Sangat prihatin mendengar bung Djie kena artrose. Saya punya seorang teman yg 
menderita penyakit yg sama. Ia mengatasinya dengan banyak berjemur.. Setiap 
vacansi ia mesti ke Bali. Bukan untuk berlibur tetapi untuk berjemur. Katanya 
banyak membantu. Mungkin ada hubungannya dengan kekurangan vitamin D.
Saya sendiri ada baik2 saja. Sehatnya lansia. Selagi bisa terbang sering 
bolak-balik ke Singapur dan Jakarta.
Semoga bung Djie cepat sembuh. Salam untuk Berta,
//Tom
    Den måndag 25 februari 2019 23:27:29 CET, kh djie [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]> skrev:  
 
     

Bung Ilyas,Ya, waktu cruise sepanjang pantai New Zealand itu keadaan saya waktu 
itu lumayan.Sudah sembuh dari hernia punggung bawah L4-L5 dan juga dar kanal 
stenose.Yang paling menggembirakan saya bisa janjian dan ketemu teman dekat. 
Meskipun tidaksatu jurusan, dia dari Kimia murni, tetapi saya sering mampir 
ngobrol di empa kost dia, dansaya kenal semua eman2 seindekostnya... 2 tahun 
yang lalu, saya dapat e-mail dari anaknyakalau dia meninggal, pagi-pagi dari 
bangun tidur, presis di ambang pintu kamar tidurnya.Waktu terakhir ngobrol di 
New Zealand itu, saya baru tahu kalau dia 3 tahun lebih tua dari saya.Saya jadi 
heran, mengapa bisa begitu. Dia bilang, dulu di Garut sekolah Tionghoa, 
sekolahnya dibakarwaktu Belanda mau masuk. Sampai 3 tahun, dilarang sekolah 
oleh kakeknya, karena tidak aman.Saya bilang, saya setahun tidak sekolah, 
sekolahannya dibakar habis, tetapi untung saya di rumahdiajari paman saya. 
Masuk sekolah, boleh melompat dari klas 1 SD ke kelas 3.Ada teman sekuliah juga 
2-3 tahun umurnya lebih tua karena ada yang pindahpindah sekolah, dari sekolah 
Tionghoa, ke sekolah Belanda, kemudian ke sekolah Indonesia.Ada juga satu 
teman, umur 16 tahun sudah masuk ITB, karena dia dari HBS. Ujianbahasa 
Indonesia untuk masuk ITB tidak lulus, tetapi ya ngerti, tidak ada persoalan. 
Wakululus ITB, ITB nya lupa, tidak ada catatannya kalau dia masih harus ujian 
bahasa Indonesia......Teman se HBSnya, yang tidak seberani dia, masuk SMAK di 
Bandung dulu, ujian SMA lulus,baru masuk ITB..Punya teman ex HBS itu enak, 
waktu harus baca literatuur dalam bahasa jerman untuk praktikum. Saya sedang 
baca, sambil buka kamus. Dia lihat, dia langsung terjemahkan. Sampai sekarang 
bahasanya masih bagus, berani terjemahkan artikel ke bahasa Perancis, dan 
dimuat di Perancis.Kalau menang, mungkin Jokowi berani ambil kembali tanah2 
yang terlantar dan menyetop pemberiankonsesi baru HGU dan Hak Tanam tanaman 
industri.Kalau masalah HAM, saya kira tidak akan diusutsecara hukum. Yang kasih 
perintah kan sudah mati semua atau sudah sulit dapatkan saksi2nya.Saya kira 
paling-paling pemerintah mengaku berbuat salah, melakukan tindakan berlebihan, 
lalumenganjurkan semua supaya dengan ikhlas saling memaafkan dan menjaga tidak 
terjadi lagipelanggaran.Di Belanda dulu, dianggap satu petani perlu punya 16 ha 
tanah, baru bisa hidup cukup. Tidak tahu sekarang. Saya yang tahu, Kodam jatim 
punya tanah luas . Dulu bisa disewa.Sekarang saya susah jalan. Rupanya kena 
artrose di pinggul dan lutut. 3 minggu lagi dokternya baubalik dari vakantie, 
mau beri keterangan dari foto apa benar begitu.Sementara saya dibehandel 
fysiotherapy, tiap minggu 2 behandeling ( 2 X setengah jam) . Kalau bisa,ya , 
supaya cepat sembuh. Dari assuransi saya dapatnya 27 kali dalam setahun + 12 
kali kalau ada artrose. Jadi selebihnya mesti bayar sendiri..Bagimana keshatan 
bung. Baik-baik saja ?Salam,KH

Pada tanggal Sen, 25 Feb 2019 pukul 18.14 Tom Iljas <[email protected]> menulis:

 
Bung Djie,

Bung menyinggung rencana cruise Laut Tengah mengingatkansaya pada Ocean Cruise 
Sydney – New Zealand kita bersama teman2 dari LosAngeles 4 tahun yang lalu. 
Sungguh suatu kenang2an indah. Saya masih ingat,dalam pelayaran Sydney ke 
Milford yg makan waktu satu hari penuh itu bung lebihbanyak duduk di korsi 
malas ditepi kolam renang di deck paling atas, asyikmembaca buku. Berkat bung, 
Berta dan teman2 baik dari LA itu yg selalu gembira satuminggu diatas kapal 
tidak terlalu menjemukan.

Saya sengaja menyelipkan kata ”evaluasi” karena tentu adaperkebunan2 
menggunakan HGU itu yang produktif, dikelola secara sehat, efektifdan 
memberikan pemasukan berarti kepada Negara. Lahan2 HGU diluar itu 
sudahsewajarnya diambil kembali oleh Negara untuk di bagi2kan kepada petani.

