Baca saja sendiri artikel dibawah ini berkaitan dengan sepak terjang Tiongkok 
dalam persaingannya dengan AS guna mencapai hegemoninya..... seperti biasa chan 
bisanya hanya mengoceh tanpa melihat kenyataan yang sudah bolak balik 
ditampilkan di milis ini... Baca sendiri jawaban si Wang Yi yang dengan 
terang-terangan mengakui mendesaknya tugas untuk melindungi kepentingan 
Tiongkok di luar negeri. Dari segi militer ini pernyataan Xu guangyu: "China 
will build about ten more bases for the [carriers] . . . Hopefully, China could 
have bases in every continent, but that depends on countries which would like 
to cooperate with China.""  Hopefully, China could have bases in every 
continent, but that depends on countries which would like to cooperate with 
China."


Ha...ha.. si Chan sudah lama KO, sekarang terhuyung-huyung mau bangun lagi, 
dibantu sedikit oleh sang Doktor....



Overseas Military Bases

The ‘belt and road initiative’ is a strategy for setting up a string of regimes 
in states surrounding India and headed by strongmen financially beholden to 
China.

The PLA’s responsibilities today have gone beyond the scale of guarding the 
Chinese territories. The PLA must protect China's interests anywhere in the 
world. Overseas military bases will provide cutting-edge support for China to 
guard its growing overseas interests.

As China's first overseas military base, the Djibouti base has more important 
meanings. A Navy commander said that Djibouti will provide China with 
experience of building overseas military bases. After all, China has not had 
any such bases before. Djibouti is just the first step.

Reporter with Phoenix Satellite TV asked questions to Wang Yi on the Djibouti 
base and expanding of China’s overseas interests at the press conference of the 
fourth session of China's 12th National People’s Congress.

Wang Yi replied, "You mentioned China’s growing overseas interests. I think it 
is the key to understanding the matter. Like any major country that is growing, 
China’s overseas interests are expanding. At present, there are 30,000 Chinese 
enterprises all over the world and several million Chinese are working and 
living in all corners of the world. Last year, China’s non-financial outbound 
direct investment reached 118 billion U.S. dollars and the stock of China’s 
overseas assets reached several trillion U.S. dollars. So it has become a 
pressing task for China’s diplomacy to better protect our ever-growing overseas 
interests."

In an editorial published 21 April 2017 marking the anniversary of China's 
navy, the official military outlet PLA Daily suggested that the nation needed 
six aircraft carriers, an enlarged marine corps and ten naval bases in friendly 
foreign nations. "In the long run, China needs to develop its own aircraft 
carrier battle teams, with at least six aircraft carriers, maritime forces led 
by guided missile destroyers, as well as attack submarines," said Xu Guangyu, a 
senior advisor to the China Arms Control and Disarmament Association. "China 
will build about ten more bases for the [carriers] . . . Hopefully, China could 
have bases in every continent, but that depends on countries which would like 
to cooperate with China."

Xu Guangyu, a senior advisor to the China Arms Control and Disarmament 
Association wrote "China will build about ten more bases for the [carriers] . . 
. Hopefully, China could have bases in every continent, but that depends on 
countries which would like to cooperate with China." China is already building 
its first-ever overseas military base, a "support facility" in Djibouti, and it 
is also funding the construction of new seaports at Gwadar, Pakistan and 
Hambantota, Sri Lanka.

The 06 June 2017 annual report to Congress on Chinese military power said 
"China most likely will seek to establish additional military bases in 
countries with which it has a longstanding friendly relationship and similar 
strategic interests, such as Pakistan".

It is reasonable and necessary for China to strengthen its maritime power as it 
is becoming stronger, Chinese experts said after People's Daily published three 
articles on a whole page on 11 February 2018 to emphasize the importance of 
building China into a strong maritime country. "Building China as a maritime 
power fits China's development, the global trend and is the necessary choice 
for realizing the Chinese Dream of the national rejuvenation," read one article 
published on People's Daily under the topic "It's about time to build a strong 
maritime country."

