Ya, sayang sekali tuan doktor tidak mau berbagi ilmu tentang politik ekonomi 
RRC yang menjadikannya negara pengusik ketentraman ASEAN dengan mengangkangi 
LCS - juga gila-gilaan menyewa lahan di berbagai negara untuk ratusan tahun ala 
Inggris nongkrong di Hong Kong. 

Bagi tuan doktor rupanya berulang-ulang curhat tentang masa lalu lebih penting 
ketimbang memakai ilmunya untuk menjawab persoalan hukum internasional masa 
kini yang dihadapi ASEAN akibat pameran kekuatan RRC di LCS. Kawasan ini jadi 
berisik dengan seliwerannya mesin-mesin perang dari negara-negara imperialis, 
baik imperialis maju maupun imperialis berkembang. Ya rapopo kalau maunya cuma 
curhat. 

Yang pasti, curhat itu jatuhnya ya cuma omongkosong dalam thread protesnya 
Filipina ini. Cuma OOT.
   --- jetaimemucho1@... wrote:
Sayang sekali bung Doktor baru bicara dan membela Tiongkok 
revisionis-imperialis sekarang. Kenapa tidak ikut dalam perdebatan yang sudah 
berjalan lebih 4-5 tahun tentang sifat masyarakat dan sistim ekonomi yang 
berdominasi di tiongkok? Saya tidak punya gelar akademisi dalam ekonomi atau 
ilmu politik.. Anda yang punya gelar. Saya ingin ajukan  pertanyaan yang 
sederhana saja (yang tak pernah bisa dijawab Chan. maka bantulah dia!) : cara 
produksi (mode of production) apa yang sekarang berdominasi di Tiongkok???
    On Friday, April 12, 2019, 5:41:20 PM GMT+2, ajeg wrote:
    Anda bicara ke saya, DR? 

Oke, saya tolak sajalah seluruh omongkosong Anda yang berhari-hari terbukti 
tidak mampu sepatah kata pun menjawab pertanyaan ini: 

"seperti apa penghormatan RRC terhadap hukum internasional dalam sengketa 
wilayah dengan negara-negara ASEAN (bukan cuma dengan Filipina) di Laut Cina 
Selatan?"
 --- yskp45@... wrote: 

hello ajeg>ajeglielu,Terminology "Inmperialisme" yang Anda pergunakan untuk 
RRT, saya tolok sepenuhnya. Imperialisme yalah puncak tertinggi dari kesatuan 
Monopolkapital raksasa Kapitalisme, dengan birokrasi negara dan kekuatan 
Militer melakukan Agresi Militer perampokan Territorium, perampokan Sumber Daya 
Alam dan menghancurkan seluruh system kenegaraan, negara-negara yang diserang 
dan diduduki. Seperti yang dilakukan USA di Iraq, membunuh Presiden Iraq Saddan 
Husein, merampok Gas dan Minyak Bumi, menghancurkan system Kenegaraan Iraq; 
demikian juga di Afghanistan selama 25 Tahun ini dan di Libya. Negara mana lagi 
yang akan diserang oleh sahabat Anda Imperialisme USA? Ke Indonesia?, sudah 
tidak perlu, fungsi USArmy sudah diambil untuk USA selama 1/2 Abad ini oleh 
TNI. Perusahaan-Perusahan Raksasa USA dengan tenang bisa menguras Sumber Daya 
Alam Indonesia, seenaknya.

RRT mengadakan business di Arena Internasional dengan menghormati Hukum 
Internasional yang berlalku, RRT tidak merampok negara manapun, dan tidak 
menyerang dan menduduki territorium negara manapun, karena itu tidak dibenarkan 
oleh Konstitusi RRT. dan Presiden RRT-Xi Jinping menghormati Konstitusi 
negerinya..

  On Friday, April 12, 2019, 9:52:30 AM GMT+7, ChanCT wrote: 
 

Harus ingat, bahwa tidak beda dengan Republik Indonesia, Republik Rakyat 
Tiongkok adalah keberhasilan perjuangan rakyat Tiongkok melawan 
kolonialisme-imperialisme dan kekuasaan Tjiang Kaisek yg menjadikan dirinya 
boneka AS itu! Dan sampai sekarang ini, dalam 70tahun, RRT berubah menjadi 
negara yang cukup kuat dibidang ekonomi dan teknologi menyaingi imperialisme AS 
dan dijadikan ancaman berat AS, ...! 
 
