Begitulah kapitalisme, lebih mementingkan bungkus dari isi. Bombastis, heboh, 
kontroversial. Padahal tidak sebegitunya atau malah tidak ada apa-apanya selain 
gumpalan busa. Tepat sekali nasihat sosialisme untuk ini, teliti sebelum 
membeli. Jangan seperti beli kucing dalam karung.  
Lantas, binatang apakah kartu prakerja yang dijajakan Jokowi itu? 

Yang pasti, Sri Mulyani langsung merengut sambil bilang, "hati-hati". Itu 
harus, karena dia sendiri lagi mumet menghitung APBN yang terkubur utang. Belum 
lagi sederet bencana yang bantuannya belum terbayar. Gerombolan orang kaya di 
kubu TKN Jokowi juga celingukan hilang akal soal kesaktian kartu Jokowi. Untung 
ada Wapres (JK). Dia jeplak dana kartu penganggur itu "nantinya" dari program 
Bansos (bantuan sosial). Artinya yah wapres cuma berusaha menyelamatkan muka 
pemerintah dengan memberi contoh kepada TKN tentang cara menjawab, toh si 
penjaja kartu itu kan presiden, jangan sampai pemerintah gelagapan ditanya 
tentang barang jualannya. Haram itu hukumnya dalam kapitalisme.

Senang juga melihat kelucuan anak-anak TK N akhirnya ceria karena sudah tahu 
cara menjawab, yaitu dengan membeo "Bansos...Bansos....."
Yang lucu bukan  cuma membeonya, tapi isi jawabannya adalah pengakuan cuci 
tangan, melempar persoalan dari capres kosongsatu ke pemda. Jadilah sekarang 
giliran pemda / gubernur (sebagai penanggungjawab Bansos) yang 
celingak-celinguk kebingungan.
Artinya, kartu penganggur itu memang tidak ada perencanaan dan koordinasi 
sebagaimana mestinya program pemerintah. Terbukti, kartu penganggur yang 
program bagi-bagi duit itu ternyata tidak jelas sumber dananya. Tidak ada 
duitnya. 

Jadi, Jokowi (presiden) menjajakan program siapa? Mosok dari jaman Esemka 
spekulasi melulu.
--- jonathangoeij@... wrote:

Beberapa minggu lalu sempat kongkow2 sama teman membicarakan proposal pajak 
70%nya Alexandria Ocasio Cortez, bagaimana ini kok pajak 70%?, saya katakan 
kalau "doable" bisa dikerjakan karena proposal pajak itu untuk income diatas 
$10 juta. Jadi begini, misalnya anda mempunyai income $11 juta, yg 10 juta 
masih sama seperti sekarang, sedang yg kena pajak 70% itu cuman 1 juta 
kelebihannya. Jadi sebenarnya buat sebagian besar orang ya pajaknya masih sama 
saja tidak ada perubahan.
Yang namanya keadilan sosial atau sosialisme atau pemerataan pendapatan ya 
memang salah satu cara untuk mencapai ya melalui perpajakan.
Tapi yg diatas itu bukannya kartu pra kerja-nya Jokowi lho, yg itu nggak 
tahu-lah bagaimana dapat dana pembiayaannya. Paling juga bilangnya dari APBN, 
tetapi ada pengeluaran baru khan mestinya ya ada sumber pemasukan baru, atau 
mungkin ya.... utanglah..... 

--- ajegilelu@... wrote :

Yang dipikir bagaimana meraup puji sanjung pendukung, bukan bagaimana mengerti 
kata-katanya sendiri.
Nah, ide bagi-bagi duit dengan mengambil porsi lebih besar dari orang-orang 
kaya seperti itu adalah contoh dari keterbukaan kapitalisme untuk berobah dan 
mencapai kemajuan. Berobah dengan memasang kedok sosialis (bagi-bagi) tapi 
tetap bermental kapitalis-kolonial (menarik pajak seganas mungkin, 70%-90%), 
hehe...
Begitulah kapitalisme, bertahan dengan memakan amak-anaknya sendiri. 
Berusaha memenangkan pemilu dengan membohongi pendukung / pemilihnya sendiri.
--- jonathangoeij@... wrote:
Paling juga jawabnya "belum terpikir" ha ha ha.
Di US sekarang ada ide memberikan Universal Basic Income (berkisar $1000 
perbulan) untuk semua orang dewasa tidak peduli bekerja ataupun tidak, tidak 
tahu ide Jokowi berasal dari sini atau tidak. Ramai dibicarakan baik pro 
ataupun kontra dan juga bagaimana pembiayaannya. Dan seperti biasa yg terpikir 
mereka2 yg kaya yg akan kena beban lebih banyak seperti misalnya pajak 70% 
(bahkan 90%) untuk income diatas $10 juta (income sampai dgn 10 juta masih sama 
dgn sekarang), dan herannya di-support oleh billionaires seperti Bill Gates, 
Elon Musk, Mark Zuckerberg dll. Tetapi tentu ada juga sumber2 lain seperti 
misalnya pertambahan ekonomi, biaya kesehatan yg berkurang dlsb.
--- ajegilelu@... wrote :
Rakyat ngawur, berani-beraninya bilang Jokowi tidak bisa jawab waktu ditanya 
soal anggaran kartu dermawan cap hati ini, bungkam, nyepi.
Memangnya tidak tahu dalam sepinya itu Jokowi giat melatih Sri Mulyani untuk 
nulis puisi panjang lagi soal nyetak utang, hehehe....


On Saturday, March 2, 2019, 1:50:49 AM GMT+7, ajeg wrote:
Ada yang mau koprol gembira menyambut janji pencitraan ini?(yang diumumkan 
Jokowi sambil ngopi)
-
Jokowi: Pemegang Kartu Pra Kerja Dapat Gaji meski Belum Punya Pekerjaan
IHSANUDDINKompas.com - 01/03/2019, 21:59 WIB
KENDARI, KOMPAS.com - Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo memberi 
penjelasan terkait kartu pra kerja yang akan diluncurkannya apabila memenangi 
pilpres 2019.Jokowi menyebut pemegang kartu itu akan tetap menerima honor meski 
belum mendapatkan pekerjaan.
Hal ini disampaikan Jokowi saat ngopi bareng milenial di Kopi Haji Anto 2 di 
Kendari, Sulawesi Tenggara, Jumat (1/3/2019). Jokowi menjawab pertanyaan salah 
seorang warga yang hadir soal tiga kartu baru yang diperkenalkannya kepada 
publik belakangan ini.
"Mengenai kartu pra kerja, kartu ini kita siapkan untuk anak-anak muda yang 
lulus dari SMA atau SMK maupun yang lulus dari politeknik atau perguruan tinggi 
untuk bisa masuk ke industri, untuk dapat pekerjaan," kata Jokowi.
Menurut Jokowi, para pemegang kartu itu akan mendapatkan pelatihan sesuai 
keterampilan dan skill yang mereka miliki. Pelatihan itu dikerjakan oleh 
instrukstur profesional dengan kualifikasi yang baik.
"Sehingga begitu lulus training, mestinya kalau training bagus, gampang sekali 
masuk dunia kerja," kata Jokowi.
Namun, jika memang setelah pelatihan dilakukan namun pemegang kartu pra kerja 
tetap belum mendapatkan pekerjaan, ia akan mendapat honor dari pemerintah.
"Kalau belum dapat pekerjaan, kartu itu juga akan memberikan kayak honor, kayak 
gaji. Tapi jumlahnya berapa masih kita rahasiakan. Nanti," kata Jokowi..
Penulis : IhsanuddinEditor : Krisiandi

Kirim email ke