Anda tidak bisa melihat "underlying problem" dan lebih cenderung membohongi
diri sendiri, anggap saja petunjuk kerja sudah sedemikian bagusnya dan alat2
juga sudah, tetap saja terlalu banyak berhenti/break kerja dan terlalu banyak
libur tidak bisa diatasi, produktifitas tetap lebih rendah dibanding Vietnam.
Contoh orang Maroko di Belanda tidak bisa dibandingkan, orang Maroko cuman
sedikit sekali dgn mudah bisa di-cover pekerja yang lain. Sedang di Indonesia
jelas boleh dibilang hampir semua-nya begitu. Selain break2 utk kegiatan agama,
juga dalam setahun ada sedikitnya 1 bulan tidak optimal karena puasa, belum
lagi ditambah libur lebaran dan cuti bersama (yg harus) juga sekitar sebulan.
Dus mana bisa pabrik jalan.
Apa yg saya sebutkan diatas itu kenyataan apa adanya bukannya dipaksa kerja
atau apa, tetapi memang itulah faktor yg menyebabkan produktifitas lebih rendah
dibanding negara lain tidak perlu di-tutup2i ataupun menipu diri sendiri. Saya
kira negara yg apa2 berdasarkan agama ini ya tidak bakalan bisa mengatasi nanti
dibilang tidak toleransi tidak menghargai kaidah agama dlsb.
Tetapi apapun itulah memang kondisi yg harus dihadapi.
Sedang masalah kedua, pesangon PHK, saya kira sebaiknya dibentuk unemployment
insurance.
On Sunday, April 21, 2019, 1:42:51 AM PDT, kh djie <[email protected]>
wrote:
Lha, kalau gaji tidak bisa dinaikkan oleh perusahaan, sedangkan buruh sulit
hidup dari gaji yang diterima, kan pemerintah perlu cepat turun tangan
memperbaiki pertanian, peternakan,perikanan, supaya dengan gaji yang rendah
itu, buruh masih tetap bisa hidup dan petani bisa hidup lebih baik, dan dapat
lebih jauhmeningkatkan hasilnya. Anda tidak suka cara ini . Lalu mau dengan
cara apa.Lho, menaikkan efficiency itu tidak hanya dengan alat2 saja. Penting
memperbaiki petunjuk kerja.
Sampai sekarang, anda tetap tidak tulis pandangan anda untuk mengatasi probleem
ini.Anda kira bisa dengan memaksakan buruh kerja lebih lama, lebih keras, tidak
boleh salat padahal ini sudahjadi kebiasaan lama, bertahun/tahun. Kalau dulu di
perusahaan ada orang Marokko minta waktu salat, tetapidia menggunakannya
sebagai ganti waktu minum kopi. Di Belanda orang kerja di pabrik 8 jam, 2 kali
istirahat minum kopi 15 menit, dan satu kali makan istirahat 30 menit, dengan
cara bergiliran. Jadi selalu ada orangjaga pabrik tetap jalan.Tidak tahu
bagaimana di kebanyakan perusahaan di Indonesia. Apa selain waktu minum kopi,
ada waktu khusus untuk salat. Atau salat dan minum kopi disatukan .
Pada tanggal Min, 21 Apr 2019 pukul 09.55 [email protected] [GELORA45]
<[email protected]> menulis:
begini bung Djie, kalau mau membicarakan solusi ya harus membicarakan dulu apa
saja persoalannya. dan harus fokus dan tdk melebar jauh sekali. pembicaraan
memajukan pertanian, peternakan, perikanan dlsb. tentu pembicaraan yg lain
lagi. anda ini kok aneh masalah gaji buruh kok malah disuruh mengatasi harga2
barang disuruh diturunkan. masalah yg lebih kompleks lagi.
yg saya kemukakan adalah masalah riil yg dihadapi buruh dan pengusaha. itu yg
harus ditemukan. alat2 tambahan sdh pasti dipakailah gak perlu diomong lagi,
bahkan kalau diperbolehkan uu ya sdh otomatisasilah. apa yg anda kemukakan sama
sekali tdk mengatasi masalah sedemikian banyaknya hari libur dan break pd hari
kerja.
selain yg sdh disebutkan sebelumnya juga masalah lain bila terjadi PHK yg
membutuhkan pesangon sekian bulan bahkan puluhan bulan gaji. ada 2 hal disini,
pekerja butuh duit utk mengatasi biaya hidup setelah berhenti bekerja, sedang
pengusaha terlalu berat mengeluarkan cost yg sedemikian banyak
---In [email protected], <djiekh@...> wrote :
1.Kenyataannya hingga sekarang, anda tidak beri kemungkinan solusinya menurut
anda sendiri persoalan gaji ini.2.Juga tidak ada kejelasan apa anda tidak suka
kalau pertanian, peternakan dan perikanan maju, hingga buruh bisa hidup longgar
dan petani bisa hidup lebih baik. Kok malah ditakut/takuti dengan deflatie,.