 
Tapi, dalam politik luarnegeri RRT saya tidak melihat ada gejala usaha 
kangkangi dunia, khususnya dengan kekuatan militer! Usaha pembangunan dibidang 
ekonomi yg selama ini dilakukan juga berulangkali ditegaskan dengan prinsip 
Saling menguntungkan dan menang bersama! Justru dengan prinsip jalan Sutera 
yang saling menguntungkan dan menang bersama inilah nampaknya usaha RRT 
berhasil mendesak AS, ...! Sekalipun AS berusaha mengobok-obok, bahkan tak 
segan-segan menggulingkan kekuasaan yg tidak nurut dan simpati atau lebih dekat 
pd RRT dibbanyak negara didunia, ....
 
Teentu adalah hak RRT membangun pangkalan militer di beberapa kepulauan di Laut 
Tiongkok Timur/Selatan yg dianggap masuk wilayah kedaulatan RRT! Dan selama ini 
RRT tidak ada usaha membangun pangkalan militer dinegara lain ataupun lautan 
Atlanthik sana! Karena RRT BUKAN dan tidak jalankan imperialisme, ...
 
Sengketa RRT dengan Viet Nam dan Filipina yang terjadi tentu saja harus 
diselesaikan secara DAMAI. Duduk berunding TANPA harus direcoki AS! Dengan 
Filipina pun kerjasama masih bisa berlangsung, sekalipun ada protes dengan 
mendekat dan masuknya kapal perang RRT dikepulauan yg jadi sengketa itu. Dan, 
mestinya dibaca sebagai protes RRT terhadap gencarnya kembali latihan militer 
Filipina dengan AS semingguan terakhir ini, ... Bukan ancaman RRT utk mencaplok 
Filipina! Itu saja masalahnya!
 
ajeg 於 11/4/2019 22:50 寫道:
Semua orang yang memahami perjuangan bangsa-bangsa di Nusantara pasti tahu 
bahwa kemerdekaan Indonesia tidak untuk memusuhi siapa pun, negara mana pun.. 
Sebab, Indonesia secara dialektis adalah  antitesa dari penjajahan. 
   
   Jadi, satu-satunya musuh yang harus dilawan bangsa Indonesia hanyalah isme,  
kolonialisme-imperialisme, yang jelas tidak berperikemanusiaan dan 
perikeadilan. Founding mothers & fathers mau bangsa merdeka ini tidak gampang 
terkecoh urusan lahiriah dan  golongan, baik itu londo imperialis putih, londo 
hitam, londo kuning, maupun londo sawo mateng. Bagi saya, normal saja Anda 
tidak tahu tentang itu karena Anda terlalu sibuk memaksakan cara pandang rasis 
supaya saya memusuhi negara ini dan itu hanya karena Anda jiper pada ras  yang 
lain.      
    Khusus soal RRC Ping-Ping, Anda kan akui sendiri negara itu sebagai 
imperialis terhadap EU.  Panjang lebar Anda ngoceh untuk menyanjung bahwa 
negara imperialis-baru itu adalah imperialis yang menghormati hukum  
internasional, tanpa sepatah kata pun Anda jawab pertanyaan saya:
  
  "seperti apa penghormatan RRC terhadap hukum internasional dalam  sengketa 
wilayah dengan negara-negara ASEAN (bukan cuma dengan Filipina) di Laut Cina  
Selatan?" 
  
  Kalau tidak sanggup jawab ya tidak ada gunanya omong kosong Anda dilanjutkan. 
   
     --- yskp45@... wrote:        
300 Tahun lebih,Spanyol Portugal, Inggeris, 
Perancis,Belgia,Niederland,Jerman,merampok diseluruh Kontinent Duniai ini,  
termasuk di China. Dengan kemenangan Uni Sowyet dalam Perang Dunia ke-II hancur 
system Kolonialisme/Imperialisme Europa. Dan kemudian semua kaum Kolonial tsb. 
dikumpulkan oleh US-Presiden Truman dalam  satu Club yang bernama NATO: untuk 
Spanol, Portugal, Inggeris, Perancis,  Belgia,.Nierdeland dan Jerman mereka 
membutuhkan NATO untuk  merebut kembali posisi Kolonialisme mereka yang hilang; 
untuk USA-membutuhkan  Europa untuk batu loncatan expansionisme ke Kontinent 
lainnya, terutama untuk melawan Uni Sowyet/Russia. 
 
 Yang sangat anehnya, tidak sepatahkatapun dari Anda mengenai kebrutalan 
Kolonialisme/Imperialisme EU/NATO-USA, dan Anda  pindahkan system Imperialisme 
itu kepada RRT, atau Anda berharapan dengan  anti-sosialisme akan memperoleh 
Hadiah Nobel?
 
