Kali ini mau tidak mau saya setuju dengan brainchild (pemikiran) Chan ini, 
brilliant!
Untuk awalnya bisa dengan mengalihkan dana pendidikan yang dipakai untuk 
pendidikan agama dibawah kementrian agama dialihkan ke vocational education 
dibawah kementrian tenaga kerja, kemudian meningkatkan pendidikan politeknik 
menjadi setara dengan pendidikan di universitas yg lain.

Kutipan:Kalau saja PEMERINTAH yang sangat  MISKIN ini berani dan bisa KURANGI 
50% anggaran utk Kementerian Agama/tahun, dan bisa dialihkan untuk kemeenterian 
Pendidikan, mengucurkan subsidi bagi pemuda-pemudi mengejar keahlian diberbagai 
bidang, tentu saja sangat baik!

 

 

--- SADAR@... wrote:

 

Seringkali dalam benak saya timbul pertanyaan, apakah tak ada jalan TENGAH yang 
masih bisa dijalankan untuk maju lebih BAIK??? Jadi tidak mengambil pilihan 
salah satu antara yg ektrim kanan maupun ekstrim kiri, dalam situasi atau 
kondisi konkrit Indonesia sekarang ini, ... dimana Pemerintah masih belum 
sepenuhnya ditangan RAKYAT dan masih kere! Apa yg masih bisa diperbuat lebih 
baik untuk RAKYAT banyak? Katakanlah SEDIKIT saja MAJU selangkah untuk meringan 
penderitaan kemiskinan yg selama ini diderita rakyat banyak!

Salah satu SEBAB, bukan satu-satunya, adalah kekurangan  MODAL untuk 
meningkatkan kemampuan SDM ini. Kalau saja PEMERINTAH yang sangat  MISKIN ini 
berani dan bisa KURANGI 50% anggaran utk Kementerian Agama/tahun, dan bisa 
dialihkan untuk kemeenterian Pendidikan, mengucurkan subsidi bagi pemuda-pemudi 
mengejar keahlian diberbagai bidang, tentu saja sangat baik! Tapi, kenyataan 
perjuangan ini tidaklah mudah menghadapi tantangan keras dari kelompok Islam 
radikalis yg nampak sangat kuat.

Jalan termudah, menteri Tenaga Kerja menyerukan agar pengusaha bisa investasi 
SDM, mengasuh dan mendidik pegawai/buruh nya agar menguasai keahlian lebih baik 
dan mereka deengan sendirinya akan berkemampuan menyelesaikan TUGAS dengan 
lebih sempurna! Jalan pemikiran yang logis saja, Pengusaha lebih diuntungkan 
dengan jaminan mutu produksi lebih tinggi, sebaliknya tingkat keahlian manusia 
ditingkatkan deengan baik akan memudahkan orang mendapat KERJA dengan upah 
lebih baik pula, ...!

Satu KONTRADIKSI baru tentunya terjadi, begitu seseorang kwalitasnya meningkat, 
tentu berhak menuntut imbalan lebih baik, ... kalau saja karyawan tsb. 
menganggap pengusaha setelah mendapat keuntungan lebih besar tidak 
mengembalikan sebagaimana harapannya, dan tidak memuaskan, tentu bisa saja akan 
memudahkan karyawan tsb loncat keperusahaan yang siap memberikan upah lebih 
BESAR!

Itulah PERSAINGAN yang terjadi dipasar kerja kapitalis, ... dan dengan 
berlangsung persaingan yg terjadi ini justru mendorong maju perkembangan 
masyarakat lebih CEPAT! Jadi, TIDAK PERLU dihindari, tapi biarkan saja 
berlangsung persaingan itu secara sehat, diikuti saja dengan jalankan 
kebijaksanaan, mengambil jalan tengah sebagai keseimbangan yang lebih baik. 
Menerima BANTUAN DANA darimanapun datangnya, dgn perhitungan sesuai kemampuan 
sendiri utk membayar utang saja! Jangan ambil kebijakan ekstrim kanan mengambil 
utang dengan bunga diatas 20%/th yg akhirnya sangat memberatkan orang membayar 
utang selepas pendidikan itu, ... Sebaliknya juga jangan jalankan kebijakan 
ekstrim kiri, menolak gunakan kucuran dana hanya karena datang dari Bank Dunia 
untuk meningkatkan SDM.

 

ajeg 於 24/6/2018 23:25 寫道:

Sayangnya pembangunan manusia yang 2-3 bulan 



belakangan gencar dikampanyekan pemerintah 



bukan berlatar kesadaran akan amanat UUD (pasal 31)



melainkan lantaran sabda Bank Dunia: 







Investasi SDM

 

... untuk kelangsungan hidup industri PMA, 



hehe...





--- roeslan12@... wrote:

Refleksi : Betul Pemerintah harus mengutamakan pembangunan manusia-manusianya!!!

