Bg Lin kayaknya kan lebih fasih bhs Inggris ketimbang bhs Indonesia.
Karena itu baiknya kita tutup saja banyolan yang tidak lucu ini dng
mempelajari pernyataan pihak Korea Utara yg berbahasa Inggris sbb.:



Subject: [GELORA45] Pernyataan press Wakil Menteri Pertama Luar Negeri
DPRK, Kim Kye Gwan. 
Date: Thu, 17 May 2018 13:01:37 +0000 (UTC)
Reply-To: [email protected],Tatiana
Lukman<[email protected]> 
Sender: [email protected] 
X-Mailer: WebService/1.1.11871 YahooMailNeo Mozilla/5.0 (Windows NT
6.0) AppleWebKit/537.36 (KHTML, like Gecko) Chrome/49.0.2623.112
Safari/537.36



Press Statement by Kim Kye Gwan First Vice-Minister of Foreign Affairs
of DPRK Pyongyang, May 16 (KCNA) -- 

Kim Kye Gwan, first vice-minister of Foreign Affairs of the DPRK, made
public thefollowing press statement on Wednesday: Kim Jong Un, chairman
of theState Affairs Commission of the Democratic People's Republic of
Korea, made astrategic decision to put an end to the unpleasant history
of the DPRK-U.S.relations and met Pompeo, U.S. secretary of state, for
two times during hisvisit to our country and took very important and
broad-minded steps for peaceand stability in the Korean peninsula and
the world.

In response to the nobleintention of Chairman Kim Jong Un, President
Trump stated his position forterminating the historically deep-rooted
hostility and improving the relationsbetween the DPRK and the U.S.

I appreciated the positionpositively with an expectation that upcoming
DPRK-U.S. summit would be a bigstep forward for catalyzing détente on
the Korean peninsula and building agreat future.

But now prior to the DPRK-U.S.summit, unbridled remarks provoking the
other side of dialogue are recklesslymade in the U.S. and I am totally
disappointed as these constitute extremelyunjust behavior.
 
High-ranking officials of the White House and the Department of
Stateincluding Bolton, White House national security adviser, are
letting loose theassertions of so-called Libya mode of nuclear
abandonment, "complete,verifiable and irreversible denuclearization",
"total decommissioningof nuclear weapons, missiles, biochemical
weapons". etc, while talkingabout formula of "abandoning nuclear
weapons first, compensatingafterwards".
 
This is not an expression ofintention to address the issue through
dialogue.. It is essentially a manifestation of awfully sinistermove to
impose on our dignified state the destiny of Libya or Iraq which
hadbeen collapsed due to yielding the whole of their countries to big
powers.
 
I cannot suppress indignation atsuch moves of the U.S., and harbor
doubt about the U.S. sincerity for improvedDPRK-U.S. relations through
sound dialogue and negotiations.
 
World knows too well that our country is neither Libya nor Iraq
whichhave met miserable fate.

It is absolutely absurd to darecompare the DPRK, a nuclear weapon
state, to Libya which had been at theinitial stage of nuclear
development.
 
We shed light on the quality of Bolton already in the past, and we
donot hide our feeling of repugnance towards him.

If the Trump administrationfails to recall the lessons learned from the
past when the DPRK-U.S. talks hadto undergo twists and setbacks owing
to the likes of Bolton and turns its earto the advice of
quasi-"patriots" who insist on Libya mode and thelike, prospects of
upcoming DPRK-U.S. summit and overall DPRK-U.S. relationswill be
crystal clear.

We have already stated our intention for denuclearization of the
Koreanpeninsula and made clear on several occasions that precondition
fordenuclearization is to put an end to anti-DPRK hostile policy and
nuclearthreats and blackmail of the United States.
 
But now, the U.S. ismiscalculating the magnanimity and broad-minded
initiatives of the DPRK assigns of weakness and trying to embellish and
advertise as if these are theproduct of its sanctions and pressure.
 
The U.S. is trumpeting as if it would offer economic compensation
andbenefit in case we abandon nuke. 
 
But we have never had any expectation of U.S. support in carrying
outour economic construction and will not at all make such a deal in
future,either.
 
