pada waktu rupiah melemah tindakan logis seseorang ya tahan dolar atau mata 
uang lain yg kondisinya lebih baik dari rupiah, kenapa kok di-ancam2? 

---In [email protected], <SADAR@...> wrote :

 Rupiah Melemah, Sri Mulyani Ancam Pengusaha yang Tahan Dolar Reporter:  Ahmad 
Faiz Ibnu Sani 
 Editor:  Dewi Rina Cahyani 
 Senin, 3 September 2018 20:06 WIB
 Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berbicara dengan petugas saat mengecek 
persiapan Asian Games 2018 di Terminal 3 Bandara Soekarno - Hatta, Tangerang, 
Senin, 13 Agustus 2018. Tempo/Hendartyo Hanggi
 TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah bergerak cepat seusai rupiah berada di level 
terendah sejak 1998. Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang siang tadi masih 
berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat, bergegas ke Jakarta dan mengumpulkan 
para menterinya untuk rapat di Istana.
 Menteri Keuangan Sri Mulyani  https://www.tempo.co/tag/sri-mulyanimengatakan 
pemerintah melalui forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan memantau 
detail perilaku pelaku pasar. "Kami akan bersama-sama dengan Bank Indonesia dan 
Otoritas Jasa Keuangan, lewat forum KSSK, akan meneliti dan memonitor secara 
detail tingkah laku pelaku pasar. Mana-mana transaksi yang legitimate demi 
memenuhi keperluan industrinya, atau tidak legitimate," katanya seusai rapat di 
Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 3 September 2018.
 Baca: Gerindra Kritik Utang Pemerintah, Begini Jawaban Sri Mulyani
 Pemerintah, kata Sri Mulyani, akan menindak tegas pihak-pihak yang membuat 
rupiah makin melemah. "Kalau tidak legitimate kami akan lakukan tindakan tegas 
agar tidak menimbulkan spekulasi atau sentimen negatif," ujarnya.
 Sri Mulyani menjelaskan yang dimaksud dengan tindakan legitimate itu adalah 
jika seorang pengusaha mengimpor bahan baku atau barang modal dan jelas apa 
bisnisnya. "Kalau kita mengimpor bahan baku, barang modal, dan memang bisnisnya 
ada, untuk bayar utang kembali. Memang ada kebutuhan yang legitimate, kalau 
tidak kan mereka lakukan sesuatu yang spekulatif," tuturnya.
 Menurut Sri Mulyani, pelemahan rupiah ini tidak lepas dari perekonomian global 
yang belum stabil. Terlebih belakangan ini Argentina tengah dilanda krisis yang 
diprediksi akan berdampak ke negara berkembang.
 Sri Mulyani menuturkan pemerintah tetap berkomitmen untuk memperkuat pondasi 
ekonomi dengan mendorong ekspor dan menekan impor. Selain itu, untuk di dalam 
negeri pemerintah bersama Bank Indonesia dan Otoritas jasa Keuangan terus 
mensinergikan koordinasi dari sisi informasi. Langkah-langkah yang akan 
dilakukan untuk menstabilkan kondisi ini akan saling dibagi di antara otoriras 
ini.
 "Sehingga kami bisa terus langsung lakukan penyesuaian kalau memang akan 
dilakukan," ujarnya.
 ADVERTISEMENT
 
 Ia menjelaskan saat ini fokus pemerintah tetap pada bagaimana cara mengurangi 
sentimen dari neraca pembayaran. "Selama ini yang disebut sebagai salah satu 
sumber sentimen dari perekonomian Indonesia adalah kondisi dari transaksi 
berjalan dan neraca perdagangan," ujarnya.
 Pemerintah, kata dia, sekarang sedang mengendalikan kebutuhan devisa lantaran 
menjadi aspek yang bisa dikontrol. Kementerian Keuangan dan Kementerian 
Perindustrian sedang mengidentifikasi 900 komoditas impor yang sebagian besar 
merupakan barang konsumsi.
 Baca: Rupiah Tembus Rp 14.700, Sri Mulyani: Kami Akan Waspadai
 Selain itu, bagi Badan Usaha Milik Negara seperti Pertamina dan PLN, 
pemerintah akan melihat apa saja kebutuhan yang tidak bisa ditunda. "Kalau pun 
kebutuhan yang tidak bisa ditunda, bagaimana suplai dolar dilakukan tanpa 
mengubah sentimen market," ucap Sri Mulyani 
https://bisnis.tempo.co/read/1123181/agustus-catat-deflasi-005-persen-begini-respons-sri-mulyani.
 
 
 
http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient
 不含病毒。www.avg.com 
http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient
 #DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2
 


Kirim email ke