https://nasional.tempo.co/read/1120655/kasus-meiliana-ingatkan-kolom-gus-dur-islam-kaset-dan-kebisingan/full&view=ok
Kasus Meiliana Ingatkan Kolom Gus Dur: Islam
Kaset dan Kebisingan
Reporter:
Tempo.co
Editor:
Syailendra Persada
Minggu, 26 Agustus 2018 10:17 WIB
Sejumlah pemuka agama dan warga menyalakan lilin di Tugu Proklamasi,
Jakarta, Sabtu (02/01). Sejuta Lilin Duka Lintas Iman Untuk Gus Dur
sebagai ungkapan keprihatinan atas wafatnya Gus Dur sebagai pahlawan
bagi kaum lintas iman. TEMPO/Budi Yanto
<https://statik.tempo.co/data/2010/01/02/id_23948/23948_620.jpg>
Sejumlah pemuka agama dan warga menyalakan lilin di Tugu Proklamasi,
Jakarta, Sabtu (02/01). Sejuta Lilin Duka Lintas Iman Untuk Gus Dur
sebagai ungkapan keprihatinan atas wafatnya Gus Dur sebagai pahlawan
bagi kaum lintas iman. TEMPO/Budi Yanto
*TEMPO.CO*, *Jakarta* - Belakangan, polemik soal suara azan kembali
diperbincangkan. Khususnya, setelah Pengadilan Negeri Medan memvonis
Meilina, seorang ibu rumah tangga, penjara 1 tahun 6 bulan karena
menistakan agama, Perempuan 56 tahun ini dituduh melecehkan Islam.
Padahal, ia hanya menyampaikan keluhan soal suara azan yang terlalu
keras dari masjid di depan rumahnya.
Baca: Putusan Meiliana, Kementerian Agama Ingatkan 6 Aturan Toa Masjid
<https://nasional.tempo.co/read/1120367/putusan-meiliana-kementerian-agama-ingatkan-6-aturan-toa-masjid/full&view=ok>
Kementerian Agama pun sampai kembali mengingatkan masyarakat bahwa ada
aturan Departemen Agama yang mengatur soal penggunaan pengeras suara di
masjid. Aturan ini tertuang dalam Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan
Masyarakat Islam Nomor Kep/D/101/1978. Dirjen Bimas Islam, Muhammadiyah
Amin, mengatakan aturan tersebut masih berlaku. "Hingga saat ini, belum
ada perubahan," kata Muhammadiyah Amin, seperti dikutip dari situs resmi
Kementerian Agama.
Mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur juga pernah
menyampaikan pandangannya soal pelantang suara di masjid. Tulisan ini
terbit di rubrik Kolom Majalah Tempo edisi 20 Februari 1982. Berikut
pandangan Gus Dur terkait pengeras suara di masjid:
*Islam Kaset dan Kebisingannya*
SUARA bising yang keluar dari kaset biasanya dihubungkan dengan musik
kaum remaja. Rock alaupun soul, iringan musiknya dianggap tidak bonafide
kalau tidak ramai.
Kalaupun ada unsur keagamaan dalam kaset, biasanya justru dalam bentuk
yang lembut. Sekian buah baladanya Trio Bimbo, atau lagu-lagu rohani
dari kalangan gereja.
Sudah tentu tidak ada yang mau membeli kalau ada kaset berisikan musik
agama yang berdentang-dentang, dengan teriakan yang tidak mudah
dimengerti apa maksudnya. Tetapi ternyata ada 'persembahan' berirama,
yang menampilkan suara lantang.
Bukan musik keagamaan, tetapi justru bagian integral dari upacara
keagamaan: berjenis-jenis seruan untuk beribadat, dilontarkan dari
menara-menara masjid dan atap surau.
Apalagi malam hari, lepas tengah malam di saat orang sedang tidur lelap.
Dari tarhim (anjuran bangun malam untuk menyongsong saat shalat subuh)
hingga bacaan Quran dalam volume yang diatur setinggi mungkin.
Barangkali saja agar lebih 'terasa' akibatnya: kalau sudah tidak dapat
terus tidur karena hiruk-pikuk itu, bukankah memang lebih baik bangun,
mengambil air sembahyang dan langsung ke masjid?