seperti ada pertukaran posisi, kubu Jokowi beralih ke "islami" sedang Prabowo 
ke "millenial" 

---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :

 Sebagai petahana wajarlah kalau kubu Jokowi sudah 

 menyiapkan segala sesuatu untuk periode II kekuasaannya, 

 termasuk untuk langsung mendaftar sebagai peserta pilpres 

 pada hari pertama pendaftaran, 4/8/2018.

 

 Sayangnya kan bukan seperti itu yang terjadi. Nama cawapres 

 yang disebut-sebut berinisial 'M' saja tak kunjung diungkap 

 sampai Kamis petang (9/8, sekitar 30 jam sebelum ditutupnya 

 pendaftaran). 'M' itu pun akhirnya bukan inisial dari 'Mahfud' 

 yang sempat bocor dan beredar luas selama beberapa menit 

 sebelum Jokowi mengumumkan cawapresnya, melainkan 'M' 

 dari 'Ma'ruf Amin'. Para pendukung yang juga kaget dengan 

 antiklimaks drama cawapres ini lantas coba memoles pilihan 

 Jokowi tsb dengan bungkusan mentereng: "pasangan nasionalis-
 agamis". Ibarat permainan catur bungkus ini jelas merupakan 

 langkah skak dari kubu Jokowi dalam menjawab langkah 

 kubu lawan yang disebut-sebut sebagai "koalisi keumatan". 

 1-0 untuk kubu Jokowi.


 

 Tentu, kita tetap bisa berpanjang-panjang mengulas drama 

 cawapres ini sekalipun kebusukannya sudah diungkap Mahfud 

 dengan gamblang, juga sekalipun ulama pilihan Jokowi itu 


 merupakan jawaban skak bagi kubu Prabowo yang hingga Kamis 

 tengah malam belum mengumumkan cawapresnya. Tetapi, 

 benarkah duet 'nasionalis-agamis' begitu merupakan jawaban tepat 

 bagi persoalan bangsa saat ini? 

 

 Itulah pertanyaan Rakyat yang 4 tahun ini kualitas hidupnya 

 semakin penyek digencet harga kebutuhan yang terus menjulang. 

 Dan, ketika kubu Prabowo mengumumkan cawapresnya, barulah 

 terlihat ending yang luarbiasa. Ya, pada akhirnya yang tersaji 

 dari drama cawapres ini adalah menggebunya kubu Jokowi menari 

 di gendang lawan yang seperti sengaja menabuhkan irama keumatan.


 

 Nah, daripada berpanjang-panjang membahas "skak" yang njeblos 

 masuk perangkap gitu, lebih asyik menyentil ide buruk yang mengatakan 

 pemilu BUKAN untuk memilih yang terbaik. 

 

 Bukan main. Itu adalah ide yang sangat-sangat buruk. Apalagi kalau 

 betul ide itu dilontarkan seorang tokoh pemikir. Sentilan kepadanya 

 haruslah berupa kepretan yang sangat-sangat keras juga, hahaha....


 

 Lha gimana, puak-puak golput saja tetap menempatkan pemilu sebagai 

 lembaga / cara untuk memilih yang terbaik, sukur-sukur yang terbaik 

 di antara yang baik-baik. Jadi, kalau sang pemikir sudah malas berpikir 

 mbok jangan kalap membakar gudang hanya untuk mencegah tikus masuk 

 ke gudang...

 

 --- SADAR@... wrote:
 

 Semalam, setelah mengikuti acara ILC, Ilyas Karni -- "Kejutan Cawapres", 
masalah perubahan tiba-tiba dalam jam terakhir penetapan koalisi Jokowi dari 
cawapres Mahfud MD menjadi Ma'ruf Amin, sedang koalisi Prabowo juga berubah 
menjadi Sandiago Uno, satu nama yg tidak terdengar sebelumnya, ... menunjukkan 
ada KESALAHAN FATAL dalam menentukan calon Presiden-Wapres. Terjadi tarik-ulur 
dengan parpol-parpol koalisi masing-masing, ... sebagai usaha bisa menangkan 
pilpres atau tidak.

