya
itu dipakai utk mensejahterahkan rakyat?
kutipan:Kalau ditanya gimana caranya mensejahterahkan rakyat tanpa hutang,
diaaammmmm seribu Bahasa.Bisanya hanya bikin retorika: rakyat tambah miskin.
---In [email protected], <nesare1@...> wrote :
Bolak balik dari dulu ya begini ini.Tetapi tujuannya hanya 1: bashing saja.
Ngerti juga kagak artinya DSR. DSR itu adalah bayar hutang (bunga dan induk)
dengan eksport.Kalau eksport nya turun ya jelas DSR turun dgn asumsi hutang dan
bunga sama. Tapi emangnya DSR ini yg mengkhawatirkan dalam masalah berhutang
ini?Nanti kalau exportnya naik, artinya boleh ambil hutang lebih banyak? Goblok
nya minta ampun. Katanya bisa pake’ logika yg hebat. Kalau DSR naik, koq aneh
ya para kreditur/yg ngasih pinjaman masih ngasih aja pinjaman. Kreditur2 ini
goblok2 ya? Kreditur2 ini imperialis yg goblok2 ya? Kalau eksport turun dan DSR
naik tapi PDB naik gimana?Kalau eksort turun dan DSR naik tapi pemasukan dari
pajak naik gimana?Kalau eksport turun dan DSR naik tapi pemasukan dari
investasi naik gimana?Kalau eksport turun dan DSR naik tapi asset value BUMN
naik gimana? Mana ngerti ente masalah2 seperti?!Sibuknya hanya bashing saja.
DSR naik dipake’ buat bashing….seakan2 NKRI mau roboh krn Indonesia gak bisa
bayar hutang.Plus ditakuti2 rakyat yg dibebani krn pajak naik.Ngaco gak
keruan2. Mau tahu yg namanya debat kusir itu yg mana. Yg inilah debat
kusir.Debatnya kaga’ ada, kusirnya saja yg ngoceh melulu: hutang berbahaya,
NKRI akan roboh, rakyat sudah miskin ditambahi pajak terus dst….dsst…
Sebetulnya hanya tidak mengerti ekonomi saja!!!! Kalau ditanya gimana caranya
mensejahterahkan rakyat tanpa hutang, diaaammmmm seribu Bahasa.Bisanya hanya
bikin retorika: rakyat tambah miskin. Nesare From: [email protected]
[mailto:[email protected]]
Sent: Friday, July 7, 2017 10:50 AM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: [GELORA45] Re: Pindah Ibu Kota dan Segunung Utang Kita Yg anda
katakan ini benar "utang tak masalah asal bisa bayar" masalahnya sekarang
apakah bisa bayar? bagaimana kemampuan bayar utang (atau Debt Service Ratio)
yang ada apakah sehat atau tidak? bagaimana dgn pengeluaran2 lain yg harus
dilakukan? dalam kasus Indonesia kita bisa lihat setiap tahun bikin utang baru
yg lebih besar hanya utk bayar utang lama dan bunga yg tinggi, dus setiap tahun
DSR meningkat. Berdasarkan berita Des lalu DSR kwartal II 2016 sudah mencapai
66%. Anda bisa bayangkan seandainya seseorang yg 66% gajinya dipakai buat bayar
utang padahal gajinya terhitung kecil tanpa bayar cicilan utang juga sudah
pas2an banget. Berapa DSR sekarang, melihat gelagatnya telah naik lagi.Menurut
catatan CORE, tingkat Debt Service Ratio Indonesia pada kuartal II-2016 sudah
mencapai 66%. Angka ini telah melampaui batas kewajaran DSR yang ditetapkan
oleh IMF yaitu 30%-33%. ---In [email protected], <inengahk@...> wrote :
Sudah saya bilang berkali-kali, selama saya ikut seminar bisnis selama kurang
lebih 3-6 bulan utang tak masalah asal bisa bayar.Kadang Orang yang tidak
pernah utang dan tak ada penghasilan tetap sampai stuk memikirkan utang.Semua
pengusaha dan pedagang, bisnis rata rata punya utang, malah kalau orang pintar
mengelola uang dari hasil utang bisa dipakai penghasilan tetap.Seperti dapat
pinjam uang dibank 100 juta dengan bunga 1.8 % pertahun, kadang dipakai bisnis
bisa menghasilkan laba 5-6 %.Orang yang takut berutang biasanya selama hidupnya
naik sepeda ontel karena gajian tanggal 1 dan tanggal 10 sudah habis.Saya
sendiri merasakan, kalau tidak ada usaha kecil-kecilan dirumah walapun panennya
Cuma setahun 2-4 kali setahun, tidak punya apa apa From:
[email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Friday, July 07, 2017 2:39 PM
To: [email protected]; Jonathan Goeij <jonathangoeij@...>
Cc: Yahoogroups <[email protected]>; DISKUSI FORUM HLD
<diskusiforum@...>
Subject: [**EXTERNAL**] Re: [GELORA45] Pindah Ibu Kota dan Segunung Utang Kita
