Kutipan :
Anda tidak bisa melihat "underlying problem" dan lebih cenderung membohongi
diri sendiri, anggap saja petunjuk kerja sudah sedemikian bagusnya dan
alat2 juga sudah, tetap saja terlalu banyak berhenti/break kerja dan
terlalu banyak libur tidak bisa diatasi, produktifitas tetap lebih rendah
dibanding Vietnam. Contoh orang Maroko di Belanda tidak bisa dibandingkan,
orang Maroko cuman sedikit sekali dgn mudah bisa di-cover pekerja yang
lain. Sedang di Indonesia jelas boleh dibilang hampir semua-nya begitu.
Selain break2 utk kegiatan agama, juga dalam setahun ada sedikitnya 1 bulan
tidak optimal karena puasa, belum lagi ditambah libur lebaran dan cuti
bersama (yg harus) juga sekitar sebulan. Dus mana bisa pabrik jalan.
1. Anda sudah tulis probleemnya. Tetapi tetap anda tidak ajukan solusinya
atau kemungkinan solusinya.
2. Dengan mengatakan : Dus mana pabrik bisa jalan, apa artinya. Pasti
segera semuanya gulung tikar ?
3. Apa benar waktu bulan puasa produktivitas orang puasa di Indonesia
menurun ?  Dulu, saya lihat, pada operator2 orang Marokko normal-normal
saja. Saya tanya apa tidak lapar, capai ? Mereka bilang hanya pada hari
pertama dan kedua puasa, setelah itu perut dan badan bisa menyesuaikan
diri. Tetapi waktu bulan puasa, memang diusahakan selalu tidak ada kerja
lembur. Jauh sebelumnya kami sudah siap2 dengan memproduksi lebih  awal.
4. Jumlah hari libur resmi Indonesia + libur bersama adalah 20 hari.bukan
sebulan :
https://nasional.kompas.com/read/2018/11/13/16324931/ada-20-hari-libur-pada-tahun-2019-catat-tanggalnya
Jumlah ini sama dengan Malaysia, tetapi jauh lebih besar dari Vietnam yang
hanya 11 hari. Jadi ada beda hari produksi 9 hari.
https://www.msn.com/id-id/berita/dunia/negara-asia-tenggara-dengan-hari-libur-terbanyak-di-2019/ar-BBR68li

Kalau dilakukan perbaikan cara kerja, produktivitas bisa naik 10% -20%,
beda kehilangan hari produksi 9 hari dalam setahun bisa terkejar dengan
mudah.
5. Gaji buruh Vietnam ( 2 - .3 juta rupiah). Gaji buruh Indonesia ( 1.45 -
3.9 juta)
Ada beberapa daerah industri di Jawa Barat yang gaji buruhnya menyamai
Vietnam : http://www.gajiumr.com/gaji-umr-jawa-barat/
Jadi pilih lokasi itu penting sekali.
6. Upah Buruh Vietnam Setara 546 Kilogram Beras, Upah di RI Hanya 237 kg
Daya beli upah buruh di Indonesia dinilai jauh lebih rendah dibandingkan
dengan upah buruh di Vietnam yang setara dengan 546 kilogram beras,
sedangkan upah buruh di indonesia setara dengan 237 kilogram beras.
 Presiden KSPI Said Iqbal mengatakan upah rata-rata buruh Vietnam mencapai
angka US$ 181 per bulan, sementara buruh lokal hanya mendapatkan upah per
bulan sekitar US$ 171 per bulan. Menurutnya, dengan upah sebesar US$181 per
bulan, para buruh asal Vietnam dapat membeli beras dengan harga yang telah
dirupiahkan sekitar Rp4.600 per kilogram, sementara itu buruh asal
Indonesia dengan upah sekitar US$171 per bulan, dipaksa membeli beras
sebesar Rp10.000-Rp12.000 per kilogram.

