Memang ada 2 macam program; bea siswa yg serba gratis dan terima uang saku, dan 
program magang kuliah sambil kerja. 

 Program bea siswa ada quota-nya jg ada syarat2 akademik yg lebih besar, jika 
tdk dapat bea siswa ya pilihan berikutnya kuliah sambil kerja itu. 
 

 Kerja itupun gajinya lumayan besar utk ukuran Indonesia NT 150 per jam (Rp 
70,000 per jam). Normalnya utk mahasiswa 20 jam seminggu, ttp dalam kasus ini 
kelihatannya ada yg bekerja 40 jam seminggu sama dgn yg dull time. Mungkin 
mengejar utk membayar kebutuhan atau bisa jd kepincut utk dpt duit lebih.

---In [email protected], <SADAR@...> wrote :

 Dari 2 pemberitaan yg berbeda ini, bukankah merupakan 2 cetusan dari mental 
orang yang BERBEDA? Yang pertama mental orang MALAS atau salah pengertian, 
bea-siswa dan program magang yang sedang dijalankan itu. Jadi berbeda dengan 
apa yang mimpikan, ke Taiwan sekolah/kuliah penuh tanpa harus bekerja dan untuk 
menarik perhatian, dicetuskanlah rintihannya  "kerja-paksa" dari jam 07:30 - 
19:30 dan makan babi, ...! ; yang kedua, mental seperti Andini ini, yg dengan 
jernih merima program magang ke Taiwan, untuk bisa meneruskan kuliah sambil 
bekerja, sehingga bisa meringankan BEBAN orang-tuanya!
 
 
 kh djie djiekh@... mailto:djiekh@... [GELORA45] 於 4/1/2019 8:45 寫道:
 
   
http://belitung.tribunnews.com/2018/04/11/kisah-mahasiswa-babel-kuliah-sambil-magang-di-taiwan-kami-dihargai-sebagai-muslim-minoritas?page=1
 
http://belitung.tribunnews.com/2018/04/11/kisah-mahasiswa-babel-kuliah-sambil-magang-di-taiwan-kami-dihargai-sebagai-muslim-minoritas?page=1
 
 
 
 Pada tanggal Kam, 3 Jan 2019 pukul 21.09 Sunny ambon ilmesengero@... 
mailto:ilmesengero@... [GELORA45] <[email protected] 
mailto:[email protected]> menulis:
 
   Kerajaan Mojopahit zaman dulu kala mempekerjakan budak, jadi tidak heran 
kalau zaman rezim neo-Mojopahit dikirim pekerja paksa ke Taiwan sebagai 
pahlawan devisa.
 
 
 
https://sp.beritasatu.com/home/ratusan-mahasiswa-indonesia-diduga-alami-kerja-paksa-di-taiwan/127889
 
https://sp.beritasatu.com/home/ratusan-mahasiswa-indonesia-diduga-alami-kerja-paksa-di-taiwan/127889
 
 
 Ratusan Mahasiswa Indonesia Diduga Alami Kerja Paksa di Taiwan
 U-5 | Kamis, 3 Januari 2019 | 9:05
 
 
 [TAIPEI] Pemerintah Indonesia meminta agar perwakilan Taiwan menghentikan 
pemberian visa untuk program kuliah magang setelah muncul laporan bahwa ratusan 
mahasiswa Indonesia diduga mengalami kerja paksa di pabrik-pabrik.
 Seperti dilaporkan BBC, Kamis (3/1), Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi 
Indonesia di Taipei, Didi Sumedi mengatakan pihaknya telah menerjunkan tim ke 
universitas-universitas yang dituding melakukan praktik itu dan juga meminta 
klarifikasi ke kementerian luar negeri setempat.
 "Kita telah mengirim surat ke perwakilan Taiwan di Jakarta untuk sementara 
waktu menghentikan visa mahasiswa untuk program magang sementara sampai 
persoalan jelas," kata Didi.
 Sebelumnya, anggota parlemen Taiwan dari Partai Kuomintang, Ko Chih-en, 
menyebutkan sejumlah universitas mempekerjakan secara paksa ratusan mahasiswa 
Indonesia ke pabrik-pabrik dalam program magang.
 Ko, seperti dilaporkan China Times, menyebut sekitar 300 mahasiswa Indonesia 
di bawah usia 20 tahun terdaftar di Universitas Hsing Wu melalui program yang 
dimulai Oktober tahun lalu.
 Kementerian pendidikan setempat sejatinya melarang adanya magang untuk 
mahasiswa tahun pertama. Namun perguruan tinggi yang dimaksud tetap 
mempekerjakan para mahasiwa yang diangkut ke pabrik-pabrik.
 Ko mengatakan para mahasiswa kuliah pada Kamis dan Jumat, sedangkan pada hari 
Minggu sampai Rabu mereka diangkut dengan bus-bus ke pabrik di Hsinchu.
 Di sana, menurut Ko, mereka bekerja dari pukul 07:30 pagi sampai 19:30, dan 
hanya istirahat dua jam. Mereka juga disebutkan harus berdiri 10 jam per hari, 
mengepak 30.000 lensa kontak.
 Disebutkan Ko, sebagian besar mahasiswa Indonesia merupakan Muslim. Namun, 
yang mengejutkan, kata Ko, makanan yang disediakan pihak pabrik mencakup 
hidangan babi. Dia menuduh pihak universitas tidak mendengar keluhan dari para 
mahasiswa.
 Penyimpangan Jam Kerja
 Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei, Didi Sumedi, 
memperkirakan pekan ini sudah ada hasil temuan pihaknya yang diterjunkan ke 
universitas-universitas.
 Dugaan awal, menurut Didi, penyimpangan yang terjadi menyangkut jam kerja dan 
bukan kerja paksa.
 "Kurang pas kalau disebut kerja paksa, karena itu program magang sambil kerja. 
Kelebihan jam kerja yang menjadi masalah dan kita minta Kemenlu (Taiwan) untuk 
menegur industri dan juga memberikan penalti kepada universitas bila ada."
 Sementara itu, Sutarnis selaku ketua Persatuan Pelajar Indonesia Taiwan, 
mengatakan dirinya dan s
 
 
 
 
 
 
 
 
 
http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient
 不含病毒。www.avg.com 
http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient
 #DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2
 

Kirim email ke