Sri Mulyani itu kan yang memeras Rakyat dengan menaikkan iuran kesehatan
sebesar 100% ya, demi kesejahteraan direksi BPJS?
https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/251789
--- SADAR@... wrote:
ANALISIS
'Desa Siluman' Bukti Basis Data Milik Pemerintah Cacat
Dinda Audriene, CNN Indonesia | Kamis, 07/11/2019 07:23 WIB Bagikan :
Ilustrasi desa. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono). Jakarta, CNN Indonesia --
Kabar mengenai keberadaan 'desa siluman' tengah menjadi sorotan. Menteri
Keuangan Sri Mulyani baru-baru ini mengungkapkan terdapat sejumlah desa yang
tak berpenghuni.
Ia mengklaim desa itu sengaja diciptakan untuk menyelewengkan dana desa yang
sudah beberapa tahun ini disalurkan oleh pemerintah. Kabar itu baru ia dengar
dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) belum lama ini.
Sekretaris Jenderal Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan
Transmigrasi (Kemendes PDTT) Anwar Sanusi menuturkan pihaknya akan segera
melakukan koordinasi dengan Kementerian Keuangan dan Kemendagri terkait
penemuan fakta desa 'siluman' itu.
Sebab, bisa jadi sebenarnya desa itu bukannya tak berpenghuni sama sekali,
melainkan jumlah penduduknya yang amat sedikit.
|
Lihat juga:
Jokowi Perintahkan Pembuat Desa 'Siluman' Ditangkap |
"Karena kan memang secara administratif ada ketentuan jumlah penduduk untuk
sebuah desa. Nah, bisa saja jumlah penduduknya tidak memenuhi. Jadi, perlu
dilihat tidak ada sama sekali atau seperti apa," ungkap Anwar kepada
CNNIndonesia.com, Rabu (11/6).
Sejauh ini, ia belum bisa berspekulasi mengenai keberadaan sejumlah desa yang
tak berpenghuni tersebut. Anwar mengaku tidak bisa asal menyebut berapa jumlah
desa yang kemungkinan jumlah penduduknya sepi atau tak berpenghuni.
"Harus cek dulu lintas kementerian dulu untuk data desa," terang dia.
Total desa saat ini sebanyak 74.954 wilayah. Masing-masing desa mendapatkan
dana yang bervariasi dari pemerintah setiap tahunnya.
|
Lihat juga:
Sri Mulyani Ungkap Tempat 'Siluman' untuk Tilap Dana Desa |
"Formula perhitungannya dilihat dari kondisi desa, misalnya kemiskinan. Jadi
ada desa minimal Rp800 juta, tapi juga ada yang dapat Rp2 miliar, kalau memang
lebih miskin," kata Anwar.
Terkait pengawasannya, ia mengatakan tidak dilakukan oleh Kemendes PDTT
semata. Kemendagri dan Kemenkeu juga ikut memantau penggunaan dana desa yang
dikucurkan.
Ditambah, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Kejaksaan Agung (Kejagung), hingga
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga ikut mengawasi aliran dana desa. Anwar
menyebut akan melakukan evaluasi dengan berbagai lembaga itu terkait kejadian
ini.
Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal mengaku tak terkejut dengan
penemuan desa fiktif. Masalahnya, basis data yang dimiliki pemerintah juga
masih terbatas, khususnya di daerah.
| Ilustrasi desa. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono). |
Dengan demikian, ketidakcocokkan data antara pemerintah daerah dan pemerintah
pusat rentan terjadi. Pengawasan yang dilakukan pemerintah pusat pun dinilai
tidak ketat.
"Ini permasalahan tata kelola. Ini pekerjaan rumah pemerintah bagaimana
pengawasan diperketat, basis data dibuat lebih serius," tutur Fithra.
Di sisi lain, dana desa yang jumlahnya tak sedikit juga dinilai begitu
menggiurkan bagi sejumlah pihak. Jangankan desa fiktif, dana desa juga tak
menutup kemungkinan dimainkan oleh pejabat desa setempat.
"Ini kan dana triliunan, puluhan triliunan sangat menggiurkan. Dana desa
diatur aparatur desa yang secara kapasitas timpang antara pemerintah daerah dan
pusat, maka bisa saja penyelewengan terjadi," imbuhnya.
|
Lihat juga:
Ekonom Soal Menteri Baru: Dana Desa Masih Jadi Tantangan |
Andai saja basis data yang dimiliki pemerintah sudah 'apik', pastinya tak ada
kucuran dana ke desa fiktif. Sebab, verifikasi yang dilakukan juga bisa
dilakukan dengan benar.
"Kalau sistemnya benar, harusnya ada verifikasi. Jadi, mungkin ada masalah di
basis data," ujar Fithra.
Diketahui, pemerintah menyediakan dana besar untuk dikucurkan ke desa. Tahun
ini saja, pemerintah mengalokasikan dana desa sebesar Rp70 triliun untuk 74.954
desa.
Mengutip Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020, dana
desa tahun depan naik Rp2 triliun. Walhasil, pemerintah akan menggelontorkan
Rp72 triliun untuk desa pada 2020.
|
Lihat juga:
ADB Laporkan 22 Juta Orang Kelaparan di Era Jokowi |
Jika digabung dengan transfer ke daerah, totalnya pada tahun ini sebesar
Rp814,4 triliun dan 2020 mendatang Rp858,8 triliun. Ini artinya, pemerintah
mengerek 5,45 persen pos belanja tersebut.
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri
Firdaus berpendapat mengalirnya dana desa ke tempat fiktif lantaran kurangnya
pengawas di masing-masing desa. Ia mensinyalir pemerintah kekurangan sumber
daya manusia (SDM) agar program dana desa berjalan efektif.
