semoga lekas sembuh Bung Djie!
kutipan:
Sekarang saya susah jalan. Rupanya kena artrose di pinggul dan lutut. 3 minggu
lagi dokternya bau
balik dari vakantie, mau beri keterangan dari foto apa benar begitu.
Sementara saya dibehandel fysiotherapy, tiap minggu 2 behandeling ( 2 X
setengah jam) . Kalau bisa,
ya , supaya cepat sembuh. Dari assuransi saya dapatnya 27 kali dalam setahun +
12 kali kalau ada
artrose. Jadi selebihnya mesti bayar sendiri.
---In [email protected], <djiekh@...> wrote :
Bung Ilyas, Ya, waktu cruise sepanjang pantai New Zealand itu keadaan saya
waktu itu lumayan.
Sudah sembuh dari hernia punggung bawah L4-L5 dan juga dar kanal stenose.
Yang paling menggembirakan saya bisa janjian dan ketemu teman dekat. Meskipun
tidak
satu jurusan, dia dari Kimia murni, tetapi saya sering mampir ngobrol di empa
kost dia, dan
saya kenal semua eman2 seindekostnya. 2 tahun yang lalu, saya dapat e-mail
dari anaknya
kalau dia meninggal, pagi-pagi dari bangun tidur, presis di ambang pintu kamar
tidurnya.
Waktu terakhir ngobrol di New Zealand itu, saya baru tahu kalau dia 3 tahun
lebih tua dari saya.
Saya jadi heran, mengapa bisa begitu. Dia bilang, dulu di Garut sekolah
Tionghoa, sekolahnya dibakar
waktu Belanda mau masuk. Sampai 3 tahun, dilarang sekolah oleh kakeknya,
karena tidak aman.
Saya bilang, saya setahun tidak sekolah, sekolahannya dibakar habis, tetapi
untung saya di rumah
diajari paman saya. Masuk sekolah, boleh melompat dari klas 1 SD ke kelas 3.
Ada teman sekuliah juga 2-3 tahun umurnya lebih tua karena ada yang pindah
pindah sekolah, dari sekolah Tionghoa, ke sekolah Belanda, kemudian ke sekolah
Indonesia.
Ada juga satu teman, umur 16 tahun sudah masuk ITB, karena dia dari HBS. Ujian
bahasa Indonesia untuk masuk ITB tidak lulus, tetapi ya ngerti, tidak ada
persoalan. Waku
lulus ITB, ITB nya lupa, tidak ada catatannya kalau dia masih harus ujian
bahasa Indonesia......
Teman se HBSnya, yang tidak seberani dia, masuk SMAK di Bandung dulu, ujian
SMA lulus,
baru masuk ITB.
Punya teman ex HBS itu enak, waktu harus baca literatuur dalam bahasa jerman
untuk praktikum.
Saya sedang baca, sambil buka kamus. Dia lihat, dia langsung terjemahkan.
Sampai sekarang
bahasanya masih bagus, berani terjemahkan artikel ke bahasa Perancis, dan
dimuat di Perancis.
Kalau menang, mungkin Jokowi berani ambil kembali tanah2 yang terlantar dan
menyetop pemberian
konsesi baru HGU dan Hak Tanam tanaman industri.Kalau masalah HAM, saya kira
tidak akan diusut
secara hukum. Yang kasih perintah kan sudah mati semua atau sudah sulit
dapatkan saksi2nya.
Saya kira paling-paling pemerintah mengaku berbuat salah, melakukan tindakan
berlebihan, lalu
menganjurkan semua supaya dengan ikhlas saling memaafkan dan menjaga tidak
terjadi lagi
pelanggaran.
Di Belanda dulu, dianggap satu petani perlu punya 16 ha tanah, baru bisa hidup
cukup. Tidak tahu
sekarang. Saya yang tahu, Kodam jatim punya tanah luas . Dulu bisa disewa.
Sekarang saya susah jalan. Rupanya kena artrose di pinggul dan lutut. 3 minggu
lagi dokternya bau
balik dari vakantie, mau beri keterangan dari foto apa benar begitu.
Sementara saya dibehandel fysiotherapy, tiap minggu 2 behandeling ( 2 X
setengah jam) . Kalau bisa,
ya , supaya cepat sembuh. Dari assuransi saya dapatnya 27 kali dalam setahun +
12 kali kalau ada
artrose. Jadi selebihnya mesti bayar sendiri.
Bagimana keshatan bung. Baik-baik saja ?
Salam,
KH
Pada tanggal Sen, 25 Feb 2019 pukul 18.14 Tom Iljas <iljastom@...
mailto:iljastom@...> menulis:
Bung Djie,
Bung menyinggung rencana cruise Laut Tengah mengingatkan saya pada Ocean
Cruise Sydney – New Zealand kita bersama teman2 dari Los Angeles 4 tahun yang
lalu. Sungguh suatu kenang2an indah. Saya masih ingat, dalam pelayaran Sydney
ke Milford yg makan waktu satu hari penuh itu bung lebih banyak duduk di korsi
malas ditepi kolam renang di deck paling atas, asyik membaca buku. Berkat bung,
Berta dan teman2 baik dari LA itu yg selalu gembira satu minggu diatas kapal
tidak terlalu menjemukan.
Saya sengaja menyelipkan kata ”evaluasi” karena tentu ada perkebunan2
menggunakan HGU itu yang produktif, dikelola secara sehat, efektif dan
memberikan pemasukan berarti kepada Negara. Lahan2 HGU diluar itu sudah
sewajarnya diambil kembali oleh Negara untuk di bagi2kan kepada petani.
