Bung Ilyas,
Ya, waktu cruise sepanjang pantai New Zealand itu keadaan saya waktu
itu lumayan.
Sudah sembuh dari hernia punggung bawah L4-L5 dan juga dar kanal stenose.
Yang paling menggembirakan saya bisa janjian dan ketemu teman dekat.
Meskipun tidak
satu jurusan, dia dari Kimia murni, tetapi saya sering mampir ngobrol
di empa kost dia, dan
saya kenal semua eman2 seindekostnya.. 2 tahun yang lalu, saya dapat
e-mail dari anaknya
kalau dia meninggal, pagi-pagi dari bangun tidur, presis di ambang
pintu kamar tidurnya.
Waktu terakhir ngobrol di New Zealand itu, saya baru tahu kalau dia 3
tahun lebih tua dari saya.
Saya jadi heran, mengapa bisa begitu. Dia bilang, dulu di Garut
sekolah Tionghoa, sekolahnya dibakar
waktu Belanda mau masuk. Sampai 3 tahun, dilarang sekolah oleh
kakeknya, karena tidak aman.
Saya bilang, saya setahun tidak sekolah, sekolahannya dibakar habis,
tetapi untung saya di rumah
diajari paman saya. Masuk sekolah, boleh melompat dari klas 1 SD ke
kelas 3.
Ada teman sekuliah juga 2-3 tahun umurnya lebih tua karena ada yang pindah
pindah sekolah, dari sekolah Tionghoa, ke sekolah Belanda, kemudian ke
sekolah Indonesia.
Ada juga satu teman, umur 16 tahun sudah masuk ITB, karena dia dari
HBS. Ujian
bahasa Indonesia untuk masuk ITB tidak lulus, tetapi ya ngerti, tidak
ada persoalan. Waku
lulus ITB, ITB nya lupa, tidak ada catatannya kalau dia masih harus
ujian bahasa Indonesia......
Teman se HBSnya, yang tidak seberani dia, masuk SMAK di Bandung dulu,
ujian SMA lulus,
baru masuk ITB.
Punya teman ex HBS itu enak, waktu harus baca literatuur dalam bahasa
jerman untuk praktikum.
Saya sedang baca, sambil buka kamus. Dia lihat, dia langsung
terjemahkan. Sampai sekarang
bahasanya masih bagus, berani terjemahkan artikel ke bahasa Perancis,
dan dimuat di Perancis.
Kalau menang, mungkin Jokowi berani ambil kembali tanah2 yang
terlantar dan menyetop pemberian
konsesi baru HGU dan Hak Tanam tanaman industri.Kalau masalah HAM,
saya kira tidak akan diusut
secara hukum. Yang kasih perintah kan sudah mati semua atau sudah
sulit dapatkan saksi2nya.
Saya kira paling-paling pemerintah mengaku berbuat salah, melakukan
tindakan berlebihan, lalu
menganjurkan semua supaya dengan ikhlas saling memaafkan dan menjaga
tidak terjadi lagi
pelanggaran.
Di Belanda dulu, dianggap satu petani perlu punya 16 ha tanah, baru
bisa hidup cukup. Tidak tahu
sekarang. Saya yang tahu, Kodam jatim punya tanah luas . Dulu bisa disewa.
Sekarang saya susah jalan. Rupanya kena artrose di pinggul dan lutut.
3 minggu lagi dokternya bau
balik dari vakantie, mau beri keterangan dari foto apa benar begitu.
Sementara saya dibehandel fysiotherapy, tiap minggu 2 behandeling ( 2
X setengah jam) . Kalau bisa,
ya , supaya cepat sembuh. Dari assuransi saya dapatnya 27 kali dalam
setahun + 12 kali kalau ada
artrose. Jadi selebihnya mesti bayar sendiri.
Bagimana keshatan bung. Baik-baik saja ?
Salam,
KH
Pada tanggal Sen, 25 Feb 2019 pukul 18.14 Tom Iljas <[email protected]
<mailto:[email protected]>> menulis:
Bung Djie,
Bung menyinggung rencana cruise Laut Tengah mengingatkan saya pada
Ocean Cruise Sydney – New Zealand kita bersama teman2 dari Los
Angeles 4 tahun yang lalu. Sungguh suatu kenang2an indah. Saya
masih ingat, dalam pelayaran Sydney ke Milford yg makan waktu satu
hari penuh itu bung lebih banyak duduk di korsi malas ditepi kolam
renang di deck paling atas, asyik membaca buku. Berkat bung, Berta
dan teman2 baik dari LA itu yg selalu gembira satu minggu diatas
kapal tidak terlalu menjemukan.
Saya sengaja menyelipkan kata ”evaluasi” karena tentu ada
perkebunan2 menggunakan HGU itu yang produktif, dikelola secara
sehat, efektif dan memberikan pemasukan berarti kepada Negara.
Lahan2 HGU diluar itu sudah sewajarnya diambil kembali oleh Negara
untuk di bagi2kan kepada petani.
Sebenarnya ini hanyalah reforma agraria yang sangat sangat ringan,
jauh dari jiwa UUPA. Dan sebenarnya kalau mau Pemerintah Jokowi
bisa melakukan itu tanpa khawatir akan di cap BTI atau PKI. Karena
tanah2 konsesi itu adalah milik Negara. Tetapi tidak, Jokowi dalam
hal ini bersikap pasiv. Ia hanya /menunggu. /Menunggu pemegang
konsesi2 besar itu akan dengan murah hati sukarela mengembalikan
konsesinya kepada Negara. Ya, ndak bakal lah.