"Pendamping relatif sedikit, beberapa desa bisa saja hanya dipegang oleh satu
pengawas," kata Ahmad.
Belum lagi jika terjadi hal-hal berbau politis di lapangan. Makanya, Ahmad
menganggap pemerintah perlu menambah pendamping di masing-masing daerah.
|
Lihat juga:
Tak Heran Pengangguran Nambah, Industri Padat Karya Payah |
Kendati begitu, penambahan pengawas bukan satu-satunya jalan. Pemerintah juga
harus membenahi sistem pembagian dana desa.
"Sistem integrasi dari daerah ke pusat harus benar, sistem ini bisa kembangkan
jaringan lalu dibuat platform. Jadi semua data ada di situ," ucap Ahmad.
Selama sistem tidak diperbaiki, maka celah untuk menyelewengkan dana desa akan
selalu ada. Sekali pun jika pemerintah nantinya berhasil menindak pelaku dari
pembuat desa 'siluman' ini, kalau tata kelola tak dibenahi, dana desa
berpotensi terus bermasalah.
"Masih ada celah, masih bisa diakalin. Harus bangun sistem yang benar,"
pungkasnya.
(bir)
#yiv2774035565 -- #yiv2774035565ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv2774035565
#yiv2774035565ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv2774035565
#yiv2774035565ygrp-mkp #yiv2774035565hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv2774035565 #yiv2774035565ygrp-mkp #yiv2774035565ads
{margin-bottom:10px;}#yiv2774035565 #yiv2774035565ygrp-mkp .yiv2774035565ad
{padding:0 0;}#yiv2774035565 #yiv2774035565ygrp-mkp .yiv2774035565ad p
{margin:0;}#yiv2774035565 #yiv2774035565ygrp-mkp .yiv2774035565ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv2774035565 #yiv2774035565ygrp-sponsor
#yiv2774035565ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv2774035565
#yiv2774035565ygrp-sponsor #yiv2774035565ygrp-lc #yiv2774035565hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv2774035565
#yiv2774035565ygrp-sponsor #yiv2774035565ygrp-lc .yiv2774035565ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv2774035565 #yiv2774035565actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv2774035565
#yiv2774035565activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv2774035565
#yiv2774035565activity span {font-weight:700;}#yiv2774035565
#yiv2774035565activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv2774035565 #yiv2774035565activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv2774035565 #yiv2774035565activity span
span {color:#ff7900;}#yiv2774035565 #yiv2774035565activity span
.yiv2774035565underline {text-decoration:underline;}#yiv2774035565
.yiv2774035565attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv2774035565 .yiv2774035565attach div a
{text-decoration:none;}#yiv2774035565 .yiv2774035565attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv2774035565 .yiv2774035565attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv2774035565 .yiv2774035565attach label a
{text-decoration:none;}#yiv2774035565 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv2774035565 .yiv2774035565bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv2774035565
.yiv2774035565bold a {text-decoration:none;}#yiv2774035565 dd.yiv2774035565last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv2774035565 dd.yiv2774035565last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv2774035565
dd.yiv2774035565last p span.yiv2774035565yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv2774035565 div.yiv2774035565attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv2774035565 div.yiv2774035565attach-table
{width:400px;}#yiv2774035565 div.yiv2774035565file-title a, #yiv2774035565
div.yiv2774035565file-title a:active, #yiv2774035565
div.yiv2774035565file-title a:hover, #yiv2774035565 div.yiv2774035565file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv2774035565 div.yiv2774035565photo-title a,
#yiv2774035565 div.yiv2774035565photo-title a:active, #yiv2774035565
div.yiv2774035565photo-title a:hover, #yiv2774035565
div.yiv2774035565photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv2774035565
div#yiv2774035565ygrp-mlmsg #yiv2774035565ygrp-msg p a
span.yiv2774035565yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv2774035565
.yiv2774035565green {color:#628c2a;}#yiv2774035565 .yiv2774035565MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv2774035565 o {font-size:0;}#yiv2774035565
#yiv2774035565photos div {float:left;width:72px;}#yiv2774035565
#yiv2774035565photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv2774035565
#yiv2774035565photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv2774035565
#yiv2774035565reco-category {font-size:77%;}#yiv2774035565
#yiv2774035565reco-desc {font-size:77%;}#yiv2774035565 .yiv2774035565replbq
{margin:4px;}#yiv2774035565 #yiv2774035565ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv2774035565 #yiv2774035565ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv2774035565
#yiv2774035565ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv2774035565
#yiv2774035565ygrp-mlmsg select, #yiv2774035565 input, #yiv2774035565 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv2774035565
#yiv2774035565ygrp-mlmsg pre, #yiv2774035565 code {font:115%
monospace;}#yiv2774035565 #yiv2774035565ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv2774035565 #yiv2774035565ygrp-mlmsg #yiv2774035565logo
{padding-bottom:10px;}#yiv2774035565 #yiv2774035565ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv2774035565 #yiv2774035565ygrp-msg
p#yiv2774035565attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv2774035565
#yiv2774035565ygrp-reco #yiv2774035565reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv2774035565 #yiv2774035565ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv2774035565 #yiv2774035565ygrp-sponsor
#yiv2774035565ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv2774035565
#yiv2774035565ygrp-sponsor #yiv2774035565ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv2774035565
#yiv2774035565ygrp-sponsor #yiv2774035565ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv2774035565 #yiv2774035565ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv2774035565 #yiv2774035565ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv2774035565 #yiv2774035565ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv2774035565
#yiv2774035565ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv2774035565