Ora mudeng aku, berdaulatnya dimana?
 ---
 Sabtu 02 Sep 2017, 09:20 WIB
 Jonan: Dapat 51% Saham Freeport, RI Berdaulat! 
https://finance.detik.com/energi/3625252/jonan-dapat-51-saham-freeport-ri-berdaulat
 
 Wahyu Daniel - detikFinance
 

 

 Foto: Herianto Batubara

 

 Jakarta - Pemerintah Indonesia berhasil menyelesaikan negosiasi dengan PT 
Freeport Indonesia. Perusahaan tambang Amerika Serikat (AS) ini akan menjual 
atau melakukan divestasi sahamnya sebesar 51% kepada pihak Indonesia.

Sebelumnya, Freeport hanya mau melepaskan 30% sahamnya saja. Menteri ESDM, 
Ignasius Jonan, atas perintah Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta agar 
kedaulatan negara bisa berdiri tegak, tanpa mengganggu iklim investasi di dalam 
negeri.

Akhirnya setelah negosiasi panjang, pemerintah berhasil membuat Freeport 
bersedia melepas 51% sahamnya. Artinya Indonesia akan menjadi pemegang 
mayoritas saham di pengelolaan tambang emas tembaga milik Freeport Indonesia di 
Papua.


 
 

 Baca juga: Pemerintah Tak Setop Kontrak Freeport di 2021, Ini Penegasan 
Lengkap Jonan 
https://finance.detik.com/read/2017/09/01/150629/3624723/1034/pemerintah-tak-setop-kontrak-freeport-di-2021-ini-penegasan-lengkap-jonan
 
"Arahan Presiden, kedaulatan negara diutamakan, dan bisa tetap menjaga iklim 
investasi yang kondusif," kata Jonan kepada detikFinance, Sabtu (2/9/2017).

Pemerintah berpikir panjang dalam mengambil alih 100% pengelolaan tambang 
Freeport, tanpa bernegosiasi terlebih dahulu karena ini akan menimbulkan citra 
negatif bagi iklim investasi di dalam negeri. Akan banyak investor asing yang 
takut berakhir sama dengan Freeport, ini pasti akan mengganggu perekonomian di 
dalam negeri. 

Karena itu dilakukan negosiasi bisnis yang hasilnya tidak merugikan negara. 
Pemerintah memperpanjang kontrak Freeport di Papua selama 10 tahun hingga 2031 
dan dapat diperpanjang 1 kali lagi sampai 2041 sesuai ketentuan yang berlaku. 


 Baca juga: Freeport Ingin Perpanjangan Hingga 2041, Ini 3 Syarat Jokowi 
https://finance.detik.com/read/2017/08/31/132135/3623466/1034/freeport-ingin-perpanjangan-hingga-2041-ini-3-syarat-jokowi
 
Kontrak Freeport memang akan habis pada 2021. Namun dalam perpanjangan kontrak 
tersebut, Indonesia akan menguasai 51% saham di pengelolaan tambang tersebut. 

"Kita beli 51% itu beli saham manajemen pengelolaannya, bukan deposit 
tambangnya. Deposit tambang Freeport di Papua itu milik negara," tegas Jonan.

Banyak yang berpendapat belakangan ini, kenapa pemerintah tidak menghentikan 
operasi Freeport di 2021 dan mengambil alih 100% tambang tersebut? Jawabannya, 
risikonya terlalu besar, demikian juga uang untuk investasi yang dibutuhkan. 

Tambang sebesar Grasberg di Papua yang dikelola Freeport tidak boleh dibiarkan 
menganggur lama. Dampak ekonomi tambang ini bagi rakyat Papua sudah terlalu 
besar.