Lho ada orang yang menganjurkan supaya tidak takut kepada utang. Orang yang
"takut" pada utang itu dicap orang-orang "radikal". he...he..he Amerika saja
yang hutangnya numpuk tidak jatuh-jatuh dan tetap menguasai dunia! Jadi ya maju
terus Jokowi, jangan takut hutang!!! Jokowi sendiri kan pernah juga bilang
bahwa hutang itu baik!! solusinya gampang kok! tambah hutang, terus dinaikkan
saja pajak dan tarif pelayanan yang harus dibayar kelas menengah kebawah dan
ciptakan pajak-pajak baru, biar tambah senang kaum imperialis dan kapitalis
yang meminjamkan uang!!! On Wednesday, July 5, 2017 9:49 PM, "Jonathan Goeij
jonathangoeij@... [GELORA45]" <[email protected]> wrote: Pindah Ibu
Kota dan Segunung Utang Kita - Kompas.com
|
|
|
| | |
|
|
|
| |
Pindah Ibu Kota dan Segunung Utang Kita - Kompas.com
By Kompas Cyber MediaMalaysia sendiri menelan dana hingga 8,1 miliar dollar AS,
atau Rp 107 triliun untuk memindahkan ibu kotanya dar... | |
|
|
Pindah Ibu Kota dan Segunung Utang Kita
YOGA SUKMANAKompas.com - 05/07/2017, 06:45 WIBIlustrasi
utang(fromdebttomillionaire.com, dok. HaloMoney.co.id) KOMPAS.com - Ruang media
masih kosong saat Bang John, begitu ia kerap disapa, seorang wartawan media
nasional di Jakarta, mulai bimbang memutuskan pindah ke Palangkaraya,
Kalimantan Tengah.Kepalanya tertunduk di depan cangkir putih berisi kopi hitam
yang belum lama ia seduh. Langit mendung dan awan yang menggelap siang itu, tak
cukup mampu menyembunyikan rasa bimbang pria asal Surabaya itu."Kalau nanti ibu
kota enggak jadi pindah, walah gimana aku nanti," ujarnya sambil garuk-garuk
kepala.Sejak beberapa bulan lalu, Bang John begitu antusias mendengar rencana
pemindahan ibu kota ke luar Jawa.Meski belum diumumkan pasti kota mana yang
akan menggantikan Jakarta, ia sudah yakin betul pemerintah akan memilih
Palangkaraya sebagai ibu kota.Maklum, sejak era Bung Karno dulu, Palangkaraya
memang sudah diusulkan menjadi ibu kota.(Baca: Kemungkinan Besar, Ibu Kota Akan
Dipindah ke Kalimantan)Hal itu semakin kuat lantaran belum lama ini Pemeritah
Provinsi Kalimantan Tengah telah mempersiapkan lahan seluas 300.000 hektar yang
katanya untuk persiapan pemindahan ibu kota.Namun belakangan, Menteri
Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro justru menampik soal
rencana pemindahan ibu kota ke Palangkaraya.Ia justru balik mempertanyakan
kabar Palangkaraya akan dipilih sebagai penganti Jakarta."Siapa bilang (ibu
kota pindah ke) Palangkaraya? Enggak ada yang bilang (ibu kota pindah ke)
Palangkaraya," kata Bambang kepada Kompas.com, di kantor Bappenas, awal Mei
lalu.Tanda-tanda keseriusan pemerintah memindahkan ibu kota justru nampak pada
petengahan Juni 2017 lalu.Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)
dipastikan akan mulai mengkaji dalam rencana pemindahan ibu kota pada
2018.Bahkan Bambang mengatakan, Bappenas juga akan mengkaji skema pendanaan
pemindahan ibu kota lantaran pasti butuh dana besar.Hal itu ia sampaikan
langsung dihadapan anggota DPR rapat kerja dengan Komisi XI di Gedung DPR,
Jakarta, Rabu (14/6/2017).(Baca: Palangkaraya Dinilai Tak Cocok Dijadikan Ibu
Kota karena Hal Ini...)Namun langkah paling maju dari rangkaian wacana itu
adalah adanya penganggaran dana untuk kajian mendalam terkait pemindahan ibu
kota di dalam pagu anggaran pemerintah.Bappenas sendiri mengajukan usulan pagu
Indikatif anggaran kementerian Rp 1,5 triliun kepada DPR.Rencananya dana itu
juga akan digunakan untuk harmonisasi dan simplikasi aturan, mendorong
pembiayaan infrastruktur non APBN, hingga menyusun aksi satu data
nasional.Teranyar rencana pemindahan ibu kota sudah dibahas secara detail
bersama Presiden Republik Indonesia Joko Widodo di Istana Negara, Senin
(3/7/2017).Dalam perbincangan dengan Presiden, Bambang mengatakan
kajianpemindahan ibu kota, termasuk skema pendanaannya, akan segera
dirampungkan. Meski begitu, jalan pemerintah bisa jadi terjal.Tembok besar akan
menghadang rencana pemindahan ibu kota. Apa itu?Dana, ya lagi-lagi anggaran.
