Di Belanda ada sekolah kejuruan, namanya VMBO. Sekolah yang mengajari service penerbangan, muridnya harus stage antara lain di lapangan terbang Schiphol. Tugas permulaan membantu orang2 yang minder valide, didorong di atas rol stoel, sampai ke depan pintu pesawat masuk. kalau ambil penumpang, sampai diambilkan koper2nya, diantar sampai keluar lapangan terbang. Saya tidak tahu, stagiair ini dapat berapa per bulan. Kerjanya bagus sekali, ramah, banyak ngajak bicara. Kalau di Indonesia, ya ramah juga, tetapi tidak diambilkan koper2nya. Dia panggil tukang koper, dan penumpang bayar tukang koper. Yang dorong rolstoel, memang tidak minta uang, tetapi mau terima. kalau di Belanda, mereka strict, tidak mau terima uang. Tetapi kalau diberi oleh2 sebagai tanda terima kasih, mereka mau terima. Yang sekolah VMBO bagian monteur mobil, stagenya di perusahaan pembetulan mobil. Di samping itu ada yang cari kerjaan tambahan hari Saptu di perusahaan pembetulan mobil. Kalau hari Saptu orang yang betulkan mobil lebih banyak. Mereka mulai dari kerjaan paling sederhana, ganti ban mobil, balanceren roda mobil setelah dipasangi ban baru, memompa dll. Setelah itu ada yang tugas, ganti lampu mobil yang rusak. Mulai dari yang paling sederhana sampai yang sulit2 pakai computer.Dengan pendidikan dengan banyak praktek, ada yang berani, buka bengkel sendiri, dibantu monteur2 pocokan. Ada satu anak monteur mobil, yang lebih hebat dari bapaknya, karena dia dapat pelajaran, yang dulu bapaknya belum dapat. Buka bengkel sendiri, dibantu montur2, ada yang kerjanya hanya beberapa jam, selesai, dibayar cash.
2018-06-26 10:33 GMT+02:00 kh djie <[email protected]>: > Bung Iqbal, > Banyak terimakasih untuk fakta2 yang bung tulis. > Kami yang tinggal di luar negeri tahunya terlalu sedikit ttg.kenyataan2 > yang ada. > Teman saya di tahun 70 an waktu diminta jadi kepala pabrik alcohol, bilang > pada > pemilik perusahaan, bahwa dia ingin operator pabrik alcohol harus > berijasah STM, > supaya kwalitas produksi baik dan efficiency naik. Pemiliknya setuju. Saya > bilang > pada teman, wah, hebat, di Belanda operator2 waktu itu hanya ada beberapa > yang > berijasah Operator A. Yang berijasah Operator B dijadikan voorman (kepala > satu > bagian kecil), yang berijasah Operator C, setingkat STM jadi kepala > seluruh afdeling > di pabrik, dibantu 2 orang voorman. Untuk mereka2 yang tidak sanggup mau > ambil > ijasah operator A, kami beri pendidikan intern, sehingga bisa mengerti > betul yang > dia kerjakan, dan dalam prakteknya tidak kalah dengan operator A. Hanya > saja ke- > banyakan mereka ini karena dasar pendidikannya tidak cukup, sulit untuk > dapat > mengikuti kursus lisan ataub tertulis dari luar. Belakangan baru di tahun > 1990 an > perusahaan di Belanda cari operator minimum lulusan STM. > Jadi dalam hal ini, pabrik alcohol di lawang itu jauh lebih hebat > persyaratannya dari > pabrik di Belanda. > Lalu saya tanya, habis bagaimana dengan pegawai2 lama yang tidak memenuhi > syarat. > Teman bilang, wah si oom bijaksana, orang sudah kerja lebih dari 30 tahun > apa mau > dipecat ? Begini saja, beri dia kerjaan lain yang bukan kerjaan operator, > sampai dia > pensiun. > Di tahin 1990 an teman ini telpon saya, tanya tentang suatu firma Amerika > yang mau > automatisering seluruh pabrik, apa ini firma yang bagus. Saya bilang, > besok saya kabari, > karena kepala bagian automatisering kami didetacheer ke Naarden. Saya > telpon collega > ini di Naarden. Dapat jawaban, ya ini firma bagus, termasuk kategori A > menurut penilaian > Unilever. Saya