Iyalah, setiap kelompok masyarakat butuh pemikiran subur yang bisa menyegarkan 
sekitarnya, seperti obrolan Steph & Andrew ini bagi publik AS. Terus terang 
saya malas membandingkan Andrew Yang dengan Donald Trump. Lebih enak Yang vs 
Jokowi, hahaha... Saya nggak bilang seperti bumi dan langit, tapi cukup seperti 
kolam ikan dan comberan.
Kenapa begitu. Karena sekalipun pengusaha tamatan sekolah hukum, Yang bisa 
melihat sekelilingnya dari sisi etika lebih dulu. Pasti timbul perang batin 
dalam dirinya, tapi itulah yang membentuk kemantapan sikap untuk 
mengongkek-ongkek kebobrokan masyarakatnya (baru ngeh tentang nasib komunitas 
sopir truk -tulang punggung perekonomian Amerika- jika peng-peng berpihak 
kepada robot/otomat). Yang tidak panik, apalagi ketakutan disebut pesimis 
membayangkan kemajuan sejauh itu. Beda dengan petruk yang sok optimis tapi 
kerjanya menutup-nutupi realita terutama kepanikannya soal kursi. Tanpa etika 
ditipunyalah diri sendiri dan para pengikut.
Semua resep dan jurus yang dibeberkan Yang barangkali ideal untuk publik AS 
masakini. Tapi tidak bisa dibantah bahwa sepanjang masa dunia menjadi saksi dan 
korban agresivitas politik luar negeri AS. Bahkan Trump saja kewalahan 
menghadapi NDS / Pentagon. Belum terlihat kartu etika Yang soal polugri maupun 
domestik partai kalau Sanders nyapres juga. Orang dengan pemikiran segar 
seperti Steph & Yang pasti lebih berguna dengan berkiprah langsung di tengah 
masyarakat, ketimbang terpencil di istana.
--- jonathangoeij@... wrote:
Ha ha ha ha
Andrew Yang saya kasih sebagai contoh sebuah program dengan nalar yang ada 
dilengkapi dengan beberapa study penunjang membahas plus minus termasuk 
bagaimana untuk membayarnya. Ada beberapa interaksi yang bagus sekali divideo 
itu, pertanyaan2 kritis Stephanie dan penjelasan Andrew keduanya menunjukkan 
pengetahuan luas dan akal sehat.
Kalau ada kesempatan/waktu video itu cukup berharga untuk 
ditonton.https://youtu.be/EuOYA6Dhjb8

--- ajegilelu@... wrote :

Heran, kenapa di web terpotong padahal di inbox utuh.. dan yang terpotong itu 
setiap mereply posting Anda dan Chan, lainnya tidak. Contohnya posting Tatiana 
soal Seruni yang saya barusan, utuh di web maupun inbox. Terpotong karena Anda 
dan Chan asyik mesra-mesraan kali, nggak? 
Soal Andrew Yang, kita lihat nanti seberapa sadar bangsa AS sebagai negara 
imigran.

--- jonathangoeij@... wrote:
Seperti biasa tulisan anda terpotong.
Ide2 yg muncul di Indonesia seringkali tidak digali lebih dalam, seperti apa 
yang mendasari ide kartu pra kerja, darimana sumber dana, apa manfaatnya, apa 
kerugiannya, dlsb dlsb.
Akhir2 ini saya tertarik mengikuti berita calon presiden Andrew Yang yang akan 
memberi USD1000/bulan no string attached tanpa syarat apapun semua orang dewasa 
dapat, awalnya saya pikir wah orang ini kok cuman mau memikat pakai duit dan 
saya abaikan. Tetapi setelah tanpa sengaja lihat interview-nya dan reasoning 
dibalik ide tsb kok masuk akal.
Link dibawah ini interview Andrew Yang calon presiden 2020 dengan Stephanie Sy 
dari Carnegie Council:https://youtu.be/EuOYA6Dhjb8
Andrew Yang for President 2020!
--- ajegilelu@... wrote :

Begitulah kapitalisme, lebih mementingkan bungkus dari isi. Bombastis, heboh, 
kontroversial. Padahal tidak sebegitunya atau malah tidak ada apa-apanya selain 
gumpalan busa. Tepat sekali nasihat sosialisme untuk ini, teliti sebelum 
membeli. Jangan seperti beli kucing dalam karung. 
Lantas, binatang apakah kartu prakerja yang dijajakan Jokowi itu? 

Yang pasti, Sri Mulyani langsung merengut sambil bilang, "hati-hati". Itu 
harus, karena dia sendiri lagi mumet menghitung APBN yang terkubur utang. Belum 
lagi sederet bencana yang bantuannya belum terbayar. Gerombolan orang kaya di 
kubu TKN Jokowi juga celingukan hilang akal soal kesaktian kartu Jokowi. Untung 
ada Wapres (JK). Dia jeplak dana kartu penganggur itu "nantinya" dari program 
Bansos (bantuan sosial). Artinya yah wapres cuma berusaha menyelamatkan muka 
pemerintah dengan memberi contoh kepada TKN tentang cara menjawab, toh si 
penjaja kartu itu kan presiden, jangan sampai pemerintah gelagapan ditanya 
tentang barang jualannya. Haram itu hukumnya dalam kapitalisme.

Senang juga melihat kelucuan anak-anak TK N akhirnya ceria karena sudah tahu 
cara menjawab

Kirim email ke