Bung Jo, 1.Bung tulis, prestasi berbanding lurus dengan kekayaan. Kalau ini benar, berarti orang yang jadi dua kali lebih kaya, prestasi anaknya 2 kali semula. Orang yang 4 kali jadi lebih kaya, prestasi anaknya akan jadi 4 kali semula. Apa dalam praktek benar bisa begitu ? Pengertian directly proportioanl = berbanding lurus : Proportionality (mathematics) >From Wikipedia, the free encyclopedia Jump to navigation <https://en.wikipedia.org/wiki/Proportionality_(mathematics)#mw-head>Jump to search <https://en.wikipedia.org/wiki/Proportionality_(mathematics)#p-search> For other uses, see Proportionality <https://en.wikipedia.org/wiki/Proportionality_(disambiguation)>. <https://en.wikipedia.org/wiki/File:Proportional_variables.svg> <https://en.wikipedia.org/wiki/File:Proportional_variables.svg> Variable *y* is directly proportional to the variable *x*.
In mathematics <https://en.wikipedia.org/wiki/Mathematics>, two variables are *proportional* if there is always a constant ratio <https://en.wikipedia.org/wiki/Ratio> between them. The constant is called the coefficient <https://en.wikipedia.org/wiki/Coefficient> of proportionality or *proportionality constant*. - If one variable is always the product <https://en.wiktionary.org/wiki/product> of the other variable and a constant, the two are said to be *directly proportional*. *x* and *y* are directly proportional if the ratio <https://en.wikipedia.org/wiki/Ratio> *y*/*x* is constant. - If the product of the two variables is always a constant, the two are said to be *inversely proportional*. *x* and *y* are inversely proportional if the product *xy* is constant. To express the statement "*y* is directly proportional to *x*" mathematically, we write an equation *y* = *cx*, where *c* is the proportionality constant. Symbolically, this is written as *y* ∝ *x*. To express the statement "*y* is inversely proportional to *x*" mathematically, we write an equation *y* = *c*/*x*. We can equivalently write "*y* is directly proportional to 1/*x*". 2. Bung ingin faktor2 lain di luar kekayaan, dianggap tetap. nah, kalau orang menang lotery, dan kekayaannya jadi 100 X , ya jangan diperhitungkan kekayaannya untuk foya2, lalu motivatie belajar hilang. 3. Coba bung ajukan satu data statistiek saja, dan bagaiman dari data itu bung bisa simpulkan prestasi berbanding lurus dengan kekayaan. 4.Kemiskinan orang tua bisa jadi penghambat anak berprestasi. Lha, kalau dari kecilnya sudah kekurangan protein yang menyebabkan kecerdasan terhambat. Kemiskinan yang menyebabkan anak selalu lapar, meskipun uang sekolah misalnya gratis, akan menyebabkan prestasi belajar rendah. 5. Prestasi jadi tidak terhalang kalau ada cukup penghasilan untuk hidup layak, untuk menyekolahkan anak pada sekolah yang baik. Di atas penghasilan itu, bisa saja kekayaan membantu prestasi sedikit, tetapi saya tidak yakin apa yang bung tulis : Prestasi directly proportional dengan kekayaan. Salam, KH 2018-07-03 0:05 GMT+02:00 [email protected] [GELORA45] < [email protected]>: > > > > kalau menang lotre mungkin malah berantakan ha ha ha > > statistik anda bisa google sendiri, berbagai level wealth dibanding > education achievement banyak sekali yg membahas. > > dlm statistik selalu ada data yg menyimpang (exception), mungkin seperti > menang lotre itu. Tgl seberapa banyak data menyimpang itu, kalau banyak > tentu bukan lagi menyimpang. > > bikin contoh mbok ya jangan ekstrim begitu seperti cuman selesai 0.06 thn > begitu ataupun nilai rata2 700. ttp bisa dilihat mereka yg dari keluarga > affluence berapa banyak yg selesai dalam 4/5 th (tepat waktu) berapa banyak > dari univ/sekolah yg ternama/kelas atas berapa banyak yg honor atau dean > list dlsb dibanding yg kekurangan.. > > > ---In [email protected], <djiekh@...