Tentang sikap saya yang bung tanyakan itu saya kira dari segi ekonomi politik saya mendukung sikap yang memperkuat perjuangan berdikari dan anti neoliberal thd BUMN-KS. Sementara itu RR masih punya sikap patriotisme yang tegas, disamping dia mampu lebih rinci menganalisanya karena mempunyai kesempatan langsung turun ke lapangan di tanahair sehingga lebih jelas analisanya dan kongkrit menyimpulkan persoalannya. Tidak semua ahli ekonomi di Indonesia berani punya sikap seperti itu. Bagi Nasion Indonesia berdikari itu adalah salah satu komponnen doktrin Trisakti.
Kalau masalah-masalah lain yang bung tanyakan pada pokoknya sekitar ekonomi-mikro yah nanti sajalah kalau ada kesempatan waktu. Am Sun, 22 Sep 2019 14:03:58 +0200 schrieb "kh djie [email protected] [GELORA45]" <[email protected]>: > Lha, apa usul kongkrit bung sendiri ? > > Pada tanggal Min, 22 Sep 2019 pukul 12.48 'Lusi D.' [email protected] > [GELORA45] <[email protected]> menulis: > > > > > > > Nah bagaimana dng usul kongkrit untuk menyelamatkan KS ini? > > Konsep berdikari dengan menyelamatkan industri nasional memang beda > > dng konsep kaum neolib. Berikut pendapat RR: > > > > Ingin Selamatkan KS, Begini Saran Rizal Ramli > > > > Rabu, 18 September 2019 | 15:09 WIB > > > > INILAHCOM, Jakarta - Ternyata, tidak hanya industri tekstil yang > > menjerit lantaran derasnya tekstil impor di pasaran dalam negeri. > > Industri baja pun sami mawon. > > > > Ekonom senior, Rizal Ramli mengingatkan pemerintah agar hadir untuk > > menyelamatkan industri baja dalam negeri, khususnya PT Krakatau > > Steel (Persero/KS). Perlu strategi khusus untuk membendung masuknya > > baja asal China, demi menyelamatkan industri baja nasional. > > > > Kata mantan Menko Kemaritiman ini, apabila kondisi ini dibiarkan, > > Krakatau Steel yang kini masih dilanda masalah finansial, bisa > > semakin goyang. Dan, peningkatan pembangunan infrastruktur yang > > diinisiasi Presiden Joko Widodo (Jokowi), seharusnya bisa > > memberikan peluang bagi peningkatan penjualan baja perusahaan > > berpelat merah itu. Jadi, bukan malah sebaliknya, proyek > > infrastruktur dalam negeri lebih banyak menyerap baja China. > > > > "Infrastruktur digenjot 4,5 tahun terakhir. Harusnya penjualan dan > > keuntungan Krakatau Steel naik. Tapi, yang naik malah justru impor > > baja dari China, yang harganya dumping dan aturan impornya > > dipermudah oleh Mentri Perdagangan. Tidak aneh Krakatau Steel > > merugi," kata Rizal. > > > > Sejatinya, hal ini pernah disampaikan Rizal Ramli kepada > > pemerintahan Jokowi agar berani menjalankan kebijakan anti dumping. > > Tahun lalu, dia mengusulkan penetapan bea masuk 25% kepada baja > > impor dan turunannya. > > > > Jika kebijakan itu dilaksanakan, Rizal meyakini, Krakatau Steel akan > > untung lagi, karena produksi baja dalam negeri naik. > > > > Menurut Rizal Ramli, salah satu cara yang paling ampuh untuk bisa > > mengatasi kondisi ekonomi yang buruk adalah dengan mengurangi > > defisit current account dan impor. Selain itu, ia menilai > > pemerintah sebaiknya juga memfokuskan pada 10 komoditas impor yang > > besar, khususnya baja dari China dan mobil dari Jepang. > > > > Pada Oktober 2018, menyebut bahwa baja 67% berasal dari impor dan > > dijual murah di Indonesia. Industri baja dalam negeri seperti > > Krakatau Steel pun merugi. "Restrukturisasi KS membuat utang > > sustainable tapi tidak tingkatkan sales! Harus berani kenakan tarif > > anti-dumping," ucapnya. [ipe] > > > > Am Sun, 22 Sep 2019 09:03:53 +0200 > > schrieb "kh djie [email protected] [GELORA45]" > > <[email protected]>: > > > > > http://www.krakatausteel.com/?page=viewnews&action=view&id=268 > > > Bahan mentah terlalu mahal? > > > Energi untuk produksi mahal ? > > > Pajak import bisa dinaikkan seperti Thailand, meskipun tidak 25 > > > % ? Efficiency terlalu rendah ? > > > Apa benar blast furnace hasilnya malah mahal ? > > > Kalau perhitungan di atas kertas saja sudah terlalu mahal, > > > mengapa kok diteruskan, dan satu komisaris minta keluar > > > karena tidak setuju ? > > > Apa benar ada korupsi besar2an? > > > > > >