"Ini kan tidak masuk akal. Kami mendesak pemerintah agar menurunkan harga
beras. Masa buruh Indonesia harus membeli beras dengan harga 3 kali lipat
lebih mahal daripada Vietnam," tuturnya, Selasa (1/5).

Jika meggunakan asumsi kurs tengah Bank Indonesia (30/4/2018) Rp13.877,
maka upah buruh di Vietnam sebesar US$182 besarannya sekitar Rp2,5 juta
setahun, sedangkan upah buruh Indonesia US$171 setara dengan Rp2,37 juta.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20180501/12/790240/upah-buruh-vietnam-setara-546-kilogram-beras-upah-di-ri-hanya-237-kg


7. Saya sependapat bahwa pertanian, peternakan, perikanan harus cepat
dibikin maju, agar petani bisa hidup lebih baik, dan harga kebutuhan pangan
bisa turun. Bagaimana caranya, sudah diuraikan sebelumnya. Apa anda tetap
berpendapat itu jelek untuk ekonomi, akan terjadi deflatie. Kok bisa
deflatie kalau produksi pangan tidak berlebih-lebihan ?

Probleemnya buruh mnganggap gajinya terlalu mepet untuk hidup, sedangkan
perusahaan menganggap terlalu mahal. Sebenarnya yang bikin soal adalah
harga pangan yang mahal.Karena itu harus cepat diusahakan perbaikan di
bidang pertanian, peternakan dan perikanan.

8.Saya tidak tahu, apa perlu hari libur di Indonesia dikurangi ? Mungkin
hari libur nasional, sebagian diubah jadi fakultatif. Jadi yang beragama
Hindu dapat libur pada hari2 Hindu, yang Buddha juga. Yang di Bali lain
lagi. Itu terjadi di Malaysia, tiap negara bagian bisa lain.Yang tidak, ya
bekerja?

9.Di satu pabrik metal, 90 % pekerjanya orang Marokko. Mereka minta
pekerjaan dihentikan waktu jam2 salat. Kepala perusahaannya bingung, beri
tahu teman saya yang jadi kepala personalia. Teman saya bilang, ah, tidak
apa-apa. Nanti dia temui. Teman saya cerita pada mereka, dia sarjana hukum
dari Indonesia, dan dia juga harus mengikuti kuliah agama Islam. Lalu dia
tanya mereka, kan kalau sedang bekerja, salatnya boleh ditunda, dilakukan
nanti di rumah. Betul tidak. Mereka jawab, ya, betul. Terus dia bilang, ya
seperti biasa saja, tetapi kalau ada usul2 lain untuk perbaiki kondisi
kerja silahkan ajukan.

Hanya kalau sudah jadi kebiasaan yang diijinkan perusahaan, untuk diubah,
mungkin sulit, karena mereka merasa hak2nya dikurangi? Mungkin Gabungan
perusahaan Industri punya idee untuk diajukan ke MUI? Shalat bergantian
?Waktu Shalat dihitung sebagai waktu istirahat minum kopi? Biasanya kalau
ada rundingan soal kenaikan gaji, lebih mudah dirundingkan soal beginian ?
Ada take and give?




Pada tanggal Sen, 22 Apr 2019 pukul 17.48 Jonathan Goeij <
[email protected]> menulis:

> Anda tidak bisa melihat "underlying problem" dan lebih cenderung
> membohongi diri sendiri, anggap saja petunjuk kerja sudah sedemikian
> bagusnya dan alat2 juga sudah, tetap saja terlalu banyak berhenti/break
> kerja dan terlalu banyak libur tidak bisa diatasi, produktifitas tetap
> lebih rendah dibanding Vietnam. Contoh orang Maroko di Belanda tidak bisa
> dibandingkan, orang Maroko cuman sedikit sekali dgn mudah bisa di-cover
> pekerja yang lain. Sedang di Indonesia jelas boleh dibilang hampir
> semua-nya begitu. Selain break2 utk kegiatan agama, juga dalam setahun ada
> sedikitnya 1 bulan tidak optimal karena puasa, belum lagi ditambah libur
> lebaran dan cuti bersama (yg harus) juga sekitar sebulan. Dus mana bisa
> pabrik jalan.