The three articles reviewed China's maritime development since the 18th 
National Congress of the Communist Party of China (CPC) in 2012, including 
promoting marine ecological protection, safeguarding integrity and the national 
interests as well as launching cooperation on disputed issues. The authors of 
the three articles included Liu Jixian, former head of the People's Liberation 
Army (PLA) Academy of Military Science in Beijing.

With development of the Belt and Road initiative, massive personnel, resources 
and property are expanding to other countries and some countries are facing 
problems like war and terrorism, Liu wrote. Thus it was urgent that China 
strengthen its maritime power to protect overseas interests, he noted. 
"Building a powerful maritime strength is the strategic mainstay of China's 
development," he said.

"These articles sent a clear message that China will invest more efforts in 
strengthening its ability to safeguard sea routes and overseas interests," Xu 
Guangyu, a retired major general and senior adviser to the China Arms Control 
and Disarmament Association, told the Global Times. "More overseas logistic 
bases will be built in the future to assist the PLA Navy to conduct operations 
globally."

"There is no need to hide the ambition of the PLA Navy: to gain an ability like 
the US Navy so that it can conduct different operations globally," Xu said. 
"The US is a global power with massive overseas interests. Considering that 
China has already become a global economic power, it is entirely reasonable for 
China to boost its maritime power." The Djibouti base "won't be the last," he 
said. "More overseas bases will be built on different continents for sure, but 
they are not military bases and not based on a military alliance with other 
countries. Instead, they are based on partnership and not targeting any other 
country," Xu said.

China's maritime ambition is not the same as Western countries when they built 
their sea hegemony in the past, said Wang Yiwei, director of the Institute of 
International Affairs at the Renmin University of China in Beijing.


    On Friday, April 12, 2019, 4:52:30 AM GMT+2, ChanCT [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]> wrote:  
 
     
 

Harus ingat, bahwa tidak beda dengan Republik Indonesia, Republik Rakyat 
Tiongkok adalah keberhasilan perjuangan rakyat Tiongkok melawan 
kolonialisme-imperialisme dan kekuasaan Tjiang Kaisek yg menjadikan dirinya 
boneka AS itu! Dan sampai sekarang ini, dalam 70tahun, RRT berubah menjadi 
negara yang cukup kuat dibidang ekonomi dan teknologi menyaingi imperialisme AS 
dan dijadikan ancaman berat AS, ...! 
 
 
Tapi, dalam politik luarnegeri RRT saya tidak melihat ada gejala usaha 
kangkangi dunia, khususnya dengan kekuatan militer! Usaha pembangunan dibidang 
ekonomi yg selama ini dilakukan juga berulangkali ditegaskan dengan prinsip 
Saling menguntungkan dan menang bersama! Justru dengan prinsip jalan Sutera 
yang saling menguntungkan dan menang bersama inilah nampaknya usaha RRT 
berhasil mendesak AS, ...! Sekalipun AS berusaha mengobok-obok, bahkan tak 
segan-segan menggulingkan kekuasaan yg tidak nurut dan simpati atau lebih dekat 
pd RRT dibbanyak negara didunia, ....
 
Teentu adalah hak RRT membangun pangkalan militer di beberapa kepulauan di Laut 
Tiongkok Timur/Selatan yg dianggap masuk wilayah kedaulatan RRT! Dan selama ini 
RRT tidak ada usaha membangun pangkalan militer dinegara lain ataupun lautan 
Atlanthik sana! Karena RRT BUKAN dan tidak jalankan imperialisme, ...
 
Sengketa RRT dengan Viet Nam dan Filipina yang terjadi tentu saja harus 
diselesaikan secara DAMAI. Duduk berunding TANPA harus direcoki AS! Dengan 
Filipina pun kerjasama masih bisa berlangsung, sekalipun ada protes dengan 
mendekat dan masuknya kapal perang RRT dikepulauan yg jadi sengketa itu. Dan, 
mestinya dibaca sebagai protes RRT terhadap gencarnya kembali latihan militer 
Filipina dengan AS semingguan terakhir ini, ... Bukan ancaman RRT utk mencaplok 
Filipina! Itu saja masalahnya!
 