It is a ridiculous comedy to seethat the Trump administration, claiming
to take a different road from theprevious administrations, still clings
to the outdated policy on the DPRK - apolicy pursued by previous
administrations at the time when the DPRK was at thestage of nuclear
development.
 
If President Trump follows inthe footsteps of his predecessors, he will
be recorded as more tragic andunsuccessful president than his
predecessors, far from his initial ambition tomake unprecedented
success.
 
If the Trump administration takes an approach to the DPRK-U.S.
summitwith sincerity for improved DPRK-U.S. relations, it will receive
a deservedresponse from us. However, if the U.S. is trying to drive us
into a corner toforce our unilateral nuclear abandonment, we will no
longer be interested insuch dialogue and cannot but reconsider our
proceeding to the DPRK-U.S. summit..-


Nah kalau disingkat kan spt dalam teks singkatah berbahasa Indonesia
yang dikirimkan oleh Tatiana yang lalu tokh:

Pernyataan press Wakil Menteri Pertama Luar Negeri DPRK, Kim Kye Gwan.
Korut bukan Irak dan juga bukan Libia!!! Perdamaian tidak dicapai
dengan mengorbankan kedaulatan nasional dan martabat bangsa, alias
mencium pantat imperialis!! Iming-iming "bantuan" ekonomi tak akan bisa
menyuap Korut untuk meninggalkan senjata nuklirnya!!! Semenanjung Korea
baru akan sungguh-sungguh menjadi zone bebas nuklir kalau AS berhenti
dengan semua ancaman dan latihan militernya.

Jadi apa yang disebut "belajar-belajar dari Tiongkok" itu jiwanya tidak
ada dlm statemennya dari Korea-Utara itu spt tafsiran pihak Kemlu
Tiongkok itu. Ini termasuk kategori masalah kerjasama sama derajat antar
negara tetangga yang bersahabat.

Btw: siapa sih yang nggak tahu kalau kalangan anak-anak keluarga Kim Il
Sung pernah studi di Swiss? Justru karena itu mereka sangat memahami apa
artinya masalah terutama untuk mempertahankan arti kedaulatan nasional
dan martabat bangsa. Swiss kan mampu mempertahankan sikap netral dlm
PD-II. yang hakekatnya kan kontradiksi antagonisme antar negeri-negeri
imperialisme itu.







Am Fri, 18 May 2018 07:22:40 +0530
schrieb "Hsin Hui Lin [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]>:

> Bg. Lusi,
> Benar kata anda, kok Korut mau belajar ML asli tulen ke Beijing, kan
> nyasar dari MLism dan disana  akan hanya dijejal dgn  Han-besar-isme
> nya Xi - is me. , Korut kan baiknya belajar dari pengalaman
> prrkembangan  Aachen yg nya ta BUKAN  dari hasil kapitalisme.  Dan
> pula  buku2 ajaran Marxist yg asli, tak terpelintirkan, kan dalam
> bentuk  tercetak black n white , ada disana..... diperpustakaan
> negara...untuk dipelajari! ......  bukan sebagai bantal  dan guling
> loo. Benar2 pimpinan Korut tersesatkan oleh pengalaman TK yg
> menyesatkan tuuu dan penuh dg Han-besar-isme, buktinyai theori Xi:
> "society of shared future"!!!! Omong kosong nya Xi  !!.
> 
> Memang Rakyat kan bisa bertahan ratusan tahun dg perut kosong asalkan
> penuh dgn ML-ism.... Buktinya? .... Loo pergi ajaa ke Aachen,
> pendeknya Jermanlah dan carilah the right contact, benar2 seorang
> MLnist.... Ingat, sejuta kali, jangan nyasar ke Beijing.
> Opo tumon ...loo  kan ono bukti nyata, ngak ngowos2an!
> Wis,   wong2 Korut tuu benar goblok, kalau mereka punya hotline dg.the
> "right" person di Aachen,  mereka ndak sampai  nyasar ke Beijing.
> KimJung Un kan juga tak belajar di Beijing tapi di Swiss.
> Kok goblok men.... Ora tumon looo.
> 
> 
> On 18 May 2018 2:48 a.m., "'Lusi D.' [email protected] [GELORA45]" <
> [email protected]> wrote:  
> 
> >
> >
> > Itu memang betul kalau bung Lin "hanya ber-gurau dengan bg Lusi..."
> > Nah seandainya tidak bergurau kan jalannya cerita bisa spt di
> > bawah ini. hehehe.
> >
> > Soalnya saya kan menanggapi berita yang diucapkan oleh wakil
> > jubirnya Kemlu Tiongkok, (bukan pihak Korea-Utara lho) yang berbau
> > apa yang disebut sebagai sindrom Han-besarisme thd Korea Utara.
> > (baca: Beijing (ANTARA News) – Delegasi Korea Utara telah
> > mengunjungi Beijing untuk belajar tentang pengalaman China dalam
> > reformasi ekonomi <Lusi: maksudnya merevisionisasi kediktaturan
> > proletariat menjadi sitim kediktaturan turbo-kapitalisme?> dan
> > pembukaan diri <Lusi: sepenuhnya meleburkan sistim ekonomi politik
> > Korea Utara ke dalam sistim kapitalisme-global?>, ungkap
> > Kementerian Luar Negeri pada Selasa (15/05), sebuah langkah
> > diplomatik terbaru oleh rezim Korea Utara.)
> >
> > Sayapun juga heran kok bung Lin yang merasa berkompeten untuk
> > menjawab keheranan saya itu (baca Lusi: Kalau begitu, Xi Jinping
> > berambisi ingin jadi gurunya Kim Jong Un? Opo tumon.)
> > Emangnya, apa bung Lin ini masih perlu cari tambahan yuen di Kemlu
> > Tiongkok sana, wong pensiunnya kan di banknya kan sudah mbludak
> > begitu. Sampai-sampai ikut-ikut kejangkitan sindrom Han-besarisme
> > dan berani-beraninya memberi petunjuk ke delegasi Korea-Utara untuk
> > pergi ketempat saya segala.
> > Waduh huebat sekali saya ini. Opo tumon toh lé...lé.
> >
> > Nah kalau pendapat bung Bhjo itu mah lain lagi juntrungnya.
> >
> > Sementara itu kita terima berita yang berisi pernyataan dari pihak
> > Korea Utara dengan semangat yang tidak sama seperti yang dikemukakan
> > oleh pihak RRT sebagai berikut ini:
> >
> > From: "Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45]"
> > <[email protected]>
> > To: Yahoogroups <[email protected]>, GELORA_In
> > <[email protected]>, Daeng <[email protected]>, Harry
> > Singgih <[email protected]>, Rachmat Hadi-Soetjipto
> > <[email protected]>, Mitri <[email protected]>,
> > "[email protected]" <[email protected]>, Farida Ishaja
> > <[email protected]>, Oman Romana <[email protected]>,
> > Lingkar Sitompul <[email protected]>, Gol
> > <[email protected]>, Harsono Sutedjo <[email protected]>,
> > "[email protected]" <[email protected]>, Billy Gunadi
> > <[email protected]>, Sie Tik Tan <[email protected]>,