Sebenarnya ini hanyalah reforma agraria yang sangat sangatringan, jauh dari 
jiwa UUPA. Dan sebenarnya kalau mau Pemerintah Jokowi bisamelakukan itu tanpa 
khawatir akan di cap BTI atau PKI. Karena tanah2 konsesi ituadalah milik 
Negara. Tetapi tidak, Jokowi dalam hal ini bersikap pasiv. Iahanya menunggu. 
Menunggu pemegangkonsesi2 besar itu akan dengan murah hati sukarela 
mengembalikan konsesinyakepada Negara. Ya, ndak bakal lah. 

Btw, akhirJanuari yl saya menghadiri sebuah Seminar On Agroforestry and Its 
ContributionTowards Achieving SDGs (Sustainable Development Goals) yang 
diselenggarakanoleh KTH Royal Institute of Technology Stockholm. Seminar 
dihadiri olehpakar2, para akademisi terkait, wakil2 Pemerintah dan pengusaha  
Swedia, Indonesia dan negeri2 penghasil kelapasawit lainnya dari Asia dan 
Amerika Latin. Sangat interesting. Sungguh masihbanyak yg bisa dilakukan 
dibidang research, teknology, ilmu kimia, ilmu pertaniandan lain2, untuk 
meningkatkan produktivitas dan efisiensi hingga pengembanganagroindustri 
khususnya kelapa sawit tidak harus merambah tanah (hutan) baru..Dari seminar 
juga terungkap masih sangat banyak industri dibidang ini yang beroperasitidak 
searah dengan certification dan tidak berkontribusi untuk mencapai SDGsyang 
ditetapkan PBB. Khusus Indonesia, ton/hectar perkebunan kelapa sawit kitamasih 
jauh dibawah Malaysia. Ampas kelapa sawitpun masih banyak yang 
belumdimanfaatkan.

 

Salam

 

//Tom


    Den måndag 25 februari 2019 13:14:38 CET, kh djie <[email protected]> skrev: 
 
 
 Bung Iljas,Kalau Jokowi ngomong mau evaluasi saja untuk bagikan tanah konsesi 
ke rakyat, pastibakal ribut, orang akan ketakutan kehilangan tanah 
konsesinya.Tidak tahu apa sudah saatnya untuk menyetop pemakaian tanah hutan 
untuk kelapa sawit,dan perkebunan kelapa sawit harus dioptimalkan, tidak boleh 
diperluas.Mungkin kalau tanah gambut diubah jadi perkebunan kelapa sawit, masih 
boleh.Yang bisa dilakukan dan sudah ada peraturannya, adalah tanah yang tidak 
diolah diambilkembali oleh negara ? HGU yang sudah habis waktunya, bisa 
dihutankan kembali, bisa dijadikan tanah transmigrasi dll.Kalau di Belanda 
jaman dulu, gambut itu ditambang, dikeringkan , dibikin briket, dijadikan bahan 
bakar. Mungkin untuk Pembangkit listrik tenaga uap ? Dulu semua serba 
sederhana,ngambilnya pakai perahu yang datar.Mungkin perlu dilakukan begitu di 
beberapa tempat, daripada setiap kali ada kebakaran, dan menimbulkan polusi 
asap.Di Belanda, bekas gambut yang diambil, jadi danau untuk rekreasi motor 
boot, zeilboot,perumahan di tepi danau, pemeliharaan ikan.Saya lihat orang 
Dayak di Kalimantan sudah bisa mengatasi kemungkinan kebakaran tanahgambut 
dengan bikin sumur boor. Gambut yang mulai agak kering, dengan kemungkinan 
terbakardisemprot air. Saluran2 air juga dibikin.Tahun ini kami nemani teman 
sekeluarga, anak, menantu dan cucu2nya dari Toronto cruise LautTengah. Ya, 
sekarang, kami sudah mulai sulit jalan, jadi ya cruise mungkin lebih cocok. 
Bisa enak ngobrol2Salam,
KH

Pada tanggal Sen, 25 Feb 2019 pukul 12.41 Tom Iljas [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]> menulis:

     

 
Kesan saya setelah mencermati pidato Jokowi: Benang merah pembangunan 
ekonominya adalah ekonomi kerakyatan. Bagus.Kritik saya:Di tengah2 pidatonya 
Jokowi menekankan ber-ulang2:" Jika ada konsensi besar yang mau mengembalikan 
konsesinya kepada negara, saya tunggu. Dan akan saya bagikan untuk rakyat 
kecil".
Ini jelas ditujukan kpd Prabowo. Sekedar propaganda untuk meraih suara. Belum 
tentu niat tulus Jokowi untuk mem-bagi2kan tanah konsesi kepada petani dalam 
rangka program reformasi agraria.
Kalau mau melaksanakan program reformasi agraria penggalan pidato itu harusnya 
berbunyi:
"Saya (Pemerintah) akan mengevaluasi konsesi2 besar, memastikan untuk 
mengembalikan konsesinya kepada negara untuk di-bagi2kan kepada rakyat 
(petani). Se-kurang2nya konsesi besar yang tidak ada manfaatnya bagi 
perekonomian negara dan rakyat".
Kata "evaluasi" diperlukan karena ada konsesi besar spt kebun kelapa sawit, 
melalui kontrak  Hak Guna Usaha, menunjang eknomi negara dalam bentuk pajak.
//Tom

    Den söndag 24 februari 2019 22:26:42 CET, Sunny ambon [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]> skrev:  
 
     



https://www.youtube.com/watch?v=8Xwyq2o7u6g
    

   
  
    

Kirim email ke