Btw, akhir Januari yl saya menghadiri sebuah Seminar On
Agroforestry and Its Contribution Towards Achieving SDGs
(Sustainable Development Goals) yang diselenggarakan oleh KTH
Royal Institute of Technology Stockholm. Seminar dihadiri oleh
pakar2, para akademisi terkait, wakil2 Pemerintah dan pengusaha
Swedia, Indonesia dan negeri2 penghasil kelapa sawit lainnya dari
Asia dan Amerika Latin. Sangat interesting. Sungguh masih banyak
yg bisa dilakukan dibidang research, teknology, ilmu kimia, ilmu
pertanian dan lain2, untuk meningkatkan produktivitas dan
efisiensi hingga pengembangan agroindustri khususnya kelapa sawit
tidak harus merambah tanah (hutan) baru.. Dari seminar juga
terungkap masih sangat banyak industri dibidang ini yang
beroperasi tidak searah dengan certification dan tidak
berkontribusi untuk mencapai SDGs yang ditetapkan PBB. Khusus
Indonesia, ton/hectar perkebunan kelapa sawit kita masih jauh
dibawah Malaysia. Ampas kelapa sawitpun masih banyak yang belum
dimanfaatkan.
Salam
//Tom
Den måndag 25 februari 2019 13:14:38 CET, kh djie
<[email protected] <mailto:[email protected]>> skrev:
Bung Iljas,
Kalau Jokowi ngomong mau evaluasi saja untuk bagikan tanah konsesi
ke rakyat, pasti
bakal ribut, orang akan ketakutan kehilangan tanah konsesinya.
Tidak tahu apa sudah saatnya untuk menyetop pemakaian tanah hutan
untuk kelapa sawit,
dan perkebunan kelapa sawit harus dioptimalkan, tidak boleh diperluas.
Mungkin kalau tanah gambut diubah jadi perkebunan kelapa sawit,
masih boleh.
Yang bisa dilakukan dan sudah ada peraturannya, adalah tanah yang
tidak diolah diambil
kembali oleh negara ? HGU yang sudah habis waktunya, bisa
dihutankan kembali, bisa dijadikan tanah transmigrasi dll.
Kalau di Belanda jaman dulu, gambut itu ditambang, dikeringkan ,
dibikin briket, dijadikan
bahan bakar. Mungkin untuk Pembangkit listrik tenaga uap ? Dulu
semua serba sederhana,
ngambilnya pakai perahu yang datar.
Mungkin perlu dilakukan begitu di beberapa tempat, daripada setiap
kali ada kebakaran,
dan menimbulkan polusi asap.
Di Belanda, bekas gambut yang diambil, jadi danau untuk rekreasi
motor boot, zeilboot,
perumahan di tepi danau, pemeliharaan ikan.
Saya lihat orang Dayak di Kalimantan sudah bisa mengatasi
kemungkinan kebakaran tanah
gambut dengan bikin sumur boor. Gambut yang mulai agak kering,
dengan kemungkinan terbakar
disemprot air. Saluran2 air juga dibikin.
Tahun ini kami nemani teman sekeluarga, anak, menantu dan cucu2nya
dari Toronto cruise Laut
Tengah. Ya, sekarang, kami sudah mulai sulit jalan, jadi ya cruise
mungkin lebih cocok. Bisa enak ngobrol2
Salam,
KH
Pada tanggal Sen, 25 Feb 2019 pukul 12.41 Tom Iljas
[email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45]
<[email protected] <mailto:[email protected]>> menulis:
Kesan saya setelah mencermati pidato Jokowi: Benang merah
pembangunan ekonominya adalah ekonomi kerakyatan. Bagus.
Kritik saya:
Di tengah2 pidatonya Jokowi menekankan ber-ulang2:
" Jika ada konsensi besar yang mau mengembalikan konsesinya
kepada negara, saya tunggu. Dan akan saya bagikan untuk rakyat
kecil".
Ini jelas ditujukan kpd Prabowo. Sekedar propaganda untuk
meraih suara. Belum tentu niat tulus Jokowi untuk mem-bagi2kan
tanah konsesi kepada petani dalam rangka program reformasi
agraria.
Kalau mau melaksanakan program reformasi agraria penggalan
pidato itu harusnya berbunyi:
"Saya (Pemerintah) akan mengevaluasi konsesi2 besar,
memastikan untuk mengembalikan konsesinya kepada negara untuk
di-bagi2kan kepada rakyat (petani). Se-kurang2nya konsesi
besar yang tidak ada manfaatnya bagi perekonomian negara dan
rakyat".
Kata "evaluasi" diperlukan karena ada konsesi besar spt kebun
kelapa sawit, melalui kontrak Hak Guna Usaha, menunjang
eknomi negara dalam bentuk pajak.
//Tom
Den söndag 24 februari 2019 22:26:42 CET, Sunny ambon
[email protected] <mailto:[email protected]>
[GELORA45] <[email protected]
<mailto:[email protected]>> skrev:
_
_
_
_
_https://www.youtube.com/watch?v=8Xwyq2o7u6g_