Berani memang perlu, tapi ya jangan asal berani. 
Keberanian melihat kenyataan pahit itu haruslah dibarengi 
dengan kemauan berpikir untuk menemukan penyebab 
bangsa ini jatuh dalam kepahitan. Minimal menemukan 
penyebab sontoloyonya partai-partai peserta pemilu. 
Menjeplak "pemilu BUKAN untuk memilih yang terbaik," 
adalah ekspresi frustasi yang menjadikan pemilu tampak 
jelek/negatif. Mencemarkan nama baik Pemilihan Umum 
itu sendiri. Apalagi disambung dengan, "..tetapi untuk 
MENCEGAH yang terburuk berkuasa," maka lengkaplah 
sudah ekspresi kedunguan itu. Lha yang jadi biang keladi kan 
tikus-tikusnya (parpol), ngapain kok rumah (pemilunya) 
yang  dicemarkan/dibakar? Kenapa bukan tikusnya yang diurus?
Silakan si Romo berkhotbah untuk jangan golput. Yang penting 
sebelum bobo cobalah mikir sedikit, kenapa harus merawat 
kepahitan bangsa ini dengan memilih yang terbaik diantara 
yang buruk; kenapa harus memberikan suara kepada "less evil"; 
kenapa menyediakan diri sebagai alas kaki kaum parasit masuk 
ke lembaga kekuasaan. Buat apa memberi kekuasaan kepada 
"sontoloyo terbaik"? Sontoloyo ya tetap sontoloyo. Selalu jadi parasit 
ketika berkuasa. Jadi, Romo jangan tidur melulu sebelum 
memikirkan pertanyaan ini.
Dengan berpikir pastilah muncul serangkaian pertanyaan lagi, 
susul-menyusul menuntut jawaban. Dalam hal kepahitan bangsa
Golput memang bukan satu-satunya jawaban, melainkan jawaban awal 
dari seluruh proses kekuasaan yang menyeret bangsa merdeka ini 
masuk ke jaman kegelapan. Ya, jawaban awal. Dimulai dengan tidak 
memberi suara kepada siapa pun dari kumpulan sontoloyo. Jangan 
pernah menganggap kekuatan perobahan baru sah bila beratribut partai
atau senjata atau dompet tebal. Belajarlah dari perjuangan bangsa ini 
ketika berobah dari anak jajahan menjadi Indonesia.

--- SADAR@... wrote:
Masalahnya BUKAN MALAS BERPIKIR, apalagi MEMBAKAR GUDANG untuk mencegah tikus 
masuk, ...! Tapi kita HARUS BERANI melihat kenyataan kondisi yang dihadapi 
memang sangat pahit dan BELUM ada kekuatan untuk merubah memperbaiki, dimana 
pemilu bisa memilih yang TERBAIK dari calon-calon yang tampil!
Seruan jangan GOLPUT, agar jangan sampai yang TERJELEK berhasil berkuasa! Itu 
berarti menyelamatkan GUDANG dengan mencegak tikus ganas masuk merampok isi 
gudang! Bukan sebaliknya membakar gudang, ...!
Jadi, kalau sang pemikir sudah malas berpikir mbok jangan kalap membakar gudang 
hanya untuk mencegah tikus masuk ke gudang...
ajeg 於 16/8/2018 21:22 寫道:
Sebagai petahana wajarlah kalau kubu Jokowi sudahmenyiapkan segala sesuatu 
untuk periode II kekuasaannya, termasuk untuk langsung mendaftar sebagai 
peserta pilpres pada hari pertama pendaftaran, 4/8/2018.
Sayangnya kan bukan seperti itu yang terjadi. Nama cawapres yang disebut-sebut 
berinisial 'M' saja tak kunjung diungkap sampai Kamis petang (9/8, sekitar 30 
jam sebelum ditutupnya pendaftaran). 'M' itu pun akhirnya bukan inisial dari 
'Mahfud' yang sempat bocor dan beredar luas selama beberapa menit sebelum 
Jokowi mengumumkan cawapresnya, melainkan 'M' dari 'Ma'ruf Amin'. Para 
pendukung yang juga kaget dengan antiklimaks drama cawapres ini lantas coba 
memoles pilihan Jokowi tsb dengan bungkusan mentereng: "pasangan nasionalis-
agamis". Ibarat permainan catur bungkus ini jelas merupakan langkah skak dari 
kubu Jokowi dalam menjawab langkah kubu lawan yang disebut-sebut sebagai 
"koalisi keumatan". 1-0 untuk kubu Jokowi.