> wrote : > > Bung Jo, > Bung tulis : > > Bung Djie, didalam ekonomi atau statistik ada istilah latin "ceteris > paribus" yg dalam bhs inggris "all other things being equal" atau juga bisa > diartikan "all else unchanged" yg dipakai utk melihat pengaruh dari suatu > variable ke variable yg lain tanpa melihat variable yg lain atau dgn asumsi > variable yg lain tidak berubah. Dgn asumsi seperti itu berdasarkan > statistik yg ada kita bisa bilang berbanding lurus. > > Lha,bagaimana bikin percobaannya untuk dapat data statstiknya, hanya > dengan kekayaan yang berubah, sedang yang lain2 tetap ? > Bisa mungkin pakai si A yang tetap, lalu kekayaan orang tuanya tiba2 naik > 100 kali dari menang loterij. Kalau Prestasi berbanding lurus dengan > kekayaan, maka prestasi si A akan jadi 100 X semula. Apa bisa, dan masuk > akal ? > Lalu belum didefinisikan ukuran prestasinya, selesai tepat waktunya ( > misalnya 6 tahun). Kalau prestasinya 100 kali lebih baik, kan tidak mungkin > bisa selesaikan dalam waktu 0.06 tahun. Klau misalnya dari angka, tadinya > rata2 7, kan tidak mungkin jadi rata2 700? > Salam, > KH > > > > > 2018-07-02 20:41 GMT+02:00 jonathangoeij@... [GELORA45] < > [email protected]>: > > > Bung Djie, didalam ekonomi atau statistik ada istilah latin "ceteris > paribus" yg dalam bhs inggris "all other things being equal" atau juga bisa > diartikan "all else unchanged" yg dipakai utk melihat pengaruh dari suatu > variable ke variable yg lain tanpa melihat variable yg lain atau dgn asumsi > variable yg lain tidak berubah. Dgn asumsi seperti itu berdasarkan > statistik yg ada kita bisa bilang berbanding lurus. > > Tetapi tentu saja biarpun keluarga itu kaya tetapi tidak mau keluar duit > ya susah juga, jadi disini saya rasa adalah dana yg tersedia dan bersedia > untuk dikeluarkan. Ada teman saya dulu tidak terhitung kaya hanya punya > toko kecil, bpk-nya yg totok dan tdk berpendidikan tinggi bilang bersedia > keluar duit berapa saja bahkan kalau perlu utang bahkan tokonya dijual utk > membiayai anaknya sekolah setinggi mungkin. Nah disini dana/kekayaan yg > teman ini bisa kita bilang lebih tinggi dari yg punya pabrik tetapi tidak > mau membiayai anaknya sekolah tinggi dalam contoh anda. > > Di Jerman yg sekolahnya gratis sampai setinggi apapun tentu berbeda, ada > faktor financial aid yg disediakan pemerintah yg bisa sbg substitusi > sebagian kekayaan, atau setidaknya dana minimum sdh tersedia. Tetapi toh > masih ada pengaruhnya juga utk memenuhi biaya penunjang. > > Di US ada wajib belajar sampai SMA pemerintah yg bayar (melalui pajak > tentunya) bahkan buku2 juga disediakan, di public school semua gratis tdk > perlu bayar uang sekolah. Tetapi disinipun ada perbedaan antara yg kaya dan > miskin, yg kaya bisa bayar tutor, mengikuti extra curiculer, mengikuti > kegiatan olah raga, musik, dlsb yg tidak ditanggung negara shg tentu yg > miskin tdk bisa ikut. Tentu dgn berbagai kegiatan penunjang itu prestasi > juga lebih baik (all other things equal). Selain itu yg kaya punya pilihan > lain selain public school bisa kesekolah private yg bayar yg ada yg murah > ada yg sedikit mahal ada yg sangat mahal, pilihan2 seperti ini khan juga > tergantung kekayaan. > > Kalau ke college tdk ada kewajiban pemerintah utk bayar, ttp untungnya > masih ada financial