Kepada rezim Jokowi dan para ekonomnya harus menyadari bahwa Rakyatlah yang 
barus kita bangun, bukan teori ekonomi neoliberalnya, demikian juga kepada kaum 
teknolog rezim Jokowi, harus juga sadar bahwa Rakyatlatlah yang harus kira 
bangun bukan teknologinya untuk menciptakan Gamor-glamor teknologi.

Sampai sekarang ini saya tidak yakin bahwa strategi mega-infrastruktur  rezim 
Jokowi yang didasarkan pada pembangunan jenis-jenis industri, seperti misalnya 
: Pabrik-pabrik, jalan TOL, Pelabuan laut dan Lapangan terbang.,dll; yang tentu 
saya padat modal, akan dapat membawa Indonesia kearah pembangunan ekonomi yang 
adil untuk seluruh Rakyat Indonesia. Selain itu saya juga juga tidak yakin 
bahwa akumulasi human capital yang bermutu yang juga melandasi strategi 
industrialisasi ini dapat meluas secara effektif, sehingga dapat menimbulkan 
kelebihan dalam ekonomi.

Pesimisme ini didasarkan atas kenyataan bahwa hingga kini, Indonesia tiadak 
sudi melakukan reformasi social yang mendasar, yang merupakan prasyarat mutlak 
bagi emansipasai sosial yang massif..

Di era ``reformasi`` yang sudah berlangsung selama 20 Tahun lamanya ini; Pada 
dasarnya adalah: anti  Pasal 33 UUD 45, anti Pancasila 1 Juni 1945 dan anti 
ekologi-dalam, yang kita saksikan adalah:  kebanyakan struktur-struktur sosial 
ekonomi kita dan tenoknologinya berakar pada sistem kapitalis neoliberal, yang 
pada dasarnya didominasi oleh : Neoloberalisme, Feodalisme, Imperialisme, 
Patriarki, dan rasisme. Yang ita saksikan adalah Unit–unit ekonomi yang pada 
dasarnya adalah mengutamakan kegiatan pencarian dan penumpukan nilai lebih 
(rente ekonomi), yang  intensitas cengkeramannya cukup tinggi dalam realitas 
sosial kita, sehingga tidak dapat dirangsang untuk melakukan akkumulasi human 
capital yang bermutu. Mengapa ini tidak dapat dirangsang? Jawababnnya adalah :  
Karena keberhasilan unit-unit ekonomi ini hampir sepenuhnya ditentukan pada 
pemanfaatkan human capital dengan bayaran murah (buruh kasar).

Kesimpulaan akhir: Untuk meningkatkan akumulasi human capital yang bermutu yang 
juga melandasi strategi industrialisasi ini sehingga dapat meluas secara 
effektif, sehingga dapat menimbulkan kelebihan dalam ekonomi, maka rezim Jokowi 
haraus meninggalkan politik pencitraan,yang mengutamakan gensi melalui 
menciptakan glamor-glamor teknologi pembangunan-pembangunan, jalan Tol, 
penyelenggaraan pabrik-pabik untuk investor asing dll; Tetapi rezim Jokowi 
harus:

1. Memilih Urgensi bukan gengsi, artinya bukan memilih High-technologi, yaitu 
glamor-glamor teknologi; tapi memilih  Urgensi yaitu membangun Kecerdasan 
kehidupan bangsa , yang berarti menaikkan derajat kehidupannya sebagai bagian 
dari SDM, meningkatkan kemampuan pikiran dan kemampuan budaya, menghapus 
sikap-sikap inlander, yang penuh dengan  minderwaardigheidscomplex. Jadi bukan 
tehnologinnya yang kita bangun tapi Rakyat-lah yang harus kita bangun, berarti 
manusianya yang harus kita bangun.

2.  Harus memilih Program penghematan bukan program utang luarnegeri, karena 
utang luarnegeri ternyata telah menjadikan NKRI sebagai Negara jajahan model 
baru dari kaum kapitalis neoliberal yang sudah menggelobal (IMF, Bank Dunia, 
Bank RRC, dll), dan akan membebani kehiduapan generasi bangsa kita dinasa depan.

3-  Harus memilih program Kekenesan ekonomi (ekonomi kerakyatan, dan ramah 
lingkungan), bukan memilih ekonomi yang munafik (ekonomi neoliberal), yang 
merefleksikan dirinya dalam dialektika ekonomi yang eksploitatif, yang 
menyebabkan terjadinya kesejangan social, dan kemiskinan diseluruh nusantara.

4. Harus memilih program kedaulatan rakyat, bukan memilih program kedaulatan 
pasar, karena kedaulatan pasar telah menyebabkan malapetaka besar bagi 
kesejahteraan hidup rakyat terutama wong ciliknya (cermati program kenaikan 
harga BBM). Harus siap, back to the basics >>Pasal 33 UUD 45>> mengutamakan 
kedaulatan rakyat daripada kedaulatan pasar bebes.