 Baca juga: Jonan: Freeport Harus Jual 51% Saham ke Pemerintah Sebelum 2021 
https://finance.detik.com/read/2017/08/31/132917/3623375/1034/jonan-freeport-harus-jual-51-saham-ke-pemerintah-sebelum-2021
 
Dengan menguasai 51% saham, pihak Indonesia sudah menjadi pemegang saham 
mayoritas, dan bisa mulai belajar banyak mengelola tambang sebesar itu. Belum 
pernah ada perusahaan Indonesia yang mengelola tambang sebesar Grasberg, yang 
tingkat kompleksitasnya sangat tinggi. 

Alasan perpanjangan

Saat ini Freeport mengembangkan tambang bawah tanah di Grasberg dengan membuat 
jalan hingga ratusan kilometer. Butuh teknologi dan pengalaman tinggi untuk 
melakukannya.

"Kalau diakhiri 2021 dan misalkan sekarang diserahkan ke Antam, maka Antam maka 
harus menyiapkan smelter mulai sekarang juga. Ini kewajiban Undang-Undang, baik 
perusahan tambang asing maupun lokal, harus bisa membangun smelter. Biaya 
pembangunan smelter untuk tambang sebesar Grasberg milik Freeport besar. 
Membangun smelter untuk kapastias Freeport sebesar 3 juta ton per tahun, itu 
butuh Rp 40 triliun," Jonan menjelaskan.

Memang saat ini 90% pekerja di Freeport adalah warga negara Indonesia. Tapi 
belum ada perusahaan tambang di Indonesia yang menguasai teknologi pertambangan 
sebesar Freeport. Bila pemerintah tidak memperpanjang kontrak Freeport, maka 
semua teknologi dan peralatan akan dibawa pulang atau dijual oleh Freeport. 

Ini membutuhkan dana yang sangat besar untuk membelinya. Sementara tambang 
bawah tanah yang dibangun Freeport di Grasberg tidak boleh didiamkan terlalu 
lama dan pengambilalihan yang akan memakan biaya menjadi 100% atas seluruh 
investasi peralatan, teknologi, manajemen serta biaya modal yang sudah 
dikeluarkan Freeport. 


 Baca juga: Blak-Blakan Jonan Soal Deal Freeport 
https://finance.detik.com/readfoto/2017/08/31/122849/3623185/461/1/blak-blakan-jonan-soal-deal-freeport
 
Bila pemerintah tidak mau membayar ganti rugi atas investasi Freeport dengan 
alasan nasionalisasi, itu akan menjadi skandal besar dan dampaknya akan sangat 
luas bagi ekonomi, sosial, dan politik di dalam negeri dan hubungan ekonomi 
global. 

Nah, jauh lebih baik menguasai 51% sebelum 2021 yang nilainya masih jauh lebih 
terjangkau dibandingkan mengambil alih 100% di 2021 dengan risiko transisi dan 
alih teknologi yang belum tentu berjalan lancar. 

Presiden juga sangat menjunjung tinggi kesempatan dan kemampuan saudara-saudara 
sebangsa dan setanah air, makanya proses transisi manajemen dan pengelolaan 
dapat dilakukan bertahap setelah kita menguasai mayoritas sahamnya.


 Baca juga: Foto: Sah! Akhirnya RI Bakal Miliki 51% Saham Freeport 
https://finance.detik.com/readfoto/2017/08/29/122118/3619666/461/1/foto-sah-akhirnya-ri-bakal-miliki-51-saham-freeport
 
Sejauh ini, tambang besar yang 100% diambil alih oleh pihak Indonesia adalah 
tambang Newmont, yang sekarang dikuasai oleh grup Medco. Namun, tambang Newmont 
ini tidak sebesar Freeport.

Satu catatan penting, apabila Freeport menolak membangun smelter atau menolak 
menjual 51% sahamnya atau menolak membayar penerimaan negara yang lebih besar, 
maka tidak ada jalan lain, yaitu tidak memperpanjang konsesi setelah 2021 dan 
kita harus siap mengelola sendiri dan membayar seluruh investasi yang telah 
dikeluarkan oleh Freeport selama ini (wdl/hns)

 

Kirim email ke