aid tergantung income keluarga dan juga ada batasan > minimal GPA dan waktu/lama sekolah, setidaknya financial aid ini masih bisa > jadi substitusi kekayaan. > > Saya ambil contoh kalau masuk ke UC Berkeley, yg income-nya dibawah $80 > ribu pertahun tidak usa bayar fee dan tuition, antara $80 ribu - $150 ribu > (seingatnya saja) disubsidi, diatas $150 ribu bayar penuh. Nah disini tentu > cukup membantu dan bisa mengurangin kesenjangan sedikit. Tetapi sistem ini > ada kelemahannya juga misalnya pada contoh anda keluarga kaya tetapi tdk > mau membiayai yg repot ya anaknya tdk qualify terima financial aid krn > keluarga terlalu kaya ttp orang tuanya tdk mau biayai. Jadinya ya > tergantung pd student loan atau sambil kerja. > > Nah yg repot khan Indonesia itu, pemerintah berdasarkan UUD 45 hanya > membayari sampai pendidikan dasar saja (sd SMP kalau tdk salah) lha > bagaimana setelah itu? Out of Luck? > > > ---In [email protected], <djiekh@...> wrote : > > Misalnya kalau persamaan di bawah disetujui : > PRESTASI = F1(KEKAYAAN) + F2(IQ) + F3(FASILITAS) + F4(ORANG TUA) + > F5(MOTIVASI) + F6(WAKTU) , > secara matematis bacanya Prestasi tergantung pada fungsi2 kekayaan, IQ, > fasilitas, peranan orang tua, motivasi, waktu yang difocuskan untuk > belajar. Di sini tidak bisa dikatakan PrestaSI BERBANDING LURUS DENGAN > KEKAYAAN, karena juga tergantung pada fungsi2 lain yang tertulis. > Selain iu bentuk fungsinya tidak dikatakan precies. > Seandainya saja Prestasi hanya fungsi dari Kekayaan : > Secara matematis kalau ditulis Y = aX, ya benar Y berbanding lurus dengan > X, > tetapi kalau ditulis misalnya Y = X berpangkat 1/3, ya tidak berbanding > lurus, misalnya kekayaa = 8, effeknya pada prestasi = 8 berpangkat 1/3 = 2 > , sedangkan kalau kekayaannya naik jadi 64, jadi 8 kali lipat dari semula > 8, effeknya pada prestasi = 64 berpangkat 1/3 = 4 > jadi pestasinya kalau kekayaan naik 8 kali lipat, pestasinya naik 2 kali. > Kalau persamaannya Y = X berpangkat 1/64, effeknya akan kecil > misalnya Kekayaan = 8, prestasi = 8 ^(1/64) = 1.033 > Kekayaan = 64, prestasi = 64^(1/64) = 1.067. > Kekayaan naik 8 kali, prestasi naik 1.067/1.033 = 1.033 > Di samping itu fungsi kekayaan terhadap prestasi tidak sama dari kekayaan > mulai 0 sampai 1 trilyun, mungkin pada segmen2 tertentu, fungsinya secara > matematis > lain. > Jaman saya di SD ada 2 teman, yang orang tuanya jauh lebih kaya dari orang > tua murid2 lain. Prestasi 2 teman ini di SD bagus, meskipun bukan juara. > Eh, yang satu, anak pabrik sabun, berhenti sekolah, langsung kerja bantu > orang tuanya. Tidak tahu, apa karena dari keluarga totok, lulus SD sudah > cukup, yang perlu bisa kerja. Belakangan memang termasuk orang kaya, punya > perusahaan datangkan kertas, memotong kertas, bikin buku tulis anak2 > sekolah. > Yang satu sampai SMP klas 2 berhenti, padahal sekolahnya bagus, Olah > raganya bagus, ikut kejuaraan berenang, masuk team waterpolo. Bantu orang > tuanya pabrik rokok, kemudian buka percetakan modern. > Sebaliknya ada teman, ibunya kerja keras bikin makanan di jakarta, yang > pagi2 diedarkan keliling pakai beberapa penjual. Kena schorsing, karena > ikut organisasi mahasiswa yang akhirnya dilarang. lalu kerja jadi guru beri > les anak2 > dari sekolah Tionghoa yang harus pindah ke skolah nasional dan mau ujian > SD. Dia mengajarnya sungguh2, sehingga murid2nya, anak seorng bankir lulus. > Ibu anak2 itu tanya dia, dia sendiri sebetulnya mau neruskan sekolah di > mana. Dia bilang kepingin masuk Universitas di jerman, karena tidak