Apa bisa terjadi kalau hail produksi pangan masih belum cukup, tidak
berlebih/lebihan .3. Sekarang anda tulis hal lain, menurut cerita teman anda.
Lalu apa solusi anda atau teman anda. Apa memang mau dipaksakan orang kerja
lebih lama.4. Kalau saya, yang saya bisa ajukan adalah menaikkan efficiency
kerja dengan cara memakai alat2 tambahan yang membuat kerja bisa lebih cepat
dan meringankan pekerjaan, mengumpulkan pengalaman dari pekerja2 yang
berpengalaman, meninjau kembali semua petunjuk kerja, bagian pabrik perlu minta
bantuan bagian development dan pilot plant untuk membuat proses kerja lebih
efficient.
Pada tanggal Min, 21 Apr 2019 pukul 08.28 jonathangoeij@... [GELORA45]
<[email protected]> menulis:
bukankah awalnya dari gaji buruh, pengusaha dan buruh berbeda pandangan. solusi
anda khan turunkan harga 9 bahan pokok, perumahan, sama transportasi sementara
pendapatan tetap. makanya saya bilang deflasi.
solusi anda absurd, tdk membicarakan ttg pengusaha dan buruh malah kepertanian
bulog segala macam. melebar terlalu jauh.
ada teman2 yg bercerita buruh2 tdk bekerja dgn efektif, terlalu banyak libur
seperti lebaran yg panjang banget ditambah liburan2 agama2 lain2 yg bejibun,
liburnya ber-sama2 lagi yg bikin pabrik mesti berhenti produksi. ditambah juga
banyak break-nya utk salat dll alasan ibadah agama. dus produktifitas rendah
tdk maksimal. umumnya bilang seandainya bekerja lebih produktif tdk keberatan
menaikkan gaji.
sedang vietnam hal2 itu tdk ada, jadi ada kecenderungan bikin pabrik baru di
vietnam.
sebenarnya ada hal sama, buruh menginginkan kenaikan gaji, sdg pegusaha
bersedia menaikkan gaji. cuman repotnya indonesia itu sedikit2 yg diutamakan
agama. produktifitas rendah tdk apa2 demi agama.
---In [email protected], <djiekh@...> wrote :
Tetap saja anda tidak menjawab, sekarang membelokkan ke persoalan besarnya
gaji, yang dalam diskusi mula-mula tidak dimunculkan untuk dibahas. Kok
sekarang coba dimunculkan.Pokoknya apa pendapat anda dengan usaha2 memajukan
bidang pertanian, peternakan dan perikanan ? Kalau ini maju, harga akan turun
sedikit, sedangkan pendapatan petani naik. Jadi kaum buruh bisa hidup sedikit
longgar, dan kehidupan petani juga membaik. Apa anda tidak suka ini dan mau
mencegahnya dengan menakut-nakuti akan ada deflatie ? Kok belum apa2 sudah
takutdeflatie, sedangkan kita masih sangat kekurangan pangan, sampai harus
import yang sangat membutuhkan devisa. Sampai2 perlungutang. Kalau jumlah
barang produksi pertanian, peternakan dan perikanan tidak berlebih lebihan,
bagaimana keterangannya bisa teradi deflatie?Lha, soal gaji buruh kan anda bisa
lihat sendiri di Google UMP Jakarta 2019 : 3.94 juta/bulanUMP Karawang 2019 :
4.23 juta/bulanUMP Bekasi 2019 : 4.22 juta/bulan.Ini dianggap oleh perusahaan
terlalu mahal dibandingkan Vietnam ? Ya, bisa saja gaji buruh di Vietnam lebih
rendah dan cukup?karena harga2 kebutuhan hidup lebih murah?Perusahaan Indonesia
maunya untuk mengatasinya supaya buruh jam kerjanya lebih panjang, kerjanya
lebih keras. Lha, kan akan ramai dengan pemogokan.......Lha kok tidak
memikirkan untuk membuat prosedur kerja lebih efficient bersama pekerja yang
sudah berpengalaman dan orang2 dari bagian development. Di negeri Belanda saja,
yang tadinya dikira orang kerjanya sudah efficient, efficiencynya masih bisa
dinaikkan 10-20% tanpa membuat orang kerja lebih keras, malah diperingan dengan
bantuan alat-alat.Satu contoh sederhana.. habis membuat suatu produkt tertentu,
blender besar harus "disapu", dibersihkan dengan larutan NaOH, kemudian dicuci
dengan air, dikeringkan. Seluruh proses membersihkan dan mengeringkan dan
mendinginkan makan waktu 3..0 - 3.5 jam
Kami ubah urutan produksinya dari campuran yang paling tidak bewarna hingga
bewarna, dari yang tidak berbau sampai yang berbau, yang memang blendernya
harus dicuci dan dikeringkan. Dengan cara kerja ini, blender bisa cukup
dibersihkan dengan dua kali dibersihkan pakai tiap kali 25 kg garam, dan
diputar cepat. Habis diaftap, dalam 20 menit batch berikutnya bisa dimulai.