>
> Apa yg saya sebutkan diatas itu kenyataan apa adanya bukannya dipaksa
> kerja atau apa, tetapi memang itulah faktor yg menyebabkan produktifitas
> lebih rendah dibanding negara lain tidak perlu di-tutup2i ataupun menipu
> diri sendiri. Saya kira negara yg apa2 berdasarkan agama ini ya tidak
> bakalan bisa mengatasi nanti dibilang tidak toleransi tidak menghargai
> kaidah agama dlsb.
>
> Tetapi apapun itulah memang kondisi yg harus dihadapi.
>
> Sedang masalah kedua, pesangon PHK, saya kira sebaiknya dibentuk
> unemployment insurance.
>
>
> On Sunday, April 21, 2019, 1:42:51 AM PDT, kh djie <[email protected]>
> wrote:
>
>
> Lha, kalau gaji tidak bisa dinaikkan oleh perusahaan, sedangkan buruh
> sulit hidup dari gaji yang diterima,
> kan pemerintah perlu cepat turun tangan memperbaiki pertanian,
> peternakan,perikanan, supaya dengan
> gaji yang rendah itu, buruh masih tetap bisa hidup dan petani bisa hidup
> lebih baik, dan dapat lebih jauh
> meningkatkan hasilnya. Anda tidak suka cara ini . Lalu mau dengan cara apa.
> Lho, menaikkan efficiency itu tidak hanya dengan alat2 saja. Penting
> memperbaiki petunjuk kerja.
> Sampai sekarang, anda tetap tidak tulis pandangan anda untuk mengatasi
> probleem ini.
> Anda kira bisa dengan memaksakan buruh kerja lebih lama, lebih keras,
> tidak boleh salat padahal ini sudah
> jadi kebiasaan lama, bertahun/tahun. Kalau dulu di perusahaan ada orang
> Marokko minta waktu salat, tetapi
> dia menggunakannya sebagai ganti waktu minum kopi. Di Belanda orang kerja
> di pabrik 8 jam, 2 kali istirahat
> minum kopi 15 menit, dan satu kali makan istirahat 30 menit, dengan cara
> bergiliran. Jadi selalu ada orang
> jaga pabrik tetap jalan.
> Tidak tahu bagaimana di kebanyakan perusahaan di Indonesia. Apa selain
> waktu minum kopi, ada waktu khusus
> untuk salat. Atau salat dan minum kopi disatukan .
>
> Pada tanggal Min, 21 Apr 2019 pukul 09.55 [email protected]
> [GELORA45] <[email protected]> menulis:
>
>
> begini bung Djie, kalau mau membicarakan solusi ya harus membicarakan dulu
> apa saja persoalannya. dan harus fokus dan tdk melebar jauh sekali.
> pembicaraan memajukan pertanian, peternakan, perikanan dlsb. tentu
> pembicaraan yg lain lagi. anda ini kok aneh masalah gaji buruh kok malah
> disuruh mengatasi harga2 barang disuruh diturunkan. masalah yg lebih
> kompleks lagi.
>
> yg saya kemukakan adalah masalah riil yg dihadapi buruh dan pengusaha. itu
> yg harus ditemukan. alat2 tambahan sdh pasti dipakailah gak perlu diomong
> lagi, bahkan kalau diperbolehkan uu ya sdh otomatisasilah. apa yg anda
> kemukakan sama sekali tdk mengatasi masalah sedemikian banyaknya hari libur
> dan break pd hari kerja.
