Yang bung lihat itu adalah jalan tol.

Jalan2 yg skrg dibangun itu bukan jalan tol saja, melainkan jalan2 
infrastruktur diseluruh Indonesia. Bung tahu enggak ini?

Dipapua, Sulawesi dll itu jalannya gratis bukan toll/bayar. Saya sendiri lihat 
dan pergi jalan2 trans Sulawesi yg luar biasa mulusnya. Sepi? Iya krn memang 
rakyatnya masih sedikit dikota2 kecil atau kampung2 sepanjang jalan jalan raya 
ini.

 

Bung salah kalau berpikir jalan raya itu buat orang kaya saja. Kalau bung bisa 
melihat jalan raya itu sbg infrastruktur, pasti cara berpikirnya laen. Kenapa 
laen? Karena jalan raya infrastruktur itulah jalan satu2nya utk mobilisasi baik 
orang maupun barang. Inilah asumsi dasar dalam memberdayakan rakyat dan 
mensejahterakan kehidupan mereka. Dgn kata lain: ini adalah penggerak ekonomi. 
Gak ada infrastruktur ini, gimana bisa ngomong kesejahteraan, kemiskinan, 
jualan kelapa dll????

 

Bung mungkin gak tahu bahwa di papua/irian utk pergi ke tanah merah di 
pegunungan jaya Wijaya atau ke oksibil pegunungan bintang itu gak ada jalan. 
Skrg infrastruktur dibuka ttp bukan jalan melainkan penerbangan yg hanya bisa 
dilakukan dari jayapura atau merauke. Bayangkan bagaimana bisa memberdayakan 
orang2 digunung2 ini tanpa ada akses kesana?

Ini saja dulu drpd susah2 mikirin/berdebat jalan tol dll.

 

Nesare

 

From: [email protected] <[email protected]> 
Sent: Thursday, February 7, 2019 10:12 AM
To: GELORA45 <[email protected]>; ajeg [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]>; ajeg <[email protected]>; Yahoogroups 
<[email protected]>; Sie Tik Tan <[email protected]>; Harry Singgih 
<[email protected]>; Lingkar Sitompul <[email protected]>; Daeng 
<[email protected]>; Harsono Sutedjo <[email protected]>; Gol 
<[email protected]>; Oman Romana <[email protected]>; [email protected]; 
Billy Gunadi <[email protected]>; Tjoa <[email protected]>; Sahala 
Silalahi <[email protected]>; Andreas Sungkono <[email protected]>; 
Nunu Nugroho <[email protected]>; Rachmat Hadi-Soetjipto 
<[email protected]>; Bambang Djalisnetra <[email protected]>
Subject: Re: Kwik Kian Gie Bongkar Penyebab Banyak Kendaraan Enggan Lewat Tol 
Re: [GELORA45] Truk Tolak Masuk Tol Trans Jawa

 

  

 

Dari dulu saya menganggap pembangunan infrastruktur besar seperti jalan tol 
bukan untuk kepentingan rakyat jelata, melainkan, antara lain, untuk 
melancarkan transportasi pengurasan kekayaan alam dari daerah pedalaman ke 
pelabuhan, transportasi barang konsumen ke daerah-daerah dalam rangka terus 
menggencarkan masyarakat konsumsi. Saya selalu bilang dengan sinis emangnya 
rakyat jelata punya mobil untuk jalan-jalan melalui jalan tol!!! Nah, bahkan 
kaum pengusaha menengah kecil dan menengah juga nggak bisa bayar tol yang 
memang sumber untuk mendapatkan "incredible profit" yang dijanjikan PYM Widodo.

On Thursday, February 7, 2019, 2:25:08 PM GMT+1, ajeg [email protected] 
<mailto:[email protected]>  [GELORA45] <[email protected] 
<mailto:[email protected]> > wrote: 

 

 

  

"Dengan infrastruktur dapat membuat untung loh," katanya 

menirukan gerakan Presiden saat mengundang investor asing

Kwik Kian Gie Bongkar Faktor Penyebab Banyaknya Kendaraan Enggan Lewat Jalan Tol

 

Rabu, 6 Februari 2019 17:06

 

Sosok ekonom Indonesia, Kwik Kian Gie membongkar tarif jalan tol mahal, yang 
dampaknya sangat dirasakan masyarakat bukan terjadi tanpa sebab.

 

Tarif jalan tol itu mahal terjadi karena baru di pemerintahan ini investor 
asing diundang sebesar-besarnya untuk melakukan investasi.

 

"Pak Jokowi, Presiden Indonesia kan mengundang foreign investor, come to 
Indonesia, Anda bisa membuat untung di Indonesia," katanya dalam dialog Jaya 
Suprana Show yang diunggah di YouTube dan sejumlah media sosial.