 Atau, "seerkor Anjing menggonggongi sebuah bayangan; Anjing-Anjing lainnya 
menerima signal tsb. sebagai bahaya realitas", dan menggonggonglah  semuanya 
wow wow wow, menggonggongi bayangan, bukan realitas".
 Demikian yang sedang tejadi.
 
 Saya pernah mengikuti sebuaht ulisan dengan inisial "  Noroyono 1963," dengan 
dramatis menulis:
 
 “Awas, Bahaya Kuning dari Utara”, “PENJAJAH KUNING SEDANG MENGINTAI INDONESIA
 
 " KE ARAH KOLONIALISME CHINA “, dan sesudah ini bermunculan  Tulisan-Tulisan 
Anti-RRT dengan nada seperti yang Anda Tulis "Imperialisme,  Kapitalisme - 
Sontoloyo,etc. dan itulah mereka-mereka, yang mengonggongi bayangan.". tanpa 
menguasai siatuasi civilisasi Dunia pada Abad ke-XXI ini;  bahwasanya Republik 
Indonesia semenjak lebih dari 1/2 Abad Perkonomiannya dikuasai oleh 
Perusahaan-Perusahaan Raksasa USA dan Kementerian Pertahanan  R.I dikuasai oleh 
CIA, semuanya diam seribu bahasa..
 Delegasi Pemerintah RRT pada Pertemuan di Belgia- dengan EU  mendemonstrasikan 
Ofensive Politik Luarnegeri yang Damia dari RRT, dengan segalam  ketentuan 
Hukum Internasional yang berlaku.
 
--------------------------------
 Pada Ming, 7/4/19, ajeg menulis:
             Terimakasih. Jawaban Anda tentang cara melawan imperialisme dengan 
metode  imperialis cukup mempertegas posisi RRC sebagai negara imperialis 
berkembang yaitu,  beraninya cuma menekan negara-negara yang lebih lemah 
pertahanan dan terutama ekonominya. 
  
  Jadi, menurut Anda kenapa RRC tidak berani membangun pulau-pulau buatan 
(basis militer) di sepanjang pantai timur dan pantai barat AS misalnya, sebagai 
cara  melawan imperialisme "berciri Tiongkok"? 
  Juga, kembali ke topik asal, seperti apa penghormatan RRC terhadap hukum  
internasional dalam sengketa wilayah dengan negara-negara ASEAN (bukan cuma 
dengan Filipina) di  Laut Cina Selatan?
  
    --- yskp45@... wrote: 
  Hello Mr. ajeg ajegilelu, melawan Imperialisme dengan methode Imperialisme 
itu sendiri dan di negeri Imperialisme itu sendiri, seperti di EU ( didalam EU 
berkumpul semua kekuatan Kolonialisme/Imperialisme, yang merampok dengan 
kekuatan Militer lebih dari 350 Tahun hampir diseluruh Kontionent di Dunia) 
inilah salahsatu Seni dari Ofensive Damai Politik Luarnegeri Pemerintahan 
RRT,yang tidak terlihat pada Abad ke-19 dan ke-20 dari pelaku-pelaku Hubungan 
kenegaraan di Arena Internasional ketika itu dan Pemerintahan RRT tidak 
melupakan Pembangunan Kemampuan  kekuatan Militer RRT yang ampuh dan kuat.
  
  Pemerintah RRT tidak membangun Kemiskinan dan Pembodohan Warganegara RRT di 
negerinya,untuk itu Negara memerlukan  Pembangunan Perekonomian Negeri disegala 
bidang, termasuk Bussines di Arena Internasional dan sampai hari ini Pemerintah 
RRT menghormati Hukum Internasional, dan itu bukan Sontoloyo Mr.wow,wow,wow.
  
  Istilah "China-Kuli"-penghinaan untuk manusia China,yang dipakai hampir 
diseluruh negeri-negeri yang dikuasai oleh  Kolonialisme/Imperiliasme selama 
350 Tahun, kini, dengan kehadiran RRTdi Arena Internasional yang kuat dibidang 
Ekonomi, pun kekuatan Militer, istilah penghinaan "China-Kuli" habis dari 
seluruh komunikasi.  Mr.wow,wow,wow tidak mampu melihat kemenangan Kemanusiaan, 
yang kelihatannya kecil, tetapi menentukan status Nasional  sebuah Bangsa China 
yang besar.
  
