Heran, kenapa di web terpotong padahal di inbox utuh.. dan yang terpotong itu 
setiap mereply posting Anda dan Chan, lainnya tidak. Contohnya posting Tatiana 
soal Seruni yang saya barusan, utuh di web maupun inbox. Terpotong karena Anda 
dan Chan asyik mesra-mesraan kali, nggak? 
Soal Andrew Yang, kita lihat nanti seberapa sadar bangsa AS sebagai negara 
imigran.

--- jonathangoeij@... wrote:
 Seperti biasa tulisan anda terpotong.
Ide2 yg muncul di Indonesia seringkali tidak digali lebih dalam, seperti apa 
yang mendasari ide kartu pra kerja, darimana sumber dana, apa manfaatnya, apa 
kerugiannya, dlsb dlsb.
Akhir2 ini saya tertarik mengikuti berita calon presiden Andrew Yang yang akan 
memberi USD1000/bulan no string attached tanpa syarat apapun semua orang dewasa 
dapat, awalnya saya pikir wah orang ini kok cuman mau memikat pakai duit dan 
saya abaikan. Tetapi setelah tanpa sengaja lihat interview-nya dan reasoning 
dibalik ide tsb kok masuk akal.
Link dibawah ini interview Andrew Yang calon presiden 2020 dengan Stephanie Sy 
dari Carnegie Council:https://youtu.be/EuOYA6Dhjb8
Andrew Yang for President 2020!

--- ajegilelu@... wrote :

Begitulah kapitalisme, lebih mementingkan bungkus dari isi. Bombastis, heboh, 
kontroversial. Padahal tidak sebegitunya atau malah tidak ada apa-apanya selain 
gumpalan busa. Tepat sekali nasihat sosialisme untuk ini, teliti sebelum 
membeli. Jangan seperti beli kucing dalam karung. 
Lantas, binatang apakah kartu prakerja yang dijajakan Jokowi itu? 

Yang pasti, Sri Mulyani langsung merengut sambil bilang, "hati-hati". Itu 
harus, karena dia sendiri lagi mumet menghitung APBN yang terkubur utang. Belum 
lagi sederet bencana yang bantuannya belum terbayar. Gerombolan orang kaya di 
kubu TKN Jokowi juga celingukan hilang akal soal kesaktian kartu Jokowi. Untung 
ada Wapres (JK). Dia jeplak dana kartu penganggur itu "nantinya" dari program 
Bansos (bantuan sosial). Artinya yah wapres cuma berusaha menyelamatkan muka 
pemerintah dengan memberi contoh kepada TKN tentang cara menjawab, toh si 
penjaja kartu itu kan presiden, jangan sampai pemerintah gelagapan ditanya 
tentang barang jualannya. Haram itu hukumnya dalam kapitalisme.

Senang juga melihat kelucuan anak-anak TK N akhirnya ceria karena sudah tahu 
cara menjawab, yaitu dengan membeo "Bansos...Bansos....."
Yang lucu bukan cuma membeonya, tapi isi jawabannya adalah pengakuan cuci 
tangan, melempar persoalan dari capres kosongsatu ke pemda. Jadilah sekarang 
giliran pemda / gubernur (sebagai penanggungjawab Bansos) yang 
celingak-celinguk kebingungan.


(Message over 64 KB, truncated)

Kirim email ke