langsung telpon teman, beri tahu itu firma bagus. Dia > tertawa, bilang > terimakasih. Kontraknys baru saja diteken. presiden perwakilannya dari > jepang datang > sendiri, beri harga luar biasa murah, hanya 10 % dari semestinya, tetapi > pabrik di Malang > dijadikan pabrik referentie untuk seluruh Asia. jadi kalau pabrik2 lain > mau beli automatisering > dari dia, akan dikirim ke Malang untuk langsung lihat. Dia bilang, dia dan > anak bossnya > sampai mampu menolak, dan tidak negosiasi harga lagi, langsung O.K. > Pabrik yang di malang ini jadi paling modern di seluruh Asia, dan juga > terbesar. Tetapi > mereka selalu low profile, takut diketahui Suharto, yang pasti kepingin > ambil oper. > Salam, > KH > > > 2018-06-26 7:01 GMT+02:00 [email protected] [GELORA45] < > [email protected]>: > >> >> >> >> Sy tidak tahu bagaimana utk propinsi lain dan keadaan sekarang ini, >> tetapi mungkin tetap sama. >> >> Untuk DKI di jaman Ahok setiap kelurahan menyediakan berbagai jenis >> pelatihan vocational yang diberikan secara gratis plus fasilitas gratis >> lainnya. Mau belajar reparasi mobil dan motor bisa. Mau belajar komputer >> bisa. Yg wanita mau belajar menjahit juga bisa. Ada berbagai macam >> ketrampilan. Pengumuman ada dimana-mana. Tetapi tetap saja yg berminat >> sedikit. Malah beberapa kelas harus ditunda karena kurang peminat. Harus >> ngumpulin siswa dulu. >> >> Belum lagi siswa yg karena satu dan sebab lainnya berhenti sebelum >> selesai. >> >> Jokowi pernah berkata bahwa yang diperlukan adalah revolusi mental. >> Pernyataan ini, meskipun terkesan di generalisir dan ada 1001 pertanyaan >> tentang implementasinya, kayanya benar. >> >> >> >> >> >> >> >> ---In [email protected], <jonathangoeij@...> wrote : >> >> Kali ini mau tidak mau saya setuju dengan brainchild (pemikiran) Chan >> ini, brilliant! >> >> Untuk awalnya bisa dengan mengalihkan dana pendidikan yang dipakai untuk >> pendidikan agama dibawah kementrian agama dialihkan ke vocational education >> dibawah kementrian tenaga kerja, kemudian meningkatkan pendidikan >> politeknik menjadi setara dengan pendidikan di universitas yg lain. >> >> >> Kutipan: >> Kalau saja PEMERINTAH yang sangat MISKIN ini berani dan bisa KURANGI 50% >> anggaran utk Kementerian Agama/tahun, dan bisa dialihkan untuk kemeenterian >> Pendidikan, mengucurkan subsidi bagi pemuda-pemudi mengejar keahlian >> diberbagai bidang, tentu saja sangat baik! >> >> >> >> >> >> --- SADAR@... wrote: >> >> >> >> Seringkali dalam benak saya timbul pertanyaan, apakah tak ada jalan >> TENGAH yang masih bisa dijalankan untuk maju lebih BAIK??? Jadi tidak >> mengambil pilihan salah satu antara yg ektrim kanan maupun ekstrim kiri, >> dalam situasi atau kondisi konkrit Indonesia sekarang ini, ... dimana >> Pemerintah masih belum sepenuhnya ditangan RAKYAT dan masih kere! Apa yg >> masih bisa diperbuat lebih baik untuk RAKYAT banyak? Katakanlah SEDIKIT >> saja MAJU selangkah untuk meringan penderitaan kemiskinan yg selama ini >> diderita rakyat banyak! >> >> Salah satu SEBAB, bukan satu-satunya, adalah kekurangan MODAL untuk >> meningkatkan kemampuan SDM ini. Kalau saja PEMERINTAH yang sangat MISKIN >> ini berani dan bisa KURANGI 50% anggaran utk Kementerian Agama/tahun, dan >> bisa dialihkan untuk kemeenterian Pendidikan, mengucurkan subsidi bagi >> pemuda-pemudi mengejar keahlian diberbagai bidang, tentu saja sangat baik! >> Tapi, kenyataan perjuangan ini tidaklah mudah menghadapi tantangan keras >> dari kelompok Islam radikalis yg nampak sangat kuat. >> >> Jalan termudah, menteri Tenaga Kerja