Tentu, kita tetap bisa berpanjang-panjang mengulas drama cawapres ini sekalipun 
kebusukannya sudah diungkap Mahfud dengan gamblang, juga sekalipun ulama 
pilihan Jokowi itu merupakan jawaban skak bagi kubu Prabowo yang hingga Kamis 
tengah malam belum mengumumkan cawapresnya.. Tetapi, benarkah duet 
'nasionalis-agamis' begitu merupakan jawaban tepat bagi persoalan bangsa saat 
ini? 
Itulah pertanyaan Rakyat yang 4 tahun ini kualitas hidupnya semakin penyek 
digencet harga kebutuhan yang terus menjulang. Dan, ketika kubu Prabowo 
mengumumkan cawapresnya, barulah terlihat ending yang luarbiasa.. Ya, pada 
akhirnya yang tersaji dari drama cawapres ini adalah menggebunya kubu Jokowi 
menari di gendang lawan yang seperti sengaja menabuhkan irama keumatan.
Nah, daripada berpanjang-panjang membahas "skak" yang njeblos masuk perangkap 
gitu, lebih asyik menyentil ide buruk yang mengatakan pemilu BUKAN untuk 
memilih yang terbaik. 
Bukan main. Itu adalah ide yang sangat-sangat buruk. Apalagi kalau betul ide 
itu dilontarkan seorang tokoh pemikir. Sentilan kepadanya haruslah berupa 
kepretan yang sangat-sangat keras juga, hahaha....
Lha gimana, puak-puak golput saja tetap menempatkan pemilu sebagai lembaga / 
cara untuk memilih yang terbaik, sukur-sukur yang terbaik di antara yang 
baik-baik. Jadi, kalau sang pemikir sudah malas berpikir mbok jangan kalap 
membakar gudang hanya untuk mencegah tikus masuk ke gudang...
--- SADAR@... wrote:
Semalam, setelah mengikuti acara ILC, Ilyas Karni -- "Kejutan Cawapres", 
masalah perubahan tiba-tiba dalam jam terakhir penetapan koalisi Jokowi dari 
cawapres Mahfud MD menjadi Ma'ruf Amin, sedang koalisi Prabowo  juga berubah 
menjadi Sandiago Uno, satu nama yg tidak terdengar sebelumnya, ... menunjukkan 
ada KESALAHAN FATAL dalam menentukan calon Presiden-Wapres. Terjadi tarik-ulur 
dengan parpol-parpol koalisi  masing-masing, ... sebagai usaha bisa menangkan 
pilpres atau tidak.
Dijam terakhir Jokowi hendak menandatangani keputusan menentukan cawapres  dan 
diumumkan keluar, tiba-tiba saja PKB ajukan Maruf Amin dengan alasan Mahfud 
bukan kader NU, yang akhirnya disetujui PDIP dan diikuti partai lain, ....  
untuk pertahankan kekuatan koalisi, Jokowi tidak ada pilihan lain kecuali 
merubah  keputusan semula dengan mengorbankan Mahfud dan menggantinya dengan 
Maruf Amin! Syukurlah Mahfud berhati besar, dengan lapang-dada bisa menerima  
keputusan perubahan ini, hanya KAGET, tapi TIDAK KECEWA! Itulah keputusan 
politik, ... dan Jokowi tidak perlu merasa bersalah!
Sedang Prabowo dijam terakhir juga kesulitan mengambil keputusan dengan  
berkerasnya colon yang semula diajukan Salim Segaf Al Jufri, Ustaz Abdul Somad 
dan Anies Baswedan  menolak, akhirnya munculah nama Sandiago Uno diikuti dengan 
tudingan Partai Demokrat, Andi Arief adanya mahar dari Sandi sebanyak 500M pada 
PKS dan PAN,  ...
Nampak sangat jelas disini, pilpres 2019 masih saja terjadi perdagangan politik 
 tarik-ulur kepentingan-kepentingan diantara parpol bahkan politik-uang, ...  
bagaimana bisa keluarkan seorang TOKOH yg ideal terbaik bagi bangsa dan RAKYAT?!
Jadi, ... benar kata romo Magnis: "Pemilu BUKAN untuk memilih yang terbaik, 
tetapi untuk MENCEGAH yang terburuk  berkuasa!"