>
> selain yg sdh disebutkan sebelumnya juga masalah lain bila terjadi PHK yg
> membutuhkan pesangon sekian bulan bahkan puluhan bulan gaji. ada 2 hal
> disini, pekerja butuh duit utk mengatasi biaya hidup setelah berhenti
> bekerja, sedang pengusaha terlalu berat mengeluarkan cost yg sedemikian
> banyak
>
> ---In [email protected], <djiekh@...> wrote :
>
> 1.Kenyataannya hingga sekarang, anda tidak beri kemungkinan solusinya
> menurut anda sendiri persoalan gaji ini.
> 2.Juga tidak ada kejelasan apa anda tidak suka kalau pertanian, peternakan
> dan perikanan maju, hingga buruh bisa hidup longgar  dan petani bisa hidup
> lebih baik. Kok malah ditakut/takuti dengan deflatie,. Apa bisa terjadi
> kalau hail produksi pangan masih belum cukup, tidak berlebih/lebihan .
> 3. Sekarang anda tulis hal lain, menurut cerita teman anda. Lalu apa
> solusi anda atau teman anda.
>     Apa memang mau dipaksakan orang kerja lebih lama.
> 4. Kalau saya, yang saya bisa ajukan adalah menaikkan efficiency kerja
> dengan cara memakai alat2 tambahan yang membuat kerja bisa lebih cepat dan
> meringankan pekerjaan, mengumpulkan pengalaman dari pekerja2 yang
> berpengalaman, meninjau kembali semua petunjuk kerja, bagian pabrik perlu
> minta bantuan bagian development dan pilot plant untuk membuat proses kerja
> lebih efficient.
>
>
> Pada tanggal Min, 21 Apr 2019 pukul 08.28 jonathangoeij@... [GELORA45] <
> [email protected]> menulis:
>
>
>
>
> bukankah awalnya dari gaji buruh, pengusaha dan buruh berbeda pandangan.
> solusi anda khan turunkan harga 9 bahan pokok, perumahan, sama transportasi
> sementara pendapatan tetap. makanya saya bilang deflasi.
>
> solusi anda absurd, tdk membicarakan ttg pengusaha dan buruh malah
> kepertanian bulog segala macam. melebar terlalu jauh.
>
> ada teman2 yg bercerita buruh2 tdk bekerja dgn efektif, terlalu banyak
> libur seperti lebaran yg panjang banget ditambah liburan2 agama2 lain2 yg
> bejibun, liburnya ber-sama2 lagi yg bikin pabrik mesti berhenti produksi.
> ditambah juga banyak break-nya utk salat dll alasan ibadah agama. dus
> produktifitas rendah tdk maksimal. umumnya bilang seandainya bekerja lebih
> produktif tdk keberatan menaikkan gaji.
>
> sedang vietnam hal2 itu tdk ada, jadi ada kecenderungan bikin pabrik baru
> di vietnam.
>
> sebenarnya ada hal sama, buruh menginginkan kenaikan gaji, sdg pegusaha
> bersedia menaikkan gaji. cuman repotnya indonesia itu sedikit2 yg
> diutamakan agama. produktifitas rendah tdk apa2 demi agama.
>
>
> ---In [email protected], <djiekh@...> wrote :
>
> Tetap saja anda tidak menjawab, sekarang membelokkan ke persoalan besarnya
> gaji, yang dalam diskusi mula-mula tidak dimunculkan untuk dibahas. Kok
> sekarang coba dimunculkan.
> Pokoknya apa pendapat anda dengan usaha2 memajukan bidang pertanian,
> peternakan dan perikanan ? Kalau ini maju, harga akan turun sedikit,
> sedangkan pendapatan petani naik. Jadi kaum buruh bisa hidup sedikit
> longgar, dan kehidupan petani juga membaik. Apa anda tidak suka ini dan mau
> mencegahnya dengan menakut-nakuti akan ada deflatie ? Kok belum apa2 sudah
> takut
> deflatie, sedangkan kita masih sangat kekurangan pangan, sampai harus
> import yang sangat membutuhkan devisa. Sampai2 perlu
> ngutang. Kalau jumlah barang produksi pertanian, peternakan dan perikanan
> tidak berlebih lebihan, bagaimana keterangannya bisa teradi deflatie?
