Bung Jo,
Saya juga tertarik baca sejarah militer.
Ternyata di Tentara Pembebasan Tiongkok waktu lawan Chiang Kaishek ada
banyak orang2 Koreanya.
Waktu Korea Utara terdesak orang-orang Korea di TPR minta ijin untuk
berperang di Korea. Dan ini
sepenuhnya didukung TPR, yang masuk ke Korea sebagai "sukarelawan", padahal
ini militer yang sudah
punya banyak pengalaman perang.
Sampai sekarang di Tiongkok tetap ada suku minoritas Korea.
Sebenarnya Stalin menganjurkan Mao untuk menerima pengunduran diri tentara
Korea Utara masuk Tiongkok,
dan beroperasi dari Tiongkok lawan Amerika dan sekutunya. Kalau Amerika
mengejar tentara Korea utara masuk
wilayah Tiongkok, baru dikepung, dihancurkan.
Tetapi Mao, setelah mendengar pendapat2 jendral2nya, menolak saran Stalin,
karena kalau perang terjadi di Tiongkok,
Tiongkok tidak akan dapat membangun negeri. Jadi perang harus terjadi di
wilayah Korea.
Salam,
KH

Pada tanggal Sab, 13 Apr 2019 pukul 06.23 [email protected] [GELORA45] <
[email protected]> menulis:

>
>
> Kutipan: "Kalau RRC serius mau melawan AS maka yang pertama harus
> dilakukan adalah stop jadi sontoloyo".
>
> Pelajari dulu tentang perang Korea dan Vietnam, jadi komentarnya bisa
> dimengerti. RRT tidak takut thd AS tetapi RRT tidak mau menyerang atau
> memprovokasi AS. Tetapi kalau AS membahayakan national security dari RRT,
> RRT akan melawannya. RRT membantu Korea Utara dan Vietnam dan AS dikalahkan
> di kedua perang itu. Dulu waktu masih lemah saja berani melawan AS kalau
> national security terancam.
>
> Ha, ha, ha, RRT dulu waktu masih lemah tidak takut thd AS dan sekarang
> jauh lebih kuat tetapi malahan takut sama AS???
>
> Kutipan:
> 1) MacArthur felt that the North Korean army had been essentially
> destroyed by the middle of October, and, against the recommendations of the
> Joint Chiefs of Staff, he sent his forces into the northernmost parts of
> North Korea. His troops were hit by surprise and decimated when Chinese
> Communists troops began attacking his forces. On October 25, the PRC made
> an attack on ROK soldiers and routed them at Pukchin. On November 1, the
> Chinese defeated American troops at Unsan, in the first Chinese-American
> combat of the war.
>
> 3) China admitted today that it sent 320,000 combat troops to Vietnam to
> fight against U.S. forces and their South Vietnamese allies. In a report
> monitored in Hong Kong, the semi-official China News Service said China
> sent the soldiers to Vietnam during the 1960s and spent over $20 billion to
> support Hanoi's regular North Vietnamese Army and Viet Cong guerrilla units
>
>
>
> ---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :
>
> Nah, ini komentar agak lumayan, penuh keheranan berlumur romantisme masa
> lalu. "Make RRT Great and Strong again" katanya tiba-tiba.
>
> Betul, bahwa imperialisme-kapitalisme itu sontoloyo ya jelas harus
> dilawan. Tinggal dicari caranya. Pertanyaannya, kenapa RRC sekarang
> ikut-ikutan jadi sontoloyo (imperialis kapitalis)?
>
> Kalau RRC serius mau melawan AS maka yang pertama harus dilakukan adalah
> stop jadi sontoloyo. Kemudian unjuk gigi bikin pulau-pulau buatan (basis
> militer) di sepanjang pantai timur dan barat AS-Kanada untuk membuktikan
> kesungguhan RRC membangun komunisme di Pasifik selatan (Australia, Papua,
> Selandia Baru, Fiji dst). Sekurangnya, masuklah ke Honolulu, jangan cuma
> sampai Manila.
>
> Biarkan ASEAN jadi penonton VIP pertarungan raksasa komunis vs imperialis
> kapitalis di Pasifik (atau sekedar imperialis maju vs imperialis
> berkembang?)
>
> -- yskp45@... wrote:
>
> Sangat aneh Bung Chanct,
>
> Semenjak berakhir Perang Imperialisme Dunia ke-II. Filipina dijadikan USA
> sebagai basis Militer untuk mengintervensi negara-negara Asia-Tenggara, dan
> dari Pelabuhan Udara Manila berterbangan pesawat Udara penBom USA memBom
> Vietnam, mengsubversi RRT, Uni Sowyet, mengintervensi, dan mengorganisasi
> segala bentuk aksi penghancuran kekuasaan Negara Republik
> Indonesia-Presiden Soekarno, pemberontakan PRRI, PERMESTA, membantu DII/TII
> sampai dengan Operasi CIA yang dipimpin langsung oleh DUBES USA Marshal
> Green dan pelaku Lapangan John Sotckwell bersama para Jendral TNI September
> 1965, dan tidak seorangpun dari para heroik anti-RRT bilang itu adalah
> ofensive Imperialisme USA, untuk menguasai selanjutnya regional Asia dan
> Pacific.
>
> Permulaan Abad ke-XXI muncul RRT di Arena Internasional dengan ofensive
> Damai berusaha mengexpos kehadiran Militer/kekuasaan USA dari Asia &
> Pacific dan berteriak para anti-RRT , "itu adalah Imperialisme", amboi,
> amboi, Bung Chanct, pada Abad ke-XXI banyak bentuk perjuangan, dari
> kekuatan Demokratis Civilisasi Dunia dalam konstalasi imbangan kekuatan,
> yang selau berobah dan dengan RRT yang sedang menuju bentuknya. Lihat
> umpamyana. Artikel dibawah, belum pernah terjadi Volume perdagangan (
> Business antara RRT dan Europa Union) dalam tempo duabulan terakhir
> mencapai 100 Milliard USDolar, dan disini kelihatan, bahwa EU sedang dalam
> perobahan konstalasi hubungan Internasional yang serius, dan saya
> ikuti,para Pimpinan RRT sangat-hati-hati, menguasai Perekonomian
> Imperialisme EU bukanlah masalah mudah, dan permulaan telah berjalan dengan
> baik, dalam ketentuan hukum Internasional.
>
> Mungkin pula akan berteriak para heroik anti-RRT, "itu adalah Imperilisme
> RRT menguasai PerekonomianEU...???).
>
> "Make RRT Great and Strong again".
>
> Tjaniago
>
>
>
> 
>

Kirim email ke