Seperti dikatakan pemerintah sendiri,pemindahan ibu kota atau pusat
pemerintahan akan memakan dana yang besar.Di sisi lain, anggaran pemerintah
yang tersedia sangat terbatas. Berdasarkan APBN 2017, pendapatan negara
ditargetkan hanya mencapai Rp 1.750 triliun.Sementara total belanja negara
mencapai Rp 2.080 triliun.Artinya, pemerintah akan mengalami defisit anggaran
Rp 330 triliun, atau 2,41 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)
nasional.Kabar buruknya, defisit anggaran negara akan semakin melebar.Menteri
Keuangan Sri Mulyani mengatakan, defisit anggaran kemungkinan akan mencapai 2,6
persen pada 2017.Perubahan defisit ini akan disampaikan langsung ke DPR di
dalam Rancangan APBN Perubahan 2017.Implikasinya jelas, bila anggaran sudah
defisit, maka jalan satu-satunya untuk membiayai belanja negara adalah dengan
mencari pendanaan lain.Opsi yang kerap diambil pemerintah adalah dengan
berutang. Berdasarkan data akhir Mei 2017, posisi utang pemerintah sudah
mencapai Rp 3.672 triliun.Angka ini melonjak Rp 1.069 triliun dibandingkan
dengan posisi utang pada akhir 2014 lalu.Sederhananya, utang negara terus
menggunung selama pemerintahan Presiden Joko Widodo.Sialnya, sebagian utang itu
akan jatuh tempo dalam periode 2018 sebesar Rp 390 triliun dan 2019 sebesar R0
420 triliun.Jika dijumlah, dalam dua tahun ke depan, pemerintah harus membayar
utang sekitar Rp 810 triliun.(Baca: Utang RI Capai 3.667 Triliun, Rakyat Jangan
Khawatir?)Dilihat dari kondisi ini, pemindahan ibu kota melalui pendanaan APBN
akan berimplikasi kepada utang negara yang semakin menggunung.Sementara itu
kemungkinan pendanaan ibu kota baru melalui investasi swasta terbilang
kecil.Pengamat ekonomi Institute For Economic and Development Finance (Indef)
Bima Yudhistira mengatakan, swasta pasti akan kurang berminat bila ditawari
investasi untuk membangun fasilitas pemerintahan."Imbal hasilnya kecil. Beda
dengan proyek infrastruktur yang komersil," ucap Bima.Apalagi, dana investasi
pemindahan ibu kota Indonesia bisa jadi lebih besar bila dibandingkan dengan
pemindahan ibu kota yang dilakukan Malaysia.Selain karena ketersediaan
infrastuktur dasar, besaran pegawai yang harus pindah juga akan membuat biaya
pembangunan infrastruktur pemerintahan jadi lebih besar.Malaysia sendiri
menelan dana hingga 8,1 miliar dollar AS, atau Rp 107 triliun untuk memindahkan
ibu kotanya dari Kuala Lumpur ke Putrajaya pada 1999 lalu.Melalui berbagai
fakta itu, pemerintah harus sangat cermat memulai langkah memindahan ibu
kota.Jangan sampai, perencanaan pemindahan kota yang terburu-buru justru
menambah defisit APBN.Bila itu terjadi, pemerintah pasti akan menambah utang
untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur ibu kota baru.Pertanyaanya
sederhana, apakah kita ingin melihatnya ibu kota baru dibangun lewat
pondasi-pondasi utang?Sebagian mungkin bisa menerimanya, sebagian lagi mungkin
tidak. Lantas bagaimana dengan Pak Jokowi? #yiv3877130414 --
#yiv3877130414ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px
0;padding:0 10px;}#yiv3877130414 #yiv3877130414ygrp-mkp hr {border:1px solid
#d8d8d8;}#yiv3877130414 #yiv3877130414ygrp-mkp #yiv3877130414hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv3877130414 #yiv3877130414ygrp-mkp #yiv3877130414ads
{margin-bottom:10px;}#yiv3877130414 #yiv3877130414ygrp-mkp .yiv3877130414ad
{padding:0 0;}#yiv3877130414 #yiv3877130414ygrp-mkp .yiv3877130414ad p
{margin:0;}#yiv3877130414 #yiv3877130414ygrp-mkp .yiv3877130414ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv3877130414 #yiv3877130414ygrp-sponsor
#yiv3877130414ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv3877130414
#yiv3877130414ygrp-sponsor #yiv3877130414ygrp-lc #yiv3877130414hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv3877130414
#yiv3877130414ygrp-sponsor #yiv3877130414ygrp-lc .yiv3877130414ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv3877130414 #yiv3877130414actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv3877130414
#yiv3877130414activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv3877130414
#yiv3877130414activity span {font-weight:700;}#yiv3877130414