 
 

 
 ajeg [email protected] [GELORA45] 於 11/4/2019 22:50 寫道:
  
       Semua orang yang memahami perjuangan bangsa-bangsa di Nusantara pasti 
tahu bahwa kemerdekaan Indonesia tidak untuk memusuhi siapa pun, negara mana 
pun. Sebab, Indonesia secara dialektis adalah antitesa dari penjajahan. 
   
   Jadi, satu-satunya musuh yang harus dilawan bangsa Indonesia hanyalah isme, 
kolonialisme-imperialisme, yang jelas tidak berperikemanusiaan dan 
perikeadilan. Founding mothers & fathers mau bangsa merdeka ini tidak gampang 
terkecoh urusan lahiriah dan golongan, baik itu londo imperialis putih, londo 
hitam, londo kuning, maupun londo sawo mateng. Bagi saya, normal saja Anda 
tidak tahu tentang itu karena Anda terlalu sibuk memaksakan cara pandang rasis 
supaya saya memusuhi negara ini dan itu hanya karena Anda jiper pada ras yang 
lain.      
     Khusus soal RRC Ping-Ping, Anda kan akui sendiri negara itu sebagai 
imperialis terhadap EU. Panjang lebar Anda ngoceh untuk menyanjung bahwa negara 
imperialis-baru itu adalah imperialis yang menghormati hukum internasional, 
tanpa sepatah kata pun Anda jawab pertanyaan saya:
  
  "seperti apa penghormatan RRC terhadap hukum internasional dalam sengketa 
wilayah dengan negara-negara ASEAN (bukan cuma dengan Filipina) di Laut Cina 
Selatan?" 
  
  Kalau tidak sanggup jawab ya tidak ada gunanya omong kosong Anda dilanjutkan. 
   
     --- yskp45@... wrote:        
300 Tahun lebih,Spanyol Portugal, Inggeris, 
Perancis,Belgia,Niederland,Jerman,merampok diseluruh Kontinent Duniai ini, 
termasuk di China. Dengan kemenangan Uni Sowyet dalam Perang Dunia ke-II hancur 
system Kolonialisme/Imperialisme Europa. Dan kemudian semua kaum Kolonial tsb. 
dikumpulkan oleh US-Presiden Truman dalam satu Club yang bernama NATO:  untuk 
Spanol, Portugal, Inggeris, Perancis, Belgia,.Nierdeland dan Jerman mereka 
membutuhkan NATO untuk merebut kembali posisi Kolonialisme mereka yang hilang; 
untuk USA-membutuhkan Europa untuk batu loncatan expansionisme ke Kontinent 
lainnya, terutama untuk melawan Uni Sowyet/Russia. 
 
 Yang sangat anehnya, tidak sepatahkatapun dari Anda mengenai kebrutalan 
Kolonialisme/Imperialisme EU/NATO-USA, dan Anda pindahkan system Imperialisme 
itu kepada RRT, atau Anda berharapan dengan anti-sosialisme akan memperoleh 
Hadiah Nobel?
 
 Atau, "seerkor Anjing menggonggongi sebuah bayangan; Anjing-Anjing lainnya 
menerima signal tsb. sebagai bahaya realitas", dan menggonggonglah semuanya wow 
wow wow, menggonggongi bayangan, bukan realitas".
 Demikian yang sedang tejadi.
 
 Saya pernah mengikuti sebuaht ulisan dengan inisial " Noroyono 1963," dengan 
dramatis menulis:
 
 “Awas, Bahaya Kuning dari Utara”, “PENJAJAH KUNING SEDANG MENGINTAI INDONESIA
 
 " KE ARAH KOLONIALISME CHINA “, dan sesudah ini bermunculan Tulisan-Tulisan 
Anti-RRT dengan nada seperti yang Anda Tulis "Imperialisme, Kapitalisme - 
Sontoloyo,etc. dan itulah mereka-mereka, yang mengonggongi bayangan.". tanpa 
menguasai siatuasi civilisasi Dunia pada Abad ke-XXI ini; bahwasanya Republik 
Indonesia  semenjak lebih dari 1/2 Abad Perkonomiannya dikuasai oleh 
Perusahaan-Perusahaan Raksasa USA dan Kementerian Pertahanan R.I dikuasai oleh 
CIA, semuanya diam seribu bahasa..
 Delegasi Pemerintah RRT pada Pertemuan di Belgia- dengan EU mendemonstrasikan 
Ofensive Politik Luarnegeri yang Damia dari RRT, dengan segalam ketentuan Hukum 
Internasional yang berlaku.
 