> Lha, soal gaji buruh kan anda bisa lihat sendiri di Google UMP Jakarta
> 2019 : 3.94 juta/bulan
> UMP Karawang 2019 : 4.23 juta/bulan
> UMP Bekasi 2019 : 4.22 juta/bulan.
> Ini dianggap oleh perusahaan terlalu mahal dibandingkan Vietnam ? Ya, bisa
> saja gaji buruh di Vietnam lebih rendah dan cukup?
> karena harga2 kebutuhan hidup lebih murah?
> Perusahaan Indonesia maunya untuk mengatasinya supaya buruh jam kerjanya
> lebih panjang, kerjanya lebih keras. Lha, kan akan ramai dengan
> pemogokan.......Lha kok tidak memikirkan untuk membuat prosedur kerja lebih
> efficient bersama pekerja yang sudah berpengalaman dan orang2 dari bagian
> development. Di negeri Belanda saja, yang tadinya dikira orang kerjanya
> sudah efficient, efficiencynya masih bisa dinaikkan 10-20% tanpa membuat
> orang kerja lebih keras, malah diperingan dengan bantuan alat-alat.
> Satu contoh sederhana. habis membuat suatu produkt tertentu, blender besar
> harus "disapu", dibersihkan dengan larutan NaOH
> , kemudian dicuci dengan air, dikeringkan. Seluruh proses membersihkan dan
> mengeringkan dan mendinginkan  makan waktu 3.0 - 3.5 jam
> Kami ubah urutan produksinya dari campuran yang paling tidak bewarna
> hingga bewarna, dari yang tidak berbau sampai yang berbau, yang memang
> blendernya harus dicuci dan dikeringkan. Dengan cara kerja ini, blender
> bisa cukup dibersihkan dengan dua kali dibersihkan pakai tiap kali  25 kg
> garam, dan diputar cepat. Habis diaftap, dalam 20 menit batch berikutnya
> bisa dimulai. Kalau tadinya dua mixer-blender hanya dapat buat 25 batches a
> 1500 ka dalam 5 hari kerja, bisa dinaikkan sampai 32 /33 batches per 5
> hari, dan orang kerjanya lebih enak, tidak berkeringat basah kuyup kena uap
> panas bersihkan mixer.
> Hanya habis produkt sangat bewarna atau berbau sekali sehabis pakai
> campuran keju, baru mixer perlu dibersihkan dengan cairan panas..
>
>
> Pada tanggal Min, 21 Apr 2019 pukul 05.44 jonathangoeij@... [GELORA45] <
> [email protected]> menulis:
>
>
> tentu berkaitan karena intinya adalah pendapatan buruh, kalau benar
> pendapatan buruh di Indonesia saat ini sekitar Rp 6 juta sebulan saya rasa
> itu cukup memadai untuk tahun ini.
>
> ---In [email protected], <djiekh@...> wrote :
>
> Lho  kok tetap tidak jawab apa yang sudah didiskusikan.
> Ini jawab dulu. Jadi jelas satu per satu.
> Jangan dibelokkan ke persoalan lain yang tadinya tidak didiskusikan
> untuk menghilangkan persoalan yang dibicarakan.
>
> Pada tanggal Min, 21 Apr 2019 pukul 03.24 jonathangoeij@... [GELORA45] <
> [email protected]> menulis:
>
>
> Sebelumnya coba konfirmasi hal ini "Adapun upah pekerja di Indonesia
> setahun saat ini mencapai USD 5.070 per tahun" atau sekitar Rp 6 juta
> sebulan.
>
> kutipan berita:
> Adapun upah pekerja di Indonesia setahun saat ini mencapai USD 5.070 per
> tahun, sementara Vietnam hanya USD 3.800 per tahun.
>
> ---In [email protected], <djiekh@...> wrote :
>
> Lho bung ini kok tetap tidak jawab pertanyaan saya pertama, bagaimana
> solusi anda
> pada masalah gaji, yang oleh pengusaha dianggap mahal, dan buruh mau
> disuruh
> kerja lebih lama, lebih keras.