Kalau tadinya dua mixer-blender hanya dapat buat 25 batches a 1500 ka dalam 5
hari kerja, bisa dinaikkan sampai 32 /33 batches per 5 hari, dan orang kerjanya
lebih enak, tidak berkeringat basah kuyup kena uap panas bersihkan mixer.Hanya
habis produkt sangat bewarna atau berbau sekali sehabis pakai campuran keju,
baru mixer perlu dibersihkan dengan cairan panas..
Pada tanggal Min, 21 Apr 2019 pukul 05.44 jonathangoeij@... [GELORA45]
<[email protected]> menulis:
tentu berkaitan karena intinya adalah pendapatan buruh, kalau benar pendapatan
buruh di Indonesia saat ini sekitar Rp 6 juta sebulan saya rasa itu cukup
memadai untuk tahun ini.
---In [email protected], <djiekh@...> wrote :
Lho kok tetap tidak jawab apa yang sudah didiskusikan.Ini jawab dulu. Jadi
jelas satu per satu.Jangan dibelokkan ke persoalan lain yang tadinya tidak
didiskusikanuntuk menghilangkan persoalan yang dibicarakan.
Pada tanggal Min, 21 Apr 2019 pukul 03.24 jonathangoeij@... [GELORA45]
<[email protected]> menulis:
Sebelumnya coba konfirmasi hal ini "Adapun upah pekerja di Indonesia setahun
saat ini mencapai USD 5.070 per tahun" atau sekitar Rp 6 juta sebulan.
kutipan berita:Adapun upah pekerja di Indonesia setahun saat ini mencapai USD
5.070 per tahun, sementara Vietnam hanya USD 3.800 per tahun.
---In [email protected], <djiekh@...> wrote :
Lho bung ini kok tetap tidak jawab pertanyaan saya pertama, bagaimana solusi
andapada masalah gaji, yang oleh pengusaha dianggap mahal, dan buruh mau
disuruhkerja lebih lama, lebih keras.Pengusaha sendiri harus berusaha
memperbaiki proses kerjanya, menaikkan efficiencynya,masa mau menurunkan gaji
yang sudah rendah. Kalau bikin sesuatu ya, harus satu kali jadi dan bagus.
Kalau harus diperbaiki lagi atau diulang, makan waktu banyak. Harus ada
analisalaboratorium dulu, harus dibikinkan dulu prosedur perbaikan, harus
analisa lagi produk yang sudah jadi. Ini yang bikin proses jadi sangat tidak
efficient dan mahal. Gudang2 bisa penuholeh barang2 tidak memenuhi syarat,
sehingga perlu sewa gudang dari luar.Lalu anda juga tidak jawab apa usaha2
untuk perbaikan2 di bidang pertanian, peternakan dan perikanan itu salah, kalau
menurut teori deflasi anda.Ya, cobalah berikan kejelasan pendapat anda dengan
argumentasinya : apakah usaha2memperbaiki pertanian, peternakan dan perikanan
itu salah, karena selain petani, peternak,penangkap ikan untung, harga
hasil2nya bisa stabil, dan bisa turun , dan kaum buruhdapat agak lebih baik
kehidupannya. Yang di atas harap anda beri jawaban yang tegas . Tentang BULOG
bagaimana pendapat anda sendiri?
Pada tanggal Sab, 20 Apr 2019 pukul 06.32 jonathangoeij@... [GELORA45]
<[email protected]> menulis:
bung Djie kelihatannya melihat dalam pemerintahan Jokowi ini Bulog semrawut,
apakah begitu?