> > Sahala Silalahi <[email protected]>, "Ronggo A."
> > <[email protected]>, Andreas Sungkono <[email protected]>,
> > Tjoa <[email protected]>, Nunu Nugroho <[email protected]>, WIN
> > DJOYO <[email protected]>, Everistus Kayep
> > <[email protected]> Subject: [GELORA45] Pernyataan press
> > Wakil Menteri Pertama Luar Negeri DPRK, Kim Kye Gwan. Date: Thu, 17
> > May 2018 13:01:37 +0000 (UTC) Reply-To:
> > [email protected],Tatiana Lukman <[email protected]>
> > Sender: [email protected] X-Mailer: WebService/1.1.11871
> > YahooMailNeo Mozilla/5.0 (Windows NT 6.0) AppleWebKit/537.36
> > (KHTML, like Gecko) Chrome/49.0.2623.112 Safari/537.36
> >
> > Press Statement by Kim Kye Gwan, First Vice-Minister of Foreign
> > Affairs of DPRK
> >
> > Pernyataan press Wakil Menteri Pertama Luar Negeri DPRK, Kim Kye
> > Gwan. Korut bukan Irak dan juga bukan Libia!!! Perdamaian tidak
> > dicapai dengan mengorbankan kedaulatan nasional dan martabat
> > bangsa, alias mencium pantat imperialis!! Iming-iming "bantuan"
> > ekonomi tak akan bisa menyuap Korut untuk meninggalkan senjata
> > nuklirnya!!! Semenanjung Korea baru akan sungguh-sungguh menjadi
> > zone bebas nuklir kalau AS berhenti dengan semua ancaman dan
> > latihan militernya.
> >
> > Salam
> > Lusi.-
> >
> > ------------
> >
> > Am Thu, 17 May 2018 11:06:57 +0530
> > schrieb "Hsin Hui Lin [email protected] [GELORA45]"
> > <[email protected]>:
> >  
> > > Bg. Jo,
> > >
> > > Saya hanya ber-gurau dgn bg. Lusi......nothing serious ....!
> > > Lin
> > >
> > >
> > >
> > > 2018-05-17 11:01 GMT+05:30 [email protected] [GELORA45] <  
> > > [email protected]>:
> > > >
> > > >
> > > > Bung Lin, KU mesti merubah ekonomi sosialis/komunis nya menjadi
> > > > ekonomi sosialis kapitalis nya pelan2, mesti belajar dari Xi
> > > > Jinping dulu, kalau sudah mendapat kemajuan baru belajar dari
> > > > Angela Merkel, yg. lebih kapitalis.
> > > >
> > > > Negara2 Komunis murni rontok/satu persatu karena adanya
> > > > "Instinct for survival" dimana mahkluk hidup mencari kecukupan
> > > > (utk. "diri mereka sendiri") daripada kekurangan/kemiskinan,
> > > > keenakan daripada penderitaan, ketentraman daripada ketakutan
> > > > dsb. (utk. bisa berkembang biak = To survive). Instinct ini di
> > > > tanam di genes mereka sedari mulainya evolusi yg. sudah berumur
> > > > jutaan tahun. Manusia adalah "juga" mahkluk hidup yg. mempunyai
> > > > Instinct for survival ini dibawah "subconscious mind" nya. Jadi
> > > > tidak gampang utk. melawan instinct ini yg. ada di subconscious
> > > > mind di setiap orang. Korupsi ada di setiap bangsa karena
> > > > asalnya dari instinct ini. Orang berimigrasi/pindah dari negara
> > > > yg. kurang enak ke negara yg. lebih enak seperti banyak kawan2
> > > > kita yg. di Eropa (banyak yg.. dari Eropa Timur pindah ke Eropa
> > > > Barat) atau dimana saja. Saya belum pernah dengar orang ber
> > > > imigrasi utk. mencari kemiskinan atau kesusahan. Sekarang
> > > > selain runtuh nya negara2 komunis, utk. menuruti instinct ini,
> > > > orang2 menjadi imigran, imigran ekonomi, refugees. Jadi
> > > > hipokrit kalau orang bilang gembar-gembor anti ekonomi
> > > > kapitalis tetapi maunya hidup di negara2 maju yg. beraliran
> > > > kapitalis tetapi tidak mau tinggal di Korea Utara yg. tinggal
> > > > satu2 nya negara komunis yg. baru sekarat (mau meniru
> > > > Tiongkok) . Orang Jerman Timur lebih senang hidup di di Jerman
> > > > Barat (dulu memanjat Berlin wall) , orang Vietnam Utara senang
> > > > hidup di Vietnam Selatan, ya karena adanya insticnt ini.
> > > >
> > > > Saya anti politik luar negeri Amerika, maka dari itu tidak mau
> > > > tinggal di Amerika walaupun saya berhak/boleh tinggal di
> > > > Amerika.
> > > >
> > > >
