Iya saya ingat dengan tempat sapi dibaturaden itu kepunyaan ditjen peternakan.

Gede dan agak diatas tempatnya.

Saya sering jalan2 disitu tapi gak pernah masuk. Pernah diajak juga tapi ya gak 
ada kepentingan utk masuk. Katanya disitu banyak yg dilakukan dari training 
sampai jualan sapi juga.

Belum lama ini saya juga kesana tapi hanya lewat saja. Dari luar sepi tapi 
katanya didalam banyak kegiatan. Kesannya orang2 sana dan purwokerto suka dgn 
tempat ternak itu. Jadi tidak dianggap enteng.

 

Peternakan kita ini sangat kurang digarap. Orang2 yg lulusan peternakan 
terutama dari ipb dan brawijaya banyak yg kerja dibidang lain. Mereka kesannya 
maunya kerja dikantor duduk dibelakang meja. Ya jadinya urusan perut cari duit. 
Dilapangan kurang menjanjikan. Ini masalah utamanya. Yg sekolah diluar juga 
jarang apalagi yg S1/undergraduate. Dulu ada lulusan ugm asal solo belajar dan 
dapet phd di Madison, wisconsin lalu pulang kerja di comfeed ya lumayan. 
Mungkin dia adalah salah satu (kalau bukan satu2nya) yg duitnya agak bagus. 
Sekarang baru pensiun. Yg lain yg saya tahu kerjaan di perusahaan makanan 
ternak gak ada yg cukup duitnya. Perusahaan2 yg kecil banyak yg mati. Yg gede 
seperti charoen pokphan comfeed baru bisa hidup. Cargill yg pusatnya di usa 
saja diindonesia tidak terlalu berkembang. 

 

Saya pikir krn animal feed companies nya tidak begitu menjanjikan ya karena 
memang para peternaknya tidak mumpuni. Orang beli ternak lebih banyak buat 
kurban bukan buat dimakan. Jadi jualan ternak biasanya dibulan2 ramadhan lebih 
laku. Kalau unggas itu naik turun harganya. Makanya ketika pakan ternak naik, 
matilah para peternak.

 

Perusahaan animal feed juga lucunya masih import jagung dan fish meal. Kalau 
meat bone meal ya masuk akal import, tapi kalau jagung dan fish meal itu kan 
diindonesia banyak. Hanya memang orang2 kita ini kurang ngerti nanam jagung. 
Kadar airnya ketinggian shg kwalitas menurun. Kalau fish meal itu lebih ke 
masalah bisnis. Susah memang kita ini banyak ikan dibuang2 tapi gak bisa 
diproses bikin fish meal dan dijual. Paling2 di banyuwangi yg masih mendingan. 
Dari dulu sampai sekarang masih begini saja keadaannya.

 

Pemerintah sudah saatnya turun tangan. Banyak sekali yg gak beres ttg perikanan 
dan peternakan kita itu. Harus dikerjakan. Sedikit demi sedikit. Infrastruktur 
itu penting sekali dan harus dibangun utk jangka panjang. Repotnya gak ada duit 
mau bikin infrastruktur ya harus pinter2 main mata. Bagi yg hanya melihat short 
term ya memang gak akan bisa lihat hasilnya dalam waktu singkat. Tetapi 
potensinya infrastruktur ini akan diharuskan utk perkembangan jangkat panjang.

 

Sudah saatnya RI mikirin dasar2 seperti pembangunan infrastruktur ini.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, November 6, 2017 1:52 PM
To: Gelora45 <[email protected]>; [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Menkes Tak Setuju Gagasan Revolusi Putih dari Prabowo

 

  

Septic tank di New Zealand itu untuk memfermentatie buangan kotoran sapi dan 
air kencing yang disemprot dari kandang, untuk membuat gas methaan untuk 
dibakar, guna membuat air panas guna membersihkan pipa2 dari mesin perah hingga 
ke tempat pengumpulan dan penyaringan susu dan untuk memanasi kandang.