  Make China Great again bukan romantisme massa lalu, melainkan untuk hari ini 
dan menuju kedapan yang jauh, sesuai dengan  Konstitusi RRT, dimana 
jelas-jemelas tertulis "RRT menuju pembangun masyarakat siosialis", dan itu 
akan melalui perjalana yang lauh berliku-liku.
  
  Imperialisme Europa Union sedang berada dalam Erosi Politik-Integrasi yang 
serius, dan hubungan Diplomatik yang tiggi dengan RRT akan memberikan cuaca 
pembentukan hubungan Internasional tanpa kekerasan Militer. Kita ikuti 
selanjutnya pada awal Minggu depan; delegasi Kementerian Luarnegeri RRT akan 
berada di Brussel ( dan  itu bukan Sontoloyo, semua berjalan dalam wadah Hukum 
Internasional yang berlaku).
   
--------------------------------------------
 
    Pada Sab, 6/4/19, ajeg menulis: 
         Nah, ini komentar agak lumayan, penuh keheranan berlumur romantisme 
masa lalu. "Make RRT Great and Strong again" katanya tiba-tiba.
   
    Betul, bahwa imperialisme-kapitalisme  itu sontoloyo ya jelas harus 
dilawan. Tinggal dicari caranya. Pertanyaannya,  kenapa RRC sekarang 
ikut-ikutan jadi  sontoloyo (imperialis  kapitalis)?
   
    Kalau RRC serius mau melawan AS maka yang pertama harus dilakukan adalah 
stop jadi  sontoloyo. Kemudian unjuk gigi bikin  pulau-pulau buatan (basis  
militer) di sepanjang pantai timur  dan barat AS-Kanada untuk  membuktikan 
kesungguhan  RRC membangun komunisme di Pasifik  selatan (Australia, Papua, 
Selandia Baru, Fiji dst).  Sekurangnya, masuklah ke Honolulu,  jangan cuma 
sampai Manila.  
   
  Biarkan ASEAN jadi penonton VIP pertarungan raksasa komunis vs  imperialis 
kapitalis di  Pasifik (atau sekedar imperialis  maju vs imperialis berkembang?) 
     
     -- yskp45@... wrote:              
  Sangat aneh Bung Chanct, 
   Semenjak berakhir Perang Imperialisme Dunia ke-II. Filipina dijadikan USA 
sebagai basis Militer untuk mengintervensi  negara-negara Asia-Tenggara, dan 
dari Pelabuhan Udara Manila berterbangan pesawat Udara penBom USA memBom 
Vietnam, mengsubversi RRT, Uni Sowyet, mengintervensi, dan mengorganisasi 
segala bentuk aksi penghancuran kekuasaan Negara  Republik Indonesia-Presiden 
Soekarno, pemberontakan PRRI, PERMESTA, membantu DII/TII sampai dengan Operasi 
CIA yang  dipimpin langsung oleh DUBES USA Marshal Green dan pelaku Lapangan 
John Sotckwell bersama para Jendral TNI September  1965, dan tidak seorangpun 
dari para heroik anti-RRT bilang itu adalah ofensive Imperialisme USA, untuk 
menguasai selanjutnya regional Asia dan Pacific.  
  Permulaan Abad ke-XXI muncul RRT di Arena Internasional dengan ofensive Damai 
berusaha mengexpos kehadiran  Militer/kekuasaan USA dari Asia & Pacific dan 
berteriak para anti-RRT , "itu adalah Imperialisme", amboi, amboi, Bung Chanct, 
pada Abad  ke-XXI banyak bentuk perjuangan, dari kekuatan Demokratis Civilisasi 
Dunia dalam konstalasi imbangan kekuatan, yang selau berobah dan dengan RRT 
yang sedang menuju bentuknya. Lihat umpamyana. Artikel dibawah, belum pernah  
terjadi Volume perdagangan ( Business antara RRT dan Europa Union) dalam tempo 
duabulan terakhir  mencapai 100 Milliard USDolar, dan disini kelihatan, bahwa 
EU sedang dalam perobahan konstalasi hubungan Internasional yang  serius, dan 
saya ikuti,para Pimpinan RRT sangat-hati-hati, menguasai Perekonomian 
Imperialisme EU  bukanlah masalah mudah, dan permulaan telah berjalan dengan 
baik, dalam ketentuan hukum Internasional.    
  Mungkin pula akan berteriak para heroik anti-RRT, "itu adalah Imperilisme RRT 
menguasai PerekonomianEU...???). 
  "Make RRT Great and Strong again".
  
  Tjaniago           

Kirim email ke