 

Video ini pun menjadi salah satu video viral yang banyak disaksikan masyarakat 
dan mendapatkan banyak komentar.

 

Menurut Kwik Kian Gie, para investor asing itu akan bisa membuat untung di 
Indonesia.

 

"Dengan infrastruktur dapat membuat untung loh," katanya, menirukan gerakan 
mengajak yang dilakukan saat Presiden mengundang investor asing masuk ke 
Indonesia untuk melakukan investasi.

 

Kegiatan itu, dinilai Kwik Kian Gie, memang berdampak terhadap investor untuk 
melakukan investasi yang sebesar-besarnya di Indonesia.

 

Karena investasi itu harus menghasilkan untung, otomatis harus cepat, maka yang 
terjadi kemudian dampaknya sangat dirasakan oleh masyarakat Indonesia.

 

Akibatnya, sebagian besar pengemudi truk dan kendaraan berat enggan menggunakan 
jalan tol, khususnya jalan tol terpanjang di Pulau Jawa yang menghubungkan 
Jakarta sampai Surabaya.

 

Dampaknya, banyak kendaraan, khususnya kendaraan berat, yang kemudian memilih 
untuk tidak menggunakan jalan tol.


Penulis: Gede Moenanto Soekowati 

Editor: Gede Moenanto

 

On Thursday, February 7, 2019, 2:25:25 PM GMT+7, ajeg wrote:

Kerja-kerja-kerja, toh dana proyek kereta-cepat terlambat juga. 

Proyek kereta pun mangkrak. 

Begitu dana (utang) cair, proyek kereta segera diperpanjang mangkraknya, 
eh ditunda kelanjutannya, dan tadaaa.... tol transjawa. 

 

Sekarang panik cari recehan buat bayar bunga utang kereta?

 

Rapopo. Cari terus mas. Lebaran biasanya tol panen.
Lumayan buat cicilan bunga.


-

Truk Tolak Masuk Tol Trans Jawa, Tarif Mahal, Sopir Minta Kaji Ulang

 

Ignatius Ferdian - Sabtu, 26 Januari 2019 | 12:25 WIB

 

Otomotifnet.com - Dengan dibangunnya tol Trans Jawa memang bikin mobilitas 
antar kota di Pulau Jawa jadi makin cepat.

 

Namun beberapa pengendara kendaraan roda empat kini mulai beralih menggunakan 
Jalan pantai utara (Pantura) Jawa dikarenakan mahalnya tarif Ruas Tol Trans 
Jawa.

 

Seperti diketahui, tarif tol untuk kendaraan Golongan I dari Jakarta menuju 
Semarang mencapai Rp 334 ribu, dan untuk kendaraan berat, 2 kali tarif Golongan 
I.

 

Dan bagi mereka, tarif tersebut terlalu membebani.

 

Terutama bagi sopir kendaraan angkutan barang seperti truk yang harus 
menanggung biaya perjalanan.

 

Hasanudin (43) contohnya, sopir truk asal Kabupaten Kendal lebih memilih 
menggunakan jalur reguler karena tidak kuat membayar tarif jika harus masuk tol.

 

“Dari Semarang ke Jakarta berjarak tempuh 3 hari untuk pergi-pulang, paling 
uang saku yang diberikan perusahaan tinggal Rp 400 ribu,” jelasnya di Jalan 
Pantura Pekalongan-Batang (25/1/2019).

 

Dia menjelaskan, uang saku yang diberikan perusahaan mencapai Rp 3,6 juta untuk 
jalur Semarang-Jakarta.

 

“Solar Rp 1,6 juta, biaya bongkar Rp 300 ribu, dan membayar kernet Rp 600 ribu. 
Kalau ditotal sudah Rp 2,5 juta, itu belum termasuk makan bersama kernet selama 
3 hari,” jelasnya.

 

Hasanudin berucap, adanya Tol Trans Jawa sebenarnya memang mempercepat waktu, 
tetapi tarifnya terlalu memberatkan bagi sopir.

 

“Kalau tarifnya mahal nanti keluarga saya makan apa, karenanya saya lebih 
memilih lewat Pantura. Walaupun lebih lama,” ujarnya.

 

Sama halnya Hasanudin, Ugik Setiawan, sopir truk asal Cirebon Jawa Barat pun 
mengeluhkan mahalnya tarif tol yang diberlakukan mulai 21 Januari 2019 itu.

 

“Kalau terlalu mahal ya ditinggalkan, karena banyak yang beralih melewati 
Pantura. Kami berharap tarif dikaji ulang agar kebih murah,” tambahnya.

 

Editor: Panji Nugraha

 



Kirim email ke