Seandainya toch ada susu yang tak dapat dijual keluar, diminumkan ke anak2 sapi 
dan anak2 babi. Banyak perusahaan susu

tidak memberikan susu sapi induknya pada anaknya, tetapi anak sapi diberi milk 
replacer yang lebih murah, sedangkan susu induknya dijual seluruhnya. 
Seandainya toch masih berlebih, ya terpaksa direcycle, buang di septic tank. 
Ini cara paling jelek,

Di Indonesia di tahun 50 an di kota kecil, banyak rumah masih punya septic 
tank. Tidak tahu sekarang.

Produksi susu dengan sapi yang ada tidak stabil. Kalau baru beranak, hasilnya 
tinggi. Setelah itu menurun, sehingga setelah setahun

tidak rendable produksinya. Jadi sebelum itu terjadi, sapinya dikawinkan dulu. 
Probleemnya belum tentu sekal hingga tiga kali dikawinkan lalu bisa beranak. Di 
Jawa, kalau lama tidak beranak, dititipkan di desa, yang bisa dipelihara dengan 
ongkos murah, dan sapinya biasanya jadi kurusan, malah mudah jadi mengandung. 
Perusahaan susu lalu beli sapi dari peternak di desa, seperti dari daerah2 yang 
terkenal orang desanya beternak sapi seperti di Boyolali, Baturaden.

Orang desa beternak sapi dan pelihara sapi atau pedet titipan dari perusahaan 
selain dapat uang pengganti ongkos pemeliharaan, buat mereka terutama dapat 
kotoran sapinya, guna memupuk tanaman tembakau.

Ada kerjasama antar perusahaan. yang produksinya berlebih jual kelebihannya 
pada perusahaan susu yang sedang kekurangan susu,

dan sedang menunggu sapi di desanya melahirkan. Jualnya dengan harga murahan. 
Tetapi bisa juga langganan2 lama diberi extra susu atau diberikan gratis pada 
perusahaan ice-cream. Ya, yang punya perusahaan ice-cream kirim balasan 1 
thermos besar ice-cream.

Perusahaan yang kekurangan susu, lalu pedet2nya diberi minum milk replacer 
buatan DMV Belanda yang diimport oleh satu pemilik perusahaan susu di Jakarta 
dulu. jadi susu induknya bisa dijual ke langganan.

Kalau di Belanda pakai sistim Quota. Yang tidak memenuhi quota didenda. Kalau 
susu berlebih, dibeli yang lebih dengan harga rendahan oleh koperasi

 

2017-11-06 13:56 GMT+01:00 [email protected] <mailto:[email protected]>  
[GELORA45] <[email protected] <mailto:[email protected]> >:

  

Septic tank itu walaupun tidak mahal tapi costly.

Biasanya di usa dipakai buat buang hajat/tai manusia kalau tidak ada system 
sewage seperti didalam kota.

Bagi petani susu, septic tank itu tidak terlalu penting utk membuang kelebihan 
susu.

Masalah kelebihan susu ini lebih incidental bukan terus2an.

Petani2 susu itu tergabung dalam asosiasi susu. Mereka tahu demand dan supply.

Jadi bisa planning. Juga kelebihan susu bisa dibuat keju. Walaupun tidak semua 
petani susu yg produksi susu memproduksi keju, mereka bisa jualan susunya 
keprodusen keju juga.

 

Masalah yg dihadapi kelebihan susu itu lebih dikarenakan adanya ketimbangan 
dari sisi demand….bukan supply. Susu sih dari sapi kapasitas produksinya tetap. 
Wong jumlah sapinya relative sama jadi ya produksi susunya juga relative sama. 
Demand yg menjadi masalah. Ketika ada masalah dgn demand ya jadilah milk glut 
ini.

 

Seharusnya yg feasible dilakukan petani susu ini adalah memberikan susunya ke 
WIC/women infant children program dimana susu dan keju ini bisa disalurkan ke 
yg miskin. Tetapi kendalanya setiap state itu berbeda aturannya. Juga 
ngurusinnya/labor nya juga jadi pertimbangan krn masalah milk glut ini 
incidental. Mestinya ada acara utk ngurusin ini antara asosiasi susu dan 
pemerintah local setempat. Kalau federal sih kejauhan.