---In [email protected], <djiekh@...> wrote :
..1. .Point pertama anda tidak /belum jawab. Saya tunggu solusi anda.2. Apa
definisi anda tentang deflasi, dan mengapa kalau pertanian berhasil baik,dengan
produksi bisa berlipat ganda, tetapi tidak berlebihan, dan petani bisauntung,
sedangkan harga bahan kebutuhan pokok bisa turun, kok bisa terjadi deflasi.3.
Lha kalau begini, kan berarti anda tidak setuju memajukan pertanian, peternakan
dan perikanan. Kalau ini cukup kan harga bahan makanan akan turun dengan
sendirinya.Apa mau dicegah, dilarang turun.
Pada tanggal Jum, 19 Apr 2019 pukul 23.59 Jonathan Goeij jonathangoeij@...
[GELORA45] <[email protected]> menulis:
Sudah tentu deflasi, coba lihat komoditas yg anda sebutkan "9 bahan pokok,
perumahan, transportatie gratis ke tempat kerja, atau sebagian transportatie ke
tempat kerja harus ditanggung perusahaan seperti di negeri Belanda" bukankah
hal2 itu menempati porsi besar dalam perekonomian. Saya kasih gambaran sedikit,
misalkan saja yg anda sebutkan itu menempati setengah perekonomian dan
harga2nya diturunkan 10% sementara harga komoditas lain tetap, maka yang
terjadi deflasi sebesar 5% (kesemuanya asumsi).
Saya hanya mengatakan dari sisi ekonomi makro pandangan kapitalis, bukannya
setuju atau tidak setuju.
---In [email protected], <djiekh@...> wrote :
1. Bung Jonathan coba beri solusi pada probleem di bawah. Silahkan.
Bagaimana penjelasannya kalau hanya beberapa kebutuhan pokok pangan harganya
berhasil diturunkan, sedangkan jumlah barang pokok pangan itu tidak
berlebih-lebihan kok bisa terjadi deflasi ?
2. Yang perlu diusahakan turun, minimum tidak naik, minimum harga stabil adalah
kebutuhan hidup, transportasi dan sewa/ harga rumah yang layak.3. Untuk
pertanian perlu diusahakan bibit unggul, pupuk (kalau diperlukan dengan
subsidi), irigasi, waduk ( sebagian sudah selesai dibangun). Kalau hasil per
ha bisa naik sampai 2 kali lipat, petani masih bisa untung lebih baik, kalau
harga pangan diturunkan sedikit.
4. Yang pasti BULOGnya harus diberesi untuk dapat menstabilkan harga pangan dan
petani tidakjadi permainan tengkulak. BULOGnya harus dapat menjamin harga yang
stabil, sehingga waktu panen besar,tidak terjadi harga jatuh.5.Yang jelas ikan
mulai banyak dijual di pasar, harganya turun, dan ini mempengaruhi harga daging
sapi,karena sebagian orang sudah mulai mengganti sebagian daging sapi dengan
ikan. Lha kok di sini tidakterlihat akan ada gejala deflasi ? Hanya saja kok
kemajuan industri perikanan dan cold storagenya belum terdengar ? Mestinya
paling tidak industri ikan dalam kaleng bisa untuk supply angkatan darat, laut,
udara dan kepolisian ? Kok belum diolah untuk makanan anak2 untuk mencegah
kekurangan protein
?https://www.liputan6.com/bisnis/read/3223824/menteri-susi-paling-penting-harga-ikan-sudah-murah
.. Siapapun yang akan pegang pemerintahan, tahun ke depan akan lebih mudah
memperbaiki ekonomi,karena beberapa basis sudah diletakkan : waduk,
infrastruktur, pabrik pupuk, pencurian ikan sudah diatasi.
Pada tanggal Jum, 19 Apr 2019 pukul 20.11 Jonathan Goeij jonathangoeij@...
[GELORA45] <[email protected]> menulis:
---In [email protected], <jetaimemucho1@...> wrote :
Orang Islam akan bilang "alhamdulilah" kalau harga sembako bisa turun sesuai
dengan kebutuhan hidup rakyat jelata. Pernahkah rakyat mengalami itu???akan
pernahkah rakyat mengalami itu selama pemerintah ditangan Oligarki seperti
diperlihatkan film Sexy killer???Orang yang selalu ngeyel membela PYM
seolah-olah dia bebas dari Oligarki pun tidak kedengeran lagi suara
pembelaannya....
On Friday, April 19, 2019, 3:47:36 PM GMT+2, kh djie djiekh@... [GELORA45]
<[email protected]> wrote:
Yang bisa dilakukan barangkali :1. Gaji tidak naik, tetapi beaya kebutuhan
hidup harus turun banyak ( 9 bahan pokok, perumahan, transportatie gratis ke
tempat kerja, atau sebagian transportatie ke tempat kerja harus ditanggung
perusahaan seperti di negeri Belanda).2. Cara kerja harus dibikin lebih
efficient oleh pimpinan perusahaan, dan dibantu dengan alat2 untuk
meringankan pekerjaan.3. Sekali buat harus 100% sempurna. Tidak ada yang harus
diperbaiki, diulang kembali.Di Belanda yang dikira orang kerjanya sudah
efficient, ternyata dengan mudah di beberapa prosesefficiencynya bisa naik 10 -
20% dengan perbaikan proses. Heran di Indonesia kok Perusahaanmaunya turunkan
gaji dan atau suruh orang kerja lebih lama ? Kan ya pada mogok....nanti.Satu
contoh saja : Di spray drying, efficiency bisa naik luar biasa dengan menaikkan
inlet temperatur 10 derajat Celcius, dan menurunkan outlet temperature 5 - 10
derajat dan mengurangi jumlah air pelarut. Spray drying time dari 12 jam bisa
turun jadi 10 jam.
Pada tanggal Jum, 19 Apr 2019 pukul 13.38 Tatiana Lukman jetaimemucho1@...
[GELORA45] <[email protected]> menulis:
Bahasanya kaum pengusaha tidak akan pernah sama dengan bahasanya kaum buruh..
Hanya kaum remo dan kaum reaksioner yang berpihak kepada penguasa selalu
menganjurkan dan menjebarkan ilusi seolah-olah kaum buruh dan kaum pengusaha
bisa maju bersama. Kalau pengusaha omong soal "win-win situasi",
"produktivitas", "competitiveness", semua itu berarti sangat negatif bagi buruh.
Pengusaha Minta Presiden Terpilih Revisi UU Tenaga Kerja
Ketua Dewan Pembina IBCWE, Shinta Widjaja Kamdani dalam acara CEO Talks di The
Sultan Hotel, Jakarta, Rabu (10/4). Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Para pengusaha ingin presiden terpilih nantinya bisa merevisi Undang-Undang
(UU) Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Ini bertujuan agar pekerja di
Indonesia memiliki daya saing dengan pekerja asing.
Wakil ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani
mengatakan, salah satu hal yang membebani pengusaha adalah jam kerja yang
dinilai masih rendah, sementara upah yang dibayarkan cukup tinggi. Jika hal ini
terus terjadi, dikhawatirkan bisa menekan produktivitas.
"Iya betul (harus direvisi). UU Nomor 13 penting diperhatikan sebagai pemberi
kerja dan penerima kerja harus ada keseimbangan, harus jadi win-win solution
kedua belah pihak dan perlu direvisi kembali. Perlu dipikirkan aspek
competitiveness yang terjadi di negara lain," ujar Shinta dalam diskusi di
Hotel Millennium, Jakarta, Rabu (10/4).
Dia mencontohkan, jam kerja di Indonesia saat ini selama 40 jam per minggu,
paling rendah di antara negara lain. Bangladesh selama 49 per minggu, Kamboja
45 jam per minggu, China 47 jam per minggu, dan Vietnam 41 jam per minggu.
Sementara upah yang dibayarkan masih lebih tinggi Indonesia dibandingkan negara
tersebut.
"Vietnam yang paling dekat dengan kita, jam kerjanya 41 jam.. Kalau ditarik
upah dia rata-rata Rp 2 juta-2,3 juta. Kita paling rendah jam kerja, lalu upah
juga termasuk tinggi," katanya.
Sementara itu, Rektor Unika Atma Jaya Agustinus Prasetyantoko mengatakan,
risiko ongkos usaha di dalam negeri memang lebih besar dibandingkan di luar
negeri. Maka tak heran, banyak perusahaan domestik yang membangun pabrik di
luar negeri.
Adapun upah pekerja di Indonesia setahun saat ini mencapai USD 5.070 per tahun,
sementara Vietnam hanya USD 3.800 per tahun.
"Yang mesti dilihat adalah apakah kompetensinya (tenaga kerja) lebih baik
dibanding Vietnam? Siapapun yang nanti menang punya PR untuk meningkatkan SDM
supaya kompetensinya makin baik," tambahnya.