#yiv3877130414activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv3877130414 #yiv3877130414activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv3877130414 #yiv3877130414activity span
span {color:#ff7900;}#yiv3877130414 #yiv3877130414activity span
.yiv3877130414underline {text-decoration:underline;}#yiv3877130414
.yiv3877130414attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv3877130414 .yiv3877130414attach div a
{text-decoration:none;}#yiv3877130414 .yiv3877130414attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv3877130414 .yiv3877130414attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv3877130414 .yiv3877130414attach label a
{text-decoration:none;}#yiv3877130414 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv3877130414 .yiv3877130414bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv3877130414
.yiv3877130414bold a {text-decoration:none;}#yiv3877130414 dd.yiv3877130414last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv3877130414 dd.yiv3877130414last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv3877130414
dd.yiv3877130414last p span.yiv3877130414yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv3877130414 div.yiv3877130414attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv3877130414 div.yiv3877130414attach-table
{width:400px;}#yiv3877130414 div.yiv3877130414file-title a, #yiv3877130414
div.yiv3877130414file-title a:active, #yiv3877130414
div.yiv3877130414file-title a:hover, #yiv3877130414 div.yiv3877130414file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv3877130414 div.yiv3877130414photo-title a,
#yiv3877130414 div.yiv3877130414photo-title a:active, #yiv3877130414
div.yiv3877130414photo-title a:hover, #yiv3877130414
div.yiv3877130414photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv3877130414
div#yiv3877130414ygrp-mlmsg #yiv3877130414ygrp-msg p a
span.yiv3877130414yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv3877130414
.yiv3877130414green {color:#628c2a;}#yiv3877130414 .yiv3877130414MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv3877130414 o {font-size:0;}#yiv3877130414
#yiv3877130414photos div {float:left;width:72px;}#yiv3877130414
#yiv3877130414photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv3877130414
#yiv3877130414photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv3877130414
#yiv3877130414reco-category {font-size:77%;}#yiv3877130414
#yiv3877130414reco-desc {font-size:77%;}#yiv3877130414 .yiv3877130414replbq
{margin:4px;}#yiv3877130414 #yiv3877130414ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv3877130414 #yiv3877130414ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv3877130414
#yiv3877130414ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv3877130414
#yiv3877130414ygrp-mlmsg select, #yiv3877130414 input, #yiv3877130414 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv3877130414
#yiv3877130414ygrp-mlmsg pre, #yiv3877130414 code {font:115%
monospace;}#yiv3877130414 #yiv3877130414ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv3877130414 #yiv3877130414ygrp-mlmsg #yiv3877130414logo
{padding-bottom:10px;}#yiv3877130414 #yiv3877130414ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv3877130414 #yiv3877130414ygrp-msg
p#yiv3877130414attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv3877130414
#yiv3877130414ygrp-reco #yiv3877130414reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv3877130414 #yiv3877130414ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv3877130414 #yiv3877130414ygrp-sponsor
#yiv3877130414ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv3877130414
#yiv3877130414ygrp-sponsor #yiv3877130414ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv3877130414
#yiv3877130414ygrp-sponsor #yiv3877130414ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv3877130414 #yiv3877130414ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv3877130414 #yiv3877130414ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv3877130414 #yiv3877130414ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv3877130414
#yiv3877130414ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv3877130414