 

Diindonesia yg menjadi masalah adalah sapinya. Makanya RI import susu dari 
Australia selandia baru dll dalam bentuk powder lalu disuling oleh perusahaan2 
seperti ultra dll dalam bentuk botol/box karton. Perusahaan2 ini sangat rentan 
dengan harga import powder susu.

 

Yg harus diurus adalah sapi susu diindonesia

 

Ada perusahaan swasta disalah satu provinsi muda diindonesia beli/import sapi 
perah. Ya bingung sipengusahanya. Dia punya tanah yg luas sekali. Sebagian sdh 
dibuat real estate kerja sama dgn ciputra. Tetapi saking gede tanahnya, dia 
bikin taman saja kaya’ botanical garden nanam2 sayuran. Dia beli sapi itu 
sebetulnya juga bingung mau diapain sapinya. Sapi yg dibeli sedikit…tanggung 
buat produksi susu secara komersial. Saya pikir dia nanam sayur2an, beli sapi 
susu ini hanya buat dapet duit dari WWF saja dan memang dia dapet duitnya.

 

Kalau gak tahu mengelola suatu hal krn gak ada know how/knowledge ya memang 
susah. Ini pihak swastanya. Pihak pemerintahnya lebih parah lagi. Ya kembali 
memang SDM itu penting. Sudah saatnya RI menata bidang2 yg bisa, setengah bisa, 
tidak bisa dikelola. Dengan SDA yg begitu besar sudah saatnya RI kerja utk 
memanfaatkannya demi kemakmuran.

 

Bagi yg hanya bermain dibidang social politik tidak akan mampu melihat masalah 
praktisi seperti ini. pemerintah bisa saja mendatangkan sapi perah sebanyak2nya 
misalnya. Tetapi terus itu apa? RI itu terkenal bisa membangun tetapi 
menjalankan dan memelihara adalah urusan lain. RI itu lebih banyak problem 
dilevel aplikasi bukan dilevel pemikiran/analisa.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected] <mailto:[email protected]> ] 
Sent: Saturday, November 4, 2017 11:21 AM
To: Gelora45 <[email protected] <mailto:[email protected]> >; 
[email protected] <mailto:[email protected]> 
Subject: Re: [GELORA45] Menkes Tak Setuju Gagasan Revolusi Putih dari Prabowo

 

  

Yang saya tahu, di New Zealand hampir sama seperti yang bung uraikan.

Di sana kotoran sapi disemprot dengan air, jatuh ke bawah kandang, yang 
lantainya

dari kayu bersekat-sekat, lalu mengalir lebih jauh ke septic tank besar.

Di septic tank itu kotoran dan kencing terfermentasi jadi gas methan untuk 
penerangan,

untuk bikin air panas, untuk menghangatkan kandang. Cairan overflownya mengalir

ke lagoon besar, yang bawahnya beralaskan plastik tebal. Di lagoon ini 
dipelihara ikan.

Ikan2nya dijala, untuk dicacah, jadi makanan babi. Cairan lagoon ini mengandung 
banyak

persenyawaan nitrat, dipakai sebagai pupuk, disemprotkan di ladang tanaman 
ternak.

Hasil milk farmer ini susu, babi.

Jadi ya benar, kalau ada kelebihan susu anak2 sapi yang agak besar, yang 
biasanya 

tidak minum susu lagi, bisa diberi minum susu, atau kelebihan susu dibuang ke 
septic tank

untuk direcycle, atau diminumkan ke babi2.

 

2017-11-04 14:11 GMT+01:00 [email protected] <mailto:[email protected]>  
[GELORA45] <[email protected] <mailto:[email protected]> >:

  

Milk glut/kelebihan susu itu relative sedikit/masih bisa ditanggulangi dari 
segi jumlahnya krn petani nya home industry.

Mereka bergabung dalam koperasi. Total total digabungkan jadi banyak tapi bukan 
ini (ini imaginasinya siotak udang).

Petani buang susunya di tanahnya sendiri. Mereka ada lagoon/lobang besar memang 
dibikin buat pupuk alamiah/organic fertilizer.