Jangan BIARKAN yang TERBURUK berkuasa! Rakyat banyak akan lebih celaka dan 
menderita kalau yang terburuk berkuasa, ...
ajeg 於 15/8/2018 23:29 寫道:
Mental petugas.
“saya tidak bisa menolak, saya bukan ketua partai”- Joko Widodo, 
presidenKelompok buruh yang tergabung dalam FSPASI (Federasi serikat pekerja 
aneka sektor Indonesia) menyuarakan penolakan untuk kembali memilih Joko Widodo 
dalam pemilihan presiden 2019 mendatang. (KOMPAS.com/Ihsanuddin).
15 Agustus 2018 at 15:15
Setelah Mahfud MD Bicara
Posted by Ari Wulandari D
Jakarta, KPonline – Setelah Mahfud MD bicara, kita jadi tahu drama yang terjadi 
di belakang terpilihnya Ma’ruf Amin sebagai Calon Wakil Presiden yang akan 
mendampingi Joko Widodo atau Jokowi. Ini sekaligus memberikan gambaran, bahwa 
apa yang kita saksikan di permukaan bukanlah sebagaimana yang kelihatan.
Seperti yang dicerita Mahfud MD, pasca polemik terkait Cawapres itu terjadi, 
Jokowi kemudian mengundangnya ke istana. Dalam kesempatan itu, terungkap apa 
yang sebenarnya terjadi.
“Pak Jokowi menjelaskan peristiwanya dihadapkan pada situasi serba sulit. Klir 
Pak Jokowi mengatakan, ‘sampai kemarin sore memang sudah saya perintahkan 
mengerucut satu Pak Mahfud dibuatkan ini [seragam]. Tapi, tiba-tiba sore 
masing-masing partai mengajukan calon  sendiri-sendiri yang berbeda. Kemudian 
saya tidak bisa menolak, saya bukan ketua partai, sementara koalisi harus 
ditandatangani’,” tutur Mahfud menirukan kembali apa yang dikatakan Jokowi 
kepada dirinya.
Namun demikian, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan 
partai koalisi tak pernah mengumumkan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud 
MD yang bakal mendampingi Presiden Joko Widodo dalam Pemilihan Presiden 
(Pilpres) 2019. Pernyataan itu disampaikan Hasto menyikapi pernyataan  Mahfud 
MD, pernah dihubungi sejumlah pihak seperti Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar 
dan Ketua Umum PPP Romahurmuziy mengenai namanya final menjadi cawapres Jokowi.
Namun demikian, cerita Mahfud MD seolah-olah mengkonfirmasi dugaan banyak 
orang, bahwa ada yang mengendalikan Joko Widodo. Ini sekaligus mengingatkan 
pernyataan Megawati beberapa tahun yang lalu, bahwa Jokowi adalah petugas 
partai.
Bahkan, terbaru, Ketua Umum PDI Perjuangan ini mengatakan soal petugas partai 
pada hari Minggu (7/1/2018), saat mengumumkan enam pasang calon kepala daerah 
di Pilkada 2018.
“Ketika saya jadikan Pak Jokowi [sebagai presiden], orang seperti tidak mau 
tahu Pak Jokowi itu jadi oleh siapa. [Mereka] lupa saya punya tandatangan Pak 
Jokowi [kalau] dia adalah petugas partai,” ujar Megawati seperti dilansir 
tirto.id (9/1/2018).
Tidak heran jika kemudian Rocky Gerung mengatakan, tindakan Jokowi yang batal 
menjadikan Mahfud sebagai cawapres di saat-saat terakhir deklarasi merupakan 
tindakan tidak berintegritas.
“Anda bayangkan seorang presiden pada saat terakhir tidak bisa mempertahankan 
integritasnya. Dia mengatakan pada Pak Mahfud tadi, ‘saya ditekan segala 
macam’, pemimpin macam apa yang di ujung ketika harus memutuskan saya menyerah 
karena ditekan maka dia ganti pilihan. Dia tidak otentik memutuskan itu.”
Lebih lanjut dia mengatakan, bagaimana kita percaya pada pemimpin dalam situasi 
yang mungkin lebih berbahaya dia bisa tangguh menghadapi? Dalam duel 
internasional misalnya, dalam negosiasi, kalau dari awal watak presiden itu 
immoral?” papar Rocky.

Kirim email ke