perlu > bayar. Si ibu saking berterimakasihnya anak2nya lulus, beri dia ticket > pesawat untuk ke Jerman. Belakangan adik perempuannya juga diberi pekerjaan > di bank. dari belajar magang, sampai akhirnya terpercaya jadi salah satu > manager bank. > Di Jerman dia kerja di restaurant Indonesia, kemudian diberi kerjaan > Prof.nya pelihara tikus. Setelah lulus, ambil PhD. > Ada dua lagi yang sampai kerja angkut karung2 dari mobil. Yang satu mesti > dorong rol2 besar kertas di pabrik kertas. Dua2nya jadi, dapat PhD. di > bagian Teknik Kimia. > > > 2018-07-01 3:08 GMT+02:00 jonathangoeij@... [GELORA45] < > [email protected]>: > > > > > persamaan anda juga menunjukkan prestasi belajar berbanding lurus dgn > kekayaan > > kutipan: > PRESTASI = F1(KEKAYAAN) + F2(IQ) + F3(FASILITAS) + F4(ORANG TUA) + > F5(MOTIVASI) + F6(WAKTU) > > ---In [email protected], <iqbalsantoso@...> wrote : > > > Menurut si JG, "prestasi belajar anak searah atau berbanding lurus > dengan kekayaan keluarga, makin kaya keluarga prestasi akademis > juga makin tinggi." > > Jadi karena berbanding lurus, anak Jeff Bezos adalah juga seorang anak > yang memiliki prestasi akademis paling tinggi di dunia, disusul oleh anak > Bill Gates, anak Warren Buffett, dan seterusnya. > > Kok salah ya. Rasanya ngga kaya gitu..... > > Oh mungkin berbanding lurusnya ngga berlaku untuk bilyuner kali ya.... > > OK. Kalau si JG masih kerja, atasannya bisa diasumsikan punya lebih banyak > duit darinya. Dua-duanya bukan bilyuner. Prestasi akademis dan kekayaan > jadi berbanding lurus. Anak atasannya pasti memiliki prestasi akademis yang > lebih baik daripada anaknya si JG. > > Loh kok salah lagi ya...... > > Baik. Untuk JG, sy kasih tau biar pinteran dikit. > > Prestasi akademis bisa ditulis dalam model seperti berikut, dan sy > sederhanakan sebanyak mungkin. Anggap saja ada 6 faktor yaitu Kekayaan, IQ, > Fasilitas, Peran orang tua, Motivasi si anak, dan Waktu yang dihabiskan > anak utk belajar. Ada banyak faktor-faktor lain tapi sy batasi jadi 6 saja. > > PRESTASI = F1(KEKAYAAN) + F2(IQ) + F3(FASILITAS) + F4(ORANG TUA) + > F5(MOTIVASI) + F6(WAKTU) > > Disini F1, F2, F3, F4, F5, F6 adalah fungsi matematis yang bentuknya > menjadi topik buat jurnal (utk JG sebut saja "majalah" kali ya). > > Kenapa anak si JG belum tentu lebih jelek prestasi akademisnya daripada > anak atasannya, meskipun kekayaan si JG lebih dikit? > > Berdasarkan persamaan diatas, bisa saja prestasi akademis anak JG lebih > tinggi daripada prestasi anak atasannya. Misalnya karena dua-duanya > meskipun memiliki level peran orang tua, IQ, dan motivasi anak yang sama, > dan kekayaan si JG lebih dikit, tetapi waktu yang dihabiskan oleh anak si > JG utk belajar jauh lebih banyak daripada anak atasannya. > > Mudah-mudahan sekarang sudah ngerti ya, JG. Tapi supaya benar-benar > ngerti sy kasih tugas deh. > > Tugas: Gunakan persamaan diatas untuk menjelaskan gimana Raeni bisa > berprestasi meskipun dia berasal dari keluarga miskin. > > Tugas Extra Kredit: Kalau semua faktor sama kecuali Kekayaan, apakah > Prestasi dan faktor Kekayaan menjadi berbanding lurus? > > > > > > > ---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote : > > Kisah Raeni itu sekedar informasi untuk membantah keyakinan Anda: > > "kita bisa bilang prestasi belajar anak searah atau berbanding lurus > dengan kekayaan keluarga, makin kaya keluarga prestasi akademis > juga makin tinggi." > > Apa yang terjadi pada Raeni memang tidak perlu dijadikan norma > karena seperti itulah harusnya wujud dari amanat