Kalau petani ini ngerti bikin formulasi buat makanan ternak, ya mereka bikin 
sendiri makanan ternaknya. Kalau tidak mereka bisa kasih ke petani lain yg 
bikin makanan ternak. Susu itu kandungan nutrisinya sudah bagus sekali jadi 
bagus buat bikin makanan ternak akan sangat mengurangi penggunaan meat bone 
meal,  jagung dan fish meal misalnya yg susah diperoleh didaerah2 daratan 
seperti Wisconsin.

 

Jangan ditanya si otak udang itu!

Bung sudah tahu dia itu gak ngerti, asal jiplak dan tujuannya hanya mau pamer 
dia paling humanis dan yg paling penting dia pamer kesombongannya!

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected] <mailto:[email protected]> ] 
Sent: Friday, November 3, 2017 3:16 PM
To: Gelora45 <[email protected] <mailto:[email protected]> >
Subject: Re: [GELORA45] Menkes Tak Setuju Gagasan Revolusi Putih dari Prabowo

 

  

 

Apa sudah terjadi betul ikan2 mati ? Kalau ini terjadi pasti buang susu ke laut 
dilarang, didenda mahal.

Dan pencinta ecologi pasti sudah demonstrasi besar2an. Apa ini sudah terjadi ?

Kalau jumlah susu yang dibuang dalam ppm dibandingkan jumlah air laut kecil 
sekali, effect terhadap 

BOD dan CODnya praktis nihil.

Kalau jumlah ppm nya besar sekali, baru dari perubahan kwantiteit, bisa terjadi 
perubahan kwaliteit,

misalnya BOD dan CODnya tinggi sekali, atau tanaman liar dapat tumbuh sehingga 
di tempat tersebut

kekurangan oksigen untuk ikan dapat hidup.

Tidak tahu apa Trump berhasil dengan ancaman sangsi2 bisa menundukkan Canada 
harus tetap ambil 

filtered milk dari Amerika, seperti jaman dulu Amerika bisa paksa Canada 
melarang Bombardier 

mengembangkan pesawat tempurnya yang lebih canggih dari Amerika.

Ada yang membuat perhitungan, kalau tiap perusahaan mengurangi satu sapi 
perahnya saja, masalah

harus buang susu ini teratasi. Tiap perusahaan diharuskan jual sapi perahnya ke 
state lain ?

Apa bisa diharuskan, atau apa perusahaan2 itu mau kerjasama mengurangi satu 
sapi perahnya?

 

 

 

2017-11-03 19:52 GMT+01:00 Jonathan Goeij [email protected] 
<mailto:[email protected]>  [GELORA45] <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >:

  

Buang susu sembarangan begitu saja tentu menyemarkan lingkungan, ikan2 bisa 
mati gara2 susu. Yg jelas ada biaya utk membuang susu, pada pembicaraan kita 
kasus yg anda utarakan yg tinggal dilihat berapa banyak biaya pembuangan 
dibanding biaya packaging. 

 

Link ini dari Indiana Government petunjuk utk membuang susu:

http://www.in.gov/idem/files/factsheet_cfo_dairy_disposal.pdf

 

 

 

---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <djiekh@.. 
<mailto:djiekh@...> > wrote :

Apa sampai sekarang sudah dianggap mencemari lingkungan, atau dianggap masih 
baik untuk pakan ikan ?

Kalau dibuangnya di selokan yang tidak mengalir, ya mengganggu lingkungan COD 
dan BOD akan naik.

Kalau dianggap mencemari lingkungan, mestinya dilarang dan kena denda besar dan 
harus membersihkan

lingkungan.

Kalau dikenai denda besar, baru mereka mikir cara lain.

 

 

2017-11-03 18:23 GMT+01:00 Jonathan Goeij  <mailto:jonathangoeij@...> 
jonathangoeij@... [GELORA45] < <mailto:[email protected]> 
[email protected]>:

Yg dibicarakan adalah kelebihan produksi, bagaimana cara "membuang," dalam 
membuang susu-pun dibutuhkan biaya yg harus dikeluarkan tidak bisa begitu saja 
dibuang kelaut yg akan diprotes para pencinta lingkungan. Berapa lebih besar 
antara biaya packaging dan biaya limbah.

