Nimbrung.

 

Almarhum Gus Dur sebagai tokoh besar NU sebelum menjadi presiden Indonesia 
pernah menulis, bahwa: “Dalam proses perubahan sosial, agama hanya berfungsi 
suplementer dan hanya menjadikan `sarana` bagi proses perubahan itu sendiri, 
bukan agama yang membuat perubahan itu. Dunia itu berkembang menurut 
pertimbangan `dunia`-nya  sendiri. Agama hanya mempengaruhi sejauh dunia itu 
siap dipengaruhi,tidak lebih dari itu. Begitu agma mengubah dirinya  menjadi 
penentu, tidak lagi hanya mempengruhi tetapi menentukan, maka dia telah menjadi 
duniawi.  Kalau hal ini yang terjadi, pada gilirannya ia  bisa mengundang sikap 
represif. Agama menjadi represif, untuk mempertahankan diri“(Abdurrachman 
Wahid. Jangan paksakan Paradigma Luar terhadap Agama. Prisma 9 September 1982, 
halaman 63 dan 64).

Pandangan Almarhum Gus Dur yang tidak menyetujui agama dimanfaatlkan sebagai 
media represif, dapat dikatakan berjiwa demokratis dan tidak negatif. Tapi yang 
dilakukan oleh tokoh NU pak Kiyai Haji Ma´ruf Amin segabai ketua MUI, adalah 
bertentangan dengan pendapat almarhum Gus Dur. Dalam komteks ini pak Kiyai Haji 
Ma´ruf Amin menyatakan NU akan meininggalkan Negara jika tidak dipilih sebagai 
calon wakil presiden. Ucapan ini saya tanggapi sebagi penyataan bahwa NU di era 
Ma`ruf Amin sudah berubah sifatnya, artinya NU sudah menjadi duniawi, karena NU 
telah menjadikan Agama menjadi represif, yang dalam konteks ini adalah: untuk 
merebut kekuasaan negara dengan cara melakukan tekanan politik terhadap 
Presiden Jokowi. Mengapa Pak Kiyai Ma´ruf Amin berani melakukan tekanan politik 
terhadap Pak Jokowi, hal itu disebabkan oleh karena Pak Ma´ruf Amin memahami 
betul bahwa pak Jokowi adalah presiden yang lemah, jadi tidak akan berani 
mempertahankan kedaulatannya yaitu Hak Prerogatif seorang Presiden menurut UUD 
1945.

Jika ini akan terus terjadi maka, NKRI akan terancam kehidupannya, karena di 
era ``reformasi`` ini Agama telah dirubah Fungsinya menjadi partai Politik yang 
arogan.

 

Roeslan.

 

 

Von: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Donnerstag, 16. August 2018 15:23
An: [email protected]
Betreff: Re: [GELORA45] Setelah Mahfud MD Bicara

 

  

Sebagai petahana wajarlah kalau kubu Jokowi sudah 



menyiapkan segala sesuatu untuk periode II kekuasaannya, 



termasuk untuk langsung mendaftar sebagai peserta pilpres 



pada hari pertama pendaftaran, 4/8/2018.





Sayangnya kan bukan seperti itu yang terjadi. Nama cawapres 



yang disebut-sebut berinisial 'M' saja tak kunjung diungkap 



sampai Kamis petang (9/8, sekitar 30 jam sebelum ditutupnya 



pendaftaran). 'M' itu pun akhirnya bukan inisial dari 'Mahfud' 



yang sempat bocor dan beredar luas selama beberapa menit 



sebelum Jokowi mengumumkan cawapresnya, melainkan 'M' 



dari 'Ma'ruf Amin'. Para pendukung yang juga kaget dengan 



antiklimaks drama cawapres ini lantas coba memoles pilihan 



Jokowi tsb dengan bungkusan mentereng: "pasangan nasionalis-

agamis". Ibarat permainan catur bungkus ini jelas merupakan 



langkah skak dari kubu Jokowi dalam menjawab langkah 



kubu lawan yang disebut-sebut sebagai "koalisi keumatan". 



1-0 untuk kubu Jokowi.







Tentu, kita tetap bisa berpanjang-panjang mengulas drama 



cawapres ini sekalipun kebusukannya sudah diungkap Mahfud 



dengan gamblang, juga sekalipun ulama pilihan Jokowi itu 



merupakan jawaban skak bagi kubu Prabowo yang hingga Kamis 



tengah malam belum mengumumkan cawapresnya.. Tetapi, 



benarkah duet 'nasionalis-agamis' begitu merupakan jawaban tepat 



bagi persoalan bangsa saat ini? 







