Hehehe maen logika, menarik kesimpulan dari suatu artikel lalu dipakai utk
nyinyir. Weleh2 gimana katanya orang pinter satu ini?!

 

Dalam artikel ini RR ngomong 2 hal: hutang dan merger antara BPJS kesehatan
dan BPJS ketenakerjaan.

 

Ente tidak komentari ttg hutangnya. Okay kita lewatin saja. Sebetulnya
pengelolaan hutang ini jauh lebih penting drpd merger BPJS kesehatan dan
BPJS ketenakerjaan krn disinilah point terpenting dari 2 solusi yg
ditawarkan oleh RR dalam menyelamatkan krisis BPJS.

 

Mari kita lihat jalan pikirannya RR ini: dgn mengurangi suku bunga hutang
pinjaman itu, RR berasumsi ada efisiensi dalam bentuk hutang. Ini akan
menurunkan deficit. Suku bunga pinjaman turun artinya bunga yg dibayar
berkurang, tetapi ini bukan dapet duit. Ini efisiensi yg berdampak positif
dalam anggaran artinya deficit tidak akan naik alias lebih kecil krn beban
bunga pinjaman lebih rendah. Sekali lagi ini bukan dapet duit kas yg bisa
dipakai utk bayar hutang/deficit dalam BPJS. Jelas solusi ini SALAH!!!

 

Solusi kedua: merger antara BPJS kesehatan dan BPJS ketenakerjaan. RR
berasumsi kalau merger akan untung. Ini jelas2 SALAH! Ini opini dan
spekulasi. Koq bisa2nya RR meyakinkan merger BPJS kesehatan dan BPJS
ketenakerjaan akan untung? Andaikatapun untung, seberapa untungnya? Apakah
keuntungan ini bisa buat bayar deficit BPJS? YA BELUM TENTU!!!! RR harus
belajar bisnis lebih banyak. Dia ekonom bukan major in business. Merger ini
masalah bisnis. Merger and acquisition, divestiture dll itu teori bisnis.
Gak ada satupun orang2 belajar teori2 M&A berani mengatakan kalau merger
pasti untung. GAK ADA!!!

 

Ayo sana bahas sampai mati gimana 2 solusi yg ditawarkan oleh RR bisa
menolong BPJS!!!!!

 

Saya sudah ngomong kalau RR kalau sudah ngomong diluar ekonomi ditambah
keinginan utk menyerang orang dan ini diluar akademis serta diluar
kemampuannya dalam bidang ekonomi, DIA BANYAK SALAHNYA!!! 

 

Sayang omongan seperti ini keluar dari mulut seorang RR!!!!

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <[email protected]> 
Sent: Sunday, November 10, 2019 10:13 PM
To: GELORA45 <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] Studi-banding beban iuran BPJS

 

  

Kelihatannya RR belum tega membongkar kebobrokan elonomi Jokowi, makanya
dalam kasus keuangan BPJS ini RR baru bolak-balik mengusulkan penggabungan
BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. RR belum menyentuh ke mana
dilarikannya dana BPJS Ketenagakerjaan yang surplus besar dari keringat
Buruh itu. Padahal, harusnya dana besar itu bisa dialirkan ke sesama BPJS
(kesehatan) untuk menghadang defisit. Kalau gotongroyong sesama BPJS ini
dilakukan saya kira teman-teman Buruh lebih ikhlas ketimbang pembelanjaan
yang sekarang. 





Menghajar Sri Mulyani lalu terkena Jokowi, itu mah resiko dan konsekuensi
presiden penandatangan ketidakbijakan.

 

--- lusi_d@... wrote:





Yang saya maksud studi-banding yalah antara konsep no.1 yang
dianj‏urkan Jokowi dan no.2 kontra konsep yang digagas RR msl
yang kongkrit dan mendesak yaitu mengatasi kekurangan pembeayaan BPJS.
Nasion Indonesia masih mampu berfikir sendiri dan nggak perlu ahli-ahli
dari RRT spt yang digemari dan dianjurkan oleh si Luhut itu. Hehehe.


Am Sat, 9 Nov 2019 13:24:01 +0100
schrieb Sunny ambon :

 

> *Studi bandingnya dengan negara mana saja? Ini beberapa contoh.

> Kalau di Cuba semua penghui mendapat pelayanan perwatan kesehatan
> gratis. Sama halnya di Korea Utara. Polandia juga gratis . Kalau di
> Swedia, mengunjungi dokter bayar kurang lebih dua dolar US, kalau
> masuk rumah sakit sakit hanya bayar tempat tidur, juga harganya
> kurang lebih 2 dolar, obat , selama di rumah sakit, operasi semuanya
> gratis. Yang mahal di Swdeia ialah kesehatan gigi, harus bayar
> sendiri, terkecuali untuk anak-anak berumur di bawah 18 tahun. Di
> Swedia, ibu hamil diberikan cuti 9 bulan dengba pembayaran penuh gaji
> yang biasa diperoleh dari tempat kerja. Panggil ambulans tidak
> ditanya punya uang berapa untuk dibayar harga sopir dan bensin etc.
> jadi gratis.*
> * Mengapa negara-negera ini bisa melakukan pelayan murah atau gratis
> kepada penduduknya dibandingkan negara bukan kafir seperti NKRI yang
> juga ber Pancasila?*

 



Kirim email ke