menyerukan agar pengusaha bisa >> investasi SDM, mengasuh dan mendidik pegawai/buruh nya agar menguasai >> keahlian lebih baik dan mereka deengan sendirinya akan berkemampuan >> menyelesaikan TUGAS dengan lebih sempurna! Jalan pemikiran yang logis saja, >> Pengusaha lebih diuntungkan dengan jaminan mutu produksi lebih tinggi, >> sebaliknya tingkat keahlian manusia ditingkatkan deengan baik akan >> memudahkan orang mendapat KERJA dengan upah lebih baik pula, ...! >> >> Satu KONTRADIKSI baru tentunya terjadi, begitu seseorang kwalitasnya >> meningkat, tentu berhak menuntut imbalan lebih baik, ... kalau saja >> karyawan tsb. menganggap pengusaha setelah mendapat keuntungan lebih besar >> tidak mengembalikan sebagaimana harapannya, dan tidak memuaskan, tentu bisa >> saja akan memudahkan karyawan tsb loncat keperusahaan yang siap memberikan >> upah lebih BESAR! >> >> Itulah PERSAINGAN yang terjadi dipasar kerja kapitalis, ... dan dengan >> berlangsung persaingan yg terjadi ini justru mendorong maju perkembangan >> masyarakat lebih CEPAT! Jadi, TIDAK PERLU dihindari, tapi biarkan saja >> berlangsung persaingan itu secara sehat, diikuti saja dengan jalankan >> kebijaksanaan, mengambil jalan tengah sebagai keseimbangan yang lebih baik. >> Menerima BANTUAN DANA darimanapun datangnya, dgn perhitungan sesuai >> kemampuan sendiri utk membayar utang saja! Jangan ambil kebijakan ekstrim >> kanan mengambil utang dengan bunga diatas 20%/th yg akhirnya sangat >> memberatkan orang membayar utang selepas pendidikan itu, ... Sebaliknya >> juga jangan jalankan kebijakan ekstrim kiri, menolak gunakan kucuran dana >> hanya karena datang dari Bank Dunia untuk meningkatkan SDM. >> >> >> >> ajeg 於 24/6/2018 23:25 寫道: >> >> Sayangnya pembangunan manusia yang 2-3 bulan >> >> belakangan gencar dikampanyekan pemerintah >> >> bukan berlatar kesadaran akan amanat UUD (pasal 31) >> >> melainkan lantaran sabda Bank Dunia: >> >> >> >> *Investasi SDM >> <https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/225889?soc_src=mail&soc_trk=ma>* >> >> >> >> .. untuk kelangsungan hidup industri PMA, >> >> hehe... >> >> >> >> --- roeslan12@... wrote: >> >> *Refleksi : **Betul Pemerintah harus mengutamakan pembangunan >> manusia-manusianya!!!* >> >> Kepada rezim Jokowi dan para ekonomnya harus menyadari bahwa Rakyatlah >> yang barus kita bangun, bukan teori ekonomi neoliberalnya, demikian juga >> kepada kaum teknolog rezim Jokowi, harus juga sadar bahwa Rakyatlatlah yang >> harus kira bangun bukan teknologinya untuk menciptakan Gamor-glamor >> teknologi. >> >> Sampai sekarang ini saya tidak yakin bahwa strategi mega-infrastruktur rezim >> Jokowi yang didasarkan pada pembangunan jenis-jenis industri, seperti >> misalnya : Pabrik-pabrik, jalan TOL, Pelabuan laut dan Lapangan >> terbang.,dll; yang tentu saya padat modal, akan dapat membawa Indonesia >> kearah pembangunan ekonomi yang *adil untuk seluruh Rakyat Indonesia*. >> Selain itu saya juga juga tidak yakin bahwa *akumulasi human capital >> yang bermutu* *yang juga melandasi strategi industrialisasi ini dapat >> meluas secara effektif, sehingga dapat menimbulkan kelebihan dalam ekonomi* >> *.* >> >> Pesimisme ini didasarkan atas kenyataan bahwa hingga kini, Indonesia >> tiadak sudi melakukan reformasi social yang mendasar, yang merupakan >> prasyarat mutlak bagi *emansipasai sosial yang massif..