--------------------------------
 Pada Ming, 7/4/19, ajeg menulis:
             Terimakasih. Jawaban Anda tentang cara melawan imperialisme dengan 
metode imperialis cukup mempertegas posisi RRC sebagai negara imperialis 
berkembang yaitu, beraninya cuma menekan negara-negara yang lebih lemah 
pertahanan dan terutama ekonominya. 
  
  Jadi, menurut Anda kenapa RRC tidak berani membangun pulau-pulau buatan 
(basis militer) di sepanjang pantai timur dan pantai barat AS misalnya, sebagai 
cara melawan imperialisme "berciri Tiongkok"? 
  Juga, kembali ke topik asal, seperti apa penghormatan RRC terhadap hukum 
internasional dalam sengketa wilayah dengan negara-negara ASEAN (bukan cuma 
dengan Filipina) di Laut Cina Selatan?
  
    --- yskp45@... wrote: 
  Hello Mr. ajeg ajegilelu, melawan Imperialisme dengan methode Imperialisme 
itu sendiri dan di negeri Imperialisme itu sendiri, seperti di EU ( didalam EU 
berkumpul semua kekuatan Kolonialisme/Imperialisme, yang merampok dengan 
kekuatan Militer lebih dari 350 Tahun hampir diseluruh Kontionent di Dunia) 
inilah salahsatu Seni dari Ofensive Damai Politik Luarnegeri Pemerintahan 
RRT,yang tidak terlihat pada Abad ke-19 dan ke-20 dari pelaku-pelaku Hubungan 
kenegaraan di Arena Internasional ketika itu dan Pemerintahan RRT tidak 
melupakan Pembangunan Kemampuan kekuatan Militer RRT yang ampuh dan kuat.
  
  Pemerintah RRT tidak membangun Kemiskinan dan Pembodohan Warganegara RRT di 
negerinya,untuk itu Negara memerlukan Pembangunan Perekonomian Negeri disegala 
bidang, termasuk Bussines di Arena Internasional dan sampai hari ini Pemerintah 
RRT menghormati Hukum Internasional, dan itu bukan Sontoloyo Mr..wow,wow,wow.
  
  Istilah "China-Kuli"-penghinaan untuk manusia China,yang dipakai hampir 
diseluruh negeri-negeri yang dikuasai oleh Kolonialisme/Imperiliasme selama 350 
Tahun, kini, dengan kehadiran RRTdi Arena Internasional yang kuat dibidang 
Ekonomi, pun kekuatan Militer, istilah penghinaan "China-Kuli" habis dari 
seluruh komunikasi. Mr.wow,wow,wow tidak mampu melihat kemenangan Kemanusiaan, 
yang kelihatannya kecil, tetapi menentukan status Nasional sebuah Bangsa China 
yang besar.
  
  Make China Great again bukan romantisme massa lalu, melainkan untuk hari ini 
dan menuju kedapan yang jauh, sesuai dengan Konstitusi RRT, dimana 
jelas-jemelas tertulis "RRT menuju pembangun masyarakat siosialis", dan itu 
akan melalui perjalana yang lauh berliku-liku.
  
  Imperialisme Europa Union sedang berada dalam Erosi Politik-Integrasi yang 
serius, dan hubungan Diplomatik yang tiggi dengan RRT akan memberikan cuaca 
pembentukan hubungan Internasional tanpa kekerasan Militer. Kita ikuti 
selanjutnya pada awal Minggu depan; delegasi Kementerian Luarnegeri RRT akan 
berada di Brussel ( dan itu bukan Sontoloyo, semua berjalan dalam wadah Hukum 
Internasional yang berlaku).
   