> Pengusaha sendiri harus berusaha memperbaiki proses kerjanya, menaikkan
> efficiencynya,
> masa mau menurunkan gaji yang sudah rendah. Kalau bikin sesuatu ya, harus
> satu kali jadi
> dan bagus. Kalau harus diperbaiki lagi atau diulang, makan waktu banyak.
> Harus ada analisa
> laboratorium dulu, harus dibikinkan dulu prosedur perbaikan, harus analisa
> lagi produk yang
> sudah jadi. Ini yang bikin proses jadi sangat tidak efficient dan mahal.
> Gudang2 bisa penuh
> oleh barang2 tidak memenuhi syarat, sehingga perlu sewa gudang dari luar.
> Lalu anda juga tidak jawab apa usaha2 untuk perbaikan2 di bidang
> pertanian, peternakan
> dan perikanan itu salah, kalau menurut teori deflasi anda.
> Ya, cobalah berikan kejelasan pendapat anda dengan argumentasinya : apakah
> usaha2
> memperbaiki pertanian, peternakan dan perikanan itu salah, karena selain
> petani, peternak,
> penangkap ikan untung, harga hasil2nya bisa stabil, dan bisa turun , dan
> kaum buruh
> dapat agak lebih baik kehidupannya.
> Yang di atas harap anda beri jawaban yang tegas . Tentang BULOG bagaimana
> pendapat anda sendiri?
>
> Pada tanggal Sab, 20 Apr 2019 pukul 06.32 jonathangoeij@... [GELORA45] <
> [email protected]> menulis:
>
>
>
>
> bung Djie kelihatannya melihat dalam pemerintahan Jokowi ini Bulog
> semrawut, apakah begitu?
>
> ---In [email protected], <djiekh@...> wrote :
>
> .1. .Point pertama anda tidak /belum jawab. Saya tunggu solusi anda.
> 2. Apa definisi anda tentang deflasi, dan mengapa kalau pertanian berhasil
> baik,
> dengan produksi bisa berlipat ganda, tetapi tidak berlebihan, dan petani
> bisa
> untung, sedangkan harga bahan kebutuhan pokok bisa turun, kok bisa terjadi
> deflasi.
> 3. Lha kalau begini, kan berarti anda tidak setuju memajukan pertanian,
> peternakan
> dan perikanan. Kalau ini cukup kan harga bahan makanan akan turun dengan
> sendirinya.
> Apa mau dicegah, dilarang turun.
>
> Pada tanggal Jum, 19 Apr 2019 pukul 23.59 Jonathan Goeij jonathangoeij@...
> [GELORA45] <[email protected]> menulis:
>
>
>
> Sudah tentu deflasi, coba lihat komoditas yg anda sebutkan "9 bahan
> pokok, perumahan, transportatie gratis ke tempat kerja, atau sebagian
> transportatie ke tempat kerja harus ditanggung perusahaan seperti di
> negeri Belanda" bukankah hal2 itu menempati porsi besar dalam
> perekonomian. Saya kasih gambaran sedikit, misalkan saja yg anda sebutkan
> itu menempati setengah perekonomian dan harga2nya diturunkan 10% sementara
> harga komoditas lain tetap, maka yang terjadi deflasi sebesar 5% (kesemuanya
> asumsi).
>
> Saya hanya mengatakan dari sisi ekonomi makro pandangan kapitalis,
> bukannya setuju atau tidak setuju.
>
>
> ---In [email protected], <djiekh@...> wrote :
>
> 1. Bung Jonathan coba beri solusi pada probleem di bawah. Silahkan.
>     Bagaimana penjelasannya kalau hanya beberapa kebutuhan pokok pangan
> harganya berhasil
>     diturunkan, sedangkan jumlah barang pokok pangan itu tidak
> berlebih-lebihan kok bisa terjadi deflasi ?