* >> >> Di era ``reformasi`` yang sudah berlangsung selama 20 Tahun lamanya ini; >> Pada dasarnya adalah: anti Pasal 33 UUD 45, anti Pancasila 1 Juni 1945 dan >> anti ekologi-dalam, yang kita saksikan adalah: kebanyakan >> struktur-struktur sosial ekonomi kita dan tenoknologinya berakar pada >> sistem kapitalis neoliberal, yang pada dasarnya didominasi oleh : >> *Neoloberalisme, >> Feodalisme, Imperialisme, Patriarki, dan rasisme.* Yang ita saksikan >> adalah Unit–unit ekonomi yang pada dasarnya adalah mengutamakan kegiatan >> pencarian dan penumpukan *nilai lebih (rente ekonomi),* yang intensitas >> cengkeramannya cukup tinggi dalam realitas sosial kita, sehingga tidak >> dapat dirangsang untuk melakukan akkumulasi human capital yang bermutu. >> Mengapa ini tidak dapat dirangsang? Jawababnnya adalah : *Karena >> keberhasilan unit-unit ekonomi ini hampir sepenuhnya ditentukan pada >> pemanfaatkan human capital dengan bayaran murah (buruh kasar).* >> >> *Kesimpulaan akhir:* Untuk meningkatkan akumulasi human capital yang >> bermutu yang juga melandasi strategi industrialisasi ini sehingga dapat >> meluas secara effektif, sehingga dapat menimbulkan kelebihan dalam ekonomi, >> maka rezim Jokowi haraus meninggalkan politik pencitraan,yang mengutamakan >> gensi melalui menciptakan glamor-glamor teknologi pembangunan-pembangunan, >> jalan Tol, penyelenggaraan pabrik-pabik untuk investor asing dll; Tetapi >> rezim Jokowi harus: >> >> *1.* Memilih *Urgensi **bukan* *gengsi,* artinya bukan memilih >> High-technologi, yaitu glamor-glamor teknologi; tapi memilih *Urgensi* yaitu >> membangun Kecerdasan kehidupan bangsa , yang berarti menaikkan derajat >> kehidupannya sebagai bagian dari SDM, meningkatkan kemampuan pikiran dan >> kemampuan budaya, menghapus sikap-sikap inlander, yang penuh dengan >> minderwaardigheidscomplex. Jadi bukan tehnologinnya yang kita bangun tapi >> *Rakyat*-lah yang harus kita bangun, berarti manusianya yang harus kita >> bangun. >> >> *2.* Harus memilih Program *penghematan* *bukan* *program utang >> luarnegeri*, karena utang luarnegeri ternyata telah menjadikan NKRI >> sebagai Negara jajahan model baru dari kaum kapitalis neoliberal yang sudah >> menggelobal (IMF, Bank Dunia, Bank RRC, dll), dan akan membebani kehiduapan >> generasi bangsa kita dinasa depan. >> >> *3-* Harus memilih program *Kekenesan ekonomi* *(ekonomi kerakyatan, >> dan ramah lingkungan),* *bukan* memilih *ekonomi yang munafik (ekonomi >> neoliberal), *yang merefleksikan dirinya dalam dialektika ekonomi yang >> eksploitatif, yang menyebabkan terjadinya kesejangan social, dan kemiskinan >> diseluruh nusantara. >> >> *4.* Harus memilih program *kedaulatan rakyat,* *bukan* memilih program >> *kedaulatan >> pasar*, karena kedaulatan pasar telah menyebabkan malapetaka besar bagi >> kesejahteraan hidup rakyat terutama wong ciliknya (cermati program kenaikan >> harga BBM). Harus siap, *back to the basics >>Pasal 33 UUD 45>> >> mengutamakan kedaulatan rakyat daripada kedaulatan pasar bebes.* >> >> *5.* Harus memilih program *menjunjung tinggi* *pri-kemanusiaan atau >> HAM*, seperti yang tercantum dalam sila ke dua dari Pancasila 1 Juni >> 1945 versi BK, *bukan* memilih pelanggaran HAM, seperti yang dilakukan >> oleh rezim orde baru, dan antek-anteknya dalam bentuk penghilangan >> (penculikan) aktivis sampai pembunuhan aktivis dll. Mungkin ada yang mau >> menambahkan. >> >> Roeslan. >> >> >> >> *Von:* ChanCT >> >> >> >> *Perusahaan Harus Investasi Sumber Daya Manusia* >> Sabtu, 23 Juni 2018 | 21:47 >> >> http://sp.beritasatu.com/home/perusahaan-harus-investasi-sum >> ber-daya-manusia/124647 >> >> [image: Hanif Dhakiri. [beritasatu]] >> >> *Berita Terkait* >> >> § SDM Maritim Banyak Bekerja Di Luar Negeri >> <http://sp.beritasatu.com/home/sdm-maritim-banyak-bekerja-di-luar-negeri/89373> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> [JAKARTA] Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Hanif Dhakiri meminta >> seluruh perusahaan di Indonesia melakukan investasi sumber daya manusia >> (SDM) untuk memperkuat bisnis perusahaan. >> >> Selama ini, kebanyakan perusahaan masih menganggap investasi SDM sebagai >> beban padahal investasi SDM merupakan kunci utama untuk keberlangsungan dan >> kemajuan bisnis perusahaan. >> >> "Investasi SDM dan pengembangan industri harus berjalan paralel.. >> Investasi SDM harus kita genjot dan ekosistem ketenagakerjaan kita harus >> diperbaiki sehingga memungkinan orang bekerja dan perusahaan berkembang," >> kata Hanif dalam acara Halal Bihalal dengan Gerakan Nasional Indonesia >> Kompeten (GNIK) di Jakarta, Jumat (22/6) sebagaimana dalam siaran persnya, >> Sabtu (23/6). >> >> Menurut Hanif, di negara-negara Eropa, sekitar 70% investasi SDM >> dilakukan oleh dunia usaha. Investasi SDM harus dipimpin oleh dunia usaha, >> seperti negara-negara maju di Eropa. "Investasi SDM tidak bisa sepenuhnya >> hanya diserahkan kepada pemerintah. Di Eropa peran swasta dalam investasi >> SDM sangat besar. Pemerintah hanya memimpin dan mengawal," kata Hanif. >> >> Dikatakan Hanif, SDM harus menjadi tumpuan bangsa Indonesia untuk maju, >> berkembang, dan menjadi negara makmur dan berkeadilan. “Kita tidak bisa >> terus menerus mengandalkan SDA karena SDA akan habis dan bisa menimbulkan >> ketidakadilan antargenerasi. "Investasi SDM adalah kunci supaya negara >> dapat berkembang dengan pesat dan mampu bersaing," ungkap Hanif. >> >> Ia mengatakan, pemerintah berkomitmen untuk melakukan investasi SDM mulai >> tahun 2018 dan seterusnya. “Untuk itu mulai 2019 Presiden Jokowi >> menambahkan anggaran untuk pelatihan vokasi di Kemnaker," kata Hanif. >> >> Salah satu cara cepat investasi SDM, kata Hanif, adalah melalui >> pendidikan vokasi dan pemagangan. Pelatihan vokasi bisa menjadi terobosan >> agar kompetensi yang dilatih bisa menyesuaikan perubahan karakter industri. >> "Dan pemagangan merupakan investasi yang jauh lebih murah daripada merekrut >> pekerja baru yang kurang berpengalaman," tutur Hanif. >> >> Oleh karena itu, lanjutnya, SDM dan dunia usaha harus berjalan secara >> berimbang dan saling mendukung. Apalagi, tegas Hanif, di era yang berubah >> dengan sangat cepat seperti saat ini, SDM harus disiapkan secara matang >> untuk menghadapi perubahan.. "Inovasi sangat penting dilakukan, sehingga >> para pekerja bisa mengikuti perkembangan zaman," kata Hanif. >> >> Sehingga, tambahnya, partisipasi dunia usaha sangat penting untuk >> menyiapkan SDM yang siap terhadap perubahan zaman. "Saya berterima kasih >> kepada praktisi SDM yang bersedia mengambil peran tambahan menggenjot >> perbaikan kualitas SDM Indonesia melalui Gerakan Nasional Indonesia >> Kompeten," kata Hanif. >> >> Menurut Hanif, GNIK menjadi sesuatu yang sangat baik untuk menciptakan >> kesadaran bagi dunia usaha bagaimana pemagangan diterapkan. Untuk >> diketahui, GNIK merupakan sebuah organisasi dengan anggota para praktisi >> SDM di berbagai perusahaan di Indonesia. >> >> Ketua GNIK, Yunus Triyonggo, mengatakan pihaknya akan melakukan >> sertifikasi terhadap 2.000 praktisi SDM pada tahun 2019 untuk mendukung >> program pemerintah. "Para praktisi SDM yang sudah tersertifikasi tersebut >> diharapkan akan menyelenggarakan pemagangan nasional di perusahaan >> masing-masing," kata Yunus. [E-8] >> >> >> >> >> >> >> > >