--------------------------------------------
 
    Pada Sab, 6/4/19, ajeg menulis: 
         Nah, ini komentar agak lumayan, penuh keheranan berlumur romantisme 
masa lalu. "Make RRT Great and Strong again" katanya tiba-tiba.
   
    Betul, bahwa imperialisme-kapitalisme itu sontoloyo ya jelas harus dilawan. 
Tinggal dicari caranya. Pertanyaannya, kenapa RRC sekarang ikut-ikutan jadi 
sontoloyo  (imperialis kapitalis)?
   
    Kalau RRC serius mau melawan AS maka yang pertama harus dilakukan adalah 
stop jadi sontoloyo. Kemudian unjuk gigi bikin pulau-pulau buatan (basis 
militer) di  sepanjang pantai timur dan barat AS-Kanada untuk membuktikan 
kesungguhan RRC membangun komunisme di Pasifik selatan (Australia, Papua, 
Selandia Baru, Fiji dst). Sekurangnya, masuklah ke Honolulu, jangan cuma sampai 
Manila. 
   
  Biarkan ASEAN jadi penonton VIP pertarungan raksasa komunis vs imperialis 
kapitalis di Pasifik (atau sekedar imperialis maju vs imperialis berkembang?)   
   
     -- yskp45@... wrote:              
  Sangat aneh Bung Chanct, 
   Semenjak berakhir Perang Imperialisme Dunia ke-II. Filipina dijadikan USA 
sebagai basis Militer untuk mengintervensi negara-negara Asia-Tenggara, dan 
dari Pelabuhan Udara Manila berterbangan pesawat Udara penBom USA memBom 
Vietnam, mengsubversi  RRT, Uni Sowyet, mengintervensi, dan mengorganisasi 
segala bentuk aksi penghancuran kekuasaan Negara Republik Indonesia-Presiden 
Soekarno, pemberontakan PRRI, PERMESTA, membantu DII/TII sampai dengan Operasi 
CIA yang  dipimpin langsung oleh DUBES USA Marshal Green dan pelaku Lapangan 
John Sotckwell bersama para Jendral TNI September 1965, dan tidak seorangpun 
dari para heroik anti-RRT bilang itu adalah ofensive Imperialisme USA, untuk 
menguasai selanjutnya regional Asia dan Pacific.  
  Permulaan Abad ke-XXI muncul RRT di Arena Internasional dengan ofensive Damai 
berusaha mengexpos kehadiran Militer/kekuasaan USA dari Asia & Pacific dan 
berteriak para anti-RRT , "itu adalah Imperialisme", amboi, amboi, Bung Chanct, 
pada Abad ke-XXI banyak bentuk perjuangan, dari kekuatan Demokratis Civilisasi 
Dunia dalam konstalasi imbangan kekuatan, yang selau  berobah dan dengan RRT 
yang sedang menuju bentuknya. Lihat umpamyana. Artikel dibawah, belum pernah 
terjadi Volume perdagangan ( Business antara RRT dan Europa Union) dalam tempo 
duabulan terakhir mencapai 100 Milliard  USDolar, dan disini kelihatan, bahwa 
EU sedang dalam perobahan konstalasi hubungan Internasional yang serius, dan 
saya ikuti,para Pimpinan RRT sangat-hati-hati, menguasai Perekonomian 
Imperialisme EU bukanlah masalah  mudah, dan permulaan telah berjalan dengan 
baik, dalam ketentuan hukum Internasional.    
  Mungkin pula akan berteriak para heroik anti-RRT, "itu adalah Imperilisme RRT 
menguasai PerekonomianEU...???). 
  "Make RRT Great and Strong again".
  
