Dari 2 pemberitaan yg berbeda ini, bukankah merupakan 2 cetusan dari
mental orang yang BERBEDA? Yang pertama mental orang MALAS atau salah
pengertian, bea-siswa dan program magang yang sedang dijalankan itu.
Jadi berbeda dengan apa yang mimpikan, ke Taiwan sekolah/kuliah penuh
tanpa harus bekerja dan untuk menarik perhatian, dicetuskanlah
rintihannya "kerja-paksa" dari jam 07:30 - 19:30 dan makan babi, ...! ;
yang kedua, mental seperti Andini ini, yg dengan jernih merima program
magang ke Taiwan, untuk bisa meneruskan kuliah sambil bekerja, sehingga
bisa meringankan BEBAN orang-tuanya!
kh djie [email protected] [GELORA45] 於 4/1/2019 8:45 寫道:
http://belitung.tribunnews.com/2018/04/11/kisah-mahasiswa-babel-kuliah-sambil-magang-di-taiwan-kami-dihargai-sebagai-muslim-minoritas?page=1
Pada tanggal Kam, 3 Jan 2019 pukul 21.09 Sunny ambon
[email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45]
<[email protected] <mailto:[email protected]>> menulis:
/Kerajaan Mojopahit zaman dulu kala mempekerjakan budak, jadi
tidak heran kalau zaman rezim neo-Mojopahit dikirim pekerja paksa
ke Taiwan sebagai pahlawan devisa./
https://sp.beritasatu.com/home/ratusan-mahasiswa-indonesia-diduga-alami-kerja-paksa-di-taiwan/127889
*Ratusan Mahasiswa Indonesia Diduga Alami Kerja Paksa di Taiwan*
*U-5* | Kamis, 3 Januari 2019 | 9:05
[TAIPEI] Pemerintah Indonesia meminta agar perwakilan Taiwan
menghentikan pemberian visa untuk program kuliah magang setelah
muncul laporan bahwa ratusan mahasiswa Indonesia diduga mengalami
kerja paksa di pabrik-pabrik.
Seperti dilaporkan /BBC,/ Kamis (3/1), Kepala Kantor Dagang dan
Ekonomi Indonesia di Taipei, Didi Sumedi mengatakan pihaknya telah
menerjunkan tim ke universitas-universitas yang dituding melakukan
praktik itu dan juga meminta klarifikasi ke kementerian luar
negeri setempat.
"Kita telah mengirim surat ke perwakilan Taiwan di Jakarta untuk
sementara waktu menghentikan visa mahasiswa untuk program magang
sementara sampai persoalan jelas," kata Didi.
Sebelumnya, anggota parlemen Taiwan dari Partai Kuomintang, Ko
Chih-en, menyebutkan sejumlah universitas mempekerjakan secara
paksa ratusan mahasiswa Indonesia ke pabrik-pabrik dalam program
magang.
Ko, seperti dilaporkan/ China Times/, menyebut sekitar 300
mahasiswa Indonesia di bawah usia 20 tahun terdaftar di
Universitas Hsing Wu melalui program yang dimulai Oktober tahun lalu.
Kementerian pendidikan setempat sejatinya melarang adanya magang
untuk mahasiswa tahun pertama. Namun perguruan tinggi yang
dimaksud tetap mempekerjakan para mahasiwa yang diangkut ke
pabrik-pabrik.
Ko mengatakan para mahasiswa kuliah pada Kamis dan Jumat,
sedangkan pada hari Minggu sampai Rabu mereka diangkut dengan
bus-bus ke pabrik di Hsinchu.
Di sana, menurut Ko, mereka bekerja dari pukul 07:30 pagi sampai
19:30, dan hanya istirahat dua jam. Mereka juga disebutkan harus
berdiri 10 jam per hari, mengepak 30.000 lensa kontak.
Disebutkan Ko, sebagian besar mahasiswa Indonesia merupakan
Muslim. Namun, yang mengejutkan, kata Ko, makanan yang disediakan
pihak pabrik mencakup hidangan babi. Dia menuduh pihak universitas
tidak mendengar keluhan dari para mahasiswa.
*Penyimpangan Jam Kerja*
Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei, Didi Sumedi,
memperkirakan pekan ini sudah ada hasil temuan pihaknya yang
diterjunkan ke universitas-universitas.
Dugaan awal, menurut Didi, penyimpangan yang terjadi menyangkut
jam kerja dan bukan kerja paksa.
"Kurang pas kalau disebut kerja paksa, karena itu program magang
sambil kerja. Kelebihan jam kerja yang menjadi masalah dan kita
minta Kemenlu (Taiwan) untuk menegur industri dan juga memberikan
penalti kepada universitas bila ada."
Sementara itu, Sutarnis selaku ketua Persatuan Pelajar Indonesia
Taiwan, mengatakan dirinya dan s
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com