5.  Harus memilih program menjunjung tinggi pri-kemanusiaan atau HAM, seperti 
yang tercantum dalam sila ke dua dari Pancasila 1 Juni 1945 versi BK,  bukan 
memilih pelanggaran HAM, seperti yang dilakukan oleh rezim orde baru, dan 
antek-anteknya dalam bentuk penghilangan (penculikan) aktivis sampai pembunuhan 
aktivis dll. Mungkin ada yang mau menambahkan.

Roeslan.







Von: ChanCT





Perusahaan Harus Investasi Sumber Daya Manusia
Sabtu, 23 Juni 2018 | 21:47

http://sp.beritasatu.com/home/perusahaan-harus-investasi-sumber-daya-manusia/124647





Berita Terkait

§  SDM Maritim Banyak Bekerja Di Luar Negeri

 

 

 

 

[JAKARTA] Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Hanif Dhakiri meminta seluruh 
perusahaan di Indonesia melakukan investasi sumber daya manusia (SDM) untuk 
memperkuat bisnis perusahaan.

Selama ini, kebanyakan perusahaan masih menganggap investasi SDM sebagai beban 
padahal investasi SDM merupakan kunci utama untuk keberlangsungan dan kemajuan 
bisnis perusahaan.

"Investasi SDM dan pengembangan industri harus berjalan paralel.. Investasi SDM 
harus kita genjot dan ekosistem ketenagakerjaan kita harus diperbaiki sehingga 
memungkinan orang bekerja dan perusahaan berkembang," kata Hanif dalam acara 
Halal Bihalal dengan Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK) di Jakarta, 
Jumat (22/6) sebagaimana dalam siaran persnya, Sabtu (23/6).

Menurut Hanif, di negara-negara Eropa, sekitar 70% investasi SDM dilakukan oleh 
dunia usaha. Investasi SDM harus dipimpin oleh dunia usaha, seperti 
negara-negara maju di Eropa. "Investasi SDM tidak bisa sepenuhnya hanya 
diserahkan kepada pemerintah. Di Eropa peran swasta dalam investasi SDM sangat 
besar. Pemerintah hanya memimpin dan mengawal," kata Hanif.

Dikatakan Hanif, SDM harus menjadi tumpuan bangsa Indonesia untuk maju, 
berkembang, dan menjadi negara makmur dan berkeadilan. “Kita tidak bisa terus 
menerus mengandalkan SDA karena SDA akan habis dan bisa menimbulkan 
ketidakadilan antargenerasi. "Investasi SDM adalah kunci supaya negara dapat 
berkembang dengan pesat dan mampu bersaing," ungkap Hanif.

Ia mengatakan, pemerintah berkomitmen untuk melakukan investasi SDM mulai tahun 
2018 dan seterusnya. “Untuk itu mulai 2019 Presiden Jokowi menambahkan anggaran 
untuk pelatihan vokasi di Kemnaker," kata Hanif.

Salah satu cara cepat investasi SDM, kata Hanif, adalah melalui pendidikan 
vokasi dan pemagangan. Pelatihan vokasi bisa menjadi terobosan agar kompetensi 
yang dilatih bisa menyesuaikan perubahan karakter industri. "Dan pemagangan 
merupakan investasi yang jauh lebih murah daripada merekrut pekerja baru yang 
kurang berpengalaman," tutur Hanif.

Oleh karena itu, lanjutnya, SDM dan dunia usaha harus berjalan secara berimbang 
dan saling mendukung. Apalagi, tegas Hanif, di era yang berubah dengan sangat 
cepat seperti saat ini, SDM harus disiapkan secara matang untuk menghadapi 
perubahan.. "Inovasi sangat penting dilakukan, sehingga para pekerja bisa 
mengikuti perkembangan zaman," kata Hanif.

Sehingga, tambahnya, partisipasi dunia usaha sangat penting untuk menyiapkan 
SDM yang siap terhadap perubahan zaman. "Saya berterima kasih kepada praktisi 
SDM yang bersedia mengambil peran tambahan menggenjot perbaikan kualitas SDM 
Indonesia melalui Gerakan Nasional Indonesia Kompeten," kata Hanif.

Menurut Hanif, GNIK menjadi sesuatu yang sangat baik untuk menciptakan 
kesadaran bagi dunia usaha bagaimana pemagangan diterapkan. Untuk diketahui, 
GNIK merupakan sebuah organisasi dengan anggota para praktisi SDM di berbagai 
perusahaan di Indonesia.

Ketua GNIK, Yunus Triyonggo, mengatakan pihaknya akan melakukan sertifikasi 
terhadap 2.000 praktisi SDM pada tahun 2019 untuk mendukung program pemerintah. 
"Para praktisi SDM yang sudah tersertifikasi tersebut diharapkan akan 
menyelenggarakan pemagangan nasional di perusahaan masing-masing," kata Yunus. 
[E-8]

 

 

Kirim email ke