> 2. Yang perlu diusahakan turun, minimum tidak naik, minimum harga stabil
> adalah kebutuhan
>      hidup, transportasi dan sewa/ harga rumah yang layak.
> 3. Untuk pertanian perlu diusahakan bibit unggul, pupuk (kalau diperlukan
> dengan subsidi), irigasi,
>     waduk ( sebagian sudah selesai dibangun). Kalau hasil per ha bisa naik
> sampai 2 kali lipat,
>     petani masih bisa untung lebih baik, kalau harga pangan diturunkan
> sedikit.
> 4. Yang pasti BULOGnya harus diberesi untuk dapat menstabilkan harga
> pangan dan petani tidak
> jadi permainan tengkulak. BULOGnya harus dapat menjamin harga yang stabil,
> sehingga waktu panen besar,
> tidak terjadi harga jatuh.
> 5.Yang jelas ikan mulai banyak dijual di pasar, harganya turun, dan ini
> mempengaruhi harga daging sapi,
> karena sebagian orang sudah mulai mengganti sebagian daging sapi dengan
> ikan. Lha kok di sini tidak
> terlihat akan ada gejala deflasi ?
> Hanya saja kok kemajuan industri perikanan dan cold storagenya belum
> terdengar  ? Mestinya paling
>  tidak industri ikan dalam kaleng bisa untuk supply angkatan darat, laut,
> udara dan kepolisian ? Kok belum
> diolah untuk makanan anak2 untuk mencegah kekurangan protein ?
>
> https://www.liputan6.com/bisnis/read/3223824/menteri-susi-paling-penting-harga-ikan-sudah-murah
>
> . Siapapun yang akan pegang pemerintahan,  tahun ke depan akan lebih mudah
> memperbaiki ekonomi,
> karena beberapa basis sudah diletakkan : waduk, infrastruktur, pabrik
> pupuk, pencurian ikan sudah diatasi.
>
>
>
> Pada tanggal Jum, 19 Apr 2019 pukul 20.11 Jonathan Goeij jonathangoeij@... 
> [GELORA45]
> <[email protected]> menulis:
>
> ---In [email protected], <jetaimemucho1@...> wrote :
>
> Orang Islam akan bilang "alhamdulilah" kalau harga sembako bisa turun
> sesuai dengan kebutuhan hidup rakyat jelata. Pernahkah rakyat mengalami
> itu???akan pernahkah rakyat mengalami itu selama pemerintah ditangan
> Oligarki seperti diperlihatkan film Sexy killer???Orang yang selalu ngeyel
> membela PYM seolah-olah dia bebas dari Oligarki pun tidak kedengeran lagi
> suara pembelaannya....
>
> On Friday, April 19, 2019, 3:47:36 PM GMT+2, kh djie djiekh@...
> [GELORA45] <[email protected]> wrote:
>
>
>
>
>
> Yang bisa dilakukan barangkali :
> 1. Gaji tidak naik, tetapi beaya kebutuhan hidup harus turun banyak ( 9
> bahan pokok, perumahan,
>     transportatie gratis ke tempat kerja, atau sebagian transportatie ke
> tempat kerja harus ditanggung
>     perusahaan seperti di negeri Belanda).
> 2. Cara kerja harus dibikin lebih efficient oleh pimpinan perusahaan, dan
> dibantu dengan alat2 untuk
>     meringankan pekerjaan.
> 3. Sekali buat harus 100% sempurna. Tidak ada yang harus diperbaiki,
> diulang kembali.
> Di Belanda yang dikira orang kerjanya sudah efficient, ternyata dengan
> mudah di beberapa proses
> efficiencynya bisa naik 10 - 20% dengan perbaikan proses. Heran di
> Indonesia kok Perusahaan
> maunya turunkan gaji dan atau suruh orang kerja lebih lama  ? Kan ya pada
> mogok....nanti.