UUD'45; kemiskinan > bukan halangan untuk mengikuti pendidikan - atau juga untuk bagi-bagi > kartu ATM "pinter". > > --- jonathangoeij@... wrote: > > Selamat untuk keberhasilan Raeni! > > Terlihat Raeni berhasil mengatasi/mensubstitusi masalah kekayaan/dana > keluarga dengan bea siswa "Penerima beasiswa Bidik Misi yang mengambil > Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri > Semarang (Unnes) itu, berangkat ke lokasi wisuda dari indekosnya diantar > ayahnya dengan becak." Ada faktor diluar Raeni dan keluarganya (dalam > bentuk bea siswa) yg berhasil mengangkat Raeni keluar dari lingkaran setan. > Tetapi bagaimanapun motivasi tekat dan ketekunan Raeni memang terpuji yg > menghasilkan prestasi akademik yang cukup bagus. > > Ada faktor dari luar yg dibutuhkan untuk mengangkat anak2 miskin > bermotivasi tinggi untuk keluar dari lingkaran setan, swasta atau > masyarakat dalam hal ini memang bisa berperan dengan menyediakan bea siswa, > tetapi lebih penting lagi adalah upaya pemerintah seberapa besar perhatian > pemerintah dan dana yang disediakan karena bisa menjangkau dalam jumlah > besar. > > Btw, berita itu Juni 2014, setelah lewat 4 tahun sampai sekarang ada > berapa banyakkah Raeni2 yang lain? > > > Maksud saya disini yg terjadi pada Raeni janganlah dijadikan norma jangan > dijadikan rule of thumb. > > > --- ajegilelu@... wrote : > > *Kisah Raeni si Anak Tukang Becak > <https://www.liputan6.com/news/read/2062384/kisah-raeni-si-anak-tukang-becak-kejar-ilmu-hingga-inggris>* > > > --- jonathangoeij@... wrote: > > "Wah, kalau sudah begini, ya kekayaan orang tua dan motivasi belajar anak > dua2nya ikut menentukan." > > Kurang lebih ya begitulah bung Djie kekayaan keluarga ikut menentukan, > dengan asumsi "all other things being equal" kita bisa bilang prestasi > belajar anak searah atau berbanding lurus dengan kekayaan keluarga, makin > kaya keluarga prestasi akademis juga makin tinggi. Atau dengan kata lain > kita bisa bilang makin miskin keluarga academic achievement juga makin > rendah. > > Keadaan diatas seakan lingkaran setan yg tidak ada habisnya, makin lama > gap akan semakin membesar. > > Mereka yang berpandangan kiri/progressive/liberal menekankan pentingnya > peranan pemerintah dalam membantu, sedang yang kanan/kapitalis/konservatif > lebih menyerahkan pada pasar alias tidak berbuat apa2. > > Catatan, pengertian progressive dalam hal ini: "(of a group, person, or > idea) favoring or implementing social reform or new, liberal ideas." > > > On Thursday, June 28, 2018, 12:01:37 AM PDT, kh djie wrote: > > Di beberapa kota seperti di Inggris dan kanada ada peraturan anak2 harus > disekolahkan > di sekolahan daerahnya.Satu orang sengaja pindah rumah, meskipun rumah > daerah itu > lebih mahal, agar anak2nya bisa masuk sekolah terbaik. Menurut dia, tidak > saja sekolah > itu terkenal, terbaik, tetapi anak2 di sana kebanyakan anak2nya pengusaha.. > Jadi dia > sengaja masukkan anaknya di sana supaya waktu sekolah sudah punya netwerk > untuk > hari kemudian.Kok sekolah itu bisa jadi sekolah terbaik ? katanya karena > banyak dapat > sumbangan dari orang2 tua murid yang kaya2. Gurunya saja guru pilihan. > Wah, kalau > sudah begini, ya kekayaan orang tua dan motivasi belajar anak dua2nya ikut > menentukan. > Sekolah2 terkenal dengan asrama di Inggris, punya murid anak2 pejabat > besar berbagai > negeri, Afrika, Asia, Inggris. Ada yang sengaja sekolahkan anaknya di > situ, supaya sejak > muda sudah punya netwerk dengan calon2 orang penting dari berbagai negeri.. > > >