 

Apakah hal seperti ini akan sampai ke Trump (atau Jokowi)? tetapi kalau sampai 
politik memang akan sukar bilangnya yg satu policy anti Islam sedang yg satunya 
policy nasionalis. Dus yg jadi korban 1/3 anak Indonesia yang kekurangan gizi 
yg artinya 1/3 generasi yad terancam kontet dan bodoh.

 

 

---In  <mailto:[email protected]> [email protected], <djiekh@... 
<mailto:djiekh@...> > wrote :

Bung Goei,

Milk farmer yang membuang susunya itu "kehilangan keuntungan"yang biasanya 
didapat.

Kalau mau kirim gratis ke Indonesia misalnya, harus keluar ongkos lagi untuk 
membuatnya

jadi milk powder, packaging dan transporting, dan segala macam kerepotan yang 
mereka

tidak biasa urus. Mana mereka mau "sudah kehilangan keuntungan"masih harus 
merugi

lagi menjadikannya susu bubuk dll.Dan kalau ada niatpun, apa ada kemampuannya 
dari

segi financieel.

Yang mungkin bisa itu kalau pemerintah Amerika yang oper suruh pabrik spray 
drying bikin

susu kering dan bayar segala ongkosnya, lalu untuk bantuan korban perang ? 
Tetapi apa

mungkin Donald Trump mau melakukannya ?

Boleh coba diusulan lewat mass media Amerika.

KH

 

2017-11-03 17:34 GMT+01:00 Jonathan Goeij  <mailto:jonathangoeij@..> 
jonathangoeij@.. [ GELORA45] < <mailto:[email protected]> GELORA45@ 
yahoogroups.com>:

Ini agak lumayan sedikit menyoroti biaya transportasi

 

Sampai saat ini sekitar 80% susu yang beredar di Indonesia hasil impor, dan US 
adalah pemasok terbesar bersama dgn pemasok2 lain seperti Australia, Canada, 
Selandia Baru, dan Belgia

 

Dari sudut ini saja terlihat biaya pengiriman tidak melebihi harga susu.

 

 

---In  <mailto:[email protected]> [email protected] , <nesare1@.. 
<mailto:nesare1@..> > wrote :

Koq ane plagiat?

Yg goblok itu kan ente?!

Ane kasih tahu kan kenapa ente goblok: “susu USA mau dikirim ke RI yg biaya 
kirimnya saja sudah melebihi harga susu di RI”.

 

Apa argumennya ente bilang ane otak udang?!

Gak ada kan?!

 

Hahahehe tapi menunjukkan kegoblokannya!

 

Lari sana yang kencang!

 

Nesare

 

From:  <mailto:[email protected]> GELORA45@yahoogroupscom  [mailto: 
<mailto:[email protected]> GELORA45@yahoogroups. com] 
Sent: Thursday, November 2, 2017 6:53 PM
To: Yahoogroups < <mailto:[email protected]> [email protected]>
Subject: RE: [GELORA45] Menkes Tak Setuju Gagasan Revolusi Putih dari Prabowo

 

 

Ha ha ha ha, mau name calling-pun juga main jiplak itupun salah tulis.

Ini namanya plagiat otak udang

 

 

Otak udang:

Mau gaya2 tapi otaknya otaku dang!!!!

 

 

---In  <mailto:[email protected]> [email protected]  , < 
<mailto:nesare1@...> nesare1@...> wrote :

Ane ngomong: ente goblok karena suruh petani susu atau USA utk kirim susu ke 
Indonesia!

Ente kan mau petentang petenteng berlagak sebagai humanis!

 

Wong ke kanada dan meksiko saja gak feasible, eh mau dikirim ke RI?!!

Minta ampun gobloknya!

 

Wong ane pancing pake’ bunuh sapinya supaya tidak ngeluarin susu, eh lagak 
humanisnya langsung bilang: ini solusinya nesare?!!

 

Gak usah belagak humanis kalo memang goblok. Urus dulu itu gobloknya. Jangan 
oon oon orang lain kalau diri sendiri saja goblok!!!