 




 Dijam terakhir Jokowi hendak menandatangani keputusan menentukan cawapres dan 
diumumkan keluar, tiba-tiba saja PKB ajukan Maruf Amin dengan alasan Mahfud 
bukan kader NU, yang akhirnya disetujui PDIP dan diikuti partai lain, ... untuk 
pertahankan kekuatan koalisi, Jokowi tidak ada pilihan lain kecuali merubah 
keputusan semula dengan mengorbankan Mahfud dan menggantinya dengan Maruf Amin! 
Syukurlah Mahfud berhati besar, dengan lapang-dada bisa menerima keputusan 
perubahan ini, hanya KAGET, tapi TIDAK KECEWA! Itulah keputusan politik, ... 
dan Jokowi tidak perlu merasa bersalah!
 


 Sedang Prabowo dijam terakhir juga kesulitan mengambil keputusan dengan 
berkerasnya colon yang semula diajukan Salim Segaf Al Jufri, Ustaz Abdul Somad 
dan Anies Baswedan menolak, akhirnya munculah nama Sandiago Uno diikuti dengan 
tudingan Partai Demokrat, Andi Arief adanya mahar dari Sandi sebanyak 500M pada 
PKS dan PAN, ...
 


 Nampak sangat jelas disini, pilpres 2019 masih saja terjadi perdagangan 
politik tarik-ulur kepentingan-kepentingan diantara parpol bahkan politik-uang, 
... bagaimana bisa keluarkan seorang TOKOH yg ideal terbaik bagi bangsa dan 
RAKYAT?!
 


 Jadi, ... benar kata romo Magnis: "Pemilu BUKAN untuk memilih yang terbaik, 
tetapi untuk MENCEGAH yang terburuk berkuasa!"
 


 Jangan BIARKAN yang TERBURUK berkuasa! Rakyat banyak akan lebih celaka dan 
menderita kalau yang terburuk berkuasa, ...
 
 

 

 ajeg 於 15/8/2018 23:29 寫道:
 

 Mental petugas.
 

 “saya tidak bisa menolak, saya bukan ketua partai”

 - Joko Widodo, presiden
 

 -
 

 

 
 
 Kelompok buruh yang tergabung dalam FSPASI (Federasi serikat pekerja aneka 
sektor Indonesia) menyuarakan 
 
 penolakan untuk kembali memilih Joko Widodo dalam pemilihan presiden 2019 
mendatang. 
 
 (KOMPAS.com/Ihsanuddin).
 
 
 
 15 Agustus 2018 at 15:15


 Setelah Mahfud MD Bicara

 Posted by Ari Wulandari D 

Jakarta, KPonline – Setelah Mahfud MD bicara, kita jadi tahu drama yang terjadi 
di belakang terpilihnya Ma’ruf Amin sebagai Calon Wakil Presiden yang akan 
mendampingi Joko Widodo atau Jokowi. Ini sekaligus memberikan gambaran, bahwa 
apa yang kita saksikan di permukaan bukanlah sebagaimana yang kelihatan. 
 
 Seperti yang dicerita Mahfud MD, pasca polemik terkait Cawapres itu terjadi, 
Jokowi kemudian mengundangnya ke istana. Dalam kesempatan itu, terungkap apa 
yang sebenarnya terjadi.
 
 
 “Pak Jokowi menjelaskan peristiwanya dihadapkan pada situasi serba sulit. Klir 
Pak Jokowi mengatakan, ‘sampai kemarin sore memang sudah saya perintahkan 
mengerucut satu Pak Mahfud dibuatkan ini [seragam]. Tapi, tiba-tiba sore 
masing-masing partai mengajukan calon sendiri-sendiri yang berbeda. Kemudian 
saya tidak bisa menolak, saya bukan ketua partai, sementara koalisi harus 
ditandatangani’,” tutur Mahfud menirukan kembali apa yang dikatakan Jokowi 
kepada dirinya.
 
 
 Namun demikian, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto 
mengatakan partai koalisi tak pernah mengumumkan mantan Ketua Mahkamah 
Konstitusi Mahfud MD yang bakal mendampingi Presiden Joko Widodo dalam 
Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Pernyataan itu disampaikan Hasto menyikapi 
pernyataan Mahfud MD, pernah dihubungi sejumlah pihak seperti Ketua Umum PKB 
Muhaimin Iskandar dan Ketua Umum PPP Romahurmuziy mengenai namanya final 
menjadi cawapres Jokowi.
 
 
 Namun demikian, cerita Mahfud MD seolah-olah mengkonfirmasi dugaan banyak 
orang, bahwa ada yang mengendalikan Joko Widodo. Ini sekaligus mengingatkan 
pernyataan Megawati beberapa tahun yang lalu, bahwa Jokowi adalah petugas 
partai.
 














Kirim email ke