Semalam, setelah mengikuti acara ILC, Ilyas Karni -- "Kejutan Cawapres",
masalah perubahan tiba-tiba dalam jam terakhir penetapan koalisi Jokowi
dari cawapres Mahfud MD menjadi Ma'ruf Amin, sedang koalisi Prabowo juga
berubah menjadi Sandiago Uno, satu nama yg tidak terdengar sebelumnya,
.... menunjukkan ada KESALAHAN FATAL dalam menentukan calon
Presiden-Wapres. Terjadi tarik-ulur dengan parpol-parpol koalisi
masing-masing, ... sebagai usaha bisa menangkan pilpres atau tidak.
Dijam terakhir Jokowi hendak menandatangani keputusan menentukan
cawapres dan diumumkan keluar, tiba-tiba saja PKB ajukan Maruf Amin
dengan alasan Mahfud bukan kader NU, yang akhirnya disetujui PDIP dan
diikuti partai lain, ... untuk pertahankan kekuatan koalisi, Jokowi
tidak ada pilihan lain kecuali merubah keputusan semula dengan
mengorbankan Mahfud dan menggantinya dengan Maruf Amin! Syukurlah Mahfud
berhati besar, dengan lapang-dada bisa menerima keputusan perubahan ini,
hanya KAGET, tapi TIDAK KECEWA! Itulah keputusan politik, ... dan Jokowi
tidak perlu merasa bersalah!
Sedang Prabowo dijam terakhir juga kesulitan mengambil keputusan dengan
berkerasnya colonyang semula diajukan Salim Segaf Al Jufri, Ustaz Abdul
Somad dan Anies Baswedan menolak, akhirnya munculah nama Sandiago Uno
diikuti dengan tudingan Partai Demokrat, Andi Arief adanya mahar dari
Sandi sebanyak 500M pada PKS dan PAN, ...
Nampak sangat jelas disini, pilpres 2019 masih saja terjadi perdagangan
politik tarik-ulur kepentingan-kepentingan diantara parpol bahkan
politik-uang, ... bagaimana bisa keluarkan seorang TOKOH yg ideal
terbaik bagi bangsa dan RAKYAT?!
Jadi, ... benar kata romo Magnis: *"Pemilu BUKAN untuk memilih yang
terbaik, tetapi untuk MENCEGAH yang terburuk berkuasa!"*
*Jangan BIARKAN yang TERBURUK berkuasa! *Rakyat banyak akan lebih celaka
dan menderita kalau yang terburuk berkuasa, ...
ajeg [email protected] [GELORA45] 於 15/8/2018 23:29 寫道:
Mental petugas.
“saya tidak bisa menolak, saya bukan ketua partai”
- Joko Widodo, presiden
-
Kelompok buruh yang tergabung dalam FSPASI (Federasi serikat pekerja
aneka sektor Indonesia) menyuarakan penolakan untuk kembali memilih
Joko Widodo dalam pemilihan presiden 2019 mendatang.
(KOMPAS.com/Ihsanuddin).
Kelompok buruh yang tergabung dalam FSPASI (Federasi serikat pekerja
aneka sektor Indonesia) menyuarakan
penolakan untuk kembali memilih Joko Widodo dalam pemilihan presiden
2019 mendatang.
(KOMPAS.com/Ihsanuddin).
15 Agustus 2018 at 15:15
Setelah Mahfud MD Bicara
Posted by Ari Wulandari D
*Jakarta, KPonline –*Setelah Mahfud MD bicara, kita jadi tahu drama
yang terjadi di belakang terpilihnya Ma’ruf Amin sebagai Calon Wakil
Presiden yang akan mendampingi Joko Widodo atau Jokowi. Ini sekaligus
memberikan gambaran, bahwa apa yang kita saksikan di permukaan
bukanlah sebagaimana yang kelihatan.
Seperti yang dicerita Mahfud MD, pasca polemik terkait Cawapres itu
terjadi, Jokowi kemudian mengundangnya ke istana. Dalam kesempatan
itu, terungkap apa yang sebenarnya terjadi.
“Pak Jokowi menjelaskan peristiwanya dihadapkan pada situasi serba
sulit. Klir Pak Jokowi mengatakan, ‘sampai kemarin sore memang sudah
saya perintahkan mengerucut satu Pak Mahfud dibuatkan ini [seragam].
Tapi, tiba-tiba sore masing-masing partai mengajukan calon
sendiri-sendiri yang berbeda. Kemudian *saya tidak bisa menolak, saya
bukan ketua partai*, sementara koalisi harus ditandatangani’,” tutur
Mahfud menirukan kembali apa yang dikatakan Jokowi kepada dirinya.
Namun demikian, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto
mengatakan partai koalisi tak pernah mengumumkan mantan Ketua Mahkamah
Konstitusi Mahfud MD yang bakal mendampingi Presiden Joko Widodo dalam
Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Pernyataan itu disampaikan Hasto
menyikapi pernyataan Mahfud MD, pernah dihubungi sejumlah pihak
seperti Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan Ketua Umum PPP
Romahurmuziy mengenai namanya final menjadi cawapres Jokowi.
Namun demikian, cerita Mahfud MD seolah-olah mengkonfirmasi dugaan
banyak orang, bahwa ada yang mengendalikan Joko Widodo. Ini sekaligus
mengingatkan pernyataan Megawati beberapa tahun yang lalu, bahwa
Jokowi adalah petugas partai.
Bahkan, terbaru, Ketua Umum PDI Perjuangan ini mengatakan soal petugas
partai pada hari Minggu (7/1/2018), saat mengumumkan enam pasang calon
kepala daerah di Pilkada 2018.
“Ketika saya jadikan Pak Jokowi [sebagai presiden], orang seperti
tidak mau tahu Pak Jokowi itu jadi oleh siapa. [Mereka] lupa saya
punya tandatangan Pak Jokowi [kalau] dia adalah petugas partai,” ujar
Megawati seperti dilansir /tirto.id/ (9/1/2018).
Tidak heran jika kemudian Rocky Gerung mengatakan, tindakan Jokowi
yang batal menjadikan Mahfud sebagai cawapres di saat-saat terakhir
deklarasi merupakan tindakan tidak berintegritas.
“Anda bayangkan seorang presiden pada saat terakhir tidak bisa
mempertahankan integritasnya. Dia mengatakan pada Pak Mahfud tadi,
‘saya ditekan segala macam’, pemimpin macam apa yang di ujung ketika
harus memutuskan saya menyerah karena ditekan maka dia ganti pilihan.
Dia tidak otentik memutuskan itu.”
Lebih lanjut dia mengatakan, bagaimana kita percaya pada pemimpin
dalam situasi yang mungkin lebih berbahaya dia bisa tangguh
menghadapi? Dalam duel internasional misalnya, dalam negosiasi, kalau
dari awal watak presiden itu immoral?” papar Rocky.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com