Itulah pertanyaan Rakyat yang 4 tahun ini kualitas hidupnya 



semakin penyek digencet harga kebutuhan yang terus menjulang. 



Dan, ketika kubu Prabowo mengumumkan cawapresnya, barulah 



terlihat ending yang luarbiasa. Ya, pada akhirnya yang tersaji 



dari drama cawapres ini adalah menggebunya kubu Jokowi menari 



di gendang lawan yang seperti sengaja menabuhkan irama keumatan.







Nah, daripada berpanjang-panjang membahas "skak" yang njeblos 



masuk perangkap gitu, lebih asyik menyentil ide buruk yang mengatakan 



pemilu BUKAN untuk memilih yang terbaik. 







Bukan main. Itu adalah ide yang sangat-sangat buruk. Apalagi kalau 



betul ide itu dilontarkan seorang tokoh pemikir. Sentilan kepadanya 



haruslah berupa kepretan yang sangat-sangat keras juga, hahaha....







Lha gimana, puak-puak golput saja tetap menempatkan pemilu sebagai 



lembaga / cara untuk memilih yang terbaik, sukur-sukur yang terbaik 



di antara yang baik-baik. Jadi, kalau sang pemikir sudah malas berpikir 



mbok jangan kalap membakar gudang hanya untuk mencegah tikus masuk 



ke gudang...

 

--- SADAR@... wrote:





Semalam, setelah mengikuti acara ILC, Ilyas Karni -- "Kejutan Cawapres", 
masalah perubahan tiba-tiba dalam jam terakhir penetapan koalisi Jokowi dari 
cawapres Mahfud MD menjadi Ma'ruf Amin, sedang koalisi Prabowo juga berubah 
menjadi Sandiago Uno, satu nama yg tidak terdengar sebelumnya, ... menunjukkan 
ada KESALAHAN FATAL dalam menentukan calon Presiden-Wapres. Terjadi tarik-ulur 
dengan parpol-parpol koalisi masing-masing, ... sebagai usaha bisa menangkan 
pilpres atau tidak.

 

Dijam terakhir Jokowi hendak menandatangani keputusan menentukan cawapres dan 
diumumkan keluar, tiba-tiba saja PKB ajukan Maruf Amin dengan alasan Mahfud 
bukan kader NU, yang akhirnya disetujui PDIP dan diikuti partai lain, .... 
untuk pertahankan kekuatan koalisi, Jokowi tidak ada pilihan lain kecuali 
merubah keputusan semula dengan mengorbankan Mahfud dan menggantinya dengan 
Maruf Amin! Syukurlah Mahfud berhati besar, dengan lapang-dada bisa menerima 
keputusan perubahan ini, hanya KAGET, tapi TIDAK KECEWA! Itulah keputusan 
politik, ... dan Jokowi tidak perlu merasa bersalah!





Sedang Prabowo dijam terakhir juga kesulitan mengambil keputusan dengan 
berkerasnya colon yang semula diajukan Salim Segaf Al Jufri, Ustaz Abdul Somad 
dan Anies Baswedan menolak, akhirnya munculah nama Sandiago Uno diikuti dengan 
tudingan Partai Demokrat, Andi Arief adanya mahar dari Sandi sebanyak 500M pada 
PKS dan PAN, ...





Nampak sangat jelas disini, pilpres 2019 masih saja terjadi perdagangan politik 
tarik-ulur kepentingan-kepentingan diantara parpol bahkan politik-uang, ... 
bagaimana bisa keluarkan seorang TOKOH yg ideal terbaik bagi bangsa dan RAKYAT?!





Jadi, ... benar kata romo Magnis: "Pemilu BUKAN untuk memilih yang terbaik, 
tetapi untuk MENCEGAH yang terburuk berkuasa!"





Jangan BIARKAN yang TERBURUK berkuasa! Rakyat banyak akan lebih celaka dan 
menderita kalau yang terburuk berkuasa, ...

 

 

ajeg 於 15/8/2018 23:29 寫道:





Mental petugas.