> > > > ---In [email protected], <ehhlin@...> wrote :
> > > >
> > > > Bg. Lusi,
> > > >
> > > > KU kirim delegasi ke Beijing untuk mempelajari pengalaman RRT
> > > > dan berguru pada Xi .....wah cilaka besar ,rupa2nya salah
> > > > alamat ni , .......kan seharusnya delegasi KU ke Aachen, Jerman.
> > > > Ajooo bg.Lusi cepat2 dikoreksi dan berilah pada KU informasi
> > > > yang cukup, siapa yang harus mereka temui dan pada siapa harus
> > > > berguru di Aachen !
> > > >
> > > > Salam, Lin
> > > >
> > > >  
> >  
> > > > 2018-05-17 0:06 GMT+05:30 'Lusi D.' lusi_d@... [GELORA45] <  
> > > > [email protected]>:  
> > > >
> > > > Kutipan kalimatnya Beijing (ANTARA News): "Delegasi Korea Utara
> > > > telah mengunjungi Beijing untuk belajar tentang pengalaman China
> > > > dalam reformasi ekonomi dan pembukaan diri, ungkap Kementerian
> > > > Luar Negeri pada Selasa (15/05), sebuah langkah diplomatik
> > > > terbaru oleh rezim Korea Utara."
> > > > Kalau begitu, Xi Jinping berambisi ingin jadi gurunya Kim Jong
> > > > Un? Opo tumon. Hehehe
> > > >
> > > > Am Wed, 16 May 2018 11:28:31 +0800
> > > > schrieb "'Chan CT' SADAR@... [nasional-list]"
> > > > <[email protected] >:
> > > >  
> > > > > Korut kunjungi Beijing untuk pelajari reformasi China
> > > > > Rabu, 16 Mei 2018 10:07 WIB
> > > > >
> > > > > Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berjabat tangan dengan
> > > > > Presiden China Xi Jinping, dalam foto yang diambil dari video
> > > > > siaran pada Rabu (28/3/2018). Jong Un melakukan kunjungan
> > > > > tidak resmi ke China mulai Senin hingga Rabu, menurut
> > > > > keterangan kantor berita Xinhua. (CCTV via Reuters TV)
> > > > >
> > > > > Beijing (ANTARA News) – Delegasi Korea Utara telah mengunjungi
> > > > > Beijing untuk belajar tentang pengalaman China dalam reformasi
> > > > > ekonomi dan pembukaan diri, ungkap Kementerian Luar Negeri
> > > > > pada Selasa (15/05), sebuah langkah diplomatik terbaru oleh
> > > > > rezim Korea Utara.
> > > > >
> > > > > Sekutu era Perang Dingin itu telah meningkatkan hubungannya
> > > > > dalam beberapa pekan terakhir saat pemimpin Korea Utara Kim
> > > > > Jong Un bersiap untuk pertemuan bersejarah dengan Presiden AS
> > > > > Donald Trump di Singapura pada 12 Juni.
> > > > >
> > > > > China mengatakan bahwa Pak Thae Song, wakil ketua Komite
> > > > > Sentral Partai Buruh yang berkuasa di Korea Utara,
> > > > > mengunjungi Beijing pada Senin atas undangan Partai Komunis
> > > > > China.
> > > > >
> > > > > Baca juga: Indonesia siap fasilitasi pertemuan Kim Jong-un dan
> > > > > Trump
> > > > >
> > > > > "Kunjungan ini adalah sebuah contoh konkret dari konsensus
> > > > > penting antara Sekretaris Jendral (Partai Komunis) dan Ketua
> > > > > Kim Jong Un," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Lu
> > > > > Kang dalam konferensi pers reguler, yang membenarkan laporan
> > > > > media tentang kunjungan itu.
> > > > >
> > > > > Baca juga: Trump dan Kim Jong-un bertemu di Singapura pada 12
> > > > > Juni
> > > > >
> > > > > Delegasi itu datang untuk "belajar tentang pencapaian
> > > > > pembangunan ekonomi domestik China dan reformasi serta proses
> > > > > pembukaan diri," kata Lu.
> > > > >
> > > > > Para analis mengatakan bahwa janji Kim pada bulan lalu untuk
> > > > > membangun "konstruksi ekonomi sosialis" dapat mendorong
> > > > > reformasi ekonomi bergaya China, yang mengubah negara yang
> > > > > dipimpin komunis itu menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia,
> > > > > AFP.(hs)
> > > > >
> > > > > Baca juga: Xi Jinping dan Kim Jong Un bertemu di Tiongkok
> > > > > Penerjemah: Ida Nurcahyani  
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >  
> >
> > 
> >  

Kirim email ke