  Tjaniago             
  
    
 
 
|  | 不含病毒。www.avg.com  |

   #yiv1585241485 #yiv1585241485 -- #yiv1585241485ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv1585241485 
#yiv1585241485ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv1585241485 
#yiv1585241485ygrp-mkp #yiv1585241485hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv1585241485 #yiv1585241485ygrp-mkp #yiv1585241485ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv1585241485 #yiv1585241485ygrp-mkp .yiv1585241485ad 
{padding:0 0;}#yiv1585241485 #yiv1585241485ygrp-mkp .yiv1585241485ad p 
{margin:0;}#yiv1585241485 #yiv1585241485ygrp-mkp .yiv1585241485ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv1585241485 #yiv1585241485ygrp-sponsor 
#yiv1585241485ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv1585241485 
#yiv1585241485ygrp-sponsor #yiv1585241485ygrp-lc #yiv1585241485hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv1585241485 
#yiv1585241485ygrp-sponsor #yiv1585241485ygrp-lc .yiv1585241485ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv1585241485 #yiv1585241485actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv1585241485 
#yiv1585241485activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv1585241485
 #yiv1585241485activity span {font-weight:700;}#yiv1585241485 
#yiv1585241485activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv1585241485 #yiv1585241485activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv1585241485 #yiv1585241485activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv1585241485 #yiv1585241485activity span 
.yiv1585241485underline {text-decoration:underline;}#yiv1585241485 
.yiv1585241485attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv1585241485 .yiv1585241485attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv1585241485 .yiv1585241485attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv1585241485 .yiv1585241485attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv1585241485 .yiv1585241485attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv1585241485 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv1585241485 .yiv1585241485bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv1585241485 
.yiv1585241485bold a {text-decoration:none;}#yiv1585241485 dd.yiv1585241485last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1585241485 dd.yiv1585241485last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1585241485 
dd.yiv1585241485last p span.yiv1585241485yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv1585241485 div.yiv1585241485attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv1585241485 div.yiv1585241485attach-table 
{width:400px;}#yiv1585241485 div.yiv1585241485file-title a, #yiv1585241485 
div.yiv1585241485file-title a:active, #yiv1585241485 
div.yiv1585241485file-title a:hover, #yiv1585241485 div.yiv1585241485file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv1585241485 div.yiv1585241485photo-title a, 
#yiv1585241485 div.yiv1585241485photo-title a:active, #yiv1585241485 
div.yiv1585241485photo-title a:hover, #yiv1585241485 
div.yiv1585241485photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv1585241485 
div#yiv1585241485ygrp-mlmsg #yiv1585241485ygrp-msg p a 
span.yiv1585241485yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv1585241485 
.yiv1585241485green {color:#628c2a;}#yiv1585241485 .yiv1585241485MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv1585241485 o {font-size:0;}#yiv1585241485 
#yiv1585241485photos div {float:left;width:72px;}#yiv1585241485 
#yiv1585241485photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv1585241485 
#yiv1585241485photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv1585241485
 #yiv1585241485reco-category {font-size:77%;}#yiv1585241485 
#yiv1585241485reco-desc {font-size:77%;}#yiv1585241485 .yiv1585241485replbq 
{margin:4px;}#yiv1585241485 #yiv1585241485ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv1585241485 #yiv1585241485ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1585241485 
#yiv1585241485ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv1585241485 
#yiv1585241485ygrp-mlmsg select, #yiv1585241485 input, #yiv1585241485 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1585241485 
#yiv1585241485ygrp-mlmsg pre, #yiv1585241485 code {font:115% 
monospace;}#yiv1585241485 #yiv1585241485ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv1585241485 #yiv1585241485ygrp-mlmsg #yiv1585241485logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv1585241485 #yiv1585241485ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv1585241485 #yiv1585241485ygrp-msg 
p#yiv1585241485attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv1585241485 
#yiv1585241485ygrp-reco #yiv1585241485reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv1585241485 #yiv1585241485ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv1585241485 #yiv1585241485ygrp-sponsor 
#yiv1585241485ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv1585241485 
#yiv1585241485ygrp-sponsor #yiv1585241485ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv1585241485 
#yiv1585241485ygrp-sponsor #yiv1585241485ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv1585241485 #yiv1585241485ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv1585241485 #yiv1585241485ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv1585241485 #yiv1585241485ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv1585241485 
#yiv1585241485ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv1585241485   

Kirim email ke