“saya tidak bisa menolak, saya bukan ketua partai”



- Joko Widodo, presiden

 

-

 

Kelompok buruh yang tergabung dalam FSPASI (Federasi serikat pekerja aneka 
sektor Indonesia) menyuarakan penolakan untuk kembali memilih Joko Widodo dalam 
pemilihan presiden 2019 mendatang. (KOMPAS.com/Ihsanuddin).

Kelompok buruh yang tergabung dalam FSPASI (Federasi serikat pekerja aneka 
sektor Indonesia) menyuarakan 



penolakan untuk kembali memilih Joko Widodo dalam pemilihan presiden 2019 
mendatang. 



(KOMPAS.com/Ihsanuddin).

 

15 Agustus 2018 at 15:15



Setelah Mahfud MD Bicara



Posted by Ari Wulandari D 

Jakarta, KPonline – Setelah Mahfud MD bicara, kita jadi tahu drama yang terjadi 
di belakang terpilihnya Ma’ruf Amin sebagai Calon Wakil Presiden yang akan 
mendampingi Joko Widodo atau Jokowi. Ini sekaligus memberikan gambaran, bahwa 
apa yang kita saksikan di permukaan bukanlah sebagaimana yang kelihatan. 





Seperti yang dicerita Mahfud MD, pasca polemik terkait Cawapres itu terjadi, 
Jokowi kemudian mengundangnya ke istana. Dalam kesempatan itu, terungkap apa 
yang sebenarnya terjadi.

 

“Pak Jokowi menjelaskan peristiwanya dihadapkan pada situasi serba sulit. Klir 
Pak Jokowi mengatakan, ‘sampai kemarin sore memang sudah saya perintahkan 
mengerucut satu Pak Mahfud dibuatkan ini [seragam]. Tapi, tiba-tiba sore 
masing-masing partai mengajukan calon sendiri-sendiri yang berbeda. Kemudian 
saya tidak bisa menolak, saya bukan ketua partai, sementara koalisi harus 
ditandatangani’,” tutur Mahfud menirukan kembali apa yang dikatakan Jokowi 
kepada dirinya.

 

Namun demikian, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan 
partai koalisi tak pernah mengumumkan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud 
MD yang bakal mendampingi Presiden Joko Widodo dalam Pemilihan Presiden 
(Pilpres) 2019. Pernyataan itu disampaikan Hasto menyikapi pernyataan Mahfud 
MD, pernah dihubungi sejumlah pihak seperti Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar 
dan Ketua Umum PPP Romahurmuziy mengenai namanya final menjadi cawapres Jokowi.

 

Namun demikian, cerita Mahfud MD seolah-olah mengkonfirmasi dugaan banyak 
orang, bahwa ada yang mengendalikan Joko Widodo. Ini sekaligus mengingatkan 
pernyataan Megawati beberapa tahun yang lalu, bahwa Jokowi adalah petugas 
partai.

 

Bahkan, terbaru, Ketua Umum PDI Perjuangan ini mengatakan soal petugas partai 
pada hari Minggu (7/1/2018), saat mengumumkan enam pasang calon kepala daerah 
di Pilkada 2018.

 

“Ketika saya jadikan Pak Jokowi [sebagai presiden], orang seperti tidak mau 
tahu Pak Jokowi itu jadi oleh siapa. [Mereka] lupa saya punya tandatangan Pak 
Jokowi [kalau] dia adalah petugas partai,” ujar Megawati seperti dilansir 
tirto.id (9/1/2018).

 

Tidak heran jika kemudian Rocky Gerung mengatakan, tindakan Jokowi yang batal 
menjadikan Mahfud sebagai cawapres di saat-saat terakhir deklarasi merupakan 
tindakan tidak berintegritas.

 

“Anda bayangkan seorang presiden pada saat terakhir tidak bisa mempertahankan 
integritasnya. Dia mengatakan pada Pak Mahfud tadi, ‘saya ditekan segala 
macam’, pemimpin macam apa yang di ujung ketika harus memutuskan saya menyerah 
karena ditekan maka dia ganti pilihan. Dia tidak otentik memutuskan itu.”

 

Lebih lanjut dia mengatakan, bagaimana kita percaya pada pemimpin dalam situasi 
yang mungkin lebih berbahaya dia bisa tangguh menghadapi? Dalam duel 
internasional misalnya, dalam negosiasi, kalau dari awal watak presiden itu 
immoral?” papar Rocky.







Kirim email ke