 

Sudah gak ngerti masalah susu di negara sendiri, sok humanis ambil kesimpulan: 
kirim susu USA ke RI supaya CSR/corporate social responsibility naik. Sedangkan 
petani susu itu adalah kebanyakan home industry yg tergabung dalam asosiasi.

Petaninya sudah setengah mati utk mempertahankan harga makanya susunya terpaksa 
dibuang. Eh disuruh susu kasih gratis??!!!!
goblok enggak?!!

 

Tuh makan CSR!!!!

Mau gaya2 tapi otaknya otaku dang!!!!

 

Nesare

 

 

From:  <mailto:[email protected]> [email protected]   [ 
<mailto:[email protected]> mailto:GELORA45@ yahoogroups. com] 
Sent: Tuesday, October 31, 2017 2:41 PM
To: Yahoogroups < <mailto:gelora45@yahoogroupscom> [email protected]>
Subject: RE: [GELORA45] Menkes Tak Setuju Gagasan Revolusi Putih dari Prabowo

 

 

Panjengengan iku ngomong opo sih?

MUI juga mau dilibatkan? Suruh minta sertifikasi halal dulu?

 

 

---In  <mailto:[email protected]> [email protected]  , < 
<mailto:nesare1@..> nesare1@...> wrote :

Lihat solusi kirim susu USA ke Indonesianya ya:

1      Produsen usa lebih untung krn naikin social responsibility. Gimana 
dongengnya farmers susu yg kebanyakan adalah home industry di usa bisa untung? 
Asosiasi farmers nya disuruh ngirimin susu gratis? Siapa yang bayar ongkos 
angkutnya? Gimana bea cukainya? Gimana masalah bakteri, kesehatan dll? Kenapa 
produsen usa terutama wisconsin yang ada trade dispute menghambat export susu 
nya ke kanada, tidak mau kasih gratis susu kekanada yg lebih murah tentunya 
ongkos angkutnya drpd ke indonesia? Koq home industry yg adalah petani kecil yg 
sdh setengah mati pusing tujuh keliling perusahaannya mau bangkrut disuruh 
kasih gratis ke RI? Sedangkan tujuan mereka adalah menstabisasikan harga 
makanya dibuang, koq disuruh kasih gratis supaya naikin corporate 
responsibility. Ujung2nya ane mau bilang: tuh makan corporate social 
responsibility!!! Gobloknya minta ampun ngasih saran begini!!! Orang sudah 
susah ngurusin perusahaan, eh disuruh ngasih gratis keorang lain ditambah harus 
bayar ongkos dan ngurus dokumen yg gak keruan2 banyaknya serta bersinggungan 
dgn antar negara yg syarat dgn politis. Ente ini mimpi atau hidup diawan2 sama 
dewa dewi?

2.      Pihak Indonesia untung krn dapet susu gratis. Emangnya RI mau menerima 
susu gratis? Apa alasannya RI mau terima susu gratis? Gimana cara kirimnya dari 
usa ke RI? Gimana masalah bakteri dan kesehatan susu ini dalam perjalanan ke 
RI? Apakah ada masalah halal? Apakah ada trade aggrement antara RI dan USA ttg 
susu gratis ini? Apakah begitu baiknya USA sehingga bela2in kirim susu gratis 
ke Indonesia tanpa minta timbal balik? Ujung2nya ane mau bilang: ente banyak 
mimpinya dan pengin menyanjung2 negara ente shg pake’ acara gratis2an kasih 
susu ke Indonesia. Dasar imperialism yg selalu mau kelihatan bagus ttp pasti 
ada udang dibalik batu. Begitu juga ngasih susu gratis pasti mau ngerampok kayu 
atau uranium Indonesia kan?!!

 

Nulisnya hebat2 bagus2 biar kita2 orang Indonesia dikira goblok gak bisa lihat 
emangnya bisa kirim susu gratis keindonesia dan nolongin petani susu di USA?!!!

 

Kalau bukan goblok ini apa namanya?

 

Nesare

 

 

 

 

 

 

 



Kirim email ke