oh.... begitu toh. ditempat yg Prabowo menang artinya daerah garis
keras/radikal, sedang ditempat yg Jokowi menang kelompok radikalnya lebih
"garang dan GANAS"
lha kok NKRI masih ada?atau "NK"-nya sudah ganti jadi "Negara Khilafah".
On Monday, April 29, 2019, 7:52:35 PM PDT, ChanCT <[email protected]>
wrote:
INGAT, ... sekalipun Jawa Timur suara Jokowi menang, tidak berarti suara
Prabowo kosong, NOL besar! TIDAK bisa hanya melihat Jawa Timur basis suara
kubu-01, lalu tidak ada Islam radikalis disitu! Lepaskan kaca mata kuda anda!
Dalam menghadapi basis suara kubu-01 yg mayoritas itu, sebaliknya kelompok
Islam radikal disitu bisa lebih garang dan GANAS, ... karena terjepit dan
berusaha lebih keras melawan dan membuat kekacauan, chaos, ... !!!
Dan itulah yang terjadi dan anda lihat, ...!
Jonathan Goeij 於 30/4/2019 10:06 寫道:
Berkisar pertengahan th 1996-an saya bersama rombongan mengunjungi gereja2
kecil didaerah pelosok Jawa Timur, tidak berapa lama sekitar 2-3 bulan setelah
itu banyak gereja2 itu yg dibakar, dirusak, bahkan ada pendeta sekeluarga yg
dibakar hidup2 didalam gerejanya. Di Jawa Tengah nisan salib kuburan-pun
digergaji, mereka yg non-Islam diusir keluar. Baik Jawa Timur ataupun Jawa
Tengah merupakan basis pemilih Jokowi-Ma'ruf. Apakah kemudian mau dibilang
Jokowi-Ma'ruf didukung/dipilih garis keras?
Mengatakan para pemilih sekian puluh bahkan ratusan juta garis keras adalah
hal yg absurd.
On Monday, April 29, 2019, 8:28:39 PM EDT, ChanCT <[email protected]>
wrote:
Tentu menjadi salah kalau kita jadi main gebuk semua pemilih kubu-02 adalah
"garis keras" dan fanatik Islam, ... Tapi, juga tidak salah kalau diperhatikan
kelompok "garis keras, "fanatik" Islam itu lah pemilih kuat kubu-02! Jadi, ...
yang benar dan bijaksana kita pilah-pilah saja saat melihat dan menilai orang
perorang pendukung dan pemilih kubu-02 itu, tidak main gebyah uyah.
Selama ini yang berhasil saya ikuti pembicaraan Mahfud cukup baik dan
mencjernihkan, kok. Tidak terdengar suara sumbang keluar dari mulutnya, sikap
perpindahan dukungan dari semula menjadi tim sukses Prabowo ditahun 2014
kemudian menjadi pendukung Jokowi bahkan dibatalkan jadi cawapres juga cukup
baik dan bijaksana. Bukan dirinya sendiri yg diutamakan, tapi kepentingan
negara dan rakyat!
Atau bung Ajeg bisa memberikan penjelasan lebih lanjut, mengapa menyatakan
serba SAMPAH yang keluar dari mulut Mahfud???
Sedang Maruf Amin yg dinobatkan Jokowi menjadi cawapresnya itu, sekalipun
mungkin belum bisa dikatakan "garis keras", tapi sulit disangkal tergolong
Islam fanatik yg juga bertujuan berlakukan syariat Islam dinegeri ini! Hanya
saja penekanannya berlakukan syariat Islam secara damai, dijalankan dan
diperjuangkan melalui jalur konstitusi saja, ... Makanya Maruf berada dalam
barisan NU dan saat jadi ketua MUI bisa keluarkan fatwa Ahok menodai Agama
Islam, sekalipun akhirnya mengakui "terpaksa" akibat tekanan massa ketika itu!
Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] 於 30/4/2019 6:13 寫道:
Saya kira pen-dikotomi-an para pemilih sebagai "garis keras" yg
berkonotasi jelek adalah sebuah kesalahan besar, sungguhpun kemudian coba
diperhalus dengan kata "fanatik" yang lucunya juga berkonotasi jelek. Lagipula
dengan para pemilih yang tersebar sedemikian rupa lha apa iya semuanya "garis
keras" dan/atau "fanatik"
Ada cukup banyak tokoh yg dulunya pendukung Prabowo kemudian beralih ke
Jokowi, diantara Mahfud MD ini dan cawapres Ma'ruf Amin. Apakah mau dibilang
"mantan garis keras"?
Btw, kelihatannya ada cukup banyak yg kemudian berbaris dibelakang Ma'ruf
Amin, mungkinkah minta jatah? ha ha ha ha.
---In [email protected], <ajegilelu@...> wro te :
Saya pernah tanya di mana cawapres Ma'ruf karena sejak 17 April seperti
ditelan bumi. Sebaliknya, Mahfud kelihatan di mana-mana dan cerewet sekali..
Melihat gelibat-gelibetnya, Mahfud ini frustasi karena dibuang dan mau balas
dendam. Manusiawi saja kecewa dipermalukan secara nasional begitu. Hanya saja
cara yang dia pilih untuk tetap eksis dan "didengar" terlalu kekanak-kanakan
yaitu, melempar isu kegemaran PDIP, isu perpecahan, lalu pura-pura jadi
pahlawan kesorean dengan menyuruh Jokowi (sebagai presiden, bukan capres) untuk
rekonsiliasi.
Terus terang saya tidak pernah meragukan kepinteran dan gelar akademik
Mahfud yang serba sampah. Sekarang ini kewarasan akal sehat dan kondisi
kejiwaannya betul-betul menggelikan untuk ukuran tokoh nasional. Membawa
dendam pribadinya ke masyarakat.
--- jonathangoeij@... wrote:
kalau tdk salah menurut quick count Prabowo menang di 18 propinsi sedangkan
Jokowo cuman 16 propinsi, artinya 18 propinsi garis keras. gawat juga.
---djiekh@... wrote :
Lha lalu kenyataannya kan daerah bekas Di/TII Kartosuwiryo, daerah ex
DUI/TII Kahar Muzakar. daerah ex DI Daud Bureueh, daerah ex PRRI. Dan Prabowo
anak ex tokoh PRRI?
Pada tanggal Sen, 29 Apr 2019 pukul 02.13 Sunny ambon menulis:
https://www.suara.com/news/2019/04/28/230357/dahnil-anzar-sebut-pernyataan-mahfud-md-bukanlah-seorang-pancasilais
Dahnil Anzar Sebut Pernyataan Mahfud MD Bukanlah Seorang Pancasilais
| | 不含病毒。www.avg.com |