Sebenarnya ini hanyalah reforma agraria yang sangat sangat ringan, jauh dari
jiwa UUPA. Dan sebenarnya kalau mau Pemerintah Jokowi bisa melakukan itu tanpa
khawatir akan di cap BTI atau PKI. Karena tanah2 konsesi itu adalah milik
Negara. Tetapi tidak, Jokowi dalam hal ini bersikap pasiv. Ia hanya menunggu.
Menunggu pemegang konsesi2 besar itu akan dengan murah hati sukarela
mengembalikan konsesinya kepada Negara. Ya, ndak bakal lah.
Btw, akhir Januari yl saya menghadiri sebuah Seminar On Agroforestry and Its
Contribution Towards Achieving SDGs (Sustainable Development Goals) yang
diselenggarakan oleh KTH Royal Institute of Technology Stockholm. Seminar
dihadiri oleh pakar2, para akademisi terkait, wakil2 Pemerintah dan pengusaha
Swedia, Indonesia dan negeri2 penghasil kelapa sawit lainnya dari Asia dan
Amerika Latin. Sangat interesting. Sungguh masih banyak yg bisa dilakukan
dibidang research, teknology, ilmu kimia, ilmu pertanian dan lain2, untuk
meningkatkan produktivitas dan efisiensi hingga pengembangan agroindustri
khususnya kelapa sawit tidak harus merambah tanah (hutan) baru. Dari seminar
juga terungkap masih sangat banyak industri dibidang ini yang beroperasi tidak
searah dengan certification dan tidak berkontribusi untuk mencapai SDGs yang
ditetapkan PBB. Khusus Indonesia, ton/hectar perkebunan kelapa sawit kita masih
jauh dibawah Malaysia. Ampas kelapa sawitpun masih banyak yang belum
dimanfaatkan.
Salam
//Tom
Den måndag 25 februari 2019 13:14:38 CET, kh djie <djiekh@...
mailto:djiekh@...> skrev:
Bung Iljas, Kalau Jokowi ngomong mau evaluasi saja untuk bagikan tanah konsesi
ke rakyat, pasti
bakal ribut, orang akan ketakutan kehilangan tanah konsesinya.
Tidak tahu apa sudah saatnya untuk menyetop pemakaian tanah hutan untuk kelapa
sawit,
dan perkebunan kelapa sawit harus dioptimalkan, tidak boleh diperluas.
Mungkin kalau tanah gambut diubah jadi perkebunan kelapa sawit, masih boleh.
Yang bisa dilakukan dan sudah ada peraturannya, adalah tanah yang tidak diolah
diambil
kembali oleh negara ? HGU yang sudah habis waktunya, bisa dihutankan kembali,
bisa dijadikan tanah transmigrasi dll.
Kalau di Belanda jaman dulu, gambut itu ditambang, dikeringkan , dibikin
briket, dijadikan
bahan bakar. Mungkin untuk Pembangkit listrik tenaga uap ? Dulu semua serba
sederhana,
ngambilnya pakai perahu yang datar.
Mungkin perlu dilakukan begitu di beberapa tempat, daripada setiap kali ada
kebakaran,
dan menimbulkan polusi asap.
Di Belanda, bekas gambut yang diambil, jadi danau untuk rekreasi motor boot,
zeilboot,
perumahan di tepi danau, pemeliharaan ikan.
Saya lihat orang Dayak di Kalimantan sudah bisa mengatasi kemungkinan
kebakaran tanah
gambut dengan bikin sumur boor. Gambut yang mulai agak kering, dengan
kemungkinan terbakar
disemprot air. Saluran2 air juga dibikin.
Tahun ini kami nemani teman sekeluarga, anak, menantu dan cucu2nya dari
Toronto cruise Laut
Tengah. Ya, sekarang, kami sudah mulai sulit jalan, jadi ya cruise mungkin
lebih cocok. Bisa enak ngobrol2
Salam,
KH
Pada tanggal Sen, 25 Feb 2019 pukul 12.41 Tom Iljas iljastom@...
mailto:iljastom@... [GELORA45] <[email protected]
mailto:[email protected]> menulis:
Kesan saya setelah mencermati pidato Jokowi: Benang merah pembangunan
ekonominya adalah ekonomi kerakyatan. Bagus.
Kritik saya:
Di tengah2 pidatonya Jokowi menekankan ber-ulang2:
" Jika ada konsensi besar yang mau mengembalikan konsesinya kepada negara,
saya tunggu. Dan akan saya bagikan untuk rakyat kecil".
Ini jelas ditujukan kpd Prabowo. Sekedar propaganda untuk meraih suara. Belum
tentu niat tulus Jokowi untuk mem-bagi2kan tanah konsesi kepada petani dalam
rangka program reformasi agraria.
Kalau mau melaksanakan program reformasi agraria penggalan pidato itu harusnya
berbunyi:
"Saya (Pemerintah) akan mengevaluasi konsesi2 besar, memastikan untuk
mengembalikan konsesinya kepada negara untuk di-bagi2kan kepada rakyat
(petani). Se-kurang2nya konsesi besar yang tidak ada manfaatnya bagi
perekonomian negara dan rakyat".
Kata "evaluasi" diperlukan karena ada konsesi besar spt kebun kelapa sawit,
melalui kontrak Hak Guna Usaha, menunjang eknomi negara dalam bentuk pajak.
//Tom
Den söndag 24 februari 2019 22:26:42 CET, Sunny ambon ilmesengero@...
mailto:ilmesengero@... [GELORA45] <[email protected]
mailto:[email protected]> skrev:
https://www.youtube.com/watch?v=8Xwyq2o7u6g
https://www.youtube.com/watch?v=8Xwyq2o7u6g