> Satu contoh saja : Di spray drying, efficiency bisa naik luar biasa dengan
> menaikkan inlet temperatur
> 10 derajat Celcius, dan menurunkan outlet temperature 5 - 10 derajat dan
> mengurangi jumlah air pelarut.
> Spray drying time dari 12 jam bisa turun jadi 10 jam.
>
>
> Pada tanggal Jum, 19 Apr 2019 pukul 13.38 Tatiana Lukman jetaimemucho1@... 
> [GELORA45]
> <[email protected]> menulis:
>
>
>
> Bahasanya kaum pengusaha tidak akan pernah sama dengan bahasanya kaum
> buruh. Hanya kaum remo dan kaum reaksioner yang berpihak kepada penguasa
> selalu menganjurkan dan menjebarkan ilusi seolah-olah kaum buruh dan kaum
> pengusaha bisa maju bersama. Kalau pengusaha omong soal "win-win situasi",
> "produktivitas", "competitiveness", semua itu berarti sangat negatif bagi
> buruh.
>
> Pengusaha Minta Presiden Terpilih Revisi UU Tenaga Kerja
>
> Ketua Dewan Pembina IBCWE, Shinta Widjaja Kamdani dalam acara CEO Talks di
> The Sultan Hotel, Jakarta, Rabu (10/4). Foto: Nugroho Sejati/kumparan
>
> Para pengusaha <https://kumparan.com/topic/pengusaha> ingin presiden
> terpilih nantinya bisa merevisi Undang-Undang (UU) Nomor 13 Tahun 2003
> tentang Ketenagakerjaan. Ini bertujuan agar pekerja di Indonesia memiliki
> daya saing dengan pekerja asing.
>
> Wakil ketua Umum Asosiasi Pengusaha <https://kumparan.com/topic/pengusaha> 
> Indonesia
> (Apindo) Shinta Kamdani mengatakan, salah satu hal yang membebani pengusaha
> adalah jam kerja yang dinilai masih rendah, sementara upah yang dibayarkan
> cukup tinggi. Jika hal ini terus terjadi, dikhawatirkan bisa menekan
> produktivitas.
>
> "Iya betul (harus direvisi). UU Nomor 13 penting diperhatikan sebagai
> pemberi kerja dan penerima kerja harus ada keseimbangan, harus jadi win-win
> solution kedua belah pihak dan perlu direvisi kembali. Perlu dipikirkan
> aspek competitiveness yang terjadi di negara lain," ujar Shinta dalam
> diskusi di Hotel Millennium, Jakarta, Rabu (10/4).
>
> Dia mencontohkan, jam kerja di Indonesia saat ini selama 40 jam per
> minggu, paling rendah di antara negara lain. Bangladesh selama 49 per
> minggu, Kamboja 45 jam per minggu, China 47 jam per minggu, dan Vietnam 41
> jam per minggu. Sementara upah yang dibayarkan masih lebih tinggi Indonesia
> dibandingkan negara tersebut.
>
> "Vietnam yang paling dekat dengan kita, jam kerjanya 41 jam.. Kalau
> ditarik upah dia rata-rata Rp 2 juta-2,3 juta. Kita paling rendah jam
> kerja, lalu upah juga termasuk tinggi," katanya.
>
> Sementara itu, Rektor Unika Atma Jaya Agustinus Prasetyantoko mengatakan,
> risiko ongkos usaha di dalam negeri memang lebih besar dibandingkan di luar
> negeri. Maka tak heran, banyak perusahaan domestik yang membangun pabrik di
> luar negeri.
>
> Adapun upah pekerja di Indonesia setahun saat ini mencapai USD 5.070 per
> tahun, sementara Vietnam hanya USD 3.800 per tahun.
>
> "Yang mesti dilihat adalah apakah kompetensinya (tenaga kerja) lebih baik
> dibanding Vietnam? Siapapun yang nanti menang punya PR untuk meningkatkan
> SDM supaya kompetensinya makin